
Sehabis jam pulang kuliah, Kaina mendapatkan panggilan dari sang suami. Entah kenapa pria tampan itu seolah sudah hafal jadwal kuliahnya. Padahal ia saja baru mendapatkan jadwal itu semalam.
Kaina tersenyum manis ketika wajah tampan sang suami terlihat begitu jelas di layar ponselnya. Ia tersenyum dan menutup sebagian wajah Haikal agar tidak ada yang mengetahui siapa yang tengah menelfon.
"Cie, yang ditelfon suami," ucap Hesti menggoda Kaina.
Gadis itu hanya tersenyum malu dan memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia kini tengah menunggu jemputan, karena Kang Yono memaksa untuk menjemput Kaina ke dalam kampus.
"Kamu pasti orang berada, ya? Ke kampus saja di jemput paket supir," ucap Hesti tersenyum.
"Tidak, aku orang biasa saja. Tapi, pekerjaan suamiku lumayan untuk menyewa supir, selama dia di luar kota," ucap Kaina tersenyum.
"Pasti suami kamu sayang banget. Lagi jauh aja masih mastiin kamu dan dedek baik-baik aja," ucap Hesti.
"Iya, aku bersyukur untuk itu," ucap Kaina dengan wajah yang merona.
"Semoga kalian langgeng. Ah, sayangnya aku tidak di izinkan untuk menikah muda," ucap Hesti tersenyum kecut.
"Selagi kamu memiliki waktu, lebih baik bahagiakan diri sendiri. Karena ketika menikah, ada ikatan yang akan membuat kita merasakan hal yang berbeda ketika sendiri," ucap Kaina.
"Ya, Kamu benar. Tapi, menikah muda itu bukannya lebih baik dari pada melakukan **** bebas," ucap Hesti.
"Jika kamu masih waras dan berpikiran lurus, pasti kamu bisa memilah mana yang baik dan mana yang tidak. Apa konsekuensi yang akan kamu dapat dalam setiap tindakan nantinya. Menikah jika untuk merasakan nikmat dunia, itu tidak akan bertahan lama," ucap Kaina.
Hesti tersenyum. "Ya, kamu benar. Sesuatu yang indah belum tentu seindah yang kita lihat," ucapnya.
"Selagi ada waktu, kamu manfaatkan. Karena kalau sudah hamil seperti aku, pasti akan susah untuk melakukan apapun," ucap Kaina.
Hesti mengangguk dan membantu ibu muda itu untuk menaiki mobil mewah yang sudah menunggunya.
"Aku masih bisa berjalan sediri, nona Hesti! Perutku masih rata dan jalanku masih normal," ucap Kaina terkekeh.
"Haha, tidak apa. Setidaknya aku pernah membantu kamu," ucap Hesti terkekeh.
"Haha, kamu atur saja deh. Ah iya, kamu mau pulang sekalian?" tanya Kaina.
"Tidak, aku bawa motor. Kapan-kapan main ke rumah aku ya!" ucap Hesti.
"Okey, aku duluan. Hati-hati bawa motornya!" ucap Kaina tersenyum dan melambaikan tangannya.
Hesti melakukan hal yang sama, mengiringi pintu mobil yang tertutup. Kaina tersenyum senang dan melupakan seseorang yang sedang menunggu dirinya sedari tadi.
__ADS_1
"Sayang?" panggil Haikal dan membuat Kaina terkejut.
Ia segera mengambil ponselnya dan menatap wajah kesal Haikal yang sudah tidak bisa ditahan lagi. "Eh, maaf tuan muda. Aku sampai lupa kalau kamu menelfon," ucapnya terkekeh.
"Panggil apa tadi?" ucap Haikal kesal.
"Haha, Sayang. Jangan marah, aku hanya bercanda," ucap Kaina tertawa hingga matanya menyipit.
Haikal merasa gemas melihat wajah Kaina yang begitu cantik ketika tersenyum maupun tertawa.
"Jangan tertawa, Sayang. Kamu membuatku gemas!" ucap Haikal dengan telinga yang memerah.
"Semenjak kamu bucin, mau nangis, mau sakit, mau tersenyum, aku selalu mengemaskan dimatamu," ucap Kaina semakin tidak bisa menahan tawanya.
"Sayang!" ucap Haikal dengan wajah yang merona.
"Ah, kamu selalu gitu, Sayang. Untung lagi hamil, kalau gak udah tidur seharian aku," ucap Kaina kesal.
"Haha, namanya juga pengantin baru," ucap Haikal terkekeh.
"Dih, sekarang udah sampai mana?" tanya Kaina menatap bibir Haikal tanpa berkedip.
"Udah sampai dari tadi, Sayang. Sekarang lagi istirahat dulu. Bentar lagi mau lanjut kerja. Kamu jadi ke apartemen?" tanya Haikal.
Kaina terlihat menghela nafas. Ia mulai mendambakan sang suami yang tengah jauh saat ini.
"Kamu sudah makan?" tanya Kaina mengalihkan tatapan matanya.
"Sudah, Sayang. Kenapa? Kamu mau aku kecup?" ucap Haikal menggoda ibu hamil itu.
"Hmm, jangan seperti itu! Kamu tau kan, bagaimana kalau aku udah pengen banget," ucap Kaina cemberut.
Haikal hanya terkekeh, mereka terus mengobrol hingga panggilan video itu terputus karena Haikal harus bekerja dan menyelesaikan semuanya dengan cepat.
Wajah Kaina nerangsur murung. Ia mulai merindukan Haikal, walaupun selalu terkekang, namun ia tidak merasa keberatan dengan apa yang dilakukan oleh pria tampan itu.
"Pak, kita mampir ke super market dulu, ya!" ucap Kaina lirih.
"Nyonya membutuhkan sesuatu? Biar saya suruh orang saja untuk membelinya," ucap Kang Yono.
"Tidak apa, Kang. Saya ingin membelinya sendiri!" ucap Kaina.
__ADS_1
Yono tidak memiliki pilihan. Ia mengikuti keinginan Kaina untuk berhenti di sebuah Super market yang berada tak jauh dari apartemen.
Seperti bapak dan anak, mereka berjalan masuk ke dalam pusat pembelanjaan itu. Yono dengan setia menemani Kaina dan menjaga ibu hamil itu dengan baik.
Kaina hanya membeli beberapa jenis buah yang begitu menggugah seleranya sedari tadi. Rujak buah, itu yang terbayang di pikirannya. Bengkoang, timun, kedondong, jambu air, dan juga mangga ia pilih satu persatu.
Ketika memilih buah-buahan, Kaina terkejut ketika mendengar namanya di panggil oleh seseorang yang begitu familiar.
"Kaina?" panggil Leo menghampiri ibu hamil yang masih terpaku sambil memegang buah-buahan di tangannya.
"A-ayah?" ucapnya lirih.
"Bagaimana keadaanmu? Selama menikah, kamu tidak pernah mengunjungi ayah. Bahkan ketika ayah di rawat pun kamu tidak menjenguk juga," ucap Leo.
"A-aku tidak tau kalau Ayah sakit. Maaf, Yah. Aku tidak bisa jauh-jauh dari tuan muda. Baru kali ini aku memiliki kesempatan untuk keluar rumah," ucap Kaina tanpa berani menatap sang ayah.
"Mana tuan muda?" tanya Leo mengernyit.
"Tuan muda baru saja berangkat ke luar kota untuk melakukan perjalanan bisnis," ucap Kaina.
Leo hanya menatap Kaina dari ujung rambut hingga kepala. "Kekasih tuan muda sudah kembali. Ayah harap kamu bisa hamil dan melahirkan keturunan untuk dia. Perusahaan ayah belum stabil, jika sudah membaikpun mereka akan dengan mudah menjatuhkannya kembali. Jadi, Ayah harap kamu tidak akan membuat tuan muda kecewa!" ucap Leo mengusap bahu Kaina.
Ibu hamil itu hanya terdiam dan menyimpan rasa kesalnya di dalam hati. Bagaimanapun juga Leo adalah Ayahnya dan sangat tidak pantas jika berkata kasar dan mengeluarkan apa yang tengah ia rasa saat ini.
"Sepertinya aku harus segera pulang. Ada banyak pekerjaan yang harus aku lakukan," ucap Kaina menghindari tangan Leo untuk menyentuhnya.
Pria paruh baya itu terpaku melihat respon dari Kaina. "Apa kau tidak merindukan, Ayah?" tanya Leo mengernyit.
"Tidak, Sudah sangat lama aku tidak memiliki siapa-siapa. Jadi, Ayah tenang saja, tuan muda tidak akan mencabut saham miliknya di perusahaan! Aku permisi," ucap Kaina segera berlalu.
Tuan muda tidak akan mencabutnya, karena itu perusahaan milikku dan akan aku ambil nanti, ketika aku sudah siap!. Batin Kaina.
Leo terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Kaina. Gadis kecilnya kini terlihat sudah berani berbicara seperti itu.
Yono hanya menatap Leo dengan tajam. Ia tidak sudah dengan apa yang dikatakan oleh pria tua itu.
"Saya harap, Anda tidak mengganggu Nyonya muda. Atau ketakutan anda akan terjadi melalui tangan saya!" ucap Yono.
Leo mengernyit sambil menatap Yono dari atas hingga ke bawah. "Cih, jangan ikut campur! Kau hanya supir, jangan berpikir terlalu jauh!" ucapnya.
Yono tersenyum mengejek ke arah Leo. "Saya memang seorang supir, Tuan. Tapi, saya berada di bawah komando tuan muda langsung, bukan melewati asisten Along. Jadi, anda jangan macam-macam!" ucap Yono pergi meninggalkan Leo yang menahan kesal.
__ADS_1
Kaina berjalan dengan pelan menuju kasir agar bisa segera pulang ke apartemen dan beristirahat. Ia serasa ingin menangis mengingat ucapan sang ayah yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
"Kaina?" Panggil seseorang yang membuat jantung Kaina berdetak kencang.