Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Ditinggal Suami


__ADS_3

Pagi ini, Kaina terlihat murung karena Haikal memiliki agenda keluar kota yang tidak bisa dibatalkan. Ia duduk di atas ranjang setelah memasukkan beberapa helai baju Haikal ke dalam koper.


"Sayang, pakaikan dasiku!" ucap Haikal sambil menyerah dasinya.


Kaina hanya mengangguk, ia mengerjakan apa yang dikatakan oleh sang suami tanpa berbicara sepatah katapun.


"Sayang, jangan murung seperti ini. Kalau bisa aku pasti membawamu kemanapun, tapi kondisi kamu belum memungkinkan," ucap Haikal mengangkat dagu Kaina dan mengecup bibirnya dengan lembut.


"Aku paham. Aku hanya takut," ucap Kaina lirih.


"Ada pak Marsoni yang akan mengawasi di rumah ini. Aku tidak mau kamu tinggal di apartemen sendiri dengan kondisi seperti ini, hmm," ucap Haikal memegang kedua belah pipi Kaina.


Gadis itu tersenyum dan mengangguk. "Cepat pulang, ya. Nanti kalau aku minta di kecup, siapa yang ngasih," ucap Kaina cemberut.


"Jangan minta sama yang lain!" ucap Haikal menatap Kaina dengan tajam.


"Hahaha, mana berani. Sudah selesai!" ucap Kaina merapikan baju Haikal.


Mereka berjalan bergandengan menuju meja makan. Hingga dua hari ke depan, mereka tidak akan bertemu dan hanya bisa berhubungan melalui ponsel saja.


Aku harus bisa melindungi diri dan anak-anak nanti. Walaupun Tuan Muda jauh dari kami. Bantu Bunda ya nak!. Batin Kaina.


Sesampainya di meja makan, wajah Muzi terlihat sumringah karena Haikal akan pergi hari ini.


"Kamu jadi pergi hari ini, Nak?" tanya Muzi.


"Iya, Mom. Lusa aku akan kembali, dan istriku tidak bisa ikut. Jadi, aku harap Mom tidak mengganggunya, walaupun Mom belum bisa menerima Kaina, setidaknya Mommy ingat istriku sedang mengandung cucu Mommy. Kembar juga, jangan sampai Mom menyesal jika terjadi sesuatu!" ucap Haikal to the poin.


Wajah Muzi berubah masam mendengar ucapan Haikal yang seolah tengah membaca isi pikirannya yang sudah menyusun beberapa rencana agar Kaina memilih pergi meninggalkan sang putra.


"Mommy seolah terlihat sebagai ibu yang jahat karena ucapanmu!" ucap Muzi menatap Kaina dengan tajam.


"Aku hanya mewanti-wanti, Mom. Kalau terjadi sesuatu kepada Kaina dan anak-anakku, aku tidak bisa menahan diri, tanpa terkecuali. Aku menginginkan mereka, Mom. Istri dan anak-anakku!" ucap Haikal santai, namun terselip ketegasan di sana.


Muzi tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia hanya menyuap makanan yang terasa tidak enak lagi. Begitu juga dengan Kaina yang memilih diam sembari menerima suapan dari Haikal.


Apa ini bisa berguna untuk keselamatanku?. Batin Kaina menatap Haikal yang tengah mengunyah makanannya.


Muzi hanya menatap Kaina dengan benci, ia berharap masih ada kesempatan agar bisa memberi tekanan kepada Kaina tanpa menyentuh gadis itu. Membuat mental Kaina down, sehingga memilih untuk pergi dari Haikal.


Mereka segera menghabiskan makanan, Haikal dan Kaina segera menuju ke mobil masing-masing setelah berpamitan kepada Muzi.


"Nanti kalau ada apa-apa, cepat hubungi aku. Jangan matikan ponsel dan jangan jajan sembarangan. Air putih, susu, cemilan dan juga buah sudah ada di dalam tas ini," ucap Haikal mengusap kepala Kaina dengan lembut.

__ADS_1


"Iya, nanti makan siang, aku mau ke apartemen ya," ucap Kaina tersenyum.


"Iya, Hati-hati! Jangan aneh-aneh di kampus! Lusa aku pulang," ucap Haikal tersenyum.


Ia mengecup bibir Kaina sekilas sebelum masuk ke dalam mobil. Sementara gadis itu tersenyum dan menunggu kepergian Haikal.


Setelah pria tampan itu pergi, Kaina segera berangkat, berlawanan dengan perjalanan sang suami. Ia harus bisa berbaur dengan mahasiswa yang lain nanti, agar ia bisa diterima di kampus barunya.


Tak selang berapa lama, Kaina menginjakkan kakinya di kampus baru, dimana rata-rata berisikan mahasiswa dengan keadaan ekonomi menengah ke bawah, berbeda dari sebelumnya yang berisikan anak orang kaya yang selalu merendahkannya.


"Pak, biar saya masuk sendiri. Bapak awasi saya dari jauh saja, ya!" ucap Kaina tersenyum.


Yono terlihat berpikir namun ia tetap mengiyakan ucapan sang nyonya muda.


Kaina segera turun dan berjalan dengan hati-hati menuju ruang dekan. Ia harus menghela nafas pelan ketika harus menaiki tangga menuju lantai dua.


Ayo anak-anak, kita harus semangat!. Batinnya.


"Permisi, Pak!" ucapnya mengetuk pintu setelah berada di depan ruangan dekandekan fakultas.


"Eh, Apa kamu Kaina, istri Tuan Muda Haikal?" tanya Bapak Dekan mengernyit.


"Iya, Pak!" ucap Kaina tersenyum.


"Silahkan masuk!".


"Ayo, kamu saya antar ke kelas," ucap Bapak Dekan.


Mereka berjalan menuju lantai satu, dimana ruangan pertama Kaina berada. Ia mengambil jurusan manajemen bisnis dan masih berada pada semester ke 2.


"Selamat Pagi, Ananda semua!" ucap Bapak Dekan yang kebetulan menjadi dosen pengajar di ruangan itu.


"Hari ini kita kedatangan mahasiswi baru. Jadi, tolong perlakukan teman kalian dengan baik! Silahkan perkenalkan diri kamu, Kaina!" ucap Bapak Dekan.


"Terima kasih, Pak! Selamat pagi, Saya Kaina Chandrina, salam kenal dan senang bertemu dengan teman-teman semua," ucap Kaina tersenyum dengan suara lembutnya.


Seisi kelas tiba-tiba saja heboh karena melihat dan mendengarkan bagaimana paras dan suara Kaina.


"Minta nomor telfon dong!" ucap Masiswa yang lain.


"Eh, udah punya pacar belum? Bisa kali ya!"


Berbagai macam kalimat godaan tertuju kepada Kaina. Namun gadis itu hanya tersenyum manis menanggapi apa yang dikatakan oleh teman-teman barunya.

__ADS_1


"Jangan macam-macam kalian! Kaina sudah menikah dan tengah mengandung saat ini!" ucap Bapak Dekan melerai keributan.


"Yah! Baru aja nemu yang bening malah udah bunting!".


"Potek hati abang dek!".


"Silahkan Kaina, cari tempat duduk yang nyaman," ucap Sang dosen.


"Terima kasih, Pak!" ucal Kaina tersenyum manis.


Pelajaran di mulai. Kaina merasa cukup senang karena tidak ada mahasiswa yang memandangnya rendah.


Namun belum ada 30 menit dia duduk di sana, rasa pegal dan lelah sudah ia rasakan. Rasa kantuk dan juga lapar mulai menguasai dirinya.


Nak, sabar ya. Bunda masih kuliah!. Batin Kaina sambil mengelus perutnya.


"Kamu lapar?" tanya seorang mahasiswi yang berada di samping Kaina dengan berbisik


"Iya, maklum ya ibu hamil gampang lapar!" ucap Kaina lirih.


"Aku ada cemilan, mau?" ucap mahasiswi itu.


"Ah, terima kasih. Tapi nanti saja, sebentar lagi juga keluar," ucap Kaina.


Mereka kembali menyimak materi yang disampaikan oleh dosen hingga jam perkuliahan berakhir.


Kaina menghela nafas lega, ia mengambil tas dan membuka bekal yang telah di sediakan oleh Chef yang ada di rumah.


"Kenalin aku Hesti," ucap Mahasiswi yang menawarkan Kaina makanan tadi.


"Hai, Terima kasih karena tadi kamu menawarkan aku makanan," ucap Kaina tersenyum manis.


"Santai saja. Aku juga maklum kok, kalau ibu hamil itu emang gampang lapar," ucap Hesti tersenyum.


Ia menatap kotak bekal yang dibawa oleh Kaina. Sepertinya dia bukan orang biasa. Dari caranya berpakaian pasti dia orang berada. Batin Hesti.


Mereka berbincang bersama dengan beberapa mahasiswi lainnya sembari mengenal satu sama lain. Kaina merasa senang, karena baru kali ini ada orang yang mengajaknya berbicara ketika berada di kampus.


"Ah kamu tenang aja, di sini anaknya asik-asik. Kalau butuh sesuatu, kamu bisa minta tolong," ucap Hesti tersenyum.


"Syukurlah. Terima kasih, Hesti!" ucap Kaina merasa senang.


Sayang, untung kamu mau menerima pilihanku. Di sini mereka bahkan mau menunggu dan mendampingiku ketika berjalan. Ah, aku merasa begitu senang kali ini. Batin Kaina tersenyum sambil menggandeng tangan Hesti.

__ADS_1


Bahkan, kotak bekal makanannya dibawakan oleh mahasiswi yang lain. Karena mereka tau, jika Kaina tengah hamil saat ini.


Sayang, aku tidak sabar untuk bercerita denganmu. Ah, akhirnya ada juga yang menerima keberadaan dan keadaanku. Ternyata benar, aku hanya salah lingkungan. Sekarang aku bisa bernafas lega bisa belajar tanpa beban mental dan moral seperti sebelumnya. Batin Kaina tersenyum.


__ADS_2