
Haikal dengan wajah panik membawa Kaina ke rumah sakit. Ia semakin khawatir ketika kaina tidak berhenti meringis sambil memegang perutnya.
"Sabar ya, Sayang!" ucap Haikak sambil mengusap perut Kaina.
Hingga mobil tiba di rumah sakit, Kaina langsung mendapatkan perawatan intensif dan memastikan jika keadaan Kaina dan bayi kembarnya baik-baik saja, mengingat kandungan ibu hamil itu masih sangat lemah dengan riwayat sebelumnya.
Haikal mondar mandir berdiri di luar dengan wajah yang begitu khawatir. Sungguh, ia sangat takut jika terjadi apa-apa dengan anak dan istrinya. Sebab, baru semalam ia membaca artikel tentang bahaya dari keguguran yang bisa menyebabkan kematian pada ibu hamil.
Ya Tuhan, kali ini aku meminta kepadamu, selamatkanlah anak dan istriku!. Batin Haikal dengan mata yang berkaca-kaca.
Baru tadi ia merasa bangga dengan Kaina, namun kini semua rasa itu hilang, dan berganti dengan rasa takut yang teramat.
Alan datang dan melihat Haikal yang sudah pucat pasi di depan bilik Kaina. Ia semakin yakin, jika Haikal memang bersungguh-sungguh mencintai anak dari sahabatnya itu.
Bertahanlah, Nak! Ada kebahagiaan yang akan menghampirimu bersama dengan dia, laki-laki yang telah dijodohkan oleh ayahmu dengan paksa. Batin Alan.
Ia menghampiri Haikal dan menepuk pundaknya. "Tenanglah, berdo'a untuk keselamatan anak dan istrimu!" ucap Alan.
"Saya tidak bisa tenang, Om. Apa lagi mereka sedang berjuang di dalam sana, tanpa mengajak saya!" ucap Haikal dengan air mata yang tidak lagi bisa dibendung.
"Hei, kau tenanglah! Jika kau ikut sakit, bagaimana dengan mereka yang sangat membutuhkan kau?" ucap Alan.
"Aku harus apa, Om?" tanya Haikal menangis.
Ia merasa tidak bisa berpikir kali ini. Walaupun Alan sudah menenangkannya, namun itu sama sekali tidak membantu sebelum Kaina dan anaknya baik-baik saja.
Hingga setengah jam berlalu, Dokter Amanda dan Rasya keluar dari bilik Kaina dengan peluh yang bercucuran dan napas yang terasa sesak.
"Bagaimana?" tanya Haikal tidak sabar.
"Kaina harus dirawat. Harusnya, kau larang dia untuk ikut lomba yang seperti itu. Apa kau tidak tau, berdebat itu bisa membuat ibu hamil menjadi stres?" ucap Rasya.
"Syukurlah!" ucap Haikal bernapas lega.
Ia terduduk dengan tubuh yang terasa lemas. Rasya merasa iba dengan sahabatnya itu, walaupun Haikal sering kali membawa Kaina ke sini.
__ADS_1
"Masuklah! Dia sudah sadar dan memanggil kamu!" ucap Rasya menepuk pundak Haikal.
"Terima kasih!" ucap Haikal bergegas.
Ia masuk ke dalam bilik Kaina dan melihat dang istri sudah mengenakan infus dan juga oksigen.
"Sayang?" panggil Kaina lirih.
"Aku di sini, sayang! Aku di sini!" ucap Haikal mengusap kepala Kaina dengan lembut.
"Aku gak papa, Anak-anak juga baik," ucap Kaina lirih sambil tersenyum. "Aku kuat, 'kan?" sambungnya.
"Iya, sayang. Kamu dan anak-anak kuat banget! Sekarang, istirahat ya. Biar cepat pulih dan bisa makan sepuasnya lagi!" ucap Haikal tersenyum dengan air mata yang menetes.
Alan melihat itu dengan rasa syukur yang teramat. Ia mengambil vidio Haikal dan Kaina, lalu mengirimkannya kepada Leo agar pria tua itu bisa segera datang.
Kaina segera dipindahkan ke dalam ruang perawatan agar bisa beristirahat dengan baik. Begitu juga dengan Haikal yang merasa sangat lelah karena rasa khawatir dan takut yang menguasai dirinya sedari tadi.
Sementara itu di tempat lomba, panitia mulai mengumumkan juara-juara lomba debat ini, di saat suasana masih ricuh dan belum terkendali karena berita Haikal tadi.
Mereka terkejut dan tidak percaya jika mereka hanya menempati urutan kedua dalam lomba tersebut.
"Pak, ini kenapa bukan kita yang menang?" tanya Fani terkejut.
Salah satu pemegang saham di kampus itu tidak bisa berkata-kata. Ia mencari keberadaan ketua panitia untuk dimintai pertanggungjawaban.
Namun yang ia cari tidak terlihat sama sekali. Hanya wajah kesal yang ia tampilkan, dan membuat beberapa orang bisa menebak, jika ada sesuatu yang terjadi kepada laki-laki itu.
"Silahkan kepada perwakilan dari kampus C!" ucap MC kembali karena tidak ada satu orang pun yang naik ke atas panggung.
Fani cs, merasa malu karena ia tidak mendapatkan gelar juara 1 setelah beberapa tahun ini dimenangkan oleh kampusnya.
Zony yang menjadi partner Jesica memilih untuk naik ke atas panggung agar tidak membuat orang lain merasa aneh. Walaupun sebenarnya ia juga merasa sangat malu, namun harus bagaimana lagi karena ini sudah diumumkan dan di tonton oleh berjuta pasang mata.
"Juara satu jatuh kepada..., Kampus negeri A, dengan perolehan poin 399! Selamat kepada Kampus Negeri A yang telah berhasil meraih gelar juala satu karena pasangan kita kali ini, sangat baik dalam mengemukakan argumen dan mampu mengalahkan juara bertahan kita pada tahun ini. Kepada perwakilan dipersilahkan untuk naik ke atas panggung!" ucap MC yang semakin membuat Fani CS merasa sangat malu.
__ADS_1
Adam naik sebagai perwakilan, dengan bangga dia menerima hadiah-hadiah itu, walaupun tanpa Kaina. Dalam hati ia berdo'a untuk keselamatan ibu hamil yang hebat itu.
Aku harap kamu baik-baik saja, Kai. Kamu harus lihat ini, kita mendapatkannya. Keinginanmu untuk mengalahkan mereka dan membalas dendam sudah terwujud. Lihatlah, Kai! Aku memegang medali dan piala besar ini sendiri, aku mewakilkannya juga untukmu!. Batin Adam dengan mata yang berkaca-kaca.
Ia sangat sadar, jika Kaina yang lebih berperan aktif dalam kemenangan mereka. Ia merasa belum pantas untuk menerima semua hadiah ini sendiri tanpa Kaina.
Setelah penerimaan hadiah, MC langsung menutup acar diiringi musik yang begitu meriah. Satu persatu panitia sengaja melarikan diri agar tidak menjadi bulan-bulanan dari pemegang saham kampus C.
Mereka tidak akan bisa menuntut panitia, namun justru orang lain yang bisa menuntut tentang hal ini.
Sementara Pedro berusaha untuk menahan salah satu dari panitia, namun mereka seolah saling melindungi dan juga ada orang lain yang berperan. Karena kini Ia hanya bisa berurusan dengan panitia inti.
Sial! Beraninya dia bermain denganku! Mau cari mati mereka!. batin Pedro.
Namun matanya menangkap seseorang yang sangat ia segani. Along berdiri tak jauh dari sana dan menatap ke arahnya dengan tajam.
"Selamat malam, Tuan Pedro!" sapa Along.
"Selamat malam, Tuan Along. Apa kabar?" sapa Pedro.
"Sepertinya anda mencari seseorang," ucap Along tersenyum tipis.
"Tidak, Tuan. Saya hanya melihat mahasiswa yang masih berada di sini. Maklum sudah malam, saya bertanggungjawab atas mereka," ucap Pedro.
Along menggeleng dan tertawa. "Anda mau mencari ketua panita dan bertanya kenapa kampus Anda tidak menang?" ucapnya.
Pedro terkejut, namun ia berusaha untuk biasa saja. "Tentu tidak, Tuan. Kampus A benar-benar mengirim perwakilan yang sangat hebat kali ini!" ucap pria paruh baya itu.
"Jangan mengelak lagi, Tuan Pedro. Kita sudah sama-sama tau tentang hal ini. Jangan libatkan panitia lagi dalam setiap kecuranganmu. Karena jika sampai ini terjadi dan mereka disalahkan, pasti nama anda akan terseret begitu jauh dan mencoreng nama baik kampus anda!" ucap Along.
Pedro terdiam, ia tau jika Along pasti sudah melakukan sesuatu terhadap rencananya.
"Tuan Haikal yang akan bertindak sendiri, karena istrinya yang sudah anda curangi!" ucap Along sebelum pergi dari sana.
Pedro terbelalak kaget mendengar ucapan Along. Ia hanya terdiam sambil menggenggam tangannya dengan erat menahan emosi.
__ADS_1