Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Ikuti Rencanaku!


__ADS_3

Haikal langsung mengangkat pangggilan itu dan mendengarkan apa yang di sampaikn oleh Along.


"Nyonya besar, sepertinya menyerah dengan Nona Filda, Tuan. Beliau tidak mengunjunginya selama berada di Paris. Walaupun, dia mencoba untuk berbicara dan menemui Nyonya, namun Nyonya tidak memberikan dia celah untuk itu," ucap Along dari balik telepon.


"Biarkan saja! Beritahu aku siapa yang akan Mommy bawa ke sini!" ucap Haikal menghela nafas.


"Baik, Tuan. Untuk berita tentang nyonya Sisca, sepertinya dia mulai mencari orang untuk membantunya. Saya belum bisa memastikan apa yang akan dilakukan olehnya. Info akurat akan saya berikan paling lambat besok siang, Tuan!" ucap Along.


"Jangan sampai lengah, Long! Jangan sampai ayah mertuaku kenapa-napa!" ucap Haikal.


"Baik, Tuan. Untuk keamanan sudah saya persiapkan. Jika bukan kuasa Tuhan, tuan Leo akan aman dan baik-baik saja," ucap Along.


"Bagus! Bagaimana dengan persiapan untuk mengenalkan Kaina, esok lusa?" tanya Haikal.


"Tuan Alan selaku orang kepercayaan keluarga Chandrawinata sudah menghubungi saya, namun beliau meminta untuk bertemu secara langsung dengan anda dan Nyonya sebelum acara," ucap Along.


"Jadwalkan besok pagi, undur jadwal yang belum mendesak. Aku ingin semuanya lancar tanpa kendala!" ucap Haikal.


"Baik, Tuan. Untuk rumah, saya sudah mendapatkan beberapa opsi yang bisa Anda pilih nanti," ucap Along.


"Kirim saja nanti, biar Kaina yang memilih," ucap Haikal.


"Baik, Tuan. Untuk berkas perusahaan sudah saya letakan di atas meja anda. Ada beberapa berkas yang tidak bisa saya wakilkan," ucap Along.


"Baik, besok saya periksa. Terima kasih, Along!" ucap Haikal.


"Sama-sama, Tuan Muda! Kalau begitu, saya lanjut kerja dulu," ucap Along mematikan sambungan telepon setelah mendapatkan jawaban dari Haikal.


Haikal menatap nanar ke sembarangan arah. Sebentar lagi, semua orang akan tau siapa Kaina. Ia takut, suatu hal terjadi kepada istrinya dan membahayakan keselamatan Kaina dan anak-anaknya.


Aku memang harus siaga dan turun tangan sendiri untuk melindungi Kaina dan anak-anak. Ini sungguh berbahaya jika teledor sedikit saja. Batin Haikal.

__ADS_1


Ia menghubungi seseorang yang menjadi tangan kanannya. Ia ingin memastikan jika Kaina bisa terhindar dari segala macam bahaya. Karena sungguh, bukan ia takut untuk menghadapi semua orang, namun ia tidak akan kuat ketika melihat Kaina terbaring lemah lagi di atas ranjang.


Itu adalah hal terburuk yang ia rasakan dan membuat hatinya semakin hancur. Berharap itu bisa ia atasi dengan baik, kecuali sudah menjadi kehendak Tuhan, jika Kaina mengalami bahaya.


Ia segera keluar dan melihat Kaina sudah terlelap di atas sofa berantakan paha dari si Mbok.


"Mbok, istirahat saja dulu di kamar itu. Biar Kaina saya bawa ke dalam," ucap Haikal tersenyum.


"Terima kasih, tuan!" ucap Mbok mengangguk.


Haikal langsung menggendong Kaina yang mulai terasa berat. Ia tersenyum gemas, melihat wajah cantik dan polos sang istri.


Ia membaringkan Kaina dia atas ranjang, dan mengusap perut buncit itu sambil merekamnya. Ia ingin membuat Muzi tertarik dan merasa ingin melakukan hal yang sama dengan apa yang sedang ia kerjakan.


"Yang sehat di dalam ya, Nak. Ayah sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kalian. Ah, pasti kalian akan menjadi anak terkaya di negara ini," ucap Haikal dan mengecup perut Kaina.


Setelah itu ia mengirimkan vidio tadi kepada Muzi yang masih berada di luar negeri. Terlihat di sana centang dua biru, yang berarti Muzi sudah melihat dan memutarnya.


Haikal hanya tersenyum menatap itu. Ia tau, jika Muzi bukan orang jahat. Ia hanya ingin memenuhi hasrat sosialitanya yang semakin tidak masuk akal.


"Permisi, tuan?" sapa Mbok ketika melihat Haikal keluar dari kamar.


"Ada apa, Mbok?" tanya Haikal mengernyit.


"Maaf sebelumnya. Apa tuan yang tempo hari mengunjungi saya?" tanya Mbok penasaran.


"Iya, jangan bilang-bilang sama Kaina, ya. Biarkan dia menganggap jika ayah yang sudah menemukan dan membawa Mbok kembali ke sini," ucap Haikal menepuk pundak wanita paruh baya itu.


Mbok hanya terdiam dan mengangguk. Banyak hal yang sudah terlewatkan. Ia tidak ingin ikut campur ke dalam urusan rumah tangga Kaina, walaupun ada rasa khawatir dalam dirinya.


Namun, melihat cara Haikal memperlakukan Kaina, ada rasa lega karena gadis malang itu bisa keluar dari rumah neraka yang selalu membuatnya tersiksa.

__ADS_1


Ia merasa tidak tega, jika Kaina harus merasakan semua kesakitan dan kepedihan itu lagi. Hanya doa yang bisa ia ucapkan setiap hari untuk majikan yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.


Mbok, memandang punggung kekar Haikal yang perlahan menghilang di balik pintu. Sudah lama sekali ia tidak melihat Kaina tertawa lepas dengan wajah yang terlihat begitu bahagia.


Semoga saja, tuan muda itu memang laki-laki yang baik dan bisa menjaga Nona. Sungguh saya merasa begitu bersalah karena tidak mampu untuk menjaga Nona dengan baik. Batin wanita paruh baya itu.


Ia harus kembali pulang, karena ada beberapa barang yang tertinggal di rumahnya. Ada beberapa berkas penting yang sudah lama ia jaga dengan baikdan harus segera dikembalikan kepada Kaina.


Sementara itu di rumah kediaman Leo. Ia baru saja pulang dan melihat rumah masih sepi, hanya ada pelayan yang berlalu lalang. Ia langsung masuk ke dalam kamar dan mencari keberadaan Sisca.


Surat cerainya sudah keluar dan ia juga sudah menandatangani surat itu dengan hati yang terasa berat. Walaupun ini bukan hal yang ia inginkan, tapi apa yang diucapkan oleh Sisca adalah hal yang membuatnya semakin yakin dengan perceraian ini.


"Mas? Ngapain kamu masih datang ke sini?" tanya Sisca ketus.


"Ini rumah putriku. Sisca, hari ini kau saya ceraikan!" ucap Leo tanpa basa basi.


Sisca terkejut dan melotot kaget mendengar ucapan dari Leo. "Jangan bercanda, Mas!" pekiknya.


"Aku tidak bercanda! Tanda tangani surat ini, dan supir akan mengantarkan kalian ke rumah baru yang sudah saya siapkan!" ucap Leo dingin.


"Kau mengusirku dari rumah ku sendiri? Kau yang seharusnya pergi, Mas! Rumah ini sudah menjadi miliku, sudah atas namaku!" ucap Sisca tidak terima.


"Kaina sudah mengurusnya kembali. Jadi, jangan membantah dan ikuti apa yang sudah aku rencanakan!" ucap Leo tegas.


"Aku tidak mau!" ucap Sisca dengan nafas yang memburu.


Bagaimana bisa dia melakukannya? Sementara aku sangat susah ketika mendapatkan tanda tangan dari anak pembawa sial itu. Batin Sisca.


"Terserah! Sekarang kau tandatangani itu dulu!" ucap Leo ketus.


"Apa kau yakin akan melakukan ini? Apa segitu takutnya kau dengan ancamanku?" tanya Sisca tersenyum jahat.

__ADS_1


"Tidak, saya tidak takut. Kaina sudah berusia 20 tahun, itu artinya dia sudah bisa menuntut haknya sebagai seorang pewaris tunggal! Jadi, kau jangan berpikir lebih untuk mendapatkan harta milik putriku. Jika kau tidak ingin hidup susah, kau ikuti rencana yang sudah saya buat!" ucap Leo.


"Ayah!" pekik Selana.


__ADS_2