Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Sudah saatnya


__ADS_3

"Aku tidak bisa janji, Bu. Suamiku banyak pekerjaan, jadi tidak bisa datang. Lagian hanya acara kelulusan saja, bukan acara penting atau sakral!" ucap Kaina jengah dengan ibu tirinya.


Kang Yono membukakan pintu mobil. Kaina langsung masuk dan mereka segera berangkat menuju kampus.


"Mas, dengarlah apa yang dikatakan oleh anakmu ini! Dia sekarang berani membangkang dan berani mengataiku!" ucap Sisca mengadu kepada suaminya.


Kaina menjadi kesal karena ulah sang ibu tiri. Apalagi perasaannya sedang bercampur aduk karena hormon yang mulai tidak stabil. Rasa kesal membuatnya lebih mudah lelah dan tidak ingin melakukan apapun.


"Kaina?" panggil Leo sang ayah.


"Jangan paksa aku, Yah. Ayah sendiri tau bagaimana posisiku. Jangan hanya karena kalian ingin pamer, aku yang akan menjadi sasaran kemarahan tuan muda. Jika ayah tetap memaksaku, jangan salahkan jika dia menarik semua sahamnya kembali!" ucap Kaina tegas.


Leo dan Sisca terdiam. Apa yang dikatakan oleh Kaina tidak bisa mereka sanggah.


"Ayah tidak memaksa, tapi ayah harap kamu bisa pulang ke rumah. Sudah lama sekali kamu tidak mengunjungi ayah," ucap Leo.


"Jika tuan muda mengizinkan aku nanti," ucap Kaina lirih.


"Baiklah, ayah tunggu. Karena ini juga sekaligus perayaan ulang tahun adikmu Selena," ucap Leo.


"Aku tidak pernah mendapatkan perayaan apapun setelah kematian, Bunda. Aku ucapkan selamat untuk anak kesayangan ayah. Semoga dia tidak menjadi tumbal perusahaan sepertiku!" ucap Kaina dengan mata yang berkaca-kaca.


Ia langsung mematikan sambung telepon dengan air mata yang mengalir di pipinya. Rasa sakit itu menjalar dengan sangat cepat dan terasa menyayat hati.


Baru saja ia menyusun kepingan-kepingan hati yang hancur, kini kembali remuk karena mendapatkan kenyataan jika ia hanya anak yang terbuang.


Kang Yono dan Nabila saling memandang, mereka bingung harus berbuat seperti apa kali ini.


Kang Yono segera menepikan mobil, agar Nabila bisa pindah ke belakang, memastikan jika ibu hamil itu baik-baik saja.


"Nyonya?" panggil Nabila sambil mengusap lengan Kaina.


"Aku tidak apa-apa. Bisa tolong ambilkan aku air putih?" ucap Kaina berusaha untuk meredakan tangisnya.


Nabila bergerak cepat. Ia masih menerka, apa yang dialami oleh Kaina di dalam keluarganya. Apalagi tadi Kaina sempat mengatakan jika ia adalah tumbal perusahaan.


Berbagai macam pemikiran berputar di otak Nabila. Ia mengambilkan Kaina air dan juga tisue. Ia merasa iba melihat gadis kecil ini harus menjalani hidup yang cukup berat. Walaupun ia tidak tau pasti, yang jelas hidup bersama dengan Haikal adalah suatu hal yang sangat rumit.


"Ayo jalan, Pak. Sebentar lagi saya akan terlambat!" ucap Kaina ketika dirinya sudah tenang.

__ADS_1


Tangan kecilnya mengusap lembut perut buncit yang terasa sedikit keram. Beruntung, fisiknya masih cukup kuat, jantungnya tidak berulah dan anak-anak juga memahami keadaan. Sehingga, ia masih bisa beraktivitas dengan baik, tanpa terkendala.


Mobil bergerak dengan cukup pelan, karena kang Yono begitu khawatir dengan keadaan Kaina yang terlihat tidak nyaman.


Hingga mobil berhenti di depan Fakultas Kaina. Ibu hamil itu turun dengan wajah yang datar dan tidak tersenyum.


"Hai, bumil," sapa Hesti melambaikan tangannya.


"Hai," ucap Kaina tersenyum tipis.


Nabila terlihat siaga di samping Kaina. Ia juga ikut duduk di samping ibu hamil itu tanpa menghiraukan orang-orang yang menatapnya dengan aneh.


"Gimana kabarmu? Kemarin katanya lagi sakit?" ucap Hesti.


"Aku sedikit tidak enak badan. Kamu terlihat lebih cantik hari ini," ucap Kaina tersenyum.


"Eh, jangan seperti itu!" ucap Hesti malu. "Oh iya, Ada lomba debat tingkat kota. Kamu mau ikut? Soalnya aku lihat kamu anak yang pintar," sambungnya.


"Ah, aku tidak bisa berdebat. Aku tidak akan kuat jika mendengar suara mereka yang begitu keras," ucap Kaina.


"Coba dulu lah, mana tau kamu bisa. Nanti lawannya juga ada dari kampus C, mereka musuh bebuyutan kampus kita," ucap Hesti.


Kaina terdiam, kampus itu dimana dulu ia sering mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan.


"Nanti, aku tanya suamiku dulu," ucapnya tersentak karena belum menghubungi Haikal.


Ia segera mengirimkan pesan singkat kepada sang suami sekaligus bertanya tentang lomba itu.


Nabila hanya diam memperhatikan Kaina. Pikirannya mulai menerka dan menebak jika Kaina adalah perempuan yang sangat pintar, namun ia tidak ingin menonjol dalam hal apapun.


Hingga pelajaran dimulai, Kaina terlihat aktif dalam bertanya jawab. Namun semakin lama duduknya terlihat tidak nyaman.


"Apa anda baik-baik saja, Nyonya?" tanya Nabila khawatir.


"Hmm? Biasa ibu hamil, pinggang saya mulai pegal," ucap Kaina tersenyum. "Sebentar lagi selesai, kok!" sambungnya.


Nabila mulai berpikir untuk mencari solusi agar Kaina bisa nyaman, namun ia tidak bisa berbuat banyak karena masih berada dalam kelas saat ini. Tidak mungkin ia membuat onar dan kehebohan hanya karena Kaina.


Hingga pelajaran selesai, ia bisa bernafas lega ketika dosen sudah keluar dari ruangan. Kaina segera berdiri dan mengusap pinggangnya yang begitu pegal, padahal ia baru duduk tidak lebih dari 2 jam.

__ADS_1


"Hesti, Ayo kita ke perpustakaan. Aku mau langsung membuat tugas, biar tidak menumpuk. Jika di rumah, aku pasti tidak akan sempat untuk membuatnya," ucap Kaina.


Tanpa mereka sadari, jika ada seseorang yang memperhatikan gerak-gerik Kaina yang terlihat mengemaskan dengan ekspresi wajah ibu hamil itu.


"Cantik dan menarik," ucapnya sambil tersenyum.


Mereka segera pergi ke perpustakaan bersama dengan beberapa mahasiswa lainnya. Namun langkah Kaina terhenti ketika melihat mading yang sudah terpampang dengan namanya beserta beberapa orang perwakilan untuk lomba debat tersebut.


"Heh, kok namaku sudah ada di sini?" tanya Kaina terkejut.


"Mungkin bapak dekan tau kalau kamu bisa," ucapan Hesti bertepuk tangan.


Kaina hanya terdiam, ia berpikir jika ini ada sangkut pautnya dengan Haikal.


Semoga aku bisa. Ini sudah saatnya menunjukkan kepada mereka, jika aku bukan sampah seperti apa yang sudah mereka katakan kepadaku!. Batin Kaina.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju perpustakaan. Tiba di pintu masuk, Kaina bertabrakan dengan seseorang dan membuatnya hampir saja terjatuh.


Beruntung Nabila dan juga orang itu langsung memegangi Kaina agar tidak terjatuh.


"Nyonya!" pekik Nabila.


Untung tubuh Kaina masih kecil, sehingga Nabila tidak terlalu kesulitan untuk menahan tubuh ibu hamil itu.


Setelah memastikan Kaina baik-baik saja, ia menatap tajam ke arah pria tampan yang berdiri tak jauh dari mereka.


Bugh!


Sebuah hantaman mendarat keras di perut laki-laki itu. Ia tersungkur karena tidak siap dengan serangan Nabila.


"Kau, apa tidak punya mata, ha? Kau menabrak ibu hamil!" Pekik Nabila menarik kerah laki-laki itu.


"Kak, sudah! Dia mungkin tidak sengaja," ucap Kaina menarik Nabila agar tidak berbuat lebih.


"Nyonya, dia...," ucap Nabila terhenti karena Kaina menatapnya sambil menggeleng.


"Kau, jika tidak bisa menjaga diri, jangan melakukan apapun! Sengaja atau tidak, kau harus hati-hati, karena kau tidak tau sedang berhadapan dengan siapa!" ucap Nabila tegas.


Ia segera membawa Kaina masuk ke dalam perpustakaan agar lebih aman sembari melihat, apakah Kaina baik-baik saja.

__ADS_1


Sementara Laki-laki itu masih terdiam dengan wajah yang begitu terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Nabila.


Hamil? Benarkah?. Batinnya tidak percaya.


__ADS_2