Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Merajuk


__ADS_3

Pagi menjelang, Kaina terlihat cemberut dan tidak ingin berbicara dengan Haikal. Sebab pria tampan itu tidak ingin bangun dan bermain dengannya. Sehingga ia tidur dengan gelisah karena keinginannya tidak terpenuhi.


"Sayang kenapa marah?" ucap Haikal memeluk ibu hamil itu sembari mengusap perutnya yang mulai terlihat.


"Kamu jahat! Sana jauh-jauh. Kamu bau!" ucap Kaina ketus dan kembali masuk ke dalam kamar


Glek!


Haikal hanya terdiam dan memikirkan kesalahan apa yang sudah ia perbuat, hingga Kaina marah kepadanya pagi ini.


"Kenapa kamu, Mas?" tanya Meidina mengernyit.


"Huh, mbakmu lagi sensitif," ucap Haikal menghela nafas.


Sebentar lagi ia harus pergi bekerja, sementara Kaina tidak mau diajak bicara sedikitpun. Ia tidak bisa tenang meninggalkan sang istri dalam keadaan kesal seperti itu.


Haikal langsung menghampiri Kaina yang berada di dalam kamar. Ia melihat ibu hamil itu seperti tengah menahan tangis.


"Sayang, kamu kenapa? Kalau aku salah, bilang. Jadi aku gak bingung seperti ini," ucap Haikal lembut sambil menangkup kedua pipi Kaina.


"Kamu jahat!" ucap Ibu hamil itu dengan ketus.


"Jahat kenapa?" tanya Haikal menahan dirinya.


Sungguh ia sangat bingung dengan sikap Kaina pagi ini.


"Pokoknya kamu jahat! Sudah sana pergi kerja, aku mau tidur lagi!" ucap Kaina merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menutupinya dengan selimut dari ujung kaki hingga ujung rambut.


"Sayang, aku minta maaf ya. Sekarang kamu mau apa, sini aku carikan, atau mau aku masakin?" ucap Haikal masih membujuk.


"Gak mau! Sanalah pergi!" ucap Kaina dengan mata yang berkaca-kaca. "Kamu udah gak sayang aku lagi!" sambungnya.


"Eh, siapa bilang? Sayang, jangan seperti ini. Ayo bilang aku salah apa!" ucap Haikal gelagapan.


Kaina hanya terdiam tanpa menjawab lagi, ia menutup mata dan berusaha untuk terlelap dengan cepat.


"Baiklah, aku gak akan cukuran dan juga menambah masa otot, biar aku terlihat seksii seperti aktor semalam," ucap Haikal mengalah.


Kaina tertarik, ia mengulurkan jari kelingkingnya keluar dari selimut, berharap Haikal berjanji kali ini. Walaupun bukan itu yang menjadi akar kekesalannya.


"Sekarang jangan marah lagi, ya. Aku gak bisa tenang kalau kamu seperti ini," ucap Haikal membujuk Kaina.

__ADS_1


Ibu hamil itu mengangguk dan meminta untuk dikecup oleh sang suami. Ia begitu mendamba Haikal yang terlihat sangat tampan dan juga wangi.


"Nanti sebelum pergi kuliah, kabari aku ya!" ucap Haikal mengusap bibir Kaina.


"Iya, Sayang," ucap Kaina mengangguk.


Haikal bernafas lega, ia menunggu Kaina terlelap terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja. Ia sudah terlambat, namun Kaina lebih penting dari apapun.


Setelah Kaina benar-benar terlelap, ia langsung keluar dan pergi bekerja.


"Selamat pagi, Tuan!" ucap Nabila menunduk.


"Pagi. Kamu sudah baca jadwal Kaina?" tanya Haikal mengambil tasnya.


"Sudah, Tuan!" ucap Nabila tanpa berani untuk menatap Haikal.


"Hmm, pastikan tidak ada hal berbahaya yang akan terjadi kepada Kaina. Istri saya sedang tidur di dalam. Bersikaplah dengan baik!" ucap Haikal tegas.


"Baik, Tuan," ucap Nabila.


Pria tampan itu berlalu. Nabila yang belum sarapan langsung memakan bekal yang sudah ia bawa dari rumah. Namun sebuah suara mengejutkan dirinya yang sedang menikmati sarapan pagi di lantai 25 gedung apartemen itu.


"Heh, ngapain Lo ada di sini?" ucap Meidina yang baru saja bangun.


"Bagaimana dengan perempuan itu?" ucap Meidina terkejut tidak percaya.


"Saya tidak tau, Nona," ucap Nabila tidak ambil pusing.


Meidina menatap gadis itu dengan curiga. Ia tidak percaya kepada perempuan yang kemarin masih menjadi manager Filda, namun tiba-tiba saja dia menjadi asisten Kaina.


"Apa kau ingin mencelakai Kaina? Kau tau kan, dia sedang hamil?" ucap Meidina tegas.


"Saya sudah menekan kontrak dengan perusahaan, jika saya berbuat macam-macam, bukan hanya pemotongan gaji, tapi juga penjara akan menanti saya," ucap Nabila.


"Jangan macam-macam kau!" ucap Meidina menatap tajam kepada Nabila.


"Saya bekerja dengan sepenuh hati, Nona. Jangan khawatir, saya akan menjaga Nyonya muda dengan baik," ucap Nabila tegas.


Meidina tidak lagi berbicara, ia hanya menuju ke dapur dan melihat sarapan apa yang ada di sana. Entah kenapa ia begitu nyaman berada di sini, apalagi tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang dihadapannya.


Kaina tiba-tiba saja terbangun karena merasa mual. Ia langsung pergi ke kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya.

__ADS_1


Ia langsung merasa lemas dan terduduk di atas toilet sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.


Aku pikir tuan muda juga ikut merasakan ngidam. Ternyata bagian mual tetap saja aku. Batin Kaina dengan nafas yang menderu.


"Nak, kasihani bunda ya!" ucap Kaina sambil mengusap perutnya.


Ia memilih untuk langsung mandi dan membersihkan tubuhnya yang terasa begitu lengket. Berharap, ia bisa merasa segar dan tidak mual kembali.


Setelah selesai, Kaina pergi keluar dan merasakan hawa dingin dan mencekam di ruang tamu itu. Nabila dan Meidina sedang bertatapan dan beradu argumen satu sama lain.


"Kalian kenapa?" ucap Kaina bingung.


"Tidak, Mbak. Aku hanya tidak percaya jika dia bekerja untukmu," ucap Meidina.


"Selamat pagi, Nyonya. Maaf karena saya mengganggu tidur anda," ucap Nabila menunduk sopan.


"Jangan bertengkar, aku tidak suka!" ucap Kaina tegas, namun terlihat mengemaskan di mata mereka.


Kaina berjalan dengan perut yang mulai membesar. Ia melihat sudah ada segelas susu dan juga sandwich di atas meja. Sebab, tadi pagi ia tidak berselera untuk sarapan.


Tanpa menghiraukan mereka, Kaina memakan sarapannya dengan tenang, walaupun masih merasa mual.


"Mbak, apa kang Yono ikut denganmu nanti?" tanya Meidina.


"Iya, kak. Nanti pak Yono akan ikut," ucap Kaina.


"Sukurlah. Aku merasa tidak percaya dengan perempuan ini," ucap Meidina kesal karena Haikal memilih orang sembarangan untuk mengawal istri dan anak-anaknya.


"Jangan seperti itu, Kak. Aku yakin, jika Kak Bila orang baik," ucap Kaina.


"Nona, jangan Khawatir. Anda bisa memukul saya, jika nanti saya tidak bertanggung jawab terhadap pekerjaan ini," ucap Nabila yang jengah mendengar ucapan Meidina.


Tak lama, Kaina memilih untuk bersiap pergi ke kampus. Dua orang pelayanan sudah sibuk menyiapkan bekal untuk Kaina agar bisa dibawa ke kampus.


"Ayo kita pergi, Kak!" ucap Kaina setelah selesai.


Nabila mengangguk dan membawa semua barang Kaina dibantu oleh kang Yono.


Kaina juga berpamitan kepada Meidina yang begitu betah berada di sana. Tepat ketika mereka berada di lobby, ponsel Kaina berdering. Ia melihat di sana jika sang ibu tiri kembali menelfonnya.


"Jangan lupa, besok bawa tuan muda ke rumah. Semua anggota keluarga juga hadir dan ibu sudah memberitahu mereka, jika kamu akan membawa tuan muda juga. Jadi jangan sampai membuat ayah malu!" ucap Sisca.

__ADS_1


Kaina hanya mendelik dan menghela nafas mendengar apa yang dikatakan oleh sang ibu tiri.


__ADS_2