Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Mendambanya


__ADS_3

Haikal pulang dengan bersemangat karena kabar dari sang ibu yang membuatnya begitu bahagia. Ia sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Kaina yang memang sudah merengek untuk memintanya pulang sedari tadi.


"Sayang?" panggil Haikal ketika membuka pintu apartemennya.


Kaina yang sedang cemberut, langsung berdiri dan menghampiri Haikal. "Kamu lama banget pulangnya!" keluh ibu hamil itu manja sambil memeluk sang suami.


"Ah, maafkan aku. Tadi, Mommy datang ke kantor," ucap Haikal menggendong Kaina dan membawanya menuju kamar.


"Tapi anak-anak merindukan Ayahnya!" ucap Kaina masih cemberut.


"Iyakah? Wah, anak-anak kangen banget sama Ayah. Bunda gak kangen juga?" ucap Haikal terkekeh sambil membaringkan Kaina di atas ranjang.


"Sedikit!" ucap Kaina merona.


"Hahaha, sudah mandi? Aku mandi dulu ya, biar wangi!" ucap Haikal tersenyum.


"Tapi kamu masih wangi!" ucap Kaina memejam matanya sambil menarik kerah kemeja Haikal.


"Dih, kamu kemarin saja masih bilang aku bau kalau pulang kerja, sekarang sudah wangi," ucap Haikal terkekeh.


"Ihh, jangan gitu!" ucap Kaina memukul pelan pundak Haikal.


Pria tampan itu terkekeh dan mengecup Kaina berulang kali. Setelah itu ia segera ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Banyak hal yang harus mereka bicarakan tentang kehidupan yang akan dijalani kedepannya.


Kaina mengekor dan menemani Haikal ketika mandi. Entah kenapa, ia mulai merasa mesum belakang ini. Ia ingin selalu melihat lekuk tubuh Haikal dan membelainya.


Setelah selesai ia hanya mengenakan celana boxer, Haikal mengajak Kaina untuk berbaring di atas ranjang dan mengelus lembut punggung sang istri.


"Ah, aku gak kuat kalau harus duduk lama-lama ketika di kampus, Yang. Pegal benget! Apa lagi kursinya agak sempit, aku merasa sesak sendiri," keluh Kaina.


"Nanti aku konsultasi sama bapak dekan ya, Sayang. Soalnya itu kampus negeri, aku gak bisa melakukan banyak hal di sana," ucap Haikal.


Kaina hanya mengangguk dan menghirup aroma tubuh Haikal yang membuatnya nyaman.


"Bagaimana tadi kamu bertemu dengan ayah?" tanya Haikal membuat Kaina tersenyum.


"Ayah meminta maaf dan ingin memperbaiki hubungannya denganku. Ah, aku merasa begitu bahagia, walaupun aku belum tau apakah ayah tulus atau tidak," ucap Kaina berbinar.


"Setidaknya dia ingin memperbaiki semua, Sayang. Kamu harus tetap waspada, jika terjadi sesuatu yang bisa membahayakan kalian!" ucap Haikal tersenyum.


Kaina mengangguk dan masih tersenyum. "Ayah juga bilang, kalau perusahaan juga akan menjadi milikku nanti, setelah ayah pensiun," ucapnya.

__ADS_1


"Benarkah? Bagus kalau begitu, berarti kamu tidak perlu repot-repot untuk mengambilnya," ucap Haikal.


"Iya, Sayang. Oh iya, ayah bilang mau izin datang ke sini, boleh gak?" tanya Kaina penuh harap.


"Boleh, Sayang. Tapi cuma ayah saja!" ucap Haikal terdengar tegas


Kaina mengangguk dan memeluk Haikal dengan manja. Ia merasa begitu bahagia kali ini karena bisa kembali dekat dengan sang ayah, walaupun belum sepenuhnya percaya.


Tapi, setidaknya Leo menyadari kesalahan yang sudah mengabaikan dirinya sejak memiliki keluarga baru.


"Sayang, kalau kamu aku ekspos ke dunia, kamu mau?" tanya Haikal.


"Maksudnya?" tanya Kaina tidak paham.


"Mommy mau mengadakan resepsi pernikahan besar-besaran untuk kita. Jadi, kamu siap untuk aku kenalkan kepada semua orang?" ucap Haikal tersenyum.


"Benarkah?" tanya Kaina tidak percaya. "Tapi, kenapa Mom mau mengadakan resepsi besar? Apa Mommy sudah menerimaku?" sambungnya penuh harap.


"Jangan terlalu memikirkan itu, Sayang! Diterima atau tidak, itu urusan belakang. Yang jelas, Mommy mau berbaik hati untuk mengadakan resepsi pernikahan untuk kita," ucap Haikal tersenyum.


"Aku berharap, Mommy mau menerimaku sebagai menantu. Mungkin nanti tunggu aku memantaskan diri agar bisa menjadi menantu idaman," ucap Kaina tersenyum.


"Hooh, temani aku ya!" ucap Kaina memeluk Haikal.


"Iya, Sayang." Haikal merasa gemas kepada Kaina.


Ini adalah titik tertinggi dia mencintai seorang wanita. Kebahagiaan Kaina dan anak-anaknya kini menjadi tujuan utama dalam hidup pria tampan itu.


"Ajak ayah saja nanti makan malam di sini, Sayang!" ucap Haikal sambil mengecup leher Kaina dan membuat ibu hamil itu meremang.


"Iyah," ucap Kaina sambil memejamkan matanya.


Haikal mulai mendamba sang istri. Ia merasa begitu rindu dan selalu Ingin mencumbu Kaina setiap saat.


Gadis yang dulu memiliki tubuh kurus itu kini sudah terlihat sekssi dengan bentuk tubuh yang mulai terlihat. Apa lagi beberapa bagian tubuh Kaina mulai membesar, sehingga membuat Haikal kesulitan untuk menahan diri.


"Sa-sayang, tunggu!" ucap Kaina dengan wajah yang sudah merona dan nafas yang mulai menderu.


"Kenapa, hmm?" tanya Haikal dengan masih mengecup titik sensitif Kaina.


"A-aku mau menghubungi ayah dulu!" ucap Kaina berusaha untuk menghentikan Haikal.

__ADS_1


Namun, ia semakin menikmati sentuhan sang suami yang membuatnya merasa melayang ke langit ketujuh. Suara erangan kecil mulai keluar dari mulut Kaina.


Haikal semakin bersemangat untuk melanjutkan kegiatan yang paling ia sukai. Apa lagi, Kaina tidak pernah menolak ajakannya untuk bermain setiap hari.


Namun, terkadang ia merasa kasihan ketika melihat Kaina yang kelelahan meladeninya, tapi itu tidak membuat mereka berhenti untuk berolah raga bersama.


Haikal memang menyalurkan rasa cintanya dengan begitu lembut, menyapa anak-anak yang masih bersemayam di dalam rahim sang istri dengan ramah.


Hingga Haikal menuntaskan hasraat yang sudah ia tahan sedari siang tadi. Ia mengerang panjang dan memeluk tubuh Kaina dengan posesif.


Sementara ibu hamil itu tersenyum sambil mengecup bibir Haikal beberapa kali. Semua keinginannya satu-persatu bisa dikabulkan sejak bersama dengan pria tampan ini.


Walaupun banyak hal yang harus ia korbankan waktu awal menikah, namun semua kesakitan dan rasa kecewanya terbayar lunas dengan kebahagiaan yang diberikan oleh Haikal.


"Aku mencintaimu!" ucap Kain tersenyum manis.


Haikal yang sudah menutup mata, kembali membukanya. Ia menatap Kaina dan juga ikut tersenyum. "Aku, lebih mencintaimu dan anak-anak kita!" ucapnya.


Mereka berpelukan sebentar, hingga Kaina teringat untuk menghubungi sang ayah, agar bisa makan malam bersama dengannya di apartemen.


"Jangan bawa siapapun, Yah. Aku tidak ingin mood tuan muda berantakan," ucap Kaina lirih.


"Iya, Nak! Ayah berangkat sekarang ya. Kirim alamat kamu," ucap Leo antusias.


"Hmm, ayah. Aku ingin memakan ubi bakar yang di perempatan rumah kita, yang dulu sering dimakan sama bunda, boleh?" tanya Kaina penuh harap.


"Boleh, Nak! Nanti ayah belikan, ya!" ucap Leo tersenyum begitu lebar.


Panggilan itu terputus, Kaina segera membersihkan tubuhnya agar bisa mempersiapkan kedatangan sang ayah malam ini.


Tak butuh waktu lama, ia selesai. Tubuhnya terasa lebih segar sambil berkaca dan melihat perut yang mulai membuncit itu.


"Ah, pantas saja tuan muda itu selalu mengajakku bermain. Ini, ini, ini sudah membesar dan terlihat sekksi," ucap Kaina sambil menyentuh beberapa bagian tubuhnya.


Ia melihat Haikal yang masih terlelap dengan wajah lelahnya. "Terima kasih kamu sudah melakukan banyak hal untuk aku, Sayang!" ucap Kaina mengecup kening sang suami sebelum pergi keluar.


Ia menyiapkan makanan malam bersama dengan dua orang pelayanan dan juga Nabila. Sengaja memasak dalam porsi yang besar agar ibu hamil itu tidak merasa kurang ketika makan.


Haikal meminta dua orang pelayanan untuk memasak 2x lebih banyak dari biasanya. Ia ingin, Kaina tumbuh sehat bersama dengan anak-anak yang tengah ia kandung.


Semoga ayah betah ketika berada di sini. Batin Kaina ketika melihat hidangan sudah siap di atas meja makan.

__ADS_1


__ADS_2