Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Menyerahlah!


__ADS_3

Pengumuman Kaina sebagai pewaris perusahaan besar, langsung tersebar ke mana-mana, tak terkecuali sampai ke telinga Selena yang baru saja terbangun dari tidurnya.


Ia tidak terkejut lagi ketika melihat siaran langsung tentang pengangkatan kakak tirinya itu. Ia semakin merasa geram dan kesal karena wajah sang ayah terlihat begitu bangga menatap ke arah Kaina.


Apa kau belum puas karena telah merebut semuanya? Sekarang kau bisa membuat ayahku tersenyum seperti itu. Kau lihat saja, walaupun kau memiliki semua, jangan harap kau bisa hidup dengan tenang!. Batin Selena sambil mengepal tangannya.


"Dia sudah menguasai semuanya!" ucap Bobi lirih.


"Kenapa selama ini kita tidak pernah tau jika dia adalah pewaris tunggal perusahaan besar itu?" ucap Sisca tidak percaya.


"Karena ayah tidak memberitahu kita tentang ini, Bu!" ucap Bobi menunduk.


Ia mulai merasa takut dengan apa yang akan dilakukan oleh Kaina kepada mereka yang sudah berbuat jahat kepadanya.


"Jika ada yang tau kalau kalian memiliki hubungan dengan dia, pasti ada kemungkinan dia akan di hujat karena membiarkan kita hidup di rumah jelek ini," ucap Sisca masih berusaha untuk mencari cara agar bisa menjatuhkan Kaina.


"Sudahlah, Bu. Pasti mereka mengira jika kita yang gila dengan harta. Biarkan saja dia! Sekarang, kita lebih baik banyak-banyak berdo'a agar dia tidak membalas dendam dengan apa yang sudah kita lakukan selama ini," ucap Bobi dengan tatapan tajamnya.


"Dia tidak akan melakukannya!" ucap Selena dengan wajah yang memerah.


"Kak!" seru Bobi.


"Apa kau? Kenapa sekarang kau lebih memilih untuk membela dia dibandingkan aku?" ucap Selena tidak suka.


"Dia bukan Kaina yang dulu! Ayah benar, kita akan hancur jika kembali mengusiknya," ucap Bobi tegas.


"Kau masih anak kecil! Jangan ikut campur dalam urusanku jika kau takut!" ucap Selena menunjuk wajah Bobi.


"Terserah kakak, jika terjadi sesuatu jangan pernah membawaku dalam kasus itu!" ucap Bobi lantang dan langsung beranjak pergi.


Selena dan Sisca terdiam menatap kepergian Bobi. Otak mereka berpikir untuk mencari cara bagaimana agar Kaina bisa bertekuk lutut kepada mereka walaupun ia sudah mendapatkan posisi yang begitu tinggi.


"Sepertinya tidak ada jalan lain, Bu," ucap Selena.


"Masih ada! Nanti kita pikirkan lagi matang-matang, bagaimana strategi yang akan kita lakukan kepada gadis pembawa sial itu!" ucap Sisca tersenyum jahat.


Mereka saling berdiskusi agar bisa menemukan cara untuk menjatuhkan Kaina, minimal bisa membuat malu gadis itu.


Di sisi lain, seorang laki-laki terdiam dengan wajah yang sangat terkejut. Ia tidak menyangka, jika Kaina bukan orang sembarangan.

__ADS_1


Kaina bukan gadis biasa yang hidup serba berkecukupan, tapi sebuah berlian yang kini bergelimangan harta.


"Aku memang tidak akan pernah bisa menggapainya lagi," ucap Adam yang terbaring di atas brangkar rumah sakit.


Ia mengalami kecelakaan semalam, karena membawa motor dengan begitu kencang dan menabrak sebuah mobil yang sedang melakukan dengan kecepatan sedang.


"Apa lagi dengan keadaanku yang sudah tidak lagi seperti dulu," ucap Adam dengan lirih.


Hancur sudah harapannya untuk mendapatkan Kaina. Padahal beberapa hari ini ia berpikir, jika ia akan menerima Kaina dengan kondisi gadis itu saat ini. Tak mengapa jika ia mendapatkan bonus anak kembar dari Kaina.


Namun semua itu tinggal angan saja, ia merasa tidak lagi berguna saat ini. Hesti yang baru saja datang menatap Adam dengan iba.


"Jangan banyak berpikir dulu, Dam. Jangan bodoh dengan cinta, Kaina sudah bahagia dengan Tuan Haikal!" ucap Hesti menggeleng pelan.


"Se-sejak kapan kau ada di sana?" tanya Adam yang terkejut.


"Sejak kau meracau tidak karuan!" ucap Hesti tersenyum.


Adam terdiam, ia merasa malu jika benar Hesti mendengar apa yang ia ucapkan.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Hesti.


"Sudahlah, kita sama-sama tidak pantas untuk berteman degan dia. Tapi Kaina bukan gadis seperti orang kaya lainnya. Dia kini sudah mendapatkan kebahagiaan yang selama ini hilang," ucap Hesti tersenyum.


"Apa maksudmu?" tanya Adam tidak mengerti.


"Tidak apa, ini titipan dari Kaina dia juga titip salam, cepat sembuh untukmu!" ucap Hesti.


Adam hanya terdiam, ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Apakah benar jika Kaina bukan gadis biasa?.


Walaupun hatinya terasa begitu sakit dan cemburu, namun tidak ada cara lagi selain melupakan wanita cantik yang sangat ia cintai itu.


Wanita yang sudah meruntuhkan tembok hatinya yang beku selama bertahun-tahun. Namun inilah yang kini terjadi, ia sudah kalah sebelum berperang.


"Ikhlaskan diaa, Dam. Atau kau akan menjemputnya ajal lebih cepat jika masih berani mengusiknya. Mungkin, jika hanya sekedar berteman itu tidak akan masalah, " ucap Hesti.


Adam hanya terdiam sembari melihat wajah Kaina yang begitu cantik terpampang indah di televisi tanpa di dampingi oleh Haikal.


Apa ini akhir dari semuanya? Aku kembali merasakan sakit yang teramat, bahkan lebih dari sebelumnya. Batin Adam sambil menutup mata.

__ADS_1


Hesti hanya menggeleng pelan melihat tingkah Adam yang baru saja putus cinta. Ia berusaha untuk menghibur pria tampan itu agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.


🍓🍓


Sementara itu di belahan dunia lain. Seorang perempuan terkejut mendengar berita pengangkatan Kaina. Matanya terbelalak kaget bahkan jantungnya terasa berhenti berdetak dalam beberapa detik.


Prank!


Ia menjatuhkan remot televisi dan juga gelas yang tengah ia pegang. Berita ini sungguh sangat tidak bisa dipercaya.


"I-ini tidak mungkin! Dia bisa saja menipu semua orang dengan wajah itu!" ucapnya.


Seorang gadis cantik datang dengan tergesa-gesa ketika mendengar suara pecahan beling itu. Ia terkejut dan langsung memanggil maid untuk membersihkan lantai sebelum ada yang terluka.


"Tante kenapa?" Pekik gadis itu.


"Ti-tidak apa-apa, Sayang!" ucap Muzi dengan nafas yang memburu.


Slavia, menatap layar televisi dan mengernyit. Ia begitu heran melihat tingkah sang tante yang tiba-tiba saja terkejut seperti itu.


"Wah, jadi perusahaan besar itu betul-betul memiliki pewaris tunggal? Bukankah selama ini mereka mengatakan jika pewaris perusahaan besar itu telah hilang dan tidak ditemukan?" ucap Slavia mengernyit.


Muzi hanya terdiam mendengar ucapan gadis itu. Ada sesuatu yang mulai terasa mengganjal di hatinya. Namun, ia masih belum bisa menebak apa itu.


"Sepertinya kau tau banyak tentang perusahaan itu?" tanya Muzi.


"Tentu saja, Tante. Perusahaan Daddy dibantu oleh mereka. Kalau tidak, mungkin kami sudah menjadi gelandangan di negara besar ini," ucap Slavia.


"Ayo kita berkemas, besok kita akan berangkat ke Indonesia untuk upacara pernikahanmu," ucap Muzi tidak mau membahas lebih jauh lagi.


Slavia mengangguk lalu tersenyum dan memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Ia membayangkan di mana beberapa hari lagi, akan menjadi hari yang bersejarah dalam hidupnya. Menikahi laki-laki tampan yang memang sudah ia kagumi dari dulu.


"Mas Haikal, sebentar lagi kita akan menikah. Tunggu aku, Mas!" ucapnya begitu senang.


Sementara Muzi masih berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia memikirkan cara bagaimana agar Kaina tidak berlindung di balik kekuasaan yang dimiliki saat ini.


Ia mencari cara, bagaimana agar Kaina tidak mengganggu upacara pernikahan putra nya dengan wanita yang ia inginkan. Karena kini sudah jelas pasti, jika kedudukan keluarga Kusumanegara, tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan kekayaannya Chandrawinata saat ini.


Haikal harus menikah dengan Slavia besok apa pun yang terjadi. Aku tidak akan pernah sudi memiliki menantu seperti gadis itu. Batin Muzi.

__ADS_1


__ADS_2