Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Cintai Aku Kaina!


__ADS_3

Pagi menjelang, Kaina mengerjab dan merasakan tidak ada yang memeluknya lagi seperti semalam. Ada sedikit rasa sedih yang mulai menyeruak dari hatinya.


Ia mencoba duduk dengan kepala yang terasa berat dan sakit. Kamar itu terlihat kosong tanpa ada tanda-tanda kehidupan di sana.


Kemana tuan muda? apa aku ditinggal sendirian di sini?. Batinnya.


Ia mencoba berjalan keluar dari kamar, bunyi penggorengan mulai terdengar di telinganya.


Kaina terdiam dan terpaku, ketika melihat Haikal tengah memasak hanya menggunakan boxer dan celemek saja. Sehingga otot-otot kekar pria tampan itu terlihat jelas dan menggoda.


Ia tersenyum tipis, ada rasa berbeda dalam hatinya saat ini. Rasa yang mulai menatap Haikal sebagai suami idaman, bukan lagi sebagai tuan muda.


Jika pernikahan ini didasari oleh cinta, aku pasti akan menjadi wanita paling bahagia dan paling beruntung saat ini. Mendapatkan suami yang begitu sempurna. Batinnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Iya melihat bagaimana Haikal yang piawai dalam memasak. Peluh keringat membasahi wajah pria tampan itu. Aroma semerbak membelai hidung Kaina dan membuatnya tersenyum.


"Tuan?" panggil Kaina sambil berjalan mendekat.


Haikal tersentak, ia terkejut dengan kehadiran gadis itu di dapur.


"Kenapa kau kemari?" tanya Haikal kesal.


"Saya pikir, anda meninggalkan saya di sini sendiri," ucap Kaina lirih.


"Kembalilah ke kamar! Kau harus beristirahat dengan cukup, karena nanti malam aku akan menggempurmu tanpa ampun!" ucap Haikal mengibaskan tangannya.


Glek!


Kaina menelan ludahnya dengan kasar. Mata gadis itu membulat dengan sempurna, ia reflek memegang kerah baju dengan erat.


"Apa? Sana istirahat, sebelum aku kesal dan marah! Kau masih hutang satu penjelasan kepadaku!" ucap Haikal ketus.


"Hmm, sa-saya ingin membantu saja!" ucap Kaina takut.


"Tidak! Kau, kau mulai melawan?" tanya Haikal.


Kaina langsung menggeleng. "Tuan mengambil pekerjaan saya!" ucapnya lirih sambil menunduk.


Haikal mendengus, ia mematikan kompor dan menggendong Kaina kembali ke kamar. Telinga pria tampan itu terlihat memerah, ia merasa malu karena ketahuan tengah memasak. Kepandaian tersembunyi yang tidak ada satu orang pun tau.


"Tu-tuan, anda mau apa?" tanya Kaina mulai takut.


Kenapa aku harus menentang tuan muda ini? Habislah aku, huaa. Batinnya dengan wajah yang pucat.

__ADS_1


Haikal membaringkan Kaina di atas kasur dan menatap dalam wajah gadis itu. Jantungnya berdetak lebih cepat, merasakan sebuah getaran yang berbeda, getaran yang sudah lama tidak ia rasakan setelah kepergian dia.


Gadis ini memang terlihat cantik dengan wajah polosnya. Batin Haikal.


Kaina juga merasakan hal yang sama, jantungnya mulai berdetak dengan tidak stabil. Ada rasa yang bercampur aduk, tengah ia rasakan saat ini.


"Kau jangan membantah, Kaina!" ucap Haikal dengan wajah garang.


"Ma-maafkan saya, Tuan!" ucap Kaina takut.


Namun ia tersentak ketika mendengar Haikal menyebut namanya.


Ini pertama kali, tuan muda menyebut namaku. aku tidak salah dengar, 'kan?. Batinnya masih dengan menatap Haikal.


"Diam di sini, atau mandi bersihkan dirimu. Semua peralatan sudah ada di dalam. Pokoknya selesai saya masak, kau harus wangi dan cantik!" ucap Haikal tegas.


Kaina mengangguk cepat agar tidak membuat Haikal marah.


"Gadis pintar! Ah, saya lupa, jika kau bukan gadis lagi. Nanti malam persiapkan dirimu, biaya rumah sakit sudah menumpuk, jangan lupa di bayar!" ucap Haikal mengisap bibir Kaina dan menjilat bibinya sendiri.


Glek!


Gadis itu terlihat kesulitan untuk menelan ludahnya melihat ekspresi Haikal seperti singa kelaparan.


"Pergilah! Nanti sore kita akan berkeliling," ucap Haikal mengecup bibir Kaina dan sedikit meelumatnya.


Kaina memejamkan mata dengan ragu membalas ciuman Haikal. Namun, ketika ia ingin membalas, pria tampan itu lebih dulu menghakhiri pagutannya.


Haikal langsung meninggalkan Kaina sambil tersenyum penuh kemenangan. Ia tau jika sang istri hendak membalas pagutannya, sengaja ia lakukan agar Kaina bisa mendambakan sentuhan yang selalu ia berikan.


Ia menyadari, Kaina adalah gadis lugu yang menginginkan seseorang yang bisa membuatnya merasa di terima, dan dilindungi. Sehingga Haikal dengan mudah memasuki gadis itu, dengan menghadirkan rasa aman dan sedikit perhatian.


"Hahaha," ia tidak bisa menahan tawa yang sudah ia tahan sedari tadi.


Sementara Kaina merasa malu dengan apa yang ia lakukan. Tanpa disadari, ia mulai mendambakan setiap sentuhan Haikal.


Wajahnya memerah merasa malu dengan dirinya sendiri, menolak namun juga berharap lebih kepada pria tampan itu.


Apalagi ketika mendengar Haikal tertawa, ia merasa sangat malu. Semoga saja tuan muda tidak menyadari tindakanku tadi! Hiks, mau di taroh dimana wajahku nanti!. Batinnya.


Dengan wajah yang masih merah merona, Kaina segera membersihkan diri sesuai dengan permintaan sangat tuan muda, sebelum ia kembali kesal dan menghancurkan bulan madu ini.


Benarkah tuan muda mengajakku berbulaan madu?. Batinnya dengan wajah yang semakin terasa panas.

__ADS_1


Ia menghidupkan air dan mengisi bathtub sambil membasahi wajahnya dengan air.


Setidaknya, tuan muda tidak berbuat kasar dan melekatkan tangan kepadaku. Semoga saja, suatu saat, ada harapan dalam hubungan ini. Walaupun terasa mustahil. Batinnya.


Ia segera membersihkan diri sesuai dengan perintah Haikal tanpa tertinggal.


Sementara pria tampan itu masih terkekeh, karena berhasil mengerjai Kaina. Ia melanjutkan kegiatan memasaknya pagi ini.


Membuat sarapan, sebagai permintaan maaf dari sang ibunda yang sudah mengusirnya.


Bacon dan telur setengah matang, tak lupa dengan roti gandum dan juga salad. Menu sederhana yang dibuat oleh Haikal dengan penuh rasa cinta.


Cinta? Apakah itu mustahil atau memang sudah hadir. Hanya waktu yang bisa menjawabnya. batin Haikal tersenyum setelah meletakkan hidangan terakhir.


Ia melepas celemek dan menyusul Kaina yang masih berada di dalam kamar mandi. Ia ikut masuk dan mandi bersama dengan sang istri.


"Tuan!" Pekik Kaina terkejut.


"Sstt! Jangan berisik! Aku juga belum mandi," ucap Haikal ikut berendam bersama Kaina.


Wajah gadis itu kembali merona mengingat apa yang ia lakukan tadi. Haikal menahan senyum ketika melihat Kaina yang seperti salah tingkah.


"Kenapa wajah kau merona? Apa jangan-jangan, kau menginginkannya?" tanya Haikal menggoda gadis itu.


Kaina menggeleng dengan wajah yang semakin merona. Haikal sudah tidak bisa menahan diri, ia tertawa dan membuat Kaina merasa ingin tenggelam saja ke dasar bumi.


"Apa kau mendambakanku? Kau mulai mencintaiku gadis kecil?" tanya Haikal mencolek dagu Kaina.


Lidah gadis itu kelu, ia hanya menunduk tanpa menjawab pertanyaan Haikal, dan membuat pria tampan itu gemas.


"Ck, tidak usah malu!" ucap Haikal tertawa.


Kaina tersenyum tanpa berani mengangkat kepala.


"Cintai aku, Kaina. Cintai aku sedalam hatimu, dan jangan pernah berhianat!" ucpa Haikal tegas.


Kaina mengangkat wajahnya dan menatap Haikal dengan dalam. "Apa saya boleh berkata tidak, Tuan?" tanya Gadis itu lirih.


Wajah Haikal berubah datar. Ia tidak suka dengan perkataan gadis ini. "Tidak! Ini perintah!" ucapnya langsung berdiri dan membilas tubuhnya.


"Ceptlah! Saya tunggu diluar!" ucap Haikal keluar dari kamar mandi dan membanting pintu.


Kaina terdiam dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak tau harus berbuat apa.

__ADS_1


Apa anda akan membuat saya jatuh cinta dan nanti akan anda lepaskan ketika harapan dan rasa cinta saya sudah begitu dalam. Saat itu hanya tersisa semua rasa yang sia-sia dan hati yang hancur. Batin Kaina.


__ADS_2