
"Kaina?" Panggil seseorang yang membuat jantung ibu hamil itu berdetak kencang.
Ia menatap seorang gadis yang tengah berjalan mendekat ke arahnya.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Filda tersenyum ramah.
Kaina menatap model cantik itu dengan tatapan tidak suka. Ia mulai merasa takut dengan wanita yang ada di hadapannya. Sementara keberadaan Kang Yono tidak terlihat disekitar ia berdiri.
"Ah, aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin mengobrol saja," ucap Filda.
"Maaf, Nona. Saya tidak bisa, karena sebentar lagi suami saya menelfon," ucap Kaina menolak.
"Hanya sebentar saja," ucap Filda semakin mendekat.
"Maaf, Saya tidak bisa!" ucap Kaina mulai berjalan meninggalkan Filda.
"Kaina, tunggu!" ucpa Filda mengejar ibu hamil itu.
"Maaf, Nona. Anda tidak bisa memaksa saya seperti ini! Jika anda tetap ingin berbicara, tunggu suami saya pulang terlebih dahulu!" ucap Kaina dengan tangan yang gemetar.
"Kaina, aku hanya ingin berteman denganmu, apa tidak boleh?" tanya Filda menahan diri agar tetap tersenyum ramah.
"Maaf, Suami saya tidak memperbolehkan untuk berteman dengan sembarangan orang! Jika nona tetap ingin berteman silahkan minta izin ke suami saya!" ucap Kaina berjalan mendekat Kang Yono.
Supir pribadi Kaina itu terkejut dan langsung berlari sembari mendorong troli.
"Nyonya, apa anda baik-baik saja?" tanya Yono dengan wajah yang mulai marah.
"Di-dia memaksa saya, Pak. Saya takut!" ucap Kaina lirih dengan air mata yang menggenang.
Yono menatap segala arah, namun tidak menemukan Filda di sekitar itu. "Ayo, Kita pulang, Nyonya!" ucap Kang Yono mempersilahkan Kaina untuk kembali berjalan.
Ia menghubungi beberapa orang untuk membayar barang belanja Kaina dan membawanya ke apartemen.
Kaina mulai merasakan sesuatu, perutnya terasa sakit dan nyeri pada bagian bawah dan membuat Kang Yono panik.
"Nona, kita ke rumah sakit, ya!" ucap Yono cemas.
"Ke tempat dokter Amanda saja, Pak!" ucap Kaina memegang perutnya.
Dengan hati-hati, Kang Yono membawa Kaina ke rumah sakit. Jika sampai ibu hamil ini kenapa-napa, dipastikan jika Haikal akan memenggal kepalanya.
Beruntung, rumah sakit berada tak jauh dari tempat mereka berbelanja. Yono segera membawa Kaina ke IGD dan menghubungi Rasya agar bisa menunggu di depan pintu.
"Kenapa lagi, Kang?" ucap Rasya mengusap wajahnya kasar.
Ia merasa begitu iba melihat Kaina yang berulang kali datang ke rumah sakit dengan kondisi yang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Maaf, Tuan muda. Tadi, Nyonya muda bertemu dengan seseorang. Saya lalai untuk mengejar Nyonya!" ucap Yono merasa bersalah.
Untuk memberikan pertolongan pertama, ia memeriksa Kaina sembari mengomel, mengkritik ketidakbecusan Haikal dan Yono dalam menjaga Kaina.
Dokter Amanda juga datang sambil berlari, mengingat siapa yang tengah ia hadapi saat ini. Ia segera memeriksa keadaan Kaina.
Mereka bisa bernafas lega, ketika Kaina dan kandungannya baik-baik saja. Kontraksi yang tiba-tiba saja timbul karena rasa khawatir dan juga cemas.
"Kamu bertemu dengan siapa, Kaina?" tanya Rasya lembut.
Kaina hanya menggeleng dengan nafas yang masih menderu. Ia masih memegang perut rata itu dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Sekarang tenang, ya. Kamu harus tenang, karena di sini tidak ada orang jahat!" ucap Rasya.
Amanda meminta Kaina untuk tidur dengan keadaan miring ke kanan. Dengan lembut ia mengusap punggung Kaina agar ibu hamil itu merasa lebih tenang.
"Apa Haikal sudah tau, Kang?" tanya Rasya.
"Belum, Tuan Muda. Saya langsung membawa Nyonya ke sini," ucap Yono dengan peluh dingin yang terlihat keluar dari pori-porinya.
"Jangan beri tau dia dulu, yang penting awasi Kaina terus. Jangan sampai ada yang menyakitinya!" ucap Rasya tegas.
"Baik, Tuan Muda!" ucap Yono bernafas lega.
Namun ia pasti akan mendapat amukan dari Haikal ketika berita ini sampai ke telinga pria tampan itu.
"Biarkan Kaina beristirahat sebentar. Kang Yono terus awasi Kaina sampai dia terbangun!" ucap Rasya tegas.
"Baik, Tuan Muda!" ucap Yono berdiri tepat di samping brankar Kaina.
Siapa yang Nyonya temui tadi? Aku tidak sempat melihatnya. Aku harus meminta bantuan kepada Asisten Along. Sehingga setelah ini saya bisa siaga dan mengawasi Nyonya dengan baik. Batin Yono.
🥕🥕
Sial! Ternyata dia tidak sendiri. Ah, bodoh kamu Filda, sudah jelas siapa yang tengah kamu hadapi. Pasti saja Haikal tidak akan melepaskan gadis kampung itu sendiri!. Batinnya.
Ia bersembunyi dan berjalan dengan tergesa-gesa agar tidak ketahuan oleh siapapun. Ia sengaja memakai masker dan kaca mata, agar tidak ada yang mengenalinya.
Leo yang melihat itu menjadi heran, namun ia tidak bisa mendengar apa yang diucapkan oleh perempuan tadi. Dari jauh, ia hanya melihat jika Kaina berbicara dengan gadis yang baru saja berlalu dari hadapannya.
"Mas, aku cariin dari tadi, ternyata di sini!" ucap Sisca kesal.
"Maaf, Sayang. Aku bertemu dengan Kaina tadi," ucap Leo.
"Terus mana dia? Kenapa dia tidak menyapaku?" ucap Sisca terkejut.
"Dia sedang buru-buru. Sepertinya tuan muda tengah menunggu di rumah mereka. Ayo kita pulang!" ucap Leo mulai melangkahkan kakinya.
__ADS_1
"Cih, dia selalu seperti itu. Tidak pernah bisa menerima dan menganggapku sebagai ibu penggantinya! Anak bebal yang tidak bisa diajar!" ucap Sisca ketus.
Ia berjalan dengan cepat mendahului langkah kaki sang suami yang masih terdiam dengan ucapan Sisca.
Mungkin kamu yang tidak bisa menerima putriku. Batinnya.
Ia hanya mengikuti langkah kaki Sisca dengan pikiran yang kembali mengingat Kaina. Ia teringat jika Kaina berjalan dengan tergesa-gesa setelah bertemu perempuan tadi.
Apa dia mengancam Kaina? Tapi anak itu memang selalu terlihat ketakutan kepada siapapun. Semoga dia bisa bertahan sampai tuan muda sendiri yang memulangkannya ke rumah. Batin Leo.
🥕🥕
Haikal menegang, ketika mendengarkan kabar Kaina yang kembali masuk rumah sakit dengan alasan kontraksi. Namun semua perasaannya harus dikesampingkan karena kini ia tengah berhadapan dengan calon investor besar yang sangat berpengaruh di Asia.
Siapa yang berani mengganggu istriku? Lihat aja kalian badjingan, kalian tidak akan pernah bisa hidup dengan tenang!. Batin Haikal sambil mengepalkan tangannya.
Saat ini ia belum mengetahui siapa yang baru saja bertemu dengan Kaina. Sebab, CCTV tidak bisa melihat begitu jelas wajah perempuan itu.
Along masih melacak dan mencari informasi tentang hal ini. Hanya Kaina yang tau dengan siapa dia bertemu.
Ah, baru beberapa jam saja sudah seperti ini. Bagaimana kalau wajah Nyonya beredar di dunia maya, pasti akan timbul lebih banyak masalah lagi. Terutama dari fans Tuan Muda dan Dia. Batin Along mengeram kesal.
Hingga Pertemuan itu berakhir, Haikal berhasil mendapatkan kata sepakat untuk kerja sama dengan pengusaha besar di Asia itu.
Ia segera kembali ke hotel dan menghubungi Kaina. Ia tidak bisa tenang sedari tadi ketika mendengar kabar itu. Bahkan Along pun tidak bisa berbuat apa-apa kali ini.
"Periksa semuanya, Long! Dia sudah membahayakan nyawa istri dan anak-anakku. Pastikan itu bukan, Mommy!" ucap Haikal dengan wajah garang dan memerah.
"Baik, Tuan!" ucap Along.
Habislah, jika itu memang Nyonya besar yang berbuat. Batin Along bergidik.
Haikal semakin kesal karena Kaina tidak mengangkat panggilannya. Hingga ia memilih untuk menelfon Rasya agar bisa mendapatkan kabar tentang sang istri.
"Dia baik-baik saja. Sekarang sedang tidur di ruang IGD. Dokter Amanda juga sudah memeriksa keadaan Kaina tadi," ucap Rasya santai.
"Rawat saja dia, Sya. Biar tidak keluyuran kemana-mana!" ucap Haikal tegas.
Rasya hanya menghela nafas. "Jangan terlalu mengekang dia, Kal! Ibu hamil gampang stres dan tertekan. Biar dia bergerak bebas asal tidak membahayakan dirinya dan juga kandungan. Kau hanya perlu perketat keamanan Kaina dari jauh!" ucap dokter tampan itu.
"Apa kau sudah memeriksanya dengan teliti?" ucap Haikal mulai melunak.
"Sudah, sebentar lagi Kaina akan bangun. Sepertinya dia harus tetap berada didekatmu!" ucap Rasya.
Haikal hanya mendelik kesal. Mereka bercerita dan berusaha untuk mengambil kesimpulan siapa yang mengganggu Kaina. Hingga Rasya memutuskan untuk memancing ibu hamil itu agar bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Pokoknya kau harus buat Kaina mengaku tapi jangan sampai dia stres dan tertekan. Kalau tidak bisa, biar aku yang menanyakannya!" ucap Haikal tegas.
__ADS_1
Siapapun kalian, aku tidak akan mengampuni atas apa yang telah kalian perbuat kepada istriku walaupun hanya sebesar biji sawi!. Batin Haikal tegas