Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Bertemu


__ADS_3

Sudah tiga hari, Kaina di rawat di rumah sakit. Tempat itu seperti rumah kedua baginya. Dengan kondisi yang sudah membaik, dan juga beristirahat yang cukup, kini Kaina sudah diperbolehkan pulang dengan berbagai macam catatan.


Begitu banyak larangan dan juga pantangan yang harus dijaga oleh ibu hamil itu. Namun, selain mudah lelah dan manja, Kaina belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan pada umumnya.


Namun, ia selalu ingin dikecup oleh sang suami kapanpun ia mau. Akibatnya, Haikal lebih sering bermandikan sabun karena ulah Kaina yang begitu mudah membangkitkan gairaahnya.


Haikal memang menunjukkan rasa cinta yang teramat tulus kepada Kaina. Bahkan ibu hamil itu kini sering tersenyum dan merasa bahagia karena perlakuan Haikal yang membuat rasa cintanya semakin bertambah.


Walaupun masih ada rasa takut yang menghantui karena kabar kehamilannya. Namun ia percaya, jika Haikal tidak akan menyakiti dan menghianatinya nanti.


Haikal mengajak Kaina pulang ke rumah utama. Wajah bahagia dan senyum merekah tergambar jelas diwajah pria tampan itu.


"Sayang, bagaimana kalau Ibu masih marah?" tanya Kaina lirih.


"Biar nanti aku yang berbicara kepada ibu. Kamu gak usah memikirkan apapun lagi!" ucap Haikal.


Tak lama, mobil memasuki halaman rumah, kediaman keluarga Kusumanegara. Jantung Kaina bedetak kencang, ketika Haikal menggendongnya dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Pintu terbuka, Haikal melangkah dengan tegas dan wajah yang berseri. Namun, itu semua sirna ketika melihat siapa yang tengah duduk di ruang tamu bersama dengan sang ibunda.


"Hai, Honey. Kamu kemana saja aku cariin gak ketemu," ucap Filda berdiri sambil memasang wajah yang biasanya bisa membuat Haikal luluh.


Walaupun hatinya merasa ingin marah ketika melihat Haikal tengah menggendong seorang gadis. Namun bagaimanapun juga ia harus menahan diri, dan menyimpan amarahnya.


"Baik! Mom, aku ke kamar dulu. Istriku harus banyak beristirahat, karena sedang mengandung anak-anakku!" ucap Haikal berlalu.


Duar!


Bagai di sengat listrik, Filda dan Muzi terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Haikal. Mereka membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengembalikan kesadaran yang tiba-tiba saja hilang.


"Haikal, jangan bercanda kamu!" ucap Muzi sedikit berteriak.


Haikal menghentikan langkahnya dan menatap sang ibu sambil tersenyum. "Istriku memang sudah hamil, Mom. Jadi, jangan mengganggunya dalam bentuk dan cara apapun. Karena aku tidak bisa menoleransi apa yang terjadi nanti kepada Kaina," ucap Haikal tersenyum.


Ia melanjutkan perjalanan menuju kamarnya. Kaina hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun, bahkan ia tidak berani mengangkat kepala untuk menatap sang ibu mertua.


Namun ia tau, jika ada Filda di sana. Ia tidak ingin mencari masalah dengan mantan kekasih suaminya itu.


"Honey, tunggu!" ucap Filda mengajar.


"Jaga batasanmu Filda, atau aku akan menutup semua aksesmu di negara ini!" ucap Haikal tegas.

__ADS_1


Filda terdiam, ia hanya bisa mengepalkan tangan dan mengumpat kasar kepada Kaina di dalam hatinya. Ia hanya memperhatikan langkah Haikal yang perlahan menghilang dibalik pintu.


Aku tidak akan pernah sudi jika ada perempuan yang mengandung anak dari Haikal selain aku!. Batin Filda geram.


"Kamu tenang saja, Sayang! Mom akan mencari cara untuk membuat mereka berpisah. Kamu sabar ya," ucap Muzi yang juga ikut emosi.


"Aku yang salah karena memilih untuk pergi, Mom. Mungkin aku sudah harus menyerah untuk kembali bersama Haikal," ucap Filda memasang wajah sedihnya.


"Jangan seperti itu, Mommy hanya ingin kamu yang menjadi nyonya muda di rumah ini, bukan gadis kampung itu," ucap Muzi menghibur Filda.


"Terima kasih karena Mom mendukungku," ucap Filda tersenyum.


Sementara di dalam kamar, Haikal membaringkan Kaina di atas ranjang dan mengecup bibir sang istri dengan lembut.


"Apa itu dia?" tanya Kaina lirih.


"Hmm, jangan takut ya!" ucap Haikal tersenyum.


"Tidak, aku hanya menghawatirkan anak-anak saja," ucap Kaina lirih.


"Nanti aku carikan asisten untukmu dan anak-anak ya," ucap Haikal tersenyum.


Kaina mengangguk. Haikal berpamitan sebentar ke ruang kerjanya karena ada hal yang harus ia selesaikan.


"Jangan pergi, ya! Nanti aku sama siapa," ucap Kaina lirih dengan mata yang terpejam.


"Iya, Sayang. Tidurlah!" ucap Haikal tersenyum sambil mengusap kepala Kaina dengan lembut.


Setelah memastikan Kaina tidur, ia segera pergi ke ruang kerja dan menghubungi kepala pelayan agr bisa memanggil Filda ke ruangannya.


Cukup lama ia menunggu, hingga akhirnya pintu ruangan terbuka, Marsoni datang bersama dengan Filda yang tengah tersenyum manis.


"Duduklah!" ucap Haikal tanpa menatap ke arah Filda sedikitpun.


Marsoni berdiri di dekat pintu dan memperhatikan keadaan diruangan itu. Berjaga-jaga, jika terjadi sesuatu diluar dugaan nantinya.


"Apa kamu sudah puas berkelana?" tanya Haikal masih menatap layar ponselnya.


"Honey, kamu kan tau jika aku pergi untuk bekerja. Sekarang lihat hasilnya, aku sudah menjadi top model internasional," ucap Filda tersenyum manis sambil membanggakan dirinya.


"Hmm, kenapa kamu kembali?" tanya Haikal dingin seolah tidak tertarik dengan apa yang dikatakan oleh perempuan itu.

__ADS_1


"Aku merindukanmu," ucap Filda berdiri dan berjalan mendekat.


"Tetap di tempatmu!" ucap Haikal tegas dan membuat gadis itu reflek menghentikan langkahnya.


"Aku tidak ingin berbasa-basi lagi, kesempatanmu sudah habis. Jangan ganggu istriku, atau kamu yang akan menerima akibatnya. Jika kamu ingin bertemu dengan Mommy, terserah. Yang jelas, berani kamu menyentuh istri dan anak-anakku, saat itu juga kamu akan mati di tempat!" ucap Haikal tegas dengan tatapannya yang tajam.


Filda menelan ludahnya dengan kasar. Tiga tahun menjalin hubungan dengan pria tampan ini, ia sudah cukup hafal dengan sifat dan watak Haikal.


"Honey, aku minta maaf karena memilih pergi darimu. Aku tau keputusanku membuatmu terluka, tapi aku juga merasakan hal yang sama, Honey!" ucap Filda dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku tidak ingin mendengarkan apapun! Itu resiko kamu karena memilih pergi dariku. Aku harap kamu bisa menjaga batasan dan tidak membuatku marah!" ucap Haikal tegas.


Ia pergi dari sana dan memasuki pintu khusus yang terhubung dengan kamarnya. Meninggalkan Filda dengan perasaan sedih dan kecewa di dalam ruangan itu bersama dengan Marsoni.


"Silahkan, Nona. Tuan muda akan beristirahat," ucap Pria paruh baya itu.


Filda hanya menatap sinis kepada Marsoni. Ia berjalan dengan anggun keluar dri ruang kerja Haikal dan memilih untuk segera pulang.


Lihat saja, jika aku tidak bisa mendapatkanmu, siapapun juga tidak akan bisa mendapatkannya. Gadis kampung itu, bukan hal yang sulit untuk aku singkirkan!. Batinnya.


Sementara di dalam kamar, Haikal mendapati Kaina yang sudah terbangun dengan mata yang berkaca-kaca. Ia merasa sangat tidak suka ketika Haikal berduaan bersama dengan wanita lain di ruang kerjanya.


"Sudah bangun?" tanya Haikal mengernyit.


"Apa kalian berbaikan? Aku tau kalau kamu akan menemuinya di sana," ucap Kaina sambil menahan tangis.


Haikal mengernyit dan memeluk Kaina. "Tidak, Sayang! Aku sudah milikmu, kenapa harus berbaikan dengan dia. Jangan berpikir hal yang aneh, nanti anak-anak jadi sedih, bagaimana?" ucapnya gemas.


"Bagaimana kalau kalian balikan? Kasihan anak-anakku nanti!" ucap Kaina menangis.


Sungguh tidak ada hal lain yang ia pikirkan selain anak-anak yang tengah ia kandung.


"Kamu kurang tidur kayaknya," ucap Haikal tersenyum dan mengecup bibir Kaina dengan lembut. "Sekarang kamu mau pembuktian seperti apa, biar bisa percaya jika aku hanya milikmu," sambungnya.


Kaina hanya menggeleng, ia tidak tau harus bagaimana agar bisa mempercayai Haikal. Namun, ia yakin jika pria tampan ini tidak pernah bercanda dengan perkataannya.


"Kalau kamu mau macam-macam, silahkan. Tapi, jangan salahkan aku jika kamu tidak akan pernah bertemu dengan anak-anak lagi!" ucap Kaina menatap mata Haikal.


Wajah pria tampan itu berubah serius mendengar perkataan Kaina. Ia berusaha untuk memahami jika hormon gadis ini masih tidak stabil dan berubah-ubah, efek dari kehamilannya.


Ia hanya tersenyum dan memeluk Kaina. "Jangan khawatir, Sayang. Kalian adalah hartaku yang paling berharga. Aku berjanji tidak akan berbuat hal yang membuatmu bersedih," ucap Haikal menyodorkan jari kelingkingnya.

__ADS_1


"Janji? Kamu sudah mengingkari satu janji, aku harap itu yang pertama dan terakhir!" ucap Kaina.


Haikal mengangguk dan memeluk Kaina dengan gemas. Ia harus mencari cara agar sang istri bisa percaya dengan cinta yang ia berikan.


__ADS_2