Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Tidak bisa menolak


__ADS_3

Hampir sepuluh menit Haikal menyelesaikan berkas-berkas itu. Kaina tidak lagi menghiraukan Along dan perempuan yang tengah berdiri di depan meja sang suami. Ia hanya sibuk mengunyah buah-buahan yang dibawa dari rumah tadi.


Walaupun ia penasaran, namun ia tidak ingin mengganggu dan mencampuri urusan pekerjaan Haikal. Sesekali ia melihat wajah perempuan itu, ia merasa pernah melihatnya tapi ia lupa dimana mereka bertemu.


Along berdiri sambil mengotak-atik ponsel pintarnya sambil menunggu pekerjaan Haikal selesai. Sementara perempuan itu merasa bosan dan ingin pergi dari ruangan dengan segera.


Hingga akhirnya Haikal meletakkan pena dan menyusun berkas terakhir yang selesai ia periksa. Pria tampan itu langsung berdiri dan pergi ke arah sofa dimana Kaina berada.


"Masih belum kenyang?" Tanya Haikal mengusap bibir Kaina yang basah.


"Hmm, sudah," ucap Kaina tersenyum malu.


"Siapa yang Kamu bawa, Long?" ucap Haikal tanpa menoleh.


Ia hanya memperhatikan Kaina, melihat bagaimana gadis itu mengunyah buah dengan bibir mungilnya.


"Ini gadis yang saya katakan semalam, Tuan," ucap Along.


"Apa kau yakin? Istriku sedang hamil dan membiarkan perempuan ini berada dekat dengan Kaina, hanya akan menambah masalah saja!" ucap Haikal.


Nabila menatap Haikal tidak suka. Ia merasa di rendahkan dan seolah menjadi biang masalah. Namun, ia menyadari apa yang tengah ia hadapi kini.


Ia berada di posisi yang serba salah. Tapi melihat wajah Kaina dan beberapa cerita dari Along, tawaran pekerjaan ini cukup menguntungkan walaupun ia harus mengawasi ibu hamil dan istri dari seorang pria arogan.


"Saya sudah mengukur seberapa besar values yang dimiliki oleh gadis ini, Tuan. Mengingat, dia seorang manager dan bisa membuat anak buahnya sukses, saya yakin jika dia berkompeten dan bisa menjaga Nyonya Muda. Selain itu, dia cepat tanggap dan menguasai ilmu bela diri sabuk hitam," ucap Along.


Nabila tidak terkejut lagi dengan apa yang dikatakan oleh Along. Sekelas sekretaris hebat itu, pasti sudah lebih dulu mencari tahu segala tentang dirinya.


"Apa sudah kamu bicarakan dengan dia?" tanya Haikal.


"Sudah, Tuan. Hanya tinggal persetujuan dari anda dan Nyonya saja," ucap Along.


"Bagaimana, Sayang?" tanya Haikal menyuapi Kaina buah.


Ibu hamil itu mendelik kesal, ia ditanya namun mulutnya malah diisi dengan makanan.


"Sayang, aku...," ucap Kaina terhenti ketika melihat mata tajam sang suami.


"Aku tidak menerima penolakan!" ucap Haikal.


Ya Tuhan, suami siapa ini? Jika tau jawabannya kenapa harus bertanya lagi!. Batin Kaina kesal.


"Aku tidak yakin, mengingat Nona ini temannya nona model itu. Apa kamu yakin?" ucap Kaina berbisik.

__ADS_1


Haikal mengernyit sambil menatap Kaina. "Along, apa kontrak mereka memang sudah sah? Atau masih ada hal yang perlu di bereskan?" tanya pria tampan itu.


"Sudah saya bereskan, Tuan. Ini berkas-berkasnya. Jika Nona ini macam-macam, ada pasal berat yang akan mengejarnya nanti," ucap Along.


Nabila melotot mendengar ucapan Along. Ia merasa ingin menghajar laki-laki itu saat ini juga.


Apa mereka sebegitu ingin aku masuk ke dalam pusaran kekuasaan ini? Sampai-sampai dia harus mengurus semua hal agar aku tidak bisa berbuat macam-macam jika bekerja dengan mereka. Batinnya.


Kaina hanya menghela nafas, ia tidak memiliki hak suara untuk menolak. Ia hanya mengangguk pasrah ketika Haikal kembali menanyakan keputusannya.


"Beri dia daftar tugas yang harus dilakukan selama menjadi asisten Kaina. Pastikan dia tidak membuatku kesal sedikitpun!" ucap Haikal kembali menyuapi Kaina.


"Baik, Tuan. Mulai besok Nona ini akan bekerja," ucap Along. "Silahkan perkenalkan dirimu!" sambung asisten tampan itu.


Nabila mengangguk. "Perkenalkan, nama saya Nabila, Tuan, Nyonya. Semoga hasil kerja saya tidak mengecewakan Nyonya dan Tuan. Terima kasih atas kesempatannya, saya akan bekerja dengan baik untuk menjaga Nyonya dimanapun berada," ucapnya sedikit menunduk.


"Hai, semoga betah ya," ucap Kaina yang merasa canggung.


Ia hanya menghela nafas pelan, sebab ia tidak terlalu nyaman berada dekat dengan orang asing. Hatinya bahkan menjadi tidak tenang, karena merasa takut jika Nabila merencanakan sesuatu yang akan membahayakannya.


Tak lama Along dan Nabila langsung pergi dari ruangan itu untuk mengurus berkas-berkas yang kurang dan mengambil daftar pekerjaannya.


Kini tinggal Haikal dan Kaina di dalam ruangan itu. Kaina hanya bisa cemberut karena tidak mampu untuk menolak tuan muda ini.


"Apa pak Yono akan berhenti, Sayang?" tanya Kaina lirih.


"Tidak. Dia akan tetap menjadi supir dan pengawal pribadimu!" ucap Haikal mulai mengecup perut Kaina yang masih rata.


"Jangan takut. Along pasti sudah menyiapkan dan memastikan semuanya," ucap Haikal.


Ia mengusap punggung Kaina dan membuat ibu hamil itu memejamkan mata karena merasa nyaman dengan usapan tangan sang suami.


"Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan anak-anak. Pasti mereka sangat tampan dan cantik," ucap Haikal dengan telinga yang memerah.


Kaina hanya tersenyum, jika masalah paras wajah dan kondisi fisik ia pasti mengupayakan yang terbaik untuk anak-anak, meminum vitamin dan makanan bergizi lainnya.


Namun, satu hal yang membuat Kaina hanya merasa berat. Apakah anak-anaknya akan merasakan hal yang sama seperti apa yang sudah ia terima selama ini.


Jika itu terjadi, mungkin dia akan merasa terpuruk karena hanya membuat anaknya menjadi bahan bully dan juga dibenci oleh orang banyak, bahkan disaat dia tidak tau dimana letak kesalahannya.


Ya Tuhan, semoga itu tidak terjadi. Aku hanya berharap, jika anak-anak yang aku kandung mendapatkan perlakuan yang baik dari orang-orang. Biar hanya aku yang dihina dan dicaci, biar hanya aku yang di buang, jangan anak-anakku juga ikut merasakan hal itu. Batin Kaina.


Haikal segera duduk tanpa memperhatikan wajah Kaina yang mulai terlihat sedih. Ia segera mengambil beberapa berkas dan membawanya keluar dari ruangan.

__ADS_1


"Sayang, aku lupa jika ada meeting sekarang. Jika kamu lelah, istirahat di dalam kamar, ya!" ucap Haikal keluar dari pintu.


Kaina hanya mengangguk dan memaksakan senyumnya. Emosi yang labil dan tidak terkendali membuat dirinya lebih sering merasa sedih.


Sangat berbanding terbalik dengan dia yang dulu. Bersikap masa bodoh dengan apa yang dilakukan oleh orang lain kepadanya.


Disaat ia bermenung, dering ponsel terdengar menggema di ruangan itu. Ia langsung melihat siapa yang tengah menghubunginya.


"Ibu? Ada apa lagi ibu menelfonku?" ucapnya.


Ia segera mengangkat panggilan itu dan mendengar apa yang diucapkan oleh sang ibu tiri.


"Ada apa, Bu?" tanya Kaina malas.


"Adikmu merayakan kelulusannya lusa. Datanglah ke rumah dan bawa suamimu juga. Jangan lupa kado barang branded atau berlian mahal. Jangan pelit jadi kakak!" ucap Sisca ketus.


"Nanti akan aku tanya dulu kepada suamiku. Selamat atas kelulusan Selena," ucap Kaina lirih.


"Cih, jangan sampai kalian tidak datang, atau kau akan mencoreng nama baik ayahmu!" ucap Sisca.


"Iya, Bu," ucap Kaina.


"Mana uang yang ibu minta? Kau pelit sekali! Asal kau tau, gara-gara kau tidak memberikan ibu uang, ibu harus disiksa, ditampar dan dipukul. Itu semua gara-gara kau!" ucap Sisca marah.


"Semoga ibu cepat sadar dan tidak menghabiskan uang ayah lagi. Terima kasih kepada orang yang sudah memukul ibu, sering-sering seperti itu, Bu. Aku pikir akan sangat baik untuk kesehatanmu!" ucap Kaina santai.


Sepertinya sifat tuan muda mulai meracuniku dalam berkata-kata dan juga berani. Batinnya merasa senang.


"Heh! Anak syalan! Kau sudah berani kurang ajar kepadaku? Mau cari mati, ha?" bentak Sisca.


Ia terkejut ketika Kaina berani mengatakan hal seperti itu kepada dirinya.


"Ibu mau melakukan apa? Menghukumku, mengurung atau memukul dengan cambuk, aku tidak peduli. Jika itu ibu lakukan, maka ibu akan berhadapan langsung dengan suamiku!" ucap Kaina dengan berani.


"Kau semakin berani, ya! Bersikap seolah seperti istri yang dicintai saja! Lihat nanti, aku akan menyiksa ayahmu dengan perlahan! Ibu yakin, jika sebentar lagi tuan muda akan mengembalikan kau ke rumah ini!" ucap Sisca masih membentak.


"Ya, selamat bermimpi, Bu! Aku sudah senang saat ini. Setidaknya aku sudah lepas dari sarang iblis yang ibu kuasai!" ucap Kaina semakin malas.


"Apa yang kau kata...,".


Kaina mematikan panggilan dan menghela nafas. Ada saja yang membuat moodnya rusak dan tidak ingin melakukan apapun.


"Bunda janji, akan menjadi ibu yang baik untuk kalian. Tumbuh dan berkembanglah dengan baik, Nak. Bunda akan membimbing kalian menjadi orang hebat di masa depan," ucap Kaina tersenyum sambil mengusap perut ratanya.

__ADS_1


__ADS_2