Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Tidak bisa menahan diri


__ADS_3

"Selamat siang semuanya. Terima kasih karena telah menyempatkan untuk hadir di acara perayaan kelulusan putri kedua saya. Ini sungguh suatu kebanggaan, karena Selena merupakan lulusan terbaik di sekolahnya. Tepuk tangan dulu untuk putri saya," ucap Leo tersenyum penuh bangga.


Ada rasa berbeda di dalam hati Kaina. Ia hanya menghela nafas untuk meredakan sesak yang tengah ia rasakan saat ini.


Aku bahkan lulusan terbaik di tingkat Kota, 8 terbaik tingkat provinsi. Tapi, Ayah tidak memberikan aku selamat dengan wajah bahagia seperti itu. Aku ... aku merasa iri. Batin Kaina.


Ia hanya menunduk sambil memainkan jemari tangannya yang mulai terasa dingin.


"Ayah mengucapkan selamat kepada kamu, jadilah anak yang bisa membanggakan dan menjadi manusia yang bisa bermanfaat untuk orang lain," ucap Leo mengusap kepala selena dengan penuh kasih.


Kaina hanya menggigit bibirnya karena menahan rasa sedih yang semakin mendesak untuk dikeluarkan.


"Malam ini, sekaligus hari ulang tahunmu, jadi ayah sudah menyiapkan sebuah kejutan yang akan membuat semua orang terpesona nantinya," ucap Leo tersenyum.


Sebuah truck towing datang memasuki gerbang rumah yang masih begitu luas. Sebuah mobil sport keluaran terbaru turun dari sana.


Semua mata beralih dan terpesona melihat kemewahan mobil yang berwarna pink sesuai dengan warna kesukaan Selena.


"Ayah, i-ini mobil impian aku!" ucap Selena melompat kegirangan.


"Iya, Sayang. Ini kuncinya, lihatlah mobil milikmu itu!" ucap Leo tersenyum sembari menyerahkan kunci mobil itu kepada Selena.


Ya Tuhan, aku benar-benar terlihat sangat menyedihkan. Ayah memberikan mobil mewah kepada Selena disaat perusahaan baru saja stabil. Sepertinya aku salah datang ke acara seperti ini. Batin Kaina terkejut dengan air mata yang menggenang.


Ia hanya bisa menyaksikan bagaimana orang-orang menatap kagum kearah Selena dan mobilnya.


Beberapa kali terdengar helaan nafas keluar dari mulut Kaina. Bohong, jika dia berkata tidak merasa iri, ia sungguh sangat iri. Melihat sang ayah yang lebih menyayangi Selena dan Bobi dibandingkan dirinya.


Bunda, ayah sangat jahat. Kenapa dia memperlihatkan itu semua kepadaku? Walaupun kini aku bisa saja meminta kepada tuan muda, tapi ayah tidak pernah memperlakukan aku seperti itu. Batin Kaina sangat sedih.


Nabila dan kang Yono saling berpandangan. Mereka melihat raut wajah yang begitu sedih dari Kaina.


"Bik?" panggil Kaina ketika melihat salah satu pelayan rumah.


"Eh, iya Non. Ada yang bisa bibi bantu?" tanya pelayan itu.

__ADS_1


"Bisa tolong bersihkan kamar saya?" tanya Kaina.


Pelayan itu terdiam dan tidak tau harus berkata apa.


"Biar saya saja!" ucap Kaina berjalan menuju kamarnya.


"Tunggu, Non. Itu, kamarnya sudah menjadi gudang. Ada kamar tamu yang kosong di samping kamar tuan muda," ucap Bibi itu dengan tidak enak.


Nabila dan juga kang Yono terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh pelayan itu. Kaina terdiam, ia hanya terpikirkan tentang barang-barang yang belum sempat ia ambil.


Barang peninggalan sang ibunda yang sudah lama ia simpan. Termasuk beberapa tabungan dan juga perhiasan yang ia simpan di kamar itu.


"Tolong bersihkan, Bi! Saya ingin beristirahat!" ucap Kaina lirih.


"Baik, Nona," ucap pelayan itu segera membersihkan kamar yang dimaksud.


"Nona, apa anda baik-baik saja?" tanya Nabila.


"Aku hanya ingin beristirahat kak, aku takut mengalami kontraksi lagi!" ucap Kaina lirih.


Hanya mereka saja yang mendengar ucapan Kaina. Sementara yang lain, hanya memandang gadis itu dengan sebelah mata dari jauh.


"Kaina?" panggil Leo kembali setelah acara selesai.


Ibu hamil itu langsung merubah raut wajahnya dan tersenyum. "Apa ada, Yah?" tanya Kaina.


"Ayah dengar kamu pindah kampus, kenapa?" tanya Leo.


"Tidak apa, Ayah. Hanya sedikit lebih jauh dari apartemen. Jadi, aku memilih kampus yang lebih dekat saja," ucap Kaina tersenyum.


"Kemana kamu pindah?" tanya Leo.


"Ke kampus C," ucap Kaina.


"Itu kampus menengah ke bawah, kenapa kamu tidak memilih kampus yang lain yang lebih bagus?" tanya Leo tidak suka.

__ADS_1


"Aku hanya memilih tempat yang cocok denganku. Di sana, aku bisa mendapatkan perlakuan layaknya manusia normal, bukan seperti sampah," ucap Kaina masih tersenyum.


"Apa maksud kamu?" tanya Leo tidak paham.


"Tidak apa, Ayah. Aku sudah menemukan tempat terbaik dan sesuai dengan kemampuan putrimu yang bodoh ini," ucap Kaina tersenyum dan berdiri.


Leo tersentak mendengar ucapan Kaina yang begitu tajam. Ia merasa tertampar dengan ucapan sang putri yang tidak pernah berkata kasar kepadanya.


"Aku ingin istirahat sebentar, Yah. Tubuhku rasanya begitu remuk karena harus melayani tuan muda dengan segala perintah dan amarahnha, agar bisa membelikan Selena mobil sport terbaru dan barang branded lainnya. Mungkin setelah ini, aku harus bekerja lebih keras lagi untuk membelikan Bobi helikopter atau pesawat jet," ucap Kaina berjalan sambil menggandeng tangan Nabila.


Bukan hanya Leo, tapi Sisca pun juga ikut terkejut mendengar cara Kaina berbicara. Seolah tanpa aturan dan tidak sopan sedikitpun.


Para keluarga yang lain hanya terdiam mengernyit, mencerna ucapan dari Kaina. Sementara Selena merasa malu dan tidak suka dengan kakak tirinya itu.


Mereka berbisik dan menerka, apa yang terjadi sebenarnya. Sebab yang mereka tau, Kaina sudah menikah dengan tuan muda Haikal, tanpa tau peristiwa apa yang membuat pernikahan itu terjadi.


Sisca mengikuti Kaina ke dalam kamar tamu itu. Ia menyelonong masuk tanpa sempat dicegat oleh Kang Yono.


"Apa maksud kau berbicara seperti itu?" ucap Sisca marah.


Kang Yono langsung menghalangi Sisca agar tidak terlalu dekat dengan Kaina. "Tolong jangan mencari masalah, Nyonya! Nyonya muda kami sedang tidak enak badan!" ucapnya tegas.


"Siapa kau ha? Dasar supir rendahan! Minggirlah!" ucap Sisca berusaha untuk meraih Kaina.


Leo yang mendengar keributan langsung menyusul sang istri ke dalam kamar tamu itu. Ia terkejut ketika Yono sedang menahan Sisca yang hendak menggapai Kaina.


"Ma, berhentilah! Apa yang kamu perbuat?" ucap Leo menarik paksa sang istri.


"Dia sudah membuatku malu, Pah! Apa kamu tidak lihat bagaimana keluargaku mendengar ucapannya?" ucap Sisca marah.


"Sudahlah! Semakin kamu berteriak seperti ini, mereka akan semakin ingin tau apa yang terjadi dan kita akan semakin malu!" ucap Leo tegas.


"Anak kamu itu memang selalu membuat malu, pembawa sial dan juga tidak tau diri!" ucap Sisca menghempaskan tangannya.


Ia menatap tajam Kaina yang sedang duduk di atas ranjang dan berada di belakang Nabila.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari jika seorang laki-laki tengah berdiri di ambang pintu dengan wajah yang tidak bersahabat lagi mendengar apa yang dikatakan oleh Sisca.


"Siapa yang kau sebut dengan pembawa sial?" ucapnya dengan suara yang begitu berat dan jugaa tegas.


__ADS_2