
"Sayang, kamu nanti pergi ke rumahku?" tanya Kaina sebelum mereka berangkat.
"Lihat dulu, Sayang. Hari ini aku banyak kerjaan. Pokoknya nanti kamu di sana gak boleh melakukan apapun!" ucap Haikal mengusap kepala Kaina dan merapikan rambut sang istri.
"Iya, Sayang," ucap Kaina tersenyum.
Ia berusaha untuk menutupi rasa takut dan khawatirnya ketika berada di rumah nanti. Ia takut, jika terjadi sesuatu yang membahayakan anak-anaknya dan memancing amarah Haikal.
Semoga saja tidak ada hal yang terjadi. Aku harus bisa menjaga anak-anak nanti, walaupun aku tidak mampu untuk melawan mereka. Batin Kaina.
"Aku pergi dulu, ya! Beri aku kabar selalu," ucap Haikal mengecup bibir Kaina dengan lembut.
Setelah itu, ia berjongkok agar bisa mengecup perut Kaina dan berpamitan kepada anak-anaknya. "Ayah pergi dulu, Anak-anak. Jaga bunda, ya!" ucapnya dengan gemas.
Kaina tersenyum sambil mengusap kepala sang suami dengan lembut. Setelah puas, Haikal segera berpamitan untuk pergi ke kantor pagi ini.
Nabila datang sambil tersenyum dan membawakan beberapa barang yang diinginkan oleh Kaina. Barang-barang biasa yang akan ia beri kepada Selena sebagai hadiah perayaan kelulusannya.
"Kita berangkat sekarang, Nyonya?" tanya Nabila.
"Iya, Kak. Tapi aku mau membeli beberapa kue dan cemilan untuk di sana nanti. Apa sudah ada yang buka ya pagi ini?" ucap Kaina.
"Sepertinya sudah, Nyonya. Ayo, silahkan," ucap Nabila tersenyum.
Mereka segera berangkat menuju rumah kediam Leo yang berada cukup jauh dari apartemen Kaina. Sekitar 30 menit berkendara.
Ibu hamil itu membeli beberapa makanan yang sekiranya bisa dibawa. "Apa ini cukup?" ucapnya.
Kaina hanya menghela nafas karena mengingat jika keluarga itu tidak memiliki kata puas dalam kamus kehidupan mereka.
Ia segera berangkat dengan membawa begitu banyak makanan di dalam mobil itu.
Jantung Kaina mulai berdetak cepat ketika mobil memasuki halaman rumah Leo. Tenda mewah dan dekorasi indah sudah menghiasi halaman rumah yang luas itu.
"Kak, jangan jauh-jauh ya!" ucap Kaina mulai merasa takut.
"Iya, Nyonya. Apa nyonya merasa takut?" tanya Nabila.
"Saya menghawatirkan anak-anak," ucap Kaina menghela nafasnya.
"Nyonya tenang saja, ada saya dan jugan kang Yono nanti," ucap Nabila tersenyum.
Mereka segera turun dan mendapatkan perhatian yang cukup banyak dari para tamu yang sudah mulai datang. Lebih tepatnya keluarga besar Leo dan juga Sisca.
__ADS_1
Mereka mengernyit, ketika melihat Kaina datang bersama orang lain. Wajah Sisca langsung terlihat masam, ketika Haikal tidak ikut bersama dengan anak tirinya.
Ternyata kau memang sudah berani sekarang! Tuan muda tidak datang, setelah ini habislah aku di ejek oleh mereka!. Batin Sisca.
Dengan cepat, ia merubah ekspresi wajah dan menyamnut Kaina sambil tersenyum manis.
"Hai, Sayang. Akhirnya kamu pulang!" ucap Sisca merentangkan tangan.
Nabila mencoba untuk menghalangi apa yang dilakukan oleh Sisca. Karena semalaman suntuk, Along menjelaskan apa saja yang harus ia lakukan hari ini. Termasuk dengan cerita Kaina yang tidak akur dengan sang ibu dan adik-adiknya.
"Mari, Nyonya. Tuan muda berpesan, anda tidak boleh terkena sinar matahari langsung terlalu lama!" ucap Nabila tersenyum dan membimbing Kaina.
"Ibu, kita bicara di dalam saja," ucap Kaina masih merasa takut.
Namun ia mencoba untuk berani ketika berhadapan dengan sang ibu tiri, agar harga dirinya tidak hilang dihadapan semua orang.
Sial! Siapa perempuan itu? Berani-beraninya dia menghalangiku!. Batin Sisca kesal.
Kang Yono memperhatikan raut wajah Sisca yang terliht begitu kesal dengan tindakan Nabila tadi.
Semoga kalian tidak membuat kesalahan kali ini. Sebab, tidak ada yang tau apa isi pikiran tuan muda itu. Batin Kang Yono.
Kaina mendapatkan tatapan yang berbeda dari semua keluarga Leo dan Sisca. Ia Hanya berjalan sambil menunduk, sembari mengumpulkan sedikit keberanian untuk menatap mereka semua.
Ini begitu menakjubkan. Aku tidak pernah mendapatkan perayaan seperti ini dalam hidupku. Bahkan pesta pernikahan pun tidak ada. Batin Kaina.
Leo terlihat menghampiri Kaina sambil tersenyum. Suasana menjadi canggung ketika melihat Kang Yono dan Nabila berdiri dekat dengan ibu hamil itu.
"Kaina?" Panggil Leo.
"Ayah?" ucap Kaina mencoba untuk tersenyum.
Suasana rumah, hubungan mereka dan keadaan sekarang, terasa begitu asing bagi Kaina.
"Apa kabar, Nak? Apa tuan muda tidak ikut?" ucap Leo terlihat penuh harap.
"Sepertinya tidak, Yah. Suamiku banyak agenda hari ini yang tidak bisa diundur," ucap Kaina tersenyum kecut.
Leo dan Sisca terlihat kecewa mendengar ucapan Kaina. Begitu juga dengan Selena yang terlihat kecewa karena ia berharap bisa menebar pesona kepada tuan muda itu nanti.
"Ah, begitu. Tidak apa, nikmatilah acaranya!" ucap Leo.
Kaina hanya mengangguk, ia tidak ingin mengatakan apapun lagi, karena itu hanya akan menambah rasa sesak di dalam hatinya.
__ADS_1
"Apa kakak tidak membawakanku hadiah?" ucap Selena ketus.
"Ada, di dalam mobil. Aku sudah mempersiapkannya," ucap Kaina memaksakan senyum.
"Apa kakak membawakanku Prada, LV, Gucci, Hermes dan barang lainnya?" ucap Selena sambil memutar matanya malas.
"Iya, kemarin aku baru dari mangga dua. Banyak barang kw yang bagus di sana," ucap Kaina tersenyum.
Selena mencebikkan bibirnya. Ia sudah menebak apa yang dibawa oleh Kaina. "Padahal suami orang paling kaya di kota ini, apa gak malu ngasih orang hadiah pake barang kw?" ucapnya ketus.
"Maaf, ya. Karena barang yang asli hanya untuk aku," ucap Kaina menahan senyumnya.
Selena dan Sisca terkejut mendengar ucapan Kaina. Ia merasa jika Kaina memang benar-benar berani kepada mereka saat ini. Bukan hanya di telepon, tapi juga saat bertemu.
"Ayah, lihat kakak!" ucap Selena mengadu.
"Sudahlah, yang penting kakakmu pulang dan baik-baik saja!" ucap Leo.
Selena semakin kesal, ia memilih untuk pergi dari sana sambil menghentakkan kakinya.
Kaina selalu berdoa di dalam hati agar mereka tidak melakukan hal yang berbahaya kepadanya sana anak-anak.
"Sepertinya kamu makan enak selama di sana," ucap Sisca yang melihat tubuh Kaina terlihat berisi.
"Aku bersyukur, karena di sana makanan selalu berlimpah dan tidak kekurangan," ucap Kaina tersenyum.
Ia masih menyembunyikan kehamilannya kepada mereka. Takut, jika terjadi sesuatu yang membuatnya menyesal karena datang ke rumah ini lagi.
"Baguslah kalau begitu," ucap Sisca.
"Apa belum ada tanda-tanda kamu hamil, Nak?" ucap Leo bertanya.
"Kenapa ayah bertanya tentang itu?" ucap Kaina tidak suka. Ia paham betul isi kepala dari sang Ayah.
"Tidak apa, Ayah harap kamu bisa bahagia bersama tuan muda," ucap Leo tersenyum, namun terlihat ketulusan di wajah rentanya.
Kaina tidak lagi berbicara ketika Kang Yono menyodorkan air minum untuk ibu hamil itu. Ia melihat Kaina sangat tidak nyaman berbaur dengan keluarganya.
Acara akan dimulai, Leo tidak lagi melanjutkan pembicaraannya. Mereka segera pergi ke luar dan menyaksikan acara kelulusan Selena.
Kaina menatap itu lewat jendela rumah. Ada perasaan iri yang menyeruak di dalam hatinya.
Sudahlah, Kai. Setidaknya sekarang kamu sudah memiliki tuan muda yang sedang berbaik hati menerima keberadaan aku dan anak-anak. Batin Kaina.
__ADS_1