Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Murung


__ADS_3

Wajah Kaina terlihat murung, bahkan ketika Haikal mengajaknya makan malam. Gadis itu hanya terdiam dan hanya menjawab singkat ketika ditanya.


Kini Haikal menggandeng tangan Kaina keluar dari kamar. Ia merasa tidak nyaman dengan keterdiaman sang istri yang membuatnya bingung.


"Kau kenapa?" Tanya Haikal kesal.


"Tidak apa," ucap Kaina memaksakan senyumnya.


"Kaina! Kau sedari tadi murung dan diam saja. Apa kau tidak suka dengan kamarku? Besok akan aku renovasi!" ucap Haikal kesal.


"Aku baik, Sayang. Mungkin hanya belum terbiasa saja," ucap Kaina lirih.


Haikal menatap Kaina dengan datar, ia tau jika gadis ini tengah berbohong. Namun ia tidak ingin berdebat dan merusak mood makannya malam ini.


Mereka kembali berjalan menuju lantai satu menggunakan lift. Semua orang sudah berkumpul di sana, hanya menunggu Haikal dan Kaina saja.


"Ck, lama benget kamu, Mas! Aku sudah lapar ini!" ucap Meidina mendelik kesal.


Haikal hanya terdiam dan menarik kursi untuk Kaina. Gadis itu langsung duduk dan mengambilkan makanan untuk Haikal.


Ia sedikit memahami, jika kepala keluarga belum memulai makan malam, maka semuanya juga belum boleh melakukan apapun.


Kaina menyuapi Haikal dengan telaten, bahkan ia sampai lupa untuk menyuapi dirinya sendiri. Pemandangan itu menambah rasa kesal di dalam hati Muzi kepada Kaina.


Aku tidak akan pernah sudi memiliki menantu seperti dia. Lihatlah gadis itu, terlihat lebih pantas menggunakan baju pelayan dari pada dress yang ia pakai saat ini. Batin Muzi.


"Mom, sudah kenyang. Kalian habiskan saja makanannya. Selera Mom tiba-tiba saja hilang karena satu meja dengan gadis kumuh," ucapnya sambil melangkah pergi.


Kaina terdiam ketika mendengar perkataan Muzi yang begitu membencinya. Meidina juga terdiam dan menghabiskan makanannya dengan cepat.


Haikal hanya memasang wajah datar dan mengangepalkan tangan, mendengar perkataan sang ibunda yang begitu ringan mengatai orang lain.


Mereka bertiga menghabiskan makan malam itu dengan hanya terdiam. Bahkan Kaina sama sekali tidak memakan apapun lagi setelah kepergian sang ibu mertua kejam.


"Aku selesai. Selamat malam, Mas!" ucap Meidina yang berlalu dari ruang makan.


Kaina merasa ingin menangis, walaupun ia sering diperlakukan seperti ini di keluarganya, namun jika orang lain yang berbuat, rasa sakit itu lebih terasa di hatinya.


Haikal menatap Kaina dengan lekat. Perubahan wajah gadis ini terlihat jelas. Ia hanya menghela nafas dan meneguk air minum.


"Aku sudah selesai. Habiskan makananmu," ucap Haikal.


"Aku sudah kenyang, Sayang!" ucap Kaina memaksakan senyumnya.

__ADS_1


"Habiskan!" ucap Haikal tegas. "Atau besok, kau tidak boleh makan lagi!".


Kaina menggeleng, ia memang benar merasa kenyang kali ini. "Boleh saya simpan dulu? Nanti, kalau tengah malam terbangun akan saya makan lagi," ucap Kaina lirih.


"Sekarang!" ucap Haikal tegas.


Kaina tidak memiliki pilihan lain. Ia memaksa untuk menyuap makanan itu hingga tandas.


Setelah selesai, mereka segera kembali ke kamar. Haikal mengajak Kaina untuk duduk di atas sofa dan menatap gadis itu dengan lekat.


"Jangan dipikirkan ucapan ibu tadi. Mulutnya memang pedas, tapi hatinya sangat baik. Ini hanya karena dia belum bisa menerima keberadaanmu!" ucap Haikal menatap mata Kaina dengan lekat.


Gadis itu mengangguk dan tersenyum. Ia sudah terbiasa seperti ini, bibir tersenyum namun hatinya terasa begitu pedih.


"Aku tidak apa-apa, Sayang. Kamu benar, mungkin Nyonya belum bisa menerimaku," ucap Kaina.


"Kau pun juga belum bisa menerima. Jangan memaksakan diri! Sekarang, hanya aku yang menjadi tujuan hidupmu mulai saat ini, bukan yang lain!" ucap Haikal tegas.


Kaina mengangguk, namun ia kembali mengingat foto mesra Haikal dan kekasihnya, tadi.


"Apa anda dan dia masih ada hubungan?" tanya Kaina sambil menunduk.


Haikal menang Kaina dengan tajam. "Jangan pernah membahas dia dihadapanku!" ucap Haikal kesal.


"Baiklah!" ucap Kaina mengangguk.


"Saya sudah mengantuk. Apa boleh saya tidur duluan?" tanya Kaina.


"Tidurlah!" ucap Haikal tak acuh sebab ia masih mengerjakan pekerjaan yang harus selesai malam ini juga.


Kaina mengganti baju tidurnya dan menyiapkan juga untuk Haikal. Ketika tengah membuka lemari, Kaina mengernyit ketika melihat sesuatu yang menyembul pada tumpukan baju paling bawa.


Ia mengambil selembar kertas itu dan terkejut ketika melihat gambar yang ada di baliknya.


"Ada foto lagi, kenapa begitu banyak? Pasti masih ada lagi yang tersimpan di tempat ini," batin Kaina dengan air mata yang menggenang.


Foto Haikal dan kekasihnya yang dulu terlihat begitu mesra. Walaupun hanya foto selfi sambil tersenyum, itu terlihat jelas jika Haikal begitu bahagia.


Tuan muda tidak pernah tersenyum semanis ini kepadaku. Ah, sadarlah Kaina! Jangan berpikiran hal yang akan membuatmu semakin sakit. Batinnya.


Setelah mengganti pakaian, ia segera berbaring dan memejamkan mata. Berharap malam ini akan segera berakhir.


Sebelum terpejam, ia kembali menatap foto yang ada di dinding kamar Haikal. Hanya foto kecil berukuran 10r, dan berkumpul dengan beberapa foto lainnya.

__ADS_1


Ah, kenapa ini terasa begitu sesak dan juga sakit. Apa aku sudah mulai mencintai tuan muda atau mungkin sudah mencintainya. Ah, aku merasa ingin membuang foto itu, tapi aku takut jika tuan muda akan marah!. Batinnya.


Ia memejamkan mata, namun terasa enggan untuk terlelap. Haikal bukan tidak memperhatikan sang istri, hanya saja ia masih bingung apa yang membuat Kaina murung dan tidak banyak berbicara.


"Apa kau tidak bisa tidur?" tanya Haikal tanpa menoleh.


"Hmm, sepertinya insomnia saya kambuh lagi," ucap Kaina lirih.


Haikal menutup laptopnya dan berjalan mendekati Kaina. Ia duduk di tepi ranjang dan menatap gadis itu dengan lekat.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Haikal dan mengecup bibir gadis itu.


"Tidak ada," ucap Kaina terkejut dan cemberut.


"Ayo cicil hutangmu!" ucap Haikal kembali mengecup bibir Kaina.


Gadis itu mencoba untuk mendorong Haikal agar tidak mengajaknya bermain. "Sayang! Besok saja, ya!" ucapnya.


"Permintaan ditolak!" ucap Haikal kembali melanjutkan aktivitasnya.


Kaina menarik rambut Haikal hingga ia meringis kesakitan.


"Kenapa kau, ha?" tanya Haikal dengan suara yang sedikit meninggi.


"Bukankah kamu tidak suka dengan milikku yang kecil?" ucap Kaina takut sambil mencari alasan.


"Ck, itupun kau masukkan ke dalam hati! Biar besar, makanya aku tiup setiap hari!" ucap Haikal kesal.


"Aku sedang tidak ingin!" ucap Kaina lirih.


Haikal terdiam dan segera bangkit tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Ia membuka semua baju dan hanya menyisakan boxer saja.


Tanpa berucap apapun, ia mematikan lampu dan berbaring membelakangi Kaina.


"Sayang?" panggil gadis itu merasa tidak enak.


"Tidurlah! Jangan mengucapkan apapun!" ucap Haikal ketus.


Kaina hanya terdiam, ia hanya menatap punggung Haikal sambil menghela nafasnya. Ia mendekat ke arah Haikal dan memeluk pria tampan itu.


"Ayo kita bermain, sayang!" ucapnya lirih.


"Tidurlah Kaina! Jangan sampai kau memancing amarahku!" ucap Haikal.

__ADS_1


Kaina melepaskan pelukannya dan memberi jarak kepada Haikal. Ia serasa ingin menangis kali ini.


Begini rasanya sakit hati dan diacuhkan oleh orang yang aku cintai. Batin Kaina.


__ADS_2