Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Asisten Baru


__ADS_3

Pagi menjelang, wajah Haikal tidak terlihat ramah. Ia tidak mengeluarkan sepatah katapun, bahkan ketika Kaina bertanya, ia hanya menjawab seadanya saja.


Hingga sarapan, ia tetap bungkam walaupun masih mengambilkan Kaina makanan. Semua orang menjaga sikap dengan jantung yang berdebar dihadapan pria tampan ini.


Bahkan Muzi tidak berani berkutik ketika melihat wajah sang putra. Ia menerka, jika terjadi sesuatu semalam.


Apa Filda baik-baik saja?. Batin Muzi khawatir.


"Aku kenyang," ucap Kaina lirih.


Melihat Haikal yang terdiam sedari tadi, ia merasa sedih walaupun perlakuan hangat tetap diberikan oleh pria tampan itu.


"Habiskan, Sayang!" ucap Haikal.


"Aku merasa mual," ucap Kaina lirih.


Ia mencari jawaban lain, melihat Haikal yang seperti itu, ia merasa tidak napsu makan pagi ini. Padahal, menu sarapan adalah makanan kesukaannya.


"Pak, bungkus bekal untuk Kaina!" ucap Haikal terdengar begitu tegas dengan suara beratnya.


Ibu hamil itu terdiam dan meminum susu hangat yang sudah disediakan. Haikal hanya memakan makanannya tanpa menoleh sedikitpun.


"Aku boleh ikut ke perusahaan?" ucap Kaina lirih.


Perhatian semua orang teralihkan, terutama Muzi yang terlihat tidak suka dengan permintaan Kaina.


"Kenapa?" tanya Haikal.


"Tidak apa, Sayang," ucap Kaina lirih.


"Pak Son, Kirim surat ke kampus Kaina," ucap Haikal menghabiskan suapan terakhirnya.


"Haikal, kamu terlalu banyak menghabiskan waktu untuk perempuan ini!" ucap Muzi ketus.


Haikal tidak menanggapi ucapan sang ibu karena masih merasa sangat kesal dengan apa yang sudah dilakukan olehnya.


"Ayo, Sayang!" ucap pria tampan itu menggandeng tangan Kaina.


"Haikal, Mommy sedang berbicara denganmu!" ucap Muzi sedikit meninggikan suaranya.


"Mom, jangan sampai meja makan ini aku tendang. Kaina hampir saja keguguran karena perempuan itu! Jangan sampai aku juga marah kepadamu karena kejadian semalam!" ucap Haikal tegas sambil menatap tajam sang ibunda.


Kaina menggenggam erat tangan Haikal dan sedikit menariknya. Ia sangat tidak suka jika Haikal juga berbicara kasar kepada orang tuanya.

__ADS_1


Pria tampan itu menoleh dan menatap Kaina dengan tajam. "Jangan membentak, ibumu!" ucap Kaina lirih sambil menunduk.


Haikal tidak mengucapkan sepatah kata lagi. Ia segera menggandeng Kaina keluar dari rumah itu dan membawanya ke kantor seperti apa yang diminta.


"Apa aku berbuat salah?" ucap Kaina dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tidak! Aku hanya butuh ketenangan. Aku sudah lelah, sementara masalah selalu saja datang bertubi-tubi," ucap Haikal memijat pelipisnya.


Kaina tidak lagi berbicara, ia merasa ingin menangis saat ini. Apa aku hanya menambah masalahmu? Puluhan triliun hilang begitu saja hanya karena mendengar kabarku semalam. Batinnya.


Haikal menghela nafas. Ia menarik Kaina dan memeluknya dengan lembut. Ibu hamil itu hanya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh sang suami.


"Maafkan aku!" ucap Haikal lirih.


"Tidak apa. Aku yang datang dan hanya menambah bebanmu," ucap Kaina dengan air mata yang sudah menetes.


"Aku tidak bermasud seperti itu!" ucap Haikal.


"Aku paham, Sayang!" ucap Kaina lirih.


"Sayang?" panggil Haikal.


"Aku ingin istirahat di apartemen saja. Nanti aku mengganggu pekerjaanmu jika ikut ke perusahaan!" ucap Kaina semakin tercekat.


"Tidak apa, aku ingin istirahat saja. Kamu lanjutlah bekerja, nanti aku malah mengganggumu!" ucap Kaina bangkit dan tersenyum menatap Haikal.


Pria tampan itu hanya terdiam sambil memijit dahinya pelan. Rasa marah kepada sang ibu membuatnya tidak bisa berpikir tenang lagi.


Mereka hanya terdiam hingga mobil tiba di perusahaan. Kaina tidak lagi berbicara dan hanya mengikuti langkah kaki sang suami.


"Selamat pagi, Tuan Muda," Sapa satpam sedikit menunduk.


Ia terkejut ketika melihat Haikal tengah menggandeng Kaina, namun wajah gadis itu tertutupi oleh masker dan juga topi, sehingga terlihat tidak terlalu jelas.


"Pagi!" ucap Haikal dingin dan terdengar begitu tegas.


Semua karyawan menatap sang atasan sambil terkejut. Mereka menyapa namun sesekali mencuri pandang dan melihat siapa yang tengah dibawah oleh tuan muda itu.


"Aku dilihatin sama semua orang," ucap Kaina lirih ketika berada di dalam lift.


"Tentu saja. Selain perempuan itu, aku tidak pernah membawa perempuan ke perusahaan. Apalagi aku menggandeng tanganmu seperti ini," ucap Haikal mengecup tangan mungil itu.


"Apa kamu tidak takut dikira om-om yang sedang menculik anak kecil?" ucap Kaina menatap pantulan mereka di cermin besar yang terpasang di dinding lift itu.

__ADS_1


"Apa aku terlihat se tua itu?" tanya Haikal mengernyit.


"Aku tidak berkata seperti itu, Sayang. Kamu yang bilang sendiri!" ucap Kaina menunduk.


Haikal mulai bisa tersenyum, sungguh beban di hatinya belum lega, mengingat kejadian kemarin. Namun kepolosan Kaina membuat dirinya bisa tersenyum.


"Calon asistenmu akan datang, nanti akan kita lihat apakah dia pantas atau tidak," ucap Haikal.


"Kang Yono sudah lebih dari cukup untuk mendampingi aku, Sayang. Jika ditambah lagi, mahasiswa lain pasti akan berpikiran yang tidak-tidak," ucap Kaina menatap Haikal lekat.


"Tidak apa! Yang penting tidak terjadi masalah denganmu dan anak-anak kita!" ucap Haikal mengusap lembut kepala Kaina dengan gemas.


"Jangan marah lagi!" ucap Kaina dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tidak, aku tidak marah!" ucap Haikal tersenyum. "Ayo! Hari ini aku ada banyak agenda, kalau kamu lelah, nanti istirahat saja di dalam ruanganku," ucap Haikal membawa Kaina masuk ke dalam ruangannya.


Kaina menatap sofa yang dulu pernah ia duduki, saksi bisu dimana mereka bertemu untuk pertama kalinya. Ia masih ingat kata-kata Haikal yang begitu ketus dan juga jahat kepadanya.


Tanpa ia sadari, tangan Haikal melingkar ditubuhnya. "Maafkan aku yang dulu, Sayang!" ucap Pria tampan itu merasa bersalah.


"Tidak apa. Aku sudah sering mendapatkan perlakuan seperti itu. Jadi, sudah biasa saja," ucap Kaina tersenyum kecut.


Mereka berpelukan untuk beberapa saat. Haikal meminta Kaina untuk duduk di atas sofa, dan menyerahkan remot televisi kepada ibu hamil itu.


Ia mengambilkan beberapa cemilan dan membuka kotak bekal yang dibawa dari rumah tadi.


"Aku mau kerja dulu, yang anteng di sini ya," ucap Haikal mengecup bibir Kaina dengan lembut.


Gadis itu mengangguk, ia tersenyum dan mulai merasa lapar. Melihat Haikal yang sudah kembali tenang, membuat ia merasa ingin memakan semua makanan yang ada di atas meja.


Tak lama pintu diketuk oleh Along. Asisten tampan itu masuk ke dalam ruangan bersama dengan seorang gadis cantik.


"Selamat pagi, Tuan Muda. Ini perempuan yang saya maksud semalam," ucap Along menunduk sopan.


Haikal tidak menanggapi, ia masih sibuk memeriksa berkas-berkas penting yang harus diperiksa dengan sangat teliti.


"Mas?" panggil Kaina mengernyit ketika Haikal tidak memberikan respon sedikitpun.


"Sebentar ya, Sayang!" ucap Haikal masih fokus.


Perempuan itu membulatkan mata mendengar respon yang keluar dari mulut Haikal. Ia cukup lama mengenal laki-laki hebat yang ada dihadapannya ini. Haikal akan kesal dan marah, jika siapa saja tidak mau menunggu hingga ia menyelesaikan pekerjaannya.


Siapa gadis yang memanggil tuan muda itu dengan sebutan 'Mas'? Saya rasa dia bukan Nona Meidina. Lalu siapa?. Batin perempuan itu menelan ludahnya kasar.

__ADS_1


__ADS_2