
"Ayah!" pekik Selena dengan wajah yang dipenuhi amarah.
Ia tidak sengaja mendengar perdebatan kedua orang tuanya, ketika hendak menemui Sisca di kamar.
Namun sesuatu yang tidak ia inginkan akhirnya terucap dari mulut sang ayah. Ia tidak ingin menerima kenyataan itu dengan cepat.
"Kenapa ayah harus menceraikan ibuku?!" teriak Selena dengan wajah yang memerah.
"Itu sudah menjadi keputusan ayah!" ucap Leo tegas.
"Apa tidak bisa dibicarakan baik-baik lagi, Yah? Apa ayah tidak memikirkan kami?" ucap Selena memukul Leo.
"Tenanglah!" ucap Leo berusaha untuk menghentikan Selena.
"Ayah jahat! Ayah jahat!" teriak Selena meraung-raung.
"Lihat apa yang sudah kau perbuat, Mas!" ucap Sisca berteriak sambil memegangi Selena.
"Diamlah!" bentak Leo. Ia menatap Selena dengan tajam. "Kamu bisa ayah aja bicara baik-baik atau ayah akan marah!" sambungnya tegas.
"Ayah jahat! Aku benci ayah!" ucap Selena masih berteriak.
"Selena, tenanglah!" bentak Leo membuat Selena terkejut.
"Ini semua karena anak pembawa sial itu! Pasti dia sudah menghasut ayah!" pekik Selena membalas tatapan Leo dengan tajam.
"Kau tenang, atau ayah pergi dari sini dan membiarkan kalian luntang-lantung?" ucap Leo tegas.
"Terserah, Ayah! Aku tidak peduli!" ucap Selena masih berteriak.
Leo akhirnya melepaskan Selena dan berdiri dengan tatapan dingin. "Saya tunggu di ruang keluarga, jika kamu masih menganggap saya ayah!" ucapnya tegas dan berlalu setelah mengambil map coklat yang ia bawa tadi.
Selena menatap Leo penuh benci, ia segera berdiri dan mengikuti langkah kaki sang ayah. Berbeda dengan Sisca, ia menatap Leo dengan penuh dendam. Ia merasa ingin membunuh laki-laki itu saat ini juga.
Namun ia tidak boleh gegabah karena banyak hal yang harus ia tuntut dari Leo. Dengan nafas yang menderu, ia berjalan keluar menyusul anak dan suaminya.
"Sekarang apa yang mau ayah bilang? Ayah ingin mengatakan dan menyaksikan kehancuran kami, ha? Ayah tidak memikirkan masa depan kami yang akan tumbuh menjadi korban broken home, iya? Ayah ingin melihat itu?" ucap Selena sarkas.
"Tenang dan duduklah! Ayah ingin bicara baik-baik tentang ini. Jika kamu tidak bisa tenang, ayah tidak akan berbicara!" ucap Leo berusaha untuk tenang.
Sisca memaksa Selena untuk duduk. Ia penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya itu.
Tanpa terasa air mata Selena menetes tanpa bisa ia cegah lagi. Ia terisak sambil memukul dadanya yang terasa sesak.
__ADS_1
Leo mendekat dan memeluk Selena dengan paksa ketika gadis itu memberontak.
"Tenanglah! Maafkan ayah!" ucap Leo lirih.
"Hiks, ayah jahat! Kenapa ayah melakukan ini kepadaku dan ibu? apa ayah sudah tidak sayang lagi kepada kami?" tanya Selena menangis di dalam pelukan Leo.
"Jangan berbicara seperti itu, Nak! Tentu ayah sayang sama kamu, kakak dan Bobi. Tapi, rumah tangga ayah dan ibu sudah tidak bisa dipertahankan!" ucap Leo mengusap kepala Selena dengan lembut.
"Hiks, apa tidak bisa dibicarakan lagi, Yah? Apa ayah mau aku menjadi bahan ejekan karena ayah dan ibu bercerai? Padahal mereka tau, jika keluarga kita tidak pernah bermasalah," ucap Selena semakin terisak.
"Kamu memilih ayah pisah hidup dengan ibu atau ayah meninggal ditangan ibu?" tanya Leo dan membuat Selena tersentak.
Berbeda dengan Sisca yang terkejut, karena Leo mengatakan hal itu kepada Selena.
"Apa maksud ayah?" tanya Bobi yang baru saja pulang sekolah.
Sisca semakin pucat ketika putranya juga sudah datang dan bergabung dengan mereka.
"Apa ibu tidak mengatakan hal ini kepada kalian? Bukankah, tuan muda juga sudah mengatakannya?" tanya Leo sambil menghela napas.
"Jadi, ibu benar ingin membunuh ayah?" tanya Bobi tidak percaya.
"Apa ibu terlihat seperti seorang pembunuh? Kalian bukan bocah untuk mencerna sesuatu!" ucap Sisca ketus, menyembunyikan reaksinya dan berusaha untuk mengelak.
Mereka terdiam mendengar ucapan Leo. Tidak ada anak yang ingin orang tuanya berpisah. Tidak ada yang menginginkan perceraian dalam rumah tangga.
Namun, situasi saat ini sudah tidak bisa dikondisikan lagi. Boby dan Selena hanya bisa menangis mendengar keputusan dari sang ayah.
Sementara Sisca semakin geram dengan ucapan Leo yang seolah sedang menghasut anak-anak untuk membenci dirinya.
Dasar tua bangka! Lihat saja nanti, jika kau tidak memberikan aku harta yang banyak. Kau akan mati seperti apa yang aku katakan sebelumnya!. Batin Sisca penuh dendam.
"Tenanglah! Ayah ingin berbicara baik-baik, untuk kalian dan juga ibu!" ucap Leo setelah beberapa saat membiarkan Selena dan Boby menangis.
"Ayah sudah menyiapkannya rumah di dekat kampus C. Memang tidak sebesar ini, karena ayah juga harus memikirkan masa depan kalian," ucap Leo.
"Kenapa? Ini rumah kita, Yah! Kenapa ayah harus mencarikan kami rumah lagi?" tanya Selena tidak percaya.
"Bukan! Rumah ini milik Kaina, dalam waktu dekat dia akan mengambilnya!" ucap Leo.
"Pembawa sial itu, aku akan menghajarnya!" ucap Selena berdiri.
"Selena!" bentak Leo berhasil membuat gadis itu terdiam. "Apa kau tidak paham dengan ucapan ayah? Apa kau tidak ingin hidup dengan pemberian ayah?" sambung geram.
__ADS_1
"Duduklah!" ucap Sisca tegas kepada Selena.
Gadis itu mendengus kesal dan kembali duduk. Namun tatapan matanya sangat tajam penuh dendam, begitu juga dengan Bobi. Mereka saling berpandangan, seolah merencanakan sesuatu untuk kakak tirinya.
"Untuk sekolah, ayah sudah menyelesaikannya. Kalian tinggal kuliah dan belajar dengan baik sampai jadi profesor jika kalian ingin," ucap Leo sambil menatap anak-anaknya.
"Bagaimana dengan saham perusahaan?" tanya Bobi mengernyit.
"Kau masih saja memikirkan saham. Perusahaan itu sudah diambil alih oleh tuan Alan dan kembali bergabung ke dalam Chandrawinata Grub. Saham ayah masih ada 20 persen lagi, itu bisa kalian gunakan nanti untuk membuat usaha. Ayah sudah membagi rata semua harta yang ayah miliki, untuk ibu, kalian dan juga kaina," ucap Leo.
"Dia masih mendapatkan harta ayah lagi, setelah mengambil perusahaan? Ini tidak adil!" ucap Bobi tidak terima.
"Iya, Yah. Ini tidak adil! Dia bisa menguasai perusahaan, sementara kami hanya mendapat remahan seperti ini!" ucap Selena sarkas.
"Karena memang itu perusahaannya kakak kalian. Hanya dia pewaris tunggal dari seluruh aset Chandrawinata!" ucap Leo tegas.
Mereka terkejut dan terdiam. Leo hanya bisa menghela napas berat, melihat anak-anaknya yang tidak akur satu sama lain.
"Bukankah ayah sudah pernah mengatakan agar kalian meminta maaf kepada Kaina? Sekarang pikirkanlah!" ucap Leo.
"Aku tidak pernah berbuat salah kepada dia. Aku tidak akan pernah meminta maaf!" ucap Selena tegas.
"Selena, suatu hari kamu pasti akan membutuhkan kakakmu itu!" ucap Leo tidak suka.
"Aku bisa melakukan apa pun tanpa bantuan dari dia!" ucap Selena.
"Terserah kamu saja! Ayah hanya ingin mengingatkan, jika kamu ingin berbuat sesuatu, tolong pikirkan baik-baik, jangan sampai kamu menjadi seperti ibu!" ucap Loe sambil berdiri.
"Apa maksud kamu berkata seperti itu, Mas?" tanya Sisca merasa tersinggung.
"Kalian bisa melihat sendiri, hanya karena ibu mengancam Kaina dengan membunuh ayah, masa depan kalian ikut dikorbankan karena ayah dan ibu harus bercerai!" ucap Leo tegas.
Ia berlalu dari sana dan menuju ruang kerjanya. Ia ingin beristirahat sebentar, karena berdebat dengan anak dan istrinya itu cukup menguras tenaga. Ia sungguh merasa lelah kali ini.
Kiara, apa keputusanku benar kali ini?. Batin Leo ketika duduk di kursi sambil memejamkan matanya.
Ia merasa tidak ada istri yang lebih baik dibandingkan Kiara, bunda dari Kaina. Wanita itu sungguh bijak dalam mengambil keputusan, bahkan dulu perusahaan Chandrawinata bisa berjaya seperti sekarang karena keputusan besar yang di ambil oleh wanita cantik itu dulu.
Sungguh, kini ia sangat tidak ingin jika Selena dan Bobi berada dalam situasi yang sangat berat. Namun, Kaina dulu lebih terpuruk dari pada ini.
Ia memang harus tega, agar kehidupan setelah ini bisa berjalan dengan baik.
Semoga saja, pembagian ini memang benar-benar adil dan tidak menimbulkan pertengkaran. Batin Leo.
__ADS_1