Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Mulai menerima


__ADS_3

Haikal pulang dengan tergesa-gesa, karena masih belum terlalu percaya dengan keberadaan Nabila yang begitu dekat dengan Kaina. Ia memilih untuk pulang lebih awal dan menunda beberapa pekerjaan yang masih belum mendesak.


Hatinya terenyuh ketika melihat Kaina terlelap di atas sofa dengan bantal dan selimut yang membuat ibu hamil itu semakin betah dalam tidurnya.


"Tuan?" Panggil Nabila langsung berdiri ketika melihat Haikal datang.


"Pulanglah dan kembali lagi besok pagi!" ucap Haikal menatap wajah Kaina sambil tersenyum.


"Baik, Tuan! Hmm, tadi Nyonya meminta saya untuk memasak. Semuanya sudah siap dan nanti bisa dipanaskan saja," ucapnya segera pergi meninggalkan sepasang sejoli itu.


"Terima kasih," ucap Haikal tanpa mengalihkan pandangannya dari Kaina.


Nabila lagi-lagi terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Haikal. Pria tampan itu sudah banyak berubah, apalagi semenjak bersama dengan Kaina.


Ia segera meninggalkan Apartemen dan kembali ke rumah keluarganya yang ada di kota itu.


Sementara Haikal, menyibak selimut Kaina dan melihat tubuh sang istri dan memastikan apakah dia baik-baik saja.


Kaina merasa terganggu dan terbangun dari tidurnya. Ia mengernyit ketika melihat Haikal yang sedang tersenyum begitu manis dihadapannya.


"Kenapa sudah pulang?" tanya Kaina menolak Haikal yang ingin mengecupnya.


"Aku merindukanmu, Sayang. Setiap detik aku


merindukanmu!" ucap Haikal tersenyum.


"Kamu bau, aku gak suka!" ucap Kaina mendorong Haikal.


"Ha?" ucap Pria tampan itu mengendus aroma tubuhnya yang masih wangi. "Sayang?" ucapnya tidak percaya.


"Jauh-jauh, sana! Aku merasa mual!" ucap Kaina merengek.


Ia turun dari sofa dan berjalan masuk ke dalam kamar. Ia merasa sangat mengantuk dan juga lelah. Sementara Haikal hanya melongo tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Kaina.


"Sayang?" panggilnya.


"Mandi dulu! Kalau gak mau, jangan dekat-dekat!" ucap Kaina dari dalam kamar.


Haikal menjadi kesal. "Apa gadis itu telah meracuni Kaina untuk membenciku? Lihat saja jika itu sampai terjadi!" ucapnya.


Ia langsung menyusul Kaina dan memeluknya dengan gemas. Hal itu membuat Kaina semakin merasa mual dan mengeluarkan isi perutnya.


Hoek, hoek, hoek.


Haikal terkejut dan langsung melepaskan Kaina. Ibu hamil itu langsung pergi menuju kamar mandi. Haikal langsung terlihat pucat dan menyusul Kaina ke dalam kamar mandi.


"Jangan mendekat!" ucap Kaina merengek sambil bersandar pada dinding.


Haikal hanya terdiam dan menatap Kaina dengan cemas. "Sayang?" panggilnya.


"Sana jauh-jauh dulu!" ucap Kaina merasa begitu lemas.

__ADS_1


"Tapi, Yang. Kamu...," ucap Haikal.


"Sana, Yang! Nanti aku muntah lagi!" ucap Kaina.


Haikal terdiam dan memberi jarak agar Kaina tidak mencium aroma tubuhnya. Ia hanya menatap sang istri yang berjalan dengan pelan sambil berpegangan pada dinding.


"Mandi dulu! Kalau tidak, jangan dekat-dekat!" ucap Kaina tegas.


Haikal tanpa berbicara lagi langsung membuka bajunya dan membersihkan diri sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kaina, padahal ia masih begitu wangi. Namun demi sang istri ia hanya bisa menurut agar tidak membuat Kaina kembali mual.


Ibu hamil itu hanya terbaring lemas di atas tempat tidur. Dengan pikiran yang menerawang, mengingat ia sudah mulai merasa mual, pasti akan banyak hal yang aneh terjadi setelah ini.


Huh, baru saja aku mengatakan jika aku belum merasa ngidam dan mual, sekarang sudah terjadi seperti ini. Batin Kaina.


Ia hanya menghela nafas pelan dan mulai memejamkan matanya kembali. Namun, bunyi pintu terbuka mengalihkan perhatiannya.


Haikal keluar dengan balutan handuk di pinggangnya. Terlihat tampan dan begitu menggoda, sehingga membuatnya tersenyum tanpa sadar.


Aroma tubuh Haikal setelah mandi menyeruak keluar membelai hidungnya. Kaina melambaikan tangan dan memanggil Haikal yang masih mengusap rambut basahnya


"Udah gak mual lagi?" tanya Haikal sedikit takut.


"Sekarang sudah wangi, ayo sini!" ucap Kaina tersenyum.


Haikal dengan senang hati berjalan mendekat dan ikut berbaring dengan Kaina, memeluk gadis kecilnya yang mulai terlihat sangat cantik.


"Sayang?" panggil Kaina sambil mengusap punggung Haikal.


"Ibu tadi mengundangku untuk perayaan kelulusan Selena. Apa aku boleh datang? Sejak menikah, aku tidak pernah pulang ke rumah itu," ucap Kaina.


"Hmm? Kamu yakin mau pulang? Apa di sana aman?" tanya Haikal yang begitu gemas kepada Kaina.


"Ada kak Bila dan juga Pak Yono yang menemaniku," ucap Kaina.


"Pergilah!" ucap Haikal mengecup kening sang istri.


"Apa kamu ikut? Ibu juga memintaku untuk mengajakmu datang," ucap Kaina malas.


"Besok aku sibuk, Sayang. Lihat dulu kalau ada jadwal yang bisa diundur," ucap Haikal mulai menyentuh titik sensitif Kaina.


Ibu hamil itu hanya mengangguk dan memejamkan mata. Rasanya sudah lama ia tidak disentuh oleh sang suami, padahal Haikal setiap hari memanjakannya, walaupun tidak bergemul.


Mereka memadu kasih di sore hari yang terlihat mendung itu. Kaina yang tadi lemas, kini menjadi bersemangat untuk menyusuri setiap jengkal tubuh sang suami.


Hingga mereka sama-sama mencapai puncak rasa nikmat yang terasa begitu candu. Kaina masih mengelus tubuh Haikal dengan manja, hingga ia teringat dengan makanan yang ia minta dari Nabila tadi.


"Apa kak Bila sudah pulang, Yang? Gimana makananku?" ucap Kaina.


"Iya, dia sudah pulang. Makanannya juga masih ada, mau aku panaskan?" ucap Haikal.


Kaina hanya mengangguk dan tersenyum. Haikal langsung berdiri dan memakai celana boxer untuk menutupi bagian sensitifnya.

__ADS_1


Ia segera keluar dan memanaskan makanan sesuai dengan permintaan sang istri. Namun, bunyi bel pintu mengalihkan perhatian pria tampan itu.


"Dina?" Ucap Haikal mengernyit melihat sang adik datang dengan membawa beberapa kantong di tangannya.


"Mas? Kaina ada?" tanya Meidina.


"Ada, masuklah!" ucap Haikal mengernyit.


Gadis cantik itu langsung masuk dan duduk di atas sofa. Matanya melihat sekeliling ruangan yang terasa lebih nyaman dari sebelumnya.


"Dari mana?" tanya Haikal sambil memasukkan makanan ke dalam microwave.


"Dari rumah, Mas. Tadi, aku bikin kue, mana tau kamu mau," ucap Meydina tersenyum.


"Tarok aja di sana. Mas panggil Kaina dulu," ucap Haikal tersenyum.


Ia langsung masuk ke dalam kamar dan memanggil ang istri. Kaina mengernyit dan tersenyum membayangkan kue yang dibawa oleh adik iparnya.


Kaina membersihkan diri terlebih dahulu, baru ia keluar dan menemui Meidina.


"Hai?" Sapa Kaina tersenyum.


"Hai, Mbak," ucap Meidina tersenyum.


"Dari tadi, Kak?" tanya Kaina menatap paper bag yang ada di atas meja.


"Barusan. Gimana kabarnya?" ucap Meidina.


"Baik, Anak-anak juga baik," ucap Kaina merasa lapar.


Meidina paham dan langsung mengeluarkan beberapa macam kue yang sudah ia buat.


Mata Kaina berbinar senang dengan air liur yang mulai menyeruak keluar memenuhi mulutnya.


"Makanlah, tadi aku buat sendiri," ucap Meidina tersenyum.


"Benarkah? terima kasih, Onty," ucap Kaina dan berhasil membuat gadis itu merona senang.


Haikal yang melihat mereka menjadi lebih tenang karena sang adik sudah bisa menerima Kaina dalam keluarga mereka.


Sedikit, Haikal tergoda dengan makanan yang tengah ia panaskan. Terlihat enak dengan tampilan yang cukup menarik.


Ia segera membawanya kepada Kaina, agar bisa mencoba makanan itu dengan cepat.


"Yang, ayo makan dulu!" ucap Haikal tidak sabar.


Ia duduk di lantai yang beralaskan karpet bersama dengan Kaina. Ia menyuapi sang istri secara bergantian. Makan dengan begitu lahap tanpa henti, sehingga membuat Meidina beberapa kali mengerjab tidak percaya.


Apa mereka memang seabsurd ini? Seperti orang yang belum makan selama beberapa hari. Batin Meidina.


Namun ia merasa senang, karena Haikal sudah menemukan seseorang yang bisa merubah pria arogan itu. Perempuan yang bisa menyembuhkan luka hati sang abang karena ditinggalkan dan curangi orang mantan kekasihnya.

__ADS_1


Semoga kalian bukan hanya mendrama, tetapi bisa bertahan sampai maut memisahkan. Sepertinya tidak salah menerima gadis kecil ini. Dia terlihat polos dan imut. Batin Meidina tersenyum.


__ADS_2