
"Aku mencintaimu, Kaina!" ucap Haikal dengan begitu lembut.
Kaina yang sedang berbicara, tiba-tiba saja terdiam sembari menatap hamparan laut yang begitu luas.
Ia membeku mendengar ucapan Haikal yang sangat tidak bisa dipercaya.
"Ha?" ucapnya linglung.
Haikal tersenyum dan mendekatkan wajahnya. "Apa pendengaranmu sudah berkurang?" ucapnya dengan gemas sambil memencet hidung Kaina.
Kaina hanya cemberut dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Haikal. Memainkan tangan besar dan kekar sang suami sembari menggenggamnya.
Aku merasa tidak salah dengar tadi. Tuan muda mengatakan 'Aku mencintaimu'. Batin Kaina.
"Kaina?" panggil Haikal.
"Iya," Jawab gadis cantik itu.
"Apa kau sudah mencintaiku?" tanya Haikal.
Sebenarnya ia sudah memiliki feeling, jika Kaina sudah mencintainya. Namun ia ingin mendengar kata pasti dari gadis itu.
"Huft, sepertinya sudah," ucap Kaina lirih.
"Apa kamu menyesal telah mencintaiku?" tanya Haikal semakin penasaran.
"Hmm, entahlah. Yang jelas sekarang, aku hanya ingin menikmati masa, dimana kamu bersikap lembut dan tidak membentakku lagi," ucap Kaina tersenyum.
"Apa kau suka?" tanya Haikal yang ikut tersenyum.
Kaina mengangguk. "Aku, merasa begitu senang. Karena sudah lama tidak ada orang yang berbuat baik kepadaku. Mungkin aku saja yang tidak cocok dengan lingkungan," ucap Kaina.
"Apa aku terlihat baik? Bukankah aku selalu memperrkosamu setiap hari?" tanya Haikal menahan tawanya.
"Hmm?, Tidak, itu bukan pemerrkosaan. Kita sudah menikah, walaupun hanya kontrak. Kecuali, kita tidak memiliki hubungan apapun," ucap Kaina.
Haikal terdiam, ia sedikit mulai paham apa yang dipikirkan oleh Kaina. Ia mengeratkan pelukannya agar Kaina merasa hangat ketika hembusan angin mulai membelai tubuh mereka.
"Apa kamu sungguh tidak ingin memiliki anak?" tanya Haikal.
"Aku ingin, hanya saja begitu banyak halangan nantinya. Aku juga takut, jika anak-anak nanti akan bernasib sama denganku. Itu pasti akan lebih menyakitkan," ucap Kaina sendu.
"Kamu sudah memiliki aku sekarang. Mereka tidak akan berbuat jahat kepada anak-anak kita nanti," ucap Haikal sambil mengecup kepala Kaina.
"Aku tidak tau. Aku merasa akan kesulitan karena posisiku hanya istri kontrak. Kalaupun kamu mau menikah lagi, pasti aku akan tersingkir dengan mudah. Jika aku hamil, itu hanya menambah masalah dalam hidupku," ucap Kaina lirih.
Matanya berkaca-kaca, berusaha mengatakan apa yang menjadi bibit kegelisahan dalam hatinya saat ini.
Haikal tersenyum. Akhirnya kamu mengatakan hal itu, Sayang. Sekarang aku mulai paham bagaimana cara berpikirmu, bagaimana kamu memandang orang lain dengan sudut pandang yang berbeda. Batinnya.
"Apa kamu ingin aku mengadakan konferensi pers, dan mengumumkan pernikahan kita?" Tanya Haikal.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mau. Pasti mereka akan berbuat baik kepadaku hanya karena status," ucap Kaina lirih.
Haikal semakin gemas kepada Kaina. Ia menggendong sang istri agar bisa berhadapan dengannya. Kaina duduk di atas pangkuan Haikal dengan wajah yang merona malu.
"Jangan seperti ini, ada banyak orang!" ucap Kaina berusaha turun dari pelukan Haikal.
"Ssstt, jangan bergerak! Nanti adikku bangun, Sayang!" ucap Haikal tersenyum.
Kaina berhenti dan tidak melakukan apapun lagi. Ia hanya menatap wajah tampan itu dengan lekat. Ia merasa ingin mengecup bibir merah Haikal yang terlihat begitu menggoda.
Tanpa mengucapkan apapun, entah dari mana ia mendapatkan dorongan, Kaina mengecup bibir Haikal dan sedikit melumaatnya.
Pria tampan itu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Kaina. Namun ia tersenyum dan segera membalas ciuman Kaina dengan lembut.
Cukup lama mereka berpagutan, Kaina mengakhiri ciumannya dan memeluk Haikal dengan wajah yang merona.
"Aku mencintaimu, Kaina, Istri kecilku!" ucap Haikal dengan tegas.
Kaina tersentak dengan air mata yang langsung menggenang. Ia menatap Haikal dengan rasa tidak percaya.
"Jangan membohongiku, Sayang. Kamu tau jika aku mencintaimu, jangan beri aku harapan seperti ini!" ucap Kaina lirih sambil menahan tangisnya.
"Apa aku terlihat berbohong?" tanya Haikal dengan wajah serius.
Kaina menggeleng dan menunduk. Ia masih belum menyangka dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Sayang, apa kamu tidak merasakan perubahanku selama kita menikah? Coba kamu pikir, dengan status yang sekarang apa mungkin dengan begitu mudah meminta anak dari seorang perempuan yang baru aku kenal? Jika aku tidak mencintaimu, aku tidak akan memintamu untuk mencintaiku, tidak memintamu untuk mengandung anakku," ucap Haikal.
"Mengapa tidak, dengan tingkah kamu yang mengemaskan, membuatku jatuh cinta setiap hari," ucap Haikal.
"Benarkah?" ucap Kaina dengan air mata yang menetes.
"Jangan menangis, Sayang!" ucap Haikal mengusap air mata Kaina.
Gadis itu terisak mendengar ucapak Haikal. Ia masih merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang suami. Terasa begitu mustahil jika dia yang terkenal arogan bisa mencintai seorang wanita dalam waktu yang singkat.
Haikal mengecup bibir Kaina dengan lembut, agar bisa menenangkan gadis itu. Ia tersenyum dan mengikat rambut panjang Kaina agar bisa melihat wajah sembab sang istri.
Kaina menatap Haikal dengan lekat. Ia tidak ingin ditipu dan dimanfaatkan oleh pria tampan ini. Walaupun Haikal bisa berbuat apapun kepadanya.
"Lalu bagaimana dengan perempuan itu?" tanya Kaina sesegukan.
"Ck, sudah aku bilang jangan memikirkan dia!" ucap Haikal menyentil kening Kaina.
"Sakit!" ucap gadis kecil itu cemberut. "Bagaimana kalau nanti dia membuat kamu jatuh cinta lagi, merebutmu dan...," ucap Kaina.
Haikal langsung mengecup bibir Kaina sekilas dan tersenyum. "Jangan memikirkan hal yang akan membuatmu sakit. Aku tidak ada hubungan apapun lagi dengan dia. Jadi, hanya kamu yang ada di sini," ucap pria tampan itu sembari meletakkan tangan Kaina di dadanya.
"Aku masih belum percaya!" ucap Kaina lirih.
Haikal tersenyum dan memeluk Kaina dengan lembut. Ia tau, ini terasa mustahil karena pernikahan mereka baru saja menginjak satu bulan.
__ADS_1
"Tidak apa, yang penting aku sudah mengatakan, jika aku mencintaimu. Ah, bukan! Kita saling mencintai," ucap Haikal tersenyum.
Apa aku sedang bermimpi? Apa benar tuan muda ini menyatakan cintanya?. Ini terasa begitu mustahil. Setidaknya, sekarang aku sudah memiliki pegangan dan bisa mengambil tindakan nantinya. Batin Kaina memeluk Haikal dengan erat.
"Besok kita ke rumah sakit, agar kamu bisa diperiksa oleh dokter kandungan!" ucap Haikal.
"Bolehkah kita tunda dulu, barang satu tahun?" tanya Kaina pelan.
"Tidak! Aku sudah berusia 29 tahun, Sayang. Apa kamu mau, ketika anak-anak sudah besar nanti, aku sudah jadi kakek-kakek?" tanya Haikal.
"Tapi kamu pasti masih tampan seperti sekarang," ucap Kaina dengan wajah yang merona.
"Ah, kamu sudah mulai berani menggodaku sekarang. Kemarin masih kecup pipi, tadi kamu menciumku dan sekarang kamu menggombal. Astaga, istriku belajar banyak!" ucap Haikal terkekeh.
"Jangan tertawa!" ucap Kaina merasa malu dan menutup wajah Haikal dengan tangannya.
Mereka terdiam dengan saling berpelukan satu sama lain.
"Jangan lemah, jika ada yang ingin menjatuhkanmu, Sayang. Apapun yang terjadi, jangan di pendam sendiri. Ada aku yang selalu ada untukmu!" ucap Haikal.
"Baiklah, Bapak suami!" ucap Kaina tersenyum.
Ia kembali mencium Haikal dan bermain dengan lembut. Entah sejak kapan ia begitu ingin untuk selalu menyentuh sang suami.
Temaram senja menemani sepasang insan yang baru saja saling mengungkapkan isi hati. Ada perasaan lega yang menghampiri mereka karena bisa saling terbuka satu sama lain.
Walaupun masih ada rasa tidak percaya dalam diri Kaina, namun kini ia memiliki pegangan dan sudah bisa mengambil sikap tentang hubungan pernikahannya nanti.
"Kamu mulai nakal!" ucap Haikal setelah pagutan mereka terlepas.
"Entah kenapa, aku mulai merasa ingin dekat terus denganmu. Apa boleh?" tanya Kaina tersenyum manis.
"Tentu saja, dengan senang hati hamba melayani tuan putri," ucap Haikal tersenyum.
"Terima kasih, sudah mau mencintaiku, Sayang!" ucap Kaina dengan air mata yang menetes
"Aku mencintaimu, karena kamu memang pantas untuk dicintai. Jangan merasa rendah diri lagi, ya!" ucap Haikal tersenyum.
Kaina mengangguk dan memeluk pria tampan itu.
"Sebaiknya kita mencari penginapan, atau kita langsung pulang saja," ucap Haikal.
Kaina menatap sang suami dengan tatapan bingung.
"Adikku sepertinya sudah mulai bangun. Ayo kita bermain sebentar!" ucap Haikal terkekeh.
Duar!
Kaina merengek ketika Haika mulai menggendongnya. Ia mengeluarkan berbagai macam alasan agar pria tampan itu tidak mengajaknya bermain lagi.
Hiks, jika sudah begini, habis aku ditangan tuan muda ini!. Batin Kaina meringis.
__ADS_1