
Drama mandi pagi itu berlangsung dengan lama, Haikal seolah terbuai dengan sentuhan lembut dari Kaina dan membuatnya menjadi lebih tenang.
"Apa kau bisa memijat?" tanya Haikal sambil menutup matanya.
"Tidak, Tuan. Saya tidak bisa memijat," ucap Kaina dengan wajah yang makasih merona ketika mengusap dada bidang Haikal.
"Kau harus belajar, dan pijat aku setiap malam. Seperti ini saja juga sudah cukup!" ucap Haikal.
"Baik, Tuan," ucap Kaina menghela nafas.
Hiks, ini bukan pijatan, tapi hanya usapan saja. Aku merasa ingin tenggelam saat ini!. Batin Kaina yang sudah tidak bisa menahan rasa malu.
"Apa kau ketagihan mengusap dadaku? Geser kebawah!" ucap Haikal menahan senyumnya.
Jantung Kaina semakin berdetak kencang, ketika ia menyentuh lekukan tubuh Haikal yang lain. Tubuhnya mulai terasa panas dingin, ketika mengusap perut sixpack sang suami dengan begitu lembut.
"Apa perut saya bagus?" tanya Haikal.
"Hmm? Iya, Tuan. Perut anda sangat bagus," ucap Kaina semakin merona.
"Kau harus bersyukur, punya suami seperti saya. Tampan, kaya dan juga berotot," ucap Haikal tersenyum.
Kaina tersenyum. Apa yang dikatakan oleh pria tampan itu memang benar adanya. Ia hanya mengangguk dan melanjutkan pekerjaan yang membuat tubuhnya menjadi tidak menentu.
"Sudah selesai, Tuan. Saya keluar dulu, mempersiapkan pakaian untuk anda," ucap Kaina segera keluar dari kamar mandi.
Haikal tidak menjawab, ia hanya menahan tawa melihat wajah Kaina yang begitu merona hingga ke telinganya.
Dia lucu dan mengemaskan dengan wajah yang seperti itu. Batin Haikal tanpa menyadari jika wajahnya juga merona.
Kaina keluar dan memegang jantungnya yang masih berdetak lebih cepat. Wajahnya terasa panas dan juga gemeteran.
Untuk pertama kalinya, ia menyentuh laki-laki degan begitu intim. Bahkan untuk bergenggaman tangan saja bisa dibilang jarang, namun kini ia memiliki kesempatan untuk memegang tubuh laki-laki yang menjadi idaman oleh hampir sebagian wanita di muka bumi.
Ia segera mengambil baju untuk Haikal, tak lupa dengan aksesoris yang membuat tampilan sang suami menjadi lebih tampan.
Ah, tuan muda memang sempurna. Good rekening, good looking, tapi sayang mulutnya cukup kasar. Batin Kaina.
Hingga Haikal keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk di pinggangnya. Kaina menunduk dan sesekali mencuri pandang untuk melihat perut kotak-kotak Haikal yang sangat menggoda untuk disentuh.
Ia mulai memakaikan baju kepada pria tampan itu. Tubuhnya yang kecil akan hilang jika sang suami memeluknya.
Haikal tersenyum tipis menatap Kaina yang hanya sebatas dadanya saja. Bulu mata lentik dan hidung mancung, membuat gadis itu terlihat cantik dari sudut manapun.
Ketika Kaina mengakat wajahnya dan menatap Haikal, hendak memasangkan dasi pria tampan itu. Mata mereka terkunci dan saling menatap satu sama lain.
Cantik. Batin Haikal.
Kaina segera tersadar dan berpaling dengan wajah yang kembali merona. "Apa Tuan bisa menunduk sedikit?" Tanya gadis kecil itu.
Haikal hanya terdiam dan memilih untuk duduk di atas ranjang, Kaina tersenyum dan segera memasangkan dasi dengan cukup baik dan juga rapi.
Haikal mengangguk ketika melihat Kaina yang begitu telaten dalam mengurusnya.
"Ternyata kau juga pandai memasang dasi!" ucap Haikal.
__ADS_1
"Terima kasih pujiannya, Tuan," ucap Kaina tersenyum.
Haikal menarik pinggang Kaina agar gadis itu menempel kepadanya.
Kaina membulatkan mata karena terkejut melihat tindakan Haikal yang mulai agresif.
"Tu-tuan mau apa?" tanya Kaina berusaha untuk lepas dari pelukan Haikal.
"Apa kau tidak membaca poin nomor..., hmm nomor berapa itu, saya lupa!" ucap Haikal menahan senyumnya.
"Po-poin yang mana, Tuan?" tanya Kaina gugup.
"Apa kau belum membacanya? Ck, bodoh!" ucap Haikal mencubit pipi Kaina dengan gemas.
Gadis cantik itu cemberut dan membuat Haikal semakin tidak sabar untuk mengecup bibir kecil semerah cerry itu.
"Ciuman selamat pagi!" ucap Haikal menahan senyumnya.
Deg!
Kaina terkejut dan melotot menatap kearah Haikal. Apa-apaan ini? Di-dia meminta ciuman selamat pagi? Astaga, apa yang harus aku lakukan?. Batinnya panik.
"Kenapa? Apa kau tidak mau?" tanya Haikal mulai terlihat kesal.
Kaina hanya terdiam dan menunduk. Ia tidak tau harus berbuat apa kali ini. Permintaan tuan muda itu sangat memberatkan, walaupun dia memiliki hak atas dirinya.
"Kalau kau tidak mau, tidak masalah. Saya bisa menarik kembali...,"
"Jangan!" pekik Kaina.
"Jangan berteriak kepadaku!" ucap Haikal kesal.
"Kalau tidak mau, tidak usah!" ucap Haikal melepaskan pelukannya dan mendorong Kaina untuk menjauh.
Gadis itu bimbang. Ia tidak tau harus berbuat apa kali ini. Ia melihat Haikal memakai jas sendiri tanpa berbicara lagi.
"Tu-tuan?" panggil Kaina lirih namun tidak mendapat respon dari Haikal.
Pria tampan itu merasa kesal karena seolah ia mengemis untuk meminta sebuah ciuman.
Ia berjalan keluar dari kamar, namun Kaina lebih dulu mencegah langkah pria tampan itu dengan memegang jas abu-abu yang dipakai oleh Haikal.
"Tuan?" Panggil Kaina lirih.
"Apa? Hapus saja poin itu jika kau tidak mau. Itu tidak akan jadi masalah jika saya hanya menarik 100 juta saja dari saham di perusahaan ayahmu!" ucapan Haikal.
"Jangan, Tuan!" Sergah Kaina. "Saya, saya mau," sambungnya menunduk.
"Mau apa?" tanya Haikal tersenyum tipis penuh kemenangan.
"Itu, ci-ciuman selamat pagi," ucap Kaina lirih.
"Kalau terpaksa, tidak usah!" ucap Haikal.
Kaina menghela nafasnya beberapa kali. Ia mengangkat kepala dan tersenyum. "Saya tidak terpaksa, tuan!" ucapnya.
__ADS_1
Haikal terdiam sambil bersorak di dalam hati. Ia masih menunggu inisiatif dari Kaina untuk mengecupnya.
"Tunggu apa lagi?" ucap Haikal dengan wajah kesal.
Kaina berjalan mendekat dan berjinjit sambil memegang pipi Haikal dengan tangan yang gemetaran.
"A-anda terlalu tinggi, Tuan. Saya tidak bisa menggapainya," ucap Kaina lirih.
Haikal tersenyum tipis dan menunduk. Ia menahan pinggang Kaina agar gadis itu tidak terjatuh.
Dengan jarak wajah yang begitu dekat, Kaina menatap bibir Haikal dan mengecupnya dengan lembut.
Cup!
Hanya sebuah kecupan, dan membuat Haikal mengernyit. "Apa kau belum pernah berciuman?" tanya pria tampan itu.
Kaina menunduk dengan wajah yang merona. Ia menggeleng pelan dan membuat Haikal gemas.
"Sini saya ajarkan!" ucap pria tampan itu mengecup bibi Kaina dengan lembut.
Kaina terkejut, namun ia hanya bisa pasrah dan menutup mata ketika Haikal mulai melumaat bibir kecilnya.
Begini rasanya berciuman? Kenapa bibir anda terasa manis, Tuan?. Batin Kaina merasakan lumaatan Haikal.
Ternyata aku mendapatkan gadis lugu. Ini terasa sangat kaku tanpa perlawanan. Batin Haikal tersenyum puas.
Ia merasakan sebuah candu ketika mencium gadis kecil ini. Hingga Kaina menepuk pundak Haikal ketika mulai merasa sesak, sebab ia menahan napas ketika sang suami tidak kunjung melepaskan pagutan mereka.
"Apa kau tidak bernapas?" tanya Haikal mengernyit.
Kaina menggeleng sembari mengatur napasnya.
"Kau harus belajar dari sekarang!" ucap Haikal mengusap bibir kecil yang sudah basah itu.
"I-iya, Tuan," ucap Kaina malu.
Sungguh ia ingin tenggelam ke dasar bumi saat ini juga. Wajahnya terlihat sangat merah dan membuat Haikal semakin gemas, melihat gadis ini.
"Nanti saya kirimkan tutorial, kau tonton dan praktekan nanti malam!" ucap Haikal melangkah keluar dari kamar.
Kaina terkejut sambil memegang kerah bajunya. Haikal mengernyit dan tertawa.
"Ck, saya tidak napsu melihat tubuh kurusmu itu. Jangan berharap lebih dari sekedar ciuman!" ucap Haikal.
Mereka segera menuju pintu keluar, karena Haikal sudah hampir terlambat ke kantor karena drama ciuman selamat pagi.
Kaina masih menunduk dengan wajah yang merona. Ia berjalan dibelakang Haikal tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
"Bersiaplah, bawa apa yang perlu kau bawa. Selebihnya tinggalkan di sini saja!" ucap Haikal sebelum pergi bekerja.
Kaina mengangguk dan tersenyum manis menatap sang suami.
"Jangan keluyuran kamana-mana!" ucap Haikal tegas.
"Baik, Tuan," ucap Kaina pasrah.
__ADS_1
Ia masih berdiri sambil memandangi Haikal yang sudah berjalan menuju lift. Ia tersenyum tulus sambil melambaikan tangan hingga pria tampan itu hilang di dalam besi kotak itu.
Ciuman pertamaku. Astaga, ternyata rasanya seperti itu. Kenapa tuan muda begitu mahir berciuman? Apa dia sudah sering melakukannya?. Batin Kaina dengan perasaan yang bercampur aduk.