
"Eh, ponselku ternyata," ucap Filda merasa tidak enak. "Halo, Bil?" ucapnya sambil berpamitan.
"Masalah apa lagi yang kau lakukan Filda?!" ucap Nabila berteriak marah di balik telepon.
"Apa maksudmu? Aku tidak melakukan apapun!" ucap Filda bingung.
"Kau masih tidak mengaku? Semua brand ternama negara ini membatalkan kerja samanya dengan kita tiba-tiba! Katakan dengan siapa kau mencari masalah!" ucap Nabila berteriak.
"Aku tidak mengerti! Aku tidak berbuat apapun hari ini. Mungkin saja kau yang melakukan kesalahan!" ucap Filda emosi.
"Persetan kau? Yang jelas sekarang tidak ada satupun brand yang mau kau menjadi ambasador dan model untuk produk mereka! Tidak ada lagi pekerjaan yang bisa kita kerjakan sekarang!" ucap Nabila masih berteriak.
Filda mematikan panggilan itu. Ia harus menahan diri selama berada di rumah ini, agar image menantu idaman selalu tersemat kepadanya.
Apa yang terjadi sebenarnya? Aku tidak berbuat apa-ap.... Batinnya melotot ketika mengingat kejadian tadi siang.
Ia langsung berjalan kembali ke ruang makan dan mengambil air yang ada di gelas dan menyiramkannya kepada Kaina.
"Apa yang sudah kau katakan kepada Haikal, ha?" Bentak Filda.
Marsoni terkejut dan langsung menahan Filda yang hendak memukul Kaina. Semua orang juga ikut terkejut dengan apa yang sudah dilakukan model cantik itu.
"Kakak apa-apaan?" bentak Meidina mendorong Filda yang berusaha untuk mendekati Kaina.
"Diam kamu Din! Dia pasti sudah berkata yang tidak-tidak kepada Haikal. Bahkan ketika aku tidak melakukan apapun, semua brand besar tiba-tiba saja membatalkan kontrak mereka denganku!" ucap Filda menunjuk Kaina.
"Apa maksud kamu Filda?" Tanya Muzi terkejut.
"Mom, dia pasti menghasut Haikal agar membenci dan mengusirku pergi dari negara ini!" ucap Filda emosi.
Kaina hanya terdiam di belakang punggung Marsoni. Jantungnya berdetak kencang, namun ia berusaha untuk meyakinkan diri untuk tidak takut dengan siapapun.
Nak, bantu bunda, Sayang!. Batinnya.
"Hei gadis kumuh, apa yang sudah kau katakan kepada Haikal?" ucap Muzi berjalan mendekat.
"Saya tidak mengatakan apapun!" ucap Kaina mencoba untuk berani sembari memegang perutnya.
"Lalu kenapa Filda bisa kehilangan kontrak seperti ini?" tanya Muzi marah.
__ADS_1
"Kenapa Nyonya bertanya kepada saya? Bukankah saya hanya gadis bodoh dan kampungan? Lagian apa buktinya jika itu perbuatan suami saya?" ucap Kaina menatap Muzi dan Filda bergantian.
"Benar, Mom. Belum tentu itu perbuatan mas Haikal. Bukan hanya dia yang berkuasa di negara ini!" ucap Meidina membela Kaina.
"Kamu kenapa ikut campur, Dek?" ucap Muzi kesal.
"Mom, aku hanya menjaga keamanan rumah ini. Dia yang tiba-tiba saja marah dan mengganggu makan malamku!" ucap Meidina sambil menunjuk Filda.
Suasana terasa panas dan penuh emosi. Kaina merasa ingin marah saat ini karena Filda menyiramnya dengan air.
"Harusnya kalian lebih paham bagaimana sifat mas Haikal. Kalau sampai dia tau apa yang saya alami hari ini, mungkin kalian akan tinggal nama saja!" ucap Kaina dengan berani dan berhasil membuat mereka terkejut.
"Berani kau berkata seperti itu!" ucapin Muzi mencoba untuk meraih Kaina.
Beruntung, Meidina langsung menahan tangan sang ibu, sehingga Pak Marsoni bisa melindungi Kaina dan membawa ibu hamil itu kembali ke kamar.
Kang Yono juga datang dan memegang tangan Filda yang hendak mengejar Kaina.
"Berhentilah, Nona! Apa yang sudah anda perbuat tadi siang kepada Nyonya muda kami, berakibat fatal! Nyonya Kaina harus dilarikan ke rumah sakit dan tuan Haikal tau tentang itu! Tega sekali anda berbuat jahat kepada ibu hamil!" ucap Yono tegas.
Muzi dan Meidina terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Yono.
"Terbuat dari apa hatimu, Kak? Kau mencelakai ibu hamil! Terlepas siapa dia, tapi apa yang sudah kau perbuat sangat tidak bisa untuk dibenarkan! Jelas saja mas Haikal berbuat seperti itu!" ucap Meidina menatap Filda dengan rasa terkejut.
"Aku tidak melakukan apapun, Mom. Aku hanya tidak sengaja bertemu dengan dia," ucap Filda mengelak.
"Nona jangan membuat cerita! Jika hanya bertemu, tidak mungkin sampai membuat Nyonya muda kami mengalami kontraksi!" ucap Yono tegas dengan wajah garangnya.
"Lepaskan dia, Yono!" ucap Muzi menghempaskan tangan pria tampan itu.
"Silahkan anda pergi, sebelum saya mengambil tindakan sendiri!" ucap Yono mempersilahkan Filda keluar.
"Kau, jika saya kembali bersama Haikal, kau yang akan saya pecat terlebih dahulu!" ucap Filda tanpa memikirkan image menantu idaman yang selalu ia jaga.
"Aku harap ini terakhir kalinya kakak berbuat seperti tadi kepada gadis itu!" ucap Meidina tegas sebelum Filda melangkah pergi.
Muzi hanya terdiam dan tidak berani membenarkan perbuatan Filda yang sampai membuat Kaina mengalami kontraksi.
"Pantas saja, mas Haikal marah seperti itu. Jika pun bukan perintah darinya, mungkin Filda akan melakukan hal lain yang lebih parah lagi!" ucap Meidina kesal.
__ADS_1
Yono mengejar Kaina yang sudah berada di kamar. Ia langsung menelfon dokter Amanda agar bisa datang ke rumah saat ini juga. Takut jika Kaina kembali mengalami kontraksi.
Wajah cemas Meidina tidak bisa disembunyikan. Ia ikut menyusul Kang Yono menuju kamar Haikal, dengan harapan tidak terjadi apapun kepada kakak ipar yang masih belum bisa ia terima itu.
Di dalam kamar. Kaina berusaha untuk menahan tangisnya. Ia hanya duduk di atas sofa ditemani oleh Marsoni dan dua orang pelayan yang ditunjuk untuk menyiapkan keperluan Kaina.
"Nyonya, sebentar lagi dokter Amanda akan datang!" ucap Yono masuk ke dalam kamar tanpa permisi.
"Tidak apa, Pak. Saya hanya terkejut. Pasti setelah ini, Mas Haikal akan berbuat lebih kepada gadis itu. Aku takut, dia semakin berbuat lebih lagi kepada saya," ucap Kaina mengatur nafasnya.
"Nyonya tenang saja. Kami akan mengawal kemanapun, Nyonya pergi," ucap Yono berlutut sembari memperhatikan keadaan Kaina.
"Ambilkan baju ganti untuk, Nyonya. Bawakan air putih dan juga buah anggur yang dibeli tadi!" ucap Yono kepada dua pelayan itu.
"Baik, Kang!" ucap mereka langsung bergegas pergi.
Meidina yang berada di ambang pintu hanya bisa terdiam sembari memegang segelas air putih di tangannya.
Ia merasa tidak enak jika harus masuk dan memperlihatkan wajah khawatirnya. Kali ini, ia memang merasa begitu khawatir, bukan karena takut dengan Haikal, namun karena kondisi Kaina yang tengah hamil.
Meidina memilih untuk masuk dan menyerahkan air putih itu kepada Kaina. Marsoni siaga di dekat Kaina, berjaga-jaga jika terjadi sesuatu kepada ibu hamil itu.
"Minumlah dulu. Kamu pasti syok," ucap Meidina menahan gengsinya.
Kaina menatap adik iparnya dengan ragu. Namun ia tidak mau menolak kebaikan seseorang terhadap dirinya.
"Silahkan Nona coba air itu dulu! Mengingat riwayat kejadian sebelumnya...," ucap Yono terhenti ketika Meidina meneguk air minum itu.
"Aku tidak mungkin meracuni ibu hamil!" ucap Meidina ketus.
Kaina tersenyum dan meminum air mineral itu. "Terima kasih," ucapnya.
"Apa masih kontraksi?" tanya Meidina.
"Tidak, sepertinya anak-anakku mulai kuat dan tau jika bundanya berada dalam bahaya," ucap Kaina tersenyum.
"Syukurlah," ucap Meidina langsung keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Semua orang hanya terdiam dan kembali fokus kepada Kaina. Hingga dokter Amanda datang dan memeriksa keadaan ibu hamil itu, barulah mereka bernafas lega ketika Kaina berada dalam kondisi baik-baik saja.
__ADS_1
"Saya menyarankan agar Nyonya muda tidak berbaur dengan yang lain. Maaf, bukan saya bermaksud lancang, Pak. Semua kejadian bisa membahayakan Nyonya dan bayi yang tengah di kandungnya. Saya harap ini bisa dibicarakan lagi. Sebab, menjadi ibu hamil itu tidak mudah," udap Dokter Amanda.
Kaina tersenyum sambil mengelus perutnya. Anak-anak, terima kasih karena kalian tidak rewel bahkan membantu bunda agar bisa kuat melawan mereka. Ah, semoga kalian bisa tumbuh dan berkembang menjadi anak baik dan pemberani. Batinnya.