
Haikal menatap Kaina dengan tajam melalui panggilan vidio, sehingga membuat ibu hamil itu merasa takut. Kaina bahkan tidak berani menatap Haikal yang tidak bersuara setelah dia mempertanyakan apa yang terjadi kepadanya.
Kini Kaina sudah berada di apartemen, ditemani oleh dua orang pelayan, Kang Yono dan juga dokter Amanda. Haikal memang bisa bertindak sesuai dengan keinginannya.
Kaina berada di dalam kamar dengan wajah yang ditekuk, berharap Haikal tidak marah dan membentaknya nanti.
"Jangan marah, Sayang!" ucap Kaina lirih.
"Aku gak marah, Yang! Asal kamu mau cerita, siapa yang kamu temui dan apa yang dia bicarakan sampai kamu mengalami kontraksi seperti tadi," ucap Haikal lembut namun wajah marah dan kesalnya tidak bisa disembunyikan.
"Di-dia model cantik itu, mantan kekasihmu. Dia mengajakku untuk berteman, tapi aku sudah merasa takut lebih dulu," ucap Kaina lirih.
Mata Haikal membesar dan membuat Kaina merasa takut. "Jangan marah!" ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Haikal beberapa kali menghela nafasnya meredam amarah agar tidak membuat Kaina takut. Ia memberikan kode kepada Along untuk bertindak dengan segera.
"Aku tidak marah, Sayang. Aku hanya kesal karena dia membuatmu masuk rumah sakit lagi!" ucap Haikal menahan diri dengan sangat.
"Kamu marah. Hiks," ucap Kaina menangis.
"Sayang, aku tidak marah!" ucap Haikal panik. Ia kalang kabut melihat Kaina yang mulai terisak. "Jangan menangis, nanti anak-anak juga ikut sedih," sambungnya dengan suara yang begitu lembut.
"Jangan marah, aku takut!" ucap Kaina sesegukan.
Ia berusaha untuk berhenti menangis, karena tidak ingin anak-anaknya merasa sedih seperti yang dikatakan oleh Haikal.
"Aku gak marah, Sayang. Lihatlah, bukankah aku begitu tampan dan mengemaskan?" ucap Haikal tersenyum.
Namun wajah sangarnya masih terlihat mengerikan di mata Kaina. Tetapi, ia tidak lagi melihat amarah di mata pria tampan itu.
"Jangan menangis! Apapun yang terjadi, jangan dipendam sendiri, Sayang. Kamu sudah punya aku, ada Rasya juga, kamu juga bisa cerita sama Kang Yono. Nanti akan aku carikan asisten perempuan untukmu!" ucap Haikal sambil tersenyum dan menatap Kaina dengan lekat.
Ibu hamil itu tersenyum dan mengangguk. "Aku pengen makan rujak, rasanya sudah di tenggorokan. Tapi aku takut nanti dedeknya kepedasan," ucap Kaina dengan air liur yang serasa menetes.
"Coba tanya dokter Amanda dulu, Sayang!" ucap Haikal tersenyum.
Kaina dengan antusias turun dari ranjang dan berjalan pelan ke ruang tamu dimana Dokter Amanda tenga duduk bersantai di sana.
"Hmm, dokter?" panggil Kaina.
"Ah, iya Nyonya. Apa anda merasakan sesuatu?" ucap Dokter Amanda khawatir.
"Hmm, tidak. Hanya saja, saya ingin memakan rujak buah, apa boleh?" tanya Kaina berbinar.
__ADS_1
"Ah, boleh, Nyonya. Asalkan tidak terlalu pedas dan buahnya harus yang sesuai dengan takaran gizi ibu hamil," ucap Dokter Amanda tersenyum.
"Terima kasih, Dokter!" ucap Kaina tersenyum senang. Ia segera pergi ke dapur dan melihat dua orang pelayan baru saja selesai membuat kuah rujaknya.
"Sayang, sudah siap ini. Aku makan dulu, ya!" ucap Kaina bertepuk tangan.
"Pelan-pelan, Sayang!" ucap Haikal sambil menelan ludahnya.
Ia merasa juga ingin memakan rujak yang masuk ke dalam mulut Kaina. Rasa segar dan pedas seolah sedang mengalir di kerongkongan Haikal.
Ia ikut menelan bersamaan dengan Kaina. Sementara ibu hamil itu, seperti tidak menghiraukan siapapun lagi. Ia hanya fokus memakan buah itu satu persatu hingga tandas.
Bahkan pelayan pun juga ikut meneteskan air liur ketika melihat Kaina makan dengan lahap.
"Sayang, aku mau!" ucap Haikal dengan keringat yang mulai menyeruak keluar dari pori-porinya.
"Eum, dah habis, Sayang. Sisa kuahnya aja," ucap Kaina menjilat jari tangannya.
"Yah, aku mau!" ucap Haikal dengan wajah lesunya.
Ia segera menyuruh Along untuk membelikan rujak yang isiannya sama dengan apa yang dimakan oleh Kaina.
Dokter Amanda mengernyit dan tersenyum dengan pemikirannya. Ternyata, tuan muda ini sudah menemukan pawangnya, bahkan sampai ikut merasakan ngidam juga. Batinnya merasa senang.
Sebelum pergi, ia menyempatkan diri untuk memeriksa keadaan Kaina terlebih dahulu.
"Nyonya, jangan merasa takut dengan siapapun. Nyonya harus berani melawan, atau kontraksi itu datang terus dan bisa berakibat fatal nanti. Nyonya memiliki tuan muda dan mendapatkan perlindungan yang sangat ketat. Jadi, jangan takut ya!" ucap Dokter Amanda tersenyum.
"Iya, Dokter. Terima kasih," ucap Kaina tersenyum dengan mata yang tidak bisa lagi menahan rasa kantuk.
Ia terlelap sebentar dengan panggilan vidio yang masih terhubung bersama Haikal. Pria tampan itu juga sedang bekerja dan berusaha untuk memenangkan beberapa tender besar agar bisa membuka cabang di daerah tersebut.
🥕🥕
Malam menjelang, Kaina kini sudah berada di rumah utama. Ia duduk di meja makan bersama dengan Muzi, Meidina dan juga Filda. Mereka mengobrol dengan begitu akrab tanpa menghiraukan kehadiran Kaina di sana.
Namun, ibu hamil itu tidak peduli. Ia hanya sibuk mengisi perut dan juga memakan makanan dengan porsi yang cukup banyak.
"Makan, Sayang. Jangan basa-basi," ucap Muzi mengambilkan Filda makanan.
"Terima kasih, Mom. Aku merasa senang karena Mommy masih menerimaku," ucap Filda tersenyum manis.
"Ah, tentu. Gadis baik dan cantik seperti kamu, siapa sih yang menolak untuk dijadikan menantu," ucap Muzi mengusap lengan Filda.
__ADS_1
"Ah, Mom. Sayangnya, Haikal sudah menikah, aku menyesal sudah keras kepala dan meninggalnya dulu," ucap Filda lirih.
"Jangan khawatir, Sayang. Nanti Mommy bicarakan ini kepada Haikal. Lagian, kamu pergi kan untuk masa depan juga," ucap Muzi yang terlihat begitu menyayangi Filda.
Kaina tidak menghiraukan sama sekali ucapan mereka. Ia mencoba semua hidangan dan memakan apa yang sudah ia ambil dengan lahap.
"Mommy nanti akan bantu agar kalian bisa dekat lagi. Sekarang makan yang banyak biar sehat, ya. Kamu terlihat sangat kurus sekarang," ucap Muzi.
Kaina hendak mengambil sepotong Ayam bakar, namun wanita paruh baya itu lebih dulu mengambilnya dan memukul tangan Kaina sehingga membuat gadis cantik itu terkejut.
Ia menatap Muzi dan ayam itu secara bergantian. "Segalanya kau makan! Sisakan untuk yang lain juga!" ucap Muzi ketus.
Wajah Kaina berubah sendu, ia begitu menginginkan ayam bakar itu. Padahal, potongan terakhir yang di ambil Muzi adalah miliknya.
"Pak, apa masih ada lagi?" tanya Kaina lirih kepada kepala pelayan.
"Ada, Nyonya. Tunggu sebentar!" ucapnya dan meminta pelayan yang lain untuk mengambilkan makanan yang diminta oleh Kaina.
"Siapa yang menyuruh kamu untuk mengambil makanan, Pak?" tanya Muzi kesal.
"Maaf, Nyonya besar. Saya sudah mendapatkan perintah langsung dari tuan Haikal agar memberikan Nyonya muda makanan apapun yang dimintanya," ucap Marsoni sembari menundukkan kepalanya sebagai bentuk penghormatan.
"Jangan berikan gadis ini makanan lagi! Apa kau tidak lihat? Semuanya sudah dia makan! Seperti orang yang sudah tidak makan tiga hari!" ucap Muzi kesal.
"Jika itu yang nyonya ingin, silahkan mengatakannya kepada tuan Haikal!" ucap Marsoni memberikan Kaina ayam bakar yang ia minta.
"Mom, sudah! Ayo kita makan! Kaina saat ini sedang hamil, jadi sudah wajar jika selera makannya bertambah," ucap Filda tersenyum.
Muzi menatapnya dengan tidak percaya, lalu ia tersenyum dan mengusap lengan model cantik itu.
"Kamu memang menantu idaman. Mommy akan mencari cara agar kamu bisa menjadi menantu Mommy!" ucap Muzi.
"Mom, kasihan Kaina. Ayo kita makan dulu," ucap Filda tersenyum manis ke arah Kaina.
Sementara Meidina hanya terdiam mendengarkan percakan itu. Ia mulai melihat sisi lain dari Kaina. Apalagi dia tengah mengandung calon keponakannya.
Di tengah-tengah makan malam, dering ponsel mengganggu mereka. Muzi menatap Kaina dengan kesal. Ia merasa ingin memukul gadis itu, jika saja Haikal tidak memberikan peringatan, ia akan melakukannya saat ini juga.
"Bukan ponsel saya, Nyonya!" ucap Kaina mengernyit.
"Eh, ponselku ternyata," ucap Filda merasa tidak enak. "Halo, Bila?" ucapnya sambil berpamitan.
"Masalah apa lagi yang kau lakukan Filda?!" ucap Nabila berteriak marah di balik telepon.
__ADS_1