
Beberapa hari berlalu, ketika hendak pergi ke kampus, ponsel Kaina berdering. Mau tidak mau, dia harus mengangkatnya.
Di sana tertera sang Ayah tengah memanggil. Sedikit malas, namun ia tidak mungkin mengabaikan Leo. Kaina mengangkat panggilan itu sambil berjalan keluar dari gedung apartemen.
"Halo, Yah?" sapa Kaina.
"Halo, Nak. Kamu, ada kegiatan apa hari ini?" tanya Leo di balik telepon.
"Aku kuliah sampai sore, Yah. Ada apa?" tanya Kaina mengernyit dan menaiki mobil.
"Tidak, Ayah hanya ingin mengajakmu makan siang nanti," ucap Leo.
"Makan siang? Nanti aku tanya mas Haikal dulu, Yah!" ucap Kaina mulai paham tujuan sang ayah.
"Kalau kamu mau mengajak tuan muda sekalian tidak apa. Tapi, Ayah ingin berbicara berdua denganmu!" ucap Leo penuh harap.
"Baiklah, nanti aku minta izin dulu sama suamiku," ucap Kaina.
"Ayah tunggu ya, Nak!" ucap Leo terdengar begitu senang.
"Iya, Ayah!" ucap Kaina dan mematikan sambungan telepon itu.
Ada apa ayah ingin menemuiku? Semoga bukan hal yng membahayakan keselamatanku nanti!. Batinnya.
Ia segera memberitahu Haikal tentang Leo. Pria tampan itu mengizinkan tanpa berdebat terlebih dahulu, namun tetap dengan beberapa catatan.
"Pergilah, Sayang. Mungkin ayah ingin berbicara denganmu tanpa ada orang lain. Bisa jadi, dia sadar dan ingin memperbaiki hubungan kalian," ucap Haikal yang terngiang-ngiang di telinga Kaina.
Semoga saja, Ayah ingin memperbaiki hubungannya denganku. Jika memang benar, aku merasa sangat senang walaupun dari kecil aku sudah terabaikan tanpa sentuhan hangat darinya lagi. Batin Kaina dengan mata yang berkaca-kaca.
Hingga mobil berhenti di depan Fakultas. Kaina turun dibantu oleh Nabila, tentu saja itu selalu menjadi pusat perhatian dari seluruh mahasiswa yang melihatnya.
Ketika ia berjalan menuju ruangan, seorang laki-laki menghampiri Kaina, sambil tersenyum manis.
"Kau yang kemarin menabrak Adikku?" ucap Nabila kesal. "Mau apa kau?" sambungnya dengan sarkas.
Ia sengaja mengatakan Kaina adalah adiknya, karena kesepakatan mereka agar Kaina tidak dipandang berlebihan oleh mahasiswa lain.
__ADS_1
"Maaf untuk yang kemarin. Kamu tidak apa, 'kan?" tanya laki-laki itu menatap Kaina dengan lekat.
"Tidak, aku tidak apa. Lain kali hati-hati, karena tidak semua kondisi orang itu sama. Jika aku terjatuh, maka kamu bisa membuat aku keguguran anak kembar!" ucap Kaina tegas.
Deg!
Laki-laki itu terkejut dan terdiam mendengar ucapan Kaina. "Kamu hamil?".
Kaina hanya mengangguk dan menatap laki-laki itu dengan lekat. Hampir saja, Haikal mencari dan menghajarnya, jika mungkin ia tidak merasakan kontraksi waktu itu.
"Aku Adam, salam kenal!" ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Nabila memukul tangan Adam hingga membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan. Kaina tidak terkejut lagi dengan apa yang baru saja dilakukan oleh pengawal pribadinya itu.
"Aku Kaina, salam kenal. Kakakku memang galak! Maaf, aku sudah memiliki suami, jadi dia begitu posesif ketika menjagaku," ucap Kaina tersenyum tipis.
"Baiklah. Jam 10 nanti, kita akan berkumpul untuk persiapan lomba debat minggu depan. Kita satu tim, dan akan bertemu dengan kampus C," ucap Adam.
Kaina hanya terdiam, ia tidak terkejut lagi. Karena pertemuan ini akan terjadi. Apa lagi ia sudah tau siapa kandidat lawan yang akan ia hadapi.
"Semoga kita bisa bekerja sama. Permisi!" ucap Kaina kembali berjalan menuju kelasnya.
"Nyonya harus berhati-hati dengan dia!" ucap Nabila lirih.
Kaina hanya mengangguk dan tersenyum. Ia mengikuti semua pelajaran pagi ini dengan sedikit tidak nyaman karena merasa pegal harus duduk lama di dalam kelas.
🥕🥕
Di dalam private room salah satu restoran mewah di kota itu.
"Ada apa ayah menemuiku?" tanya Kaina ketika berhadapan dengan Leo.
"Ayah, hanya ingin berbincang denganmu. Karena kemarin kita tidak memiliki banyak waktu untuk berbicara," ucap Leo tersenyum.
"Sepertinya, kemarin Ayah sudah membicarakan banyak hal," ucap Kaina lirih.
Leo terdiam, suasana di dalam ruangan terasa canggung dan juga kaku. Ia bingung harus memulai dari mana untuk berbicara dengan sang putri.
__ADS_1
"Bagaimana hubunganmu dengan tuan muda?" tanya Leo.
"Baik, hubungan kami baik. Ayah tidak perlu khawatir untuk itu. Aku akan berusaha agar tuan muda tidak menceraikanku," ucap Kaina tersenyum.
"Apa kamu bahagia, Nak?" tanya Leo yang berhasil membuat Kaina tersentak.
"Sejak kematian bunda, tidak ada kata bahagia di dalam kamus hidupku lagi, Yah. Apa yang aku lakukan, itu semua hanya bentuk pengorbanan dan ucapan terima kasih karena ayah tidak jadi menitipkan aku di panti," ucap Kaina lirih sambil tersenyum kecut.
Tapi kini aku merasa begitu bahagia karena tuan muda itu begitu mencintaiku. Batinnya.
Leo terlihat terkejut. Apa Kaina mendengar permintaan Sisca dulu?. Batinnya.
"Apa ibu masih mengganggumu?" tanya Leo.
Kaina mengangkat kepalanya dan menggeleng pelan. "Ibu, sepertinya sangat bahagia ketika aku keluar dari rumah dan aku ikut senang atas itu," ucapnya
"Nak! Banyak hal yang sudah ayah lewatkan. Tuan muda bilang, jika kamu sakit, apa benar?" tanya Leo mati kutu dengan ucapan Kaina.
"Iya, tapi sekarang sudah baik-baik saja. Ayah tidak perlu risau. Sekarang sudah ada tuan muda yang menemaniku jika sakit," ucap Kaina tersenyum.
"Na, Ayah minta maaf," ucap Leo lirih.
Kaina terkejut dan terdiam dengan mata yang berkaca-kaca. Ia merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Leo.
"Selama ini, ayah mengabaikanmu. Ayah selalu menerima laporan dari ibu tanpa mengetahui apa yang sebenarnya kamu alami. Ayah, salah karena tidak merawat kamu dengan baik. Maafkan ayah, Na!" ucap Leo dengan mata yang berkaca-kaca.
Kaina menggigit bibirnya agar bisa menahan tangis. Kata-kata yang dari dulu begitu ia ingin dengan langsung dari mulut sang ayah.
Sebuah pembuka untuk memperbaiki hubungan mereka yang sudah laama renggang, bahkan terkesan seperti orang asing.
"Ayah salah karena berlaku tidak adil kepada kamu. Ayah memang orang tua yang tidak berguna, bahkan tidak akan pantas untuk menerima maaf dari kamu," ucap Leo tercekat.
Tubuh Kaina gemetaran karena ini begitu mendadak. Ia masih belum siap untuk ini, mendengar kata maaf dari sang ayah, dia sangat belum siap.
"Maafkan ayah, Na. Ayah ingin mengganti semua waktu yang sudah terbuang. Izinkan ayah melaksanakan tanggung jawab sebagai orang tuamu," ucap Leo menggenggam tangan Kaina.
Gadis itu tidak berani berbicara, tangis yang ia tahan sadari tadi pecah. Ia menangis tersedu karena mendengar ucapan Leo. Terlepas itu tulus atau tidak, tapi dia merasa bahagia dengan kata maaf dari sang ayah.
__ADS_1
Dengan ragu, Leo mendekat dan memeluk Kaina. Air matanya seketika luruh ketika mendekap tubuh sang putri yang sudah lama tidak ia belai.
"Maafkan ayah, Na!" ucap Leo terisak.