
Haikal keluar dengan perasaan yang kesal. Ucapan Kaina terasa menusuk hingga ke ulu hatinya. Padahal ia tidak pernah menganggap Kaina sebagai beban, justru kini ia merasa tidak sendiri lagi.
Apa yang dipikirkan gadis itu? Kenapa bisa dia mengambil kesimpulan jika dia hanya menjadi beban. Ck, gadis labil!. Batin Haikal.
Emosinya masih belum stabil. Lebih baik ia membiarkan Kaina beristirahat, dari pada harus berbicara keras kepada gadis itu.
Tanpa sadar, ia sudah menaruh perhatian kepada Kaina, rasa ingin memiliki semakin kuat dan mulai menguasai hatinya.
Rasya kembali datang dan mengernyit ketika melihat Haikal duduk dan termenung.
"Apa kau belum melihatnya?" tanya Rasya.
"Sudah! Ck, gadis itu sangat labil!" ucap Haikal kesal.
"Tentu saja, umurnya baru 19 tahun. Kau saja yang sudah hampir mendekati kepala tiga, juga masih labil!" ucap Rasya menggeleng.
Haikal tidak merespon, namun Rasya melihat ada guratan kekhawatiran yang tergambar di wajah sahabatnya.
"Apa kau mulai mencintainya?" tanya Rasya.
"Jangan berbicara sembarangan! Itu tidak mungkin!" ucap Haikal ketus.
"Mungkin saja, bukankah tadi kau mengatakan jika dia sudah menjadi milikmu dan akan tetap seperti itu!" ucap Rasya menaikkan alisnya.
"Ck, bukan berarti aku mencintai dia! Gadis itu masih terlalu kecil, aku tidak akan mungkin mencintai dia, Sya. Aku sudah memiliki perempuan...,"
"Kau masih memikirkannya? Apa kau sudah buta atau kau memang menutup mata untuk melihat apa yang sudah dia lakukan?" ucap Rasya kesal.
Haikal terdiam. "Bagaimanapun juga, dia cinta pertamaku! Aku saja yang terlalu mengekang, hingga dia berbuat seperti itu!" ucap Haikal yang juga kesal.
"Terserah apa yang mau kau katakan! Jika dia kembali, jangan ganggu Kaina lagi! Dan itu kesempatan untukku agar bisa memiliki gadis cantik itu!" ucap Rasya berdiri dan masuk ke dalam ruangan Kaina.
Haikal terkejut dan melotot mendengar ucapan sahabatnya. Ia menyusul dan langsung mencengkram kerah baju dokter tempan itu.
__ADS_1
"Apa maksudmu ingin merebut gadis itu dari tanganku?" ucap Haikal dengan emosi.
Rasya tersenyum kecut. "Dia wanita yang sangat berharga, Kal! Jika kau masih dikuasai oleh ego, dia tidak akan bisa bertahan lama. Akui saja jika kau mulai mencintai Kaina! Lupakan dia yang sudah membuatmu terluka!" ucap Rasya menghempaskan tangan Haikal.
Pria tampan itu hanya terdiam dan membeku mendengar ucapan Rasya.
"Kau...,"
"Jangan menggangguku jika tengah berhadapan dengan pasien!" ucap Rasya menotong perkataan Haikal sambil menatap pria tampan itu dengan tajam.
Lagi-lagi, Haikal terdiam dan tidak bisa berkata apapun jika beradu argumen dengan Rasya. Apa yang dikatakan oleh sahabatnya selalu meruntuhkan ego yang sudah ia bangun dengan sedemikian rupa.
Rasya memeriksa keadaan Kaina dan memastikan jika gadis kecil itu baik-baik saja.
"Temani dia di sini! Infusnya sudah hampir habis. Panggil perawat untuk mengganti cairan itu. Jangan bentak-bentak dia lagi. Jika kau tidak mencintai dia, setidaknya kau perlakukan gadis ini sebagai seorang manusia!" ucap Rasya menepuk bahu Haikal.
Ia bergegas keluar dan meninggalkan sepasang suami dan istri itu di dalam ruangan.
Haikal hanya terdiam sambil menghela nafasnya beberapa kali. Ia menatap wajah pucat Kaina dengan perasaan yang tidak menentu.
Ia menggenggam tangan Kaina yang terasa dingin. Kurus dan terdapat banyak bekas luka kecil karena bekerja terlalu keras.
Ah, syalan dokter gila itu! Bisa-bisanya aku terpengaruh, tapi apa yang dikatakannya memang benar. Batinnya.
Ia berpikir keras untuk memilih antara melepaskan Kaina dan menunggu sang pujaan hati, atau melepaskan dia dan menerima Kaina yang sudah menjadi istrinya.
Ini pilihan yang sulit! Aku tidak akan mudah untuk melupakan dan menerima dalam waktu yang singkat. Tapi, sekarang rasa ingin memiliki gadis ini memang benar adanya. Batin Haikal.
Ia menggeser Kaina dan ikut berbaring di ranjang itu. Memeluk sang istri sebagai bentuk permintaan maaf dan juga penyesalan.
Sementara di rumah kediaman Leo. Sisca merasa uring-uringan karena batas tenggat waktu pembayaran arisannya sudah lewat.
Leo tidak mau memberikannya uang sebanyak 500 juta dengan alasan keadaan perusaan yang belum stabil.
__ADS_1
Ia sudah menjual beberapa perhiasan, namun masih kurang sebanyak seratus juta lagi. Hanya Kaina harapan terakhirnya, namun kini gadis itu tidak bisa di hubungi.
"Dimana dia sekarang? Mentang-mentang sudah keluar dari rumah ini, dia begitu berani untuk melawanku! Lihat saja jika dia pulang ke rumah ini, akan aku buat dia mati dengan perlahan karena jantungnya yang lemah itu!" Ucap Sisca kesal.
Ia mengumpati kasar Kaina yang tidak ingin memberikannya uang. Ia menyumpahi gadis itu agar mati lebih cepat di tangan tuan muda yang terkenal kejam itu.
Kini ia semakin merasa frustasi karena dari semalam, Kaina tidak bisa dihubungi.
"Sialnya aku tidak tau dimana gadis bodoh itu tinggal! Apa aku ancam saja dia dan memberikan peringatan, agar dia mau memberikan aku uang seratus juta?" Ucap Sisca.
Sedari tadi, ia hanya mondar-mandir di dalam kamar, memikirkan cara agar Kaina mau memberikannya uang.
Sepertinya memang harus aku lakukan, membuat laki-laki tua itu masuk ke rumah sakit karena keracunan atau sakit perut. Jika harus membunuhnya, itu tidak mungkin. Karena aku belum menemukan mangsa baru untuk diporoti!. Batinnya.
Ia segera merencanakan sesuatu untuk mencelakai Leo dan menjadikan itu sebagai ancaman agar Kaina mau memberikannya uang.
🥕🥕
Kaina menggeliat ketika merasakan sebuah pelukan yang terasa begitu nyaman dan hangat. Ia merasa enggan untuk membuka mata, karena kini ia berharap sedang berada di dalam pelukan sang ibunda dan sudah berada di alam yang berbeda.
Ia membalas pelukan itu dan tersenyum. "Bunda," ucapnya lirih.
Haikal mengernyit ketika Kaina tersenyum dan memeluknya dengan erat.
Apa dia merindukan mendiang?. Batin Haikal mengernyit.
Ia hanya memeluk Kaina sembari memperhatikan respon dari gadis itu. Ia tersenyum tipis ketika melihat wajah cantik Kaina yang berjarak sangat dekat dengannya.
Jika dilihat dia memang cantik dengan wajah mungilnya. Cekatan dan mandiri, apalagi dia begitu patuh dan bahkan ketika aku kesal dia masih sempat untuk tersenyum. Batin Haikal.
Ia mengelus kepala Kaina dengan lembut. Tersenyum tipis dan mengecup kening sang istri sebelum memejamkan mata.
Sepertinya, mulai saat ini kau tidak akan lepas dari aku, gadis kecil. Akan aku ikat kau semakin erat dan tidak bisa lepas dari genggaman tanganku!. Batinnya
__ADS_1
Ia ikut terlelap bersama dengan Kaina. Mendekap gadis itu dengan lembut dan memberikan rasa nyaman agar Kaina bisa beristirahat dengan baik.