Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Merasa bahagia


__ADS_3

"Maafkan ayah, Na!" ucap Leo terisak.


Mereka menangis bersama dengan rasa haru yang menyelimuti hati. Perlahan, tangan Kaina terulur dan membalas pelukan Leo yang terasa begitu nyaman.


"Izinkan ayah untuk menebus semuanya!" ucap Leo mengecup kepala Kaina berulang kali.


Beberapa saat Kaina dan Leo berpelukan, hingga tangis mereka berangsur reda. Leo seakan enggan untuk melepaskan Kaina. Ia merasa begitu rindu dengan putri sulungnya ini.


Kaina masih terisak, ia menghargai niat baik sang ayah, namun ia tidak bisa menerima bulat-bulat ucapan Leo sebelum ada bukti nyata.


"Apa Ayah berjanji?" ucapnya tercekat sambil mengulurkan jari kelingking.


"Janji, Sayang. Ayah berjanji!" ucap Leo tersenyum dan menautkan kelingking mereka.


"Aku merindukan, Ayah!" ucap Kaina dengan air mata yang kembali menetes.


"Ayah juga, Nak! Kita mulai semuanya kembali ya, Sayang!" ucap Leo sambil mengecup kening Kaina dengan lembut. "Sekarang, kamu sudah makan? Mau ayah suapi?" tanya Leo sambil mengusap air mata Kaina.


Ibu hamil itu mengangguk dan tersenyum. Ia menerima suapan demi suapan yang diberikan oleh sang ayah. Ada perasaan bahagia yang menyeruak, bunga-bunga yang sudah layu dan hampir mati, kini terasa mekar kembali di hati Kaina.


"Apa ayah sudah mengunjungi bunda?" tanya ibu hamil itu.


"Sudah, Nak. Kemarin ayah mengunjungi bunda. Sepertinya, rumah bunda akan diperbaiki, atau mungkin sudah selesai," ucap Leo tersenyum.


"Iya, Yah. Karena tuan muda memberikan aku uang jajan yang banyak, makanya aku bisa membenahi makam bunda," ucap Kaina tersenyum.


Leo juga ikut tersenyum sambil mengusap wajah Kaina. "Jika kamu ingin menyerah, tidak apa. Biar nanti ayah bangun lagi perusahaan itu dari awal," ucapnya.


"Tidak, Yah. Tuan muda begitu baik kepadaku. Lagi pula, kelak perusahaan itu akan kembali kepadaku, karena bunda bilang perusahaan itu sudah atas namaku," ucap Kaina.


Leo tersenyum. "Iya, perusahaan memang sudah atas nama kamu. Tapi, ayah tidak melihat surat kepemilikannya, nanti akan ayah cari lagi, agar nanti tidak sulit ketika kamu ambil alih," ucapnya kembali menyuapi Kaina.


"Ayah tidak perlu repot-repot, suratnya ada beramaku," ucap Kaina.


"Ah, sukurlah. Tapi ... kamu benar masih ingin bertahan dengan tuan muda?" tanya Leo dengan raut wajah khawatir.


Kaina tersenyum dan mengambil tangan Leo kalau meletakkannya di atas perut. "Aku sudah hamil anak tuan muda, sebentar lagi ayah akan menjadi kakek," ucapnya.


Leo terkejut dan mematung, ia merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kaina. "Ka-kamu serius, Nak?" sentaknya masih tidak percaya.

__ADS_1


"Besok, aku ada jadwal pemeriksaan. Jika ayah tidak sibuk, ayah boleh ikut denganku," ucap Kaina tersenyum.


Leo juga ikut tersenyum dan mengusap perut Kaina dengan lembut. Ia merasa begitu sangat bodoh karena mengabaikan gadis ini, bahkan tidak menyadari perut Kaina yang sudah terlihat membuncit.


"Jangan sampai ibu tau, Yah. Aku takut, ibu akan berbuat sesuatu kepada anakku. Apa yang aku alami, pasti tuan mudah sudah menceritakannya kepada Ayah," ucap Kaina lirih.


"Iya, Nak. Ayah, juga akan berencana menceraikan ibu. Perbuatannya sudah sangat keterlaluan!" ucap Leo kesal.


"Aku harap ayah pikirkan lagi. Ibu sudah menemani ayah bertahun-tahun. Tapi, aku tidak akan membiarkan mereka mengambil milikku," ucap Kaina lirih sambil menggenggam tangan Leo.


"Nanti akan ayah urus semuanya, Sayang. Kamun fokus saja dengan suami dan anak-anakmu nanti," ucap Leo tersenyum.


Kaina mengangguk dan ikut tersenyum. Ia kembali menerima suapan dari sang ayah. Ia merasakan ada ketulusan yang Leo berikan kepadanya. Walaupun ia berkata dengan sarkas dan akan mengambil alih semua apa yang kan menjadi miliknya.


Mereka masih berbincang bahkan Kaina sampai tertawa mendengar cerita Leo. Mereka bernostalgia dan mengingat masa-masa dulu, sebelum Kiara meninggal.


Aku tidak tau, ayah memang benar-benar serius atau tidak. Tapi, hari ini aku merasa begitu bahagia karena bisa memeluk ayah lagi dan bercerita seperti dulu. Batin Kaina.


Mereka harus berpisah, karena Kaina masih ada kelas siang ini hingga sore nanti. Leo mengantarkan sang putri ke kampusnya dengan hati-hati.


"Nanti, jika diizinkan oleh tuan muda, ayah ingin main ke rumahmu," ucap Leo tersenyum.


"Hati-hati ya, Nak!" ucap Leo mengusap kepala Kaina.


Ibu hamil itu tersenyum dan segera pergi diikuti oleh Nabila. Ia merasa senang, karena rasa bahagia sedang menyelimuti hatinya.


Sementara di perusahaan, Haikal bernapas lega karena melihat Kaina yang sudah bisa memeluk ayahnya kembali.


"Awasi mereka, Kang! Saya masih belum percaya dengan ucapannya," ucap Haikal tegas kepada Kang Yono melalui panggilan telepon.


Ia menatap manar ke sembarangan arah. Memikirkan cara bagaimana Kaina bisa menguasai perusahaan besar milik bunda mertuanya.


Walaupun bukan sekarang, namun ia harus merencanakan terlebih dahulu sebelum semuanya terlanjur berantakan.


"Along, ke ruangan saya sebentar!" ucap Haikal melalui interkom.


Tak berapa lama, Asisten tampan itu datang dengan membawa beberapa berkas yang akan ditandatangani oleh Haikal.


"Saham yang di perusahaan mertuaku, alihkan atas nama Kaina. Di sana kita punya 40 persen, 'kan?" tanya Haikal.

__ADS_1


"Iya, Tuan. Lebih tepatnya 43 persen saham. Nanti akan saya urus secepatnya," ucap Along.


"Apa surat-surat itu sudah kamu periksa?" tanya Haikal.


"Sudah, Tuan. Hanya saja, rumah yang ditempati oleh keluarga Nyonya, sudah memiliki surat yang baru atas nama Nyona Sisca," ucap Along.


"Urus secepatnya! Jangan sampai mereka menguasai harta istriku. Itu sama saja mereka memalsukan surat. Jika mereka tidak mau, tuntut saja ke pengadilan," ucap Haikal tegas.


"Baik, Tuan. Ada lagi yang harus saya kerjakan?" tanya Along.


"Tidak, silahkan kembali! Terima kasih," ucap Haikal.


Along mengangguk dan segera mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Haikal. Ia merasa kesal karena keluarga licik dan gila harta itu.


Semoga memang benar apa dikatakan ayah. Ah, gadis kecilku sebentar lagi kebahagiaanmu akan datang. Aku akan menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat sambil memelukmu dengan penuh rasa bangga. Batin Haikal.


Ia begitu merindukan sang istri. Besok adalah hari di mana mereka akan pergi untuk melihat anak-anakmu yang tumbuh sehat di dalam perut Kaina.


"Ah, aku sudah tidak sabar ketika pulang kerja nanti, ada dua bocil yang berlari mengejarku dan berteriak dengan antusias memanggku ayah," ucap Haikal tersenyum bahagia.


Wajahnya merona senang, hingga sebuah ketukan berhasil membuyarkan lamunan pria tampan itu.


"Haikal?" panggil Muzi sang ibunda.


"Ada apa, Mom?" tanya Haikal mengernyit.


"Mom akan pergi ke Paris besok. persiapkan pernikahanmu dengan menantu pilihan Mom. Jika kamu tidak ingin menceraikan gadis kampung itu tidak masalah, asal kamu menikah dengan perempuan yang Mom pilih!" ucap Muzi tegas.


Haikal mengernyit dan tersenyum. Ia bangkit dari kursi dan menghampiri sang Ibunda.


"Mom ke Paris mau menjemput siapa? Kalau memang itu keputusan Mom, aku akan turuti. Rasanya aku begitu berdosa karena selalu mengancam dan bertingkah kurang ajar kepadamu," ucap Haikal tersenyum sambil memeluk Muzi.


"Mom, hanya ingin kamu mendapatkan wanita yang baik dan sepadan dengan kita. Mom harap kamu benar-benar mendengarkan mom kali ini, atau Mom tidak akan pulang selama-lamanya!" ucap Muzi lirih sambil bersandar pada dada bidang Haikal.


"Iya, mom tenang saja. Aku akan melakukan apa yang mom minta!" ucap Haikal tersenyum.


"Terima kasih, Sayang!" ucap Muzi senang


Ia memberikan rancangan pernikahan kepada sang putra. Rancangan pernikahan yang begitu mewah dan juga sempurna. Haikal tersenyum penuh arti sambil mendengarkan penjelasan dari Muzi.

__ADS_1


Perayaan pernikahan, sepertinya sangat bagus. Ah, aku sudah tidak sabar. Batin Haikal.


__ADS_2