
Haikal langsung meradang mendengarkan apa yang telah dilakukan oleh Filda. Wajahnya memerah hingga ke telinga dan membuat para rekan kerjanya kebingungan.
"Apa anda baik-baik saja, Tuan?".
"Sepertinya sampai di sini dulu pertemuan kita! Istri dan anak-anak saya berada dalam bahaya!" ucap Haikal berdiri dan segera berlari keluar dari sana.
"Tuan Haikal, tunggu!" ucap mereka berusaha untuk menghentikan pria tampan itu.
Namun, itu semua hanya sia-sia. Haikal malah berlari agar bisa keluar dari sana dengan cepat.
Along menyewa sebuah helikopter agar bisa terbang ke rumah dengan cepat. Jantung Haikal berdetak kencang dengan emosi yang meledak.
"Kau urus dia, Long! Aku tidak ingin dia ada di sini lagi!" ucap Haikal.
"Baik, Tuan!" ucap Along yang ikut merasa emosi mendengarkan berita itu.
"Apa mommy ikut campur?" tanya Haikal.
"Tidak, Tuan. Hanya saja, Nyonya besar yang mengundang perempuan itu dan melayaninya dengan baik," ucap Along.
Haikal hanya terdiam, ia merasa tidak becus menjaga Kaina dan anak-anaknya. Walaupun ia sudah memberikan peringatan, namun itu semua seperti tidak mempan. Bahkan dengan tindakan pun masih membuat Filda begitu berani kepda istrinya.
"Tuan, Nyonya sudah diperiksa oleh dokter Amanda. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Sekarang, Nyonya sudah tertidur ditemani dua orang pelayan dan juga...," ucap Along.
"Siapa? Siapa yang menemani Kaina?" tanya Haikal tidak sabar.
"Nona muda. Nona muda yang menemani nyonya, tuan!" ucap Along.
Haikal semakin membulatkan mata. "Jauhkan mereka, Long! Dina akan menyakini Kaina nanti!" ucap Haikal mengguncang jok mobil yang diduduki oleh Along.
"Sepertinya, Nona sudah mulai menerima keberadaan Nyonya Tuan. Kang Yono berkata, jika Nona muda memberikan Nyonya air minum setelah kejadian itu," ucap Along.
Haikal semakin terkejut. Ia merasa sudah tidak sabar untuk segera pulang. Ia berlari turun dari mobil dan menuju lift dengan cepat, begitu juga dengan Along.
Helikopter itu segera terbang melintasi dua kota yang menjadi penghalang bertemunya dua insan yang baru saja merasakan jatuh cinta.
Haikal berulang kali mengumpat kasar karena helikopter itu terasa bergerak dengan sangat lamban, padahal itu sudah kecepatan maksimal sebuah helikopter.
"Minta orang untuk menjemput kita di perusahaan, Long!" ucap Haikal semakin kesal.
"Sudah, Tuan!" ucap Along menghela nafas pelan melihat Haikal yang begitu panik.
Sama seperti dulu, ketika Filda mengalami luka kecil dan ia tengah berada di luar kota.
__ADS_1
Tak sampai 1 jam, helikopter mendarat atas gedung perusahaan Haikal. Mereka langsung turun ke bawah dan kembali pulang.
"Tuan, hati-hati!" ucap Along memperingati Haikal yang hampir saja tersandung sesuatu.
"Kamu panggil saja supir satu lagi, urus perempuan itu dengan baik! Aku akan pulang segera!" ucap Haikal masuk ke dalam mobil.
Jalanan terlihat begitu macet dan membuat Haikal semakin kesal. Supir berusaha untuk mencari jalan pintas yang lebih dekat agar Tuan Muda ini bisa sampai dengan cepat.
Hanya butuh waktu 10 menit, mereka tiba di rumah utama, bahkan Haikal lebih dulu turun ketika mobil belum berhenti dengan baik.
"Kaina?" peliknya membuka pintu dengan kasar.
"Kamu kenapa sih? Pulang-pulang malah teriak seperti itu!" ucap Muzi kesal.
"Nanti aku ingin berbicara kepada Mommy!" ucap Haikal berlalu menaiki anak tangga sambil berlari.
Ia melihat Meidina keluar dari kamarnya. "Mas, Kaina baru saja tidur. Jangan berisik!" ucap Gadis cantik itu berlalu dari hadapan Haikal.
"Apa yang terjadi, Din?" tanya pria tampan itu mencegat kepergian sang adik.
"Tanyakan sama mantanmu itu, Mas! Dihari yang sama dia membuat masalah dua kali, aku harap kamu bisa bertindak tegas setelah ini!" ucap Meidina melepaskan tangan Haikal ddan berlalu dari sana
Pria tampan itu terdiam dan memilih untuk masuk ke dalam kamar.
"Bagaimana bisa kalian teledor?" ucap Haikal geram.
"Maaf, Tuan. Saya pikir, Nona Filda tidak akan berbuat seperti itu. Saya yang salah karena tidak membaca situasi," ucap Marsoni menunduk.
"Keluarlah!" ucap Haikal tegas sembari menatap Kaina yang sudah terlelap.
"Baik, Tuan. Kami permisi!" ucap Marsoni.
"Jika anda membutuhkan sesuatu, saya ada di depan pintu," ucap Yono.
Mereka segera keluar bersama dengan dua orang pelayan yang lain dan meninggalkan Haikal di dalam kamar.
Pria tampan itu menatap wajah pucat Kaina. "Sayang?" panggilnya dengan suara yang tercekat. "Sayang, aku pulang!" sambungnya.
Kaina mengerjab. Ia terkejut ketika melihat Haikal yang berada di sampingnya.
"Sayang?" panggil Kaina dengan rasa tidak percaya.
"Aku di sini. Mana yang sakit?" ucap Haikal mengusap kepala Kaina dengan lembut.
__ADS_1
"Tidak ada yang sakit, Sayang. Anak-anak tadi udah bantu aku, makanya sekarang tidak terasa apapun, hanya lelah saja!" ucap Kaina tersenyum dan menggenggam tangan Haikal.
"Benarkah?" ucap Pria tampan itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Kaina mengangguk dan tersenyum. "Kenapa sudah pulang?" ucapnya.
"Aku khawatir, Sayang. Kamu masih bertanya kenapa aku pulang juga!" ucap Haikal sambil memencet hidung Kaina dengan gemas.
"Ganti baju dulu, Sayang. Bersih-bersih, ingat aku lagi hamil!" ucap Kaina tersenyum.
"Baiklah, tunggu sebentar," ucap Haikal berdiri dan membuka bajunya. "Apa kamu merindukanku?" tanya Haikal sambil mengusap dada bidangnya.
Kaina hanya tersenyum menatap Haikal. "Aku baru mengisi sabun cair dengan yang baru," ucapnya.
Haikal terdiam dengan wajah lesu. Ia membersihkan diri dann mengganti pakaian. Setelah itu, Haikal naik ke atas ranjang dan memeluk Kaina dengan manja.
"Pasti tadi buru-buru datang ke sini," ucap Kaina mengelus lembut kepala Haikal.
"Hmm, jantungku terasa ingin copot dan membayangkan hal yang tidak-tidak," ucap Haikal lirih.
Kaina merasa dicintai oleh pria tampan ini. Sepertinya, tuan muda memang benar-benar mencintaiku. Kini, aku bisa tenang dan menjalani hidup dengan baik dan aman, sebab aku sudah memiliki pria tampan ini. Aku mencintaimu, Suamiku!. Batinnya.
"Terima kasih karena kamu sudah begitu menghawatirkan aku," ucap Kaina dengan mata yang berkaca-kaca.
"Itu karena aku mencintaimu dan anak-anak kita, Sayang. Jika tidak, aku tidak akan rela melenyapkan uang puluhan triliun hanya untuk orang lain," ucap Haikal menghela nafas berat.
"Apa aku...,"
"Tidak! Jangan memikirkan apapun. Along sudah mengaturnya. Jikapun aku tidak bisa mendapatkannya kembali, kalian lebih berharga dari uang- uang itu," ucap Haikal menatap mata Kaina.
"Kami mencintaimu, Ayah!" ucap Kaina tersenyum.
Haikal terdiam dengan mata yang berkaca-kaca. Ucapan Kaina bagaikan angin yang berhembus dibarengi dengan taburan bunga.
Ia tidak bisa menahan rasa haus dan bahagia yang tengah membalut hatinya. Semua rasa cemas, amarah dan juga dendam, hilang begitu saja bergantikan kata-kata yang begitu indah.
"Ayah, juga mencintai kalian," ucapnya memeluk Kaina dengan cukup erat.
Ibu hamil itu terkejut ketika mendengar suara Haikal yang berubah. Ia mendengar isakan kecil keluar dari mulut pria tampan ini.
"Apa tuan muda yang pemarah ini tengah menangis?" ucap Kakna menggoda Haikal.
"Diam, Sayang! Aku lagi terharu ini," ucap Haikal merasa malu karena ketahuan oleh Kaina.
__ADS_1
Kaina menahan tawa dan membalas pelukan Haikal. Mereka terlelap satu sama lain setelah berpisah selama beberapa jam saja.