Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Kaina Kalap


__ADS_3

Kaina hanya terdiam ketika melihat wajah Haikal yang tengah marah. Ia beberapa kali menghela nafas ketika pria tampan itu masih memarahi Nabila dan kang Yono, karena kejadian tadi siang.


Ia sudah kehabisan akal untuk membela kedua orang itu agar bisa terbebas dari amarah Haikal.


"Sayang, Aku gak papa," ucap Kaina dengan mata yang berkaca-kaca.


Ia merasa sangat bersalah karena dirinya, orang lain juga ikut dimarahi oleh Haikal.


"Masuk ke kamar!" ucap Haikal tegas.


Kaina mulai merasa takut. Semenjak hamil, Haikal tidak pernah berkata kasar ataupun membentaknya. Namun kini terasa sakit, ketika mendengar Haikal berkata dengan nada lebih tinggi dari biasanya.


Ia hanya pasrah dan masuk ke dalam kamar. Namun rasa bersalah masih menyelimuti hatinya.


Ketika hendak melangkah, Kaina tiba-tiba saja merasakan sakit pada perutnya. Ia meringis tertahan sambil berjalan menuju kamar.


Berharap Haikal tidak mengetahuinya dan semakin menambah amarah pria tampan itu. Namun sayang, Kang Yono yang melihat itu langsung tersentak, sehingga membuat Haikal terkejut dan mengejar Kaina.


Tanpa banyak bicara, ia langsung menggendong Kaina keluar dari apartemen dan segera menuju ke rumah sakit.


"Shh, sakit!" ucap Kaina sambil memegang perutnya.


Wajah Haikal pucat pasi karena melihat Kaina yang kesakitan seperti itu. Ia baru menyadari, jika telah membentak Kaina sedari tadi.


"Maafkan aku, Sayang! Maafkan, aku!" ucap Haikal ikut mengusap perut Kaina.


"Jangan marah lagi!" ucap Kaina lirih dengan air mata yang mengalir.


"Iya, aku janji gak akan marah lagi!" ucap Haikal begitu khawatir.


Ketika diperjalanan, Kaina mulai terlihat membaik. Rasa sakitnya berangsur menghilang, justru kini ia merasa sangat lapar ketika melihat makanan kaki lima yang ada di pinggir jalan.


"Sayang, perutku udah gak sakit lagi!" ucap Kaina cemberut.


Pria tampan itu mengernyit bingung. "Jangan bercanda!" ucap Haikal menatap Kaina dengan tajam.


"Aku tidak bercanda. Tadi memang perutku terasa sakit dan mengeras, sekarang udah gak sakit lagi," ucap Kaina lirih.

__ADS_1


Mobil perlahan memasuki loby rumah sakit, dokter amanda sudah menunggu di sana karena Nabila menghubunginya terlebih dahulu.


Haikal tidak berbicara lagi, ia segera menggendong Kaina untuk turun dari mobil.


"Sayang, aku sudah tidak sakit lagi. Aku lapar!" ucap Kaina cemberut.


Haikal tetap tidak berbicara, ia membaringkan Kaina di atas brankar dan meminta dokter amanda segera memeriksa keadaan ibu hamil itu.


"Tuan Haikal, Maaf sebelumnya. Saya sudah sering mengatakan, jika kondisi ibu hamil itu rentan. Apalagi di tambah dengan kondisi kesehatan Nyonya, tidak begitu baik. Tolong benar-benar dijaga, jika tidak ingin hal lain terjadi. Untuk sekarang, kondisi kandungan Nyonya sehat dan baik. Tapi, tolong kedepannya, jangan sampai ini terjadi lagi, karena kandungan Nyonya masih sangat rentan," ucap Dokter Amanda tegas.


Sungguh ia begitu kasihan kepada Kaina. Hamil di usia yang masih muda, ditambah dengan masalah kesehatan, membuatnya banyak berdo'a agar gadis kecil ini baik-baik saja hingga melahirkan.


Sementara Haikal hanya bisa menahan diri dan mengendalikan amarah. Sebab, ia tidak mungkin berkata kasar ataupun membentak disaat seperti ini, sebab baru saja ia berjanji untuk tidak marah kepada Kaina.


"Terima kasih, Dokter," ucap Haikal menghela nafas.


Ia menatap wajah Kaina yang cemberut sambil mengusap perutnya. "Aku lapar," ucap Ibu hamil itu tanpa rasa bersalah.


Berkali-kali Haikal menghela nafasnya. Sungguh ia serasa ingin memakan orang saat ini. Ia hanya mengangguk pasrah dan kembali menggendong Kaina keluar dari rumah sakit.


Sementara Dokter Amanda hanya menggeleng melihat kelakuan suami istri yang sangat aneh itu.


Mereka kembali pulang, namun harus berhenti dibeberapa tempat, karena keinginan Kaina yang ingin mencoba makanan yang ia lihat di sepanjang jalan.


Nabila dan juga Kang Yono harus menahan diri untuk tidak tertawa, ketika melihat Haikal hanya pasrah saat Kaina memaksa pria tampan itu untuk mencoba semua makanan yang dibeli.


Mie ayam bakso, martabak manis, cilok, cireng, seafood bakar, batagor, kebab, sampai ke telur gulung pun di beli oleh Kaina. Bahkan Haikal tidak segan untuk turun dari mobil dan membeli semua makanan itu.


Rasanya begitu gemas dan juga kasihan melihat wajah memelas Haikal yang sudah kekenyangan karena ibu hamil itu tidak berhenti mengunyah dan juga menyuapi suami tampannya.


"Sayang, ayo kita ke restoran. Aku masih lapar," ucap Kaina dengan wajah polos sambil mengusap perutnya.


"Hah? Belum kenyang juga?" ucap Haikal tidak percaya.


Kaina hanya menggeleng sambil cemberut. "Tadi baru aku yang makan, anak-anak belum," ucapnya sambil mengedipkan mata beberapa kali.


"Kang, reservasi tempat di Hotel All-Stars," ucap Haikal pasrah.

__ADS_1


"Baik, Tuan!" ucap Kang Yono menahan senyumnya.


Kaina memanfaatkan waktu ketika Haikal menuruti keinginannya. Tidak ada raut wajah marah dan juga kesal yang tergambar dari pria tampan itu.


Ketika tiba di restoran hotel, mereka turun dengan segera. Haikal masih menggendong sang istri, walaupun Kaina dengan kekeh menolaknya.


Haikal hanya bisa menggeleng ketika Kaina memesan begitu banyak menu dan mustahil untuk ia habiskan sendiri. Sambil menunggu makanan datang, Kaina duduk dipangkuan pria tampan itu sembari menyandarkan tubuhnya dengan manja.


"Ah, selagi aku tidak mual, aku ingin memakan semuanya!" ucap Kaina memeluk Haikal dengan manja.


"Apa anak-anak tidak kejepit, Sayang? Perut kamu nanti penuh dengan makanan," ucap Haikal mengelus punggung Kaina.


"Tidak, mungkin akan lebih buncit lagi perutku," ucap Kaina cemberut sambil mengusap perutnya.


"Ngidam kita sepertinya beda, Sayang. Aku lebih suka makan yang asem-asem sekarang. Rujak mangga muda," ucap Haikal membayangkan rujak mangga muda yang tadi ia makan di kantor.


"Ah, sepertinya itu juga enak. Aku juga mau," ucap Kaina membayangkan nikmatnya rujak itu.


Haikal juga ikut membayangkan makanan asam lainnya. Hingga semua hidangan tiba, Nabila dan juga Kang Yono ikut makan bersama, karena Haikal yakin, jika Kaina tidak akan kuat menghabiskan makanan yang sudah dipesan oleh ibu hamil itu.


Namun sepertinya salah, mereka hanya menelan ludah ketika melihat Kaina makan dengan begitu lahap. Satu persatu makanan habis hingga tandas.


"Hmm, apa aku boleh mencicipi punya kakak?" ucap Kaina menggigit sendoknya.


"Ma-makanlah, Nyonya. Ini belum saya sentuh!" ucp Nabila tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Kaina benar-benar kalap, hingga sendawa cukup besar keluar dari mulut ibu hamil itu.


"Eh, maaf ya. Aku kelepasan," ucap Kaina malu.


"Ti-tidak apa, Nyonya," ucap Nabila speechless.


Haikal hanya menggeleng tidak percaya melihat kelakuan Kaina yang tidak seperti biasanya. Ibu hamil itu terlihat mengemaskan ketika berjalan seperti pinguin yang sedang kekenyangan.


"Ayo kita pulang! Aku sudah mengantuk," ucap Kaina berjalan dengan perut yang terasa begah.


Ia menggandeng tangan Haikal dengan manja sambil tersenyum senang, karena hari ini ia bisa makan dengan puas tanpa gangguan.

__ADS_1


Mereka berjalan keluar dari restoran. Haikal tidak menyadari, jika ia tidak lagi menggunakan masker dan topi, sehingga senyumnya terpampang jelas di wajah tampan itu.


__ADS_2