
Kehebohan terjadi di perusahaan Haikal, dimana 'Dia' datang ke kantor itu tanpa mengkonfirmasi terlebih dahulu. Sebab, setelah Haikal menikah, sudah ada aturan baru jika semua perempuan yang mengaku pacar tuan muda di larang masuk ke dalam perusahaan tanpa terkecuali.
"Nona, ini sudah menjadi aturan perusahaan! Anda di larang masuk, apapun status anda sebelum membuat janji terlebih dahulu!" ucap Satpam menghalangi.
"Kalian lupa saya siapa? Pokoknya sekarang saya ingin bertemu dengan calon suami saya, atau kalian semua akan kehilangan pekerjaan!" ucapnya dengan tegas.
"Nona, ini sudah menjadi aturan utama perusahaan, jika tidak ada satupun perempuan yang boleh masuk atas dasar hubungan apapun kecuali keluarga Kusumanegara! Jika anda ingin bertemu dengan tuan muda, anda harus membuat janji terlebih dahulu!" ucap Satpam itu tak kalah tegas.
Filda Nazar, model cantik yang pernah menjalin hubungan dengan Haikal selama tiga tahun. Ia memutuskan untuk pergi dari pria tampan itu karena merasa terkekang dengan hubungan yang tengah mereka jalani.
Kini hampir satu tahun di luar negeri, akhirnya ia memilih untuk pulang setelah mendapatkan kabar dari Muzi, jika Haikal telah menikah.
"Panggilkan Asisten Along sekarang juga!" ucap Filda merasa emosi.
"Ada apa, Nona? Apa kabar anda? Apa sudah puas berlibur dan lari dari tuan muda?" Ucap Along dengan wajah datarnya.
"Dimana Haikal?" tanya Filda tanpa menjawab pertanyaan Along.
"Apa kalian ingin kehilangan pekerjaan? Kenapa dia bisa masuk sampai resepsionis?" Ucap Along tegas dan terasa begitu menakutkan.
"Ma-maaf, Tuan. Nona ini memaksa kami terus. Jika berbuat lebih, kami takut akan terjadi sesuatu," ucap Satpam.
"Apa yang kalian takutkan? Viral dan nama kalian menjadi buruk? Lalu apa gunanya hak dan kewajiban karyawan di perusahaan ini?" ucap Along berteriak.
Semua orang terkejut mendengar ucapan Along, termasuk Filda dan beberapa orang lainnya.
"Usir dia, dan undang media sore ini juga! Aku akan melakukan konferensi pers!" ucap Along kepada Alex sang asisten, sembari menatap Filda dengan penuh kebencian.
"Baik, Tuan!" ucap Alex menganggukkan kepalanya.
"Asisten Along, dimana Haikal?" pekik Filda ketika Along tidak menggubris ucapannya.
"Nona, silakan keluar! Jangan sampai anda kami permalukan di sini dan berita ini sampai ke televisi, apalagi nanti sore tuan Along akan melakukan konferensi pers!" ucap Satpam itu menahan diri.
Filda tidak memiliki pilihan selain pergi dari sana dan memilih untuk pergi ke kediaman Kusumanegara, agar bisa meminta bantuan kepada Muzi.
Syalan kalian! Lihat saja nanti, kalau aku bertemu dengan Haikal, habis kalian semua!. Batinnya begitu marah karena baru kali ini ia di usir dengan cara rendahan seperti tadi.
Mobil berlalu dengan cukup cepat menuju ke kediaman Kusumanegara. Karena perintah Muzi, mereka bisa masuk begitu saja tanpa pemeriksaan atau drama lainnya.
"Mommy," panggil Filda sembari merentangkan tangannya ketika melihat Muzi tengah berdiri di depan pintu.
"Sayang, kamu apa kabar?" ucap Muzi tersenyum dan bersemangat.
"Aku baik, Mom. Mommy apa kabar?" tanya Filda.
"Mommy baik, Sayang. Ayo masuk!" ucap Muzi.
__ADS_1
Mereka segera masuk sambil bergandengan, melepas rindu yang sudah lama terpendam.
Mereka berbicara banyak hal tentang Haikal, termasuk Kaina. Muzi selalu saja merendahkan Kaina di hadapan Filda dan yang lainnya.
Hingga angin segar di dapat oleh wanita cantik itu. "Aku pikir, Haikal menikah dengan perempuan yang begitu cantik dan berkualitas melebihi diriku!" ucap Filda menghela nafasnya.
"Dia tidak ada apa-apa nya di bandingkan kamu. Pokoknya mommy akan membantu kamu untuk mendapatkan Haikal kembali!" ucap Muzi.
"Terima kasih, Mommy. Aku akan merebut Haikal kembali dari gadis itu. Aku yakin, pasti dia menawarkan tubuhnya untuk menggoda Haikal. Memang dasar wanita murahan!" ucap Filda dikuasai oleh amarah.
Mereka makasih mengobrol dan mencari celah untuk menghancurkan pernikahan Haikal dan membuat Filda kembali bersama dengan pria tampan itu.
🥕🥕
Kaina baru saja terbangun dari tidur, ia meraba di sekeliling katika tidak menemukan Haikal di sampingnya.
Dengan kepala yang masih pusing, ia berjalan dengan perlahan mencari keberadaan sang suami.
Entah kenapa, ia ingin berada dekat dengan pria tampan itu. Mengingat, ada banyak hal yang akan datang menghampirinya tanpa bisa di tebak.
"Sayang?" panggil Kaina dengan mata yang mulai berkaca-kaca ketika tidak menemukan Haikal.
Ia memutuskan untuk melihat ke kamarnya dan beruntung Haikal masih terlelap di sana tanpa mengenakan baju.
"Sayang, kenapa tidur di sini?" ucap Kaina menggoyang-goyangkan tubuh Haikal.
"Sayang marah?" ucap Kaina tercekat menahan tangis.
Haikal membuka matanya dan melihat Kaina yang akan menangis. "Sini! Jangan menangis terus!" Ucap Haikal merentangkan tangannya.
Kaina langsung naik ke atas ranjang dan memeluk Haikal dengan erat.
"Apa aku tidak bau lagi?" tanya Haikal mengecup kening Kaina.
"Tidak, aku sudah tidak mual lagi. cuma masih pusing saja," ucap Kaina mengendus aroma Haikal yang membuat dirinya terbuai.
"Hmm, aku lapar. Ayo kita cari makanan!" ucap Haikal.
"Iya, aku mau makan ketoprak atau siomay yang di abang-abang kaki lima," ucap Kaina memejamkan matanya sambil mengelus lembut perut Haikal.
Pria tampan itu terdiam dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh Kaina. Tangan gadis itu sudah bergerak semakin ke bawah, menuju daerah rawan berencana.
"Apa kamu mengajakku bermain?" tanya Haikal.
Kaina tersentak, ia membuka mata dan menggeleng. Ia memilih untuk duduk sambil mengutuki diri karena merasa malu dengan apa yang sudah ia perbuat.
"Ayo kita pergi!" ucap Kaina.
__ADS_1
Haikal terkekeh dan kembali memakai bajunya. Ia mencuci muka terlebih dahulu sebelum mengajak Kaina pergi.
Sementara gadis itu sudah pergi ke luar dan berdiri di depan pintu. Ia takut, Haikal akan mengajaknya bermain kembali nanti.
Setelah selesai, mereka segera pergi mencari makanan yang di inginkan oleh Kaina. Mobil sport yang begitu mewah, bergerak dengan kecepatan sedang melintasi jalanan yang tengah padat itu.
"Rasya bilang, kita harus pergi ke dokter kandungan untuk memastikan kamu hamil atau tidak. Sebab dia takut salah memberikan diagnosa, karena dia bukan dokter kandungan," ucap Haikal.
Kaina hanya terdiam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Haikal.
"Apa kamu belum siap?" tanya Haikal sambil menggenggam tangan sang istri.
"Hmm, aku masik kecil, masih 19 tahun. Aku takut tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak nanti," ucap Kaina lirih.
"Bukankah itu masih bisa kita pelajari? Masih ada waktu sebelum dedeknya lahir, 'kan?" Tanya Haikal.
Kaina terdiam, ia melihat sebuah gerobak kaki lima yang menjual Mie ayam di sana. "Berhenti dulu, Sayang! Aku mau makan Mie ayam!" ucapnya.
"Apa tidak di restoran saja?" tanya Haikal mengernyit.
"Tidak, Aku tidak mau!" ucap Kaina cemberut sambil melipat kedua tangannya di dada.
Tidak ada pilihan lagi, Haikal segera menepikan mobilnya. Ia segera turun dan memesan satu mangkok Mie ayam dan bakso.
Itu hanya alasanku saja, Tuan. Ketidakpastian yang Anda berikan membuat saya ragu dan tidak tau harus berbuat apa. Batin Kaina.
Ia menatap Haikal yang berbaur dengan orang-orang di warung itu. Terlihat asing dan lucu karena dia mau memesankannya makanan di sana.
Apalagi Ia melihat Haikal membawa nampan dengan dua mangkok di atasnya. "Kapan lagi bisa mengerjai pengusaha hebat seperti ini," ucap Kaina tersenyum.
Haikal masuk dan memberikan makanan itu kepada Kaina. Wajah berbinar Kaina terlihat jelas tanpa bisa ditutupi.
"Pesanan kamu mana?" tanya Kaina mengernyit.
"Kamu saja yang makan!" ucap Haikal tersenyum sambil mengusap kepala sang istri.
Kaina menyuapi Haikal dan memaksa pria tampan itu untuk mencoba apa yang tengah ia makan.
"Enak," ucap Haikal tersenyum.
Kaina bertepuk tangan melihat sang suami tidak menolak apa yang ia lakukan.
Sore itu mereka mencoba hampir semua jajanan kaki lima yang ada dipinggir jalan itu. Kesederhanaan yang membuat mereka merasa begitu bahagia dan penuh dengan rasa puas dalam diri.
Hingga Haikal mengajak Kaina ke sebuah pantai yang terlihat lengang, karena ia sengaja mengosongkan tempat itu, dibantu oleh beberapa orang suruhannya.
Mereka duduk sambil berpelukan di bawah batang pohon yang rindang. Menatap matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.
__ADS_1
"Aku mencintaimu!" ucap Haikal.