Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Apa Lagi, Mas?


__ADS_3

Kaina menaiki mobil yang sama dengan Haikal. Ia langsung memeluk suami tampannya itu dengan hati yang sangat bahagia.


Sungguh, keberadaan Haikal menjadi energi tambahan baginya. Bagitu juga dengan anak-anak yang anteng walaupun ia berbicara dengan begitu banyak.


"Bagaimana rasanya, Sayang?" tanya Haikal terkekeh dan membalas pelukan Kaina.


"Aku senang, Yang! Akhirnya mereka aku buat tidak berkutik!" ucap Kaina dengan wajah yang berbinar.


"Pintar! Hari ini, aku akan menuruti apa pun yang kamu mau!" ucap Haikal juga merasa begitu bangga.


Walaupun masih babak penyisihan, namun ini sudah membuktikan jika Kaina bukan babu seperti apa yang mereka katakan.


"Aku tidak mau apa-apa, selain nanti makan banyak, terus tidur sambil dipeluk," ucap Kaina dengan wajah yang meron malu.


Haikal terkekeh, ia memang sengaja mengosongkan jadwal hari ini, agar bisa bersama dengan Kaina. Mereka segera pulang ke apartemen dan melakukan apa pun yang diinginkan oleh ibu hamil itu


Sungguh, Haikal merasa begitu senang melihat Kaina bisa tersenyum dan memperlihatkan kepada mereka, bagaimana gadis ini sebenarnya. Kepintaran dan juga kepandaian yang dimiliki Kaina, akan terus ia asah dengan baik.


Ia ingin Kaina bisa dipandang oleh orang lain dengan apa yang dimiliki oleh gadis itu. Sebelum semua orang memandang Kaina karena dirinya.


Masih ada waktu untuk membuat mereka bungkam, dan menunjukkan jika kamu pantas bersamaku. Walaupun aku tidak peduli bagaimana latar belakangmu sebelum dan setelah ini. Batin Haikal.


Ia sudah memesan begitu banyak makanan sesuai dengan keinginan ibu hamil itu. Walaupun, Kaina tidak akan memakan semuanya, tetapi ia hanya ingin sang istri merasa bahagia dan merayakan hal itu.


"Pasti mereka akan semakin benci denganku," ucap Kaina lirih.


"Tentu, Sayang. Mereka sudah mempermalukan diri mereka sendiri. Dan kamu membalasnya dengan elegan. Sekarang, jangan terlalu memikirkan itu. Kamu hanya fokus untuk masuk final nanti!" ucap Haikal tersenyum.


Kaina mengangguk dan memeluk Haikal. Perutnya mulai terasa sakit dan kontraksi, namun ia berusaha untuk tenang agar tidak membuat sang suami panik.


Huh, Anak-anak tenang ya, Sayang! Jangan bikin ayah menghancurkan rumah sakit nanti!. Batin Kaina sambil mengusap perutnya.


Hingga mobil tiba di apartemen, Kaina terlihat senang karena ada sang adik ipar yang kini semakin dekat dengannya.


"Hai," ucap mereka saling berpelukan.


"Kangen banget!" ucap Meidina gemas.


"Iya, aku juga kangen! Kapan kakak datang?" tanya Kaina berbinar.


"Barusan, di rumah gak ada orang. Mommy juga lagi ke Paris, makanya aku ke sini!" ucap Meidina terkekeh.


"Iyakah? Aku tidak tau kalau Mommy pergi," ucap Kaina lirih dan tersenyum kecut.

__ADS_1


"Jangan dipikirkan. Eh, aku tadi lihat Mbak di televisi, beneran masuk grand final?" tanya Meidina tidak percaya.


"Iya, wah kamu lihat ya?" tanya Kaina merona malu.


"Iya, itu keren banget. Aku gak nyangka kalau Mbak pinter banget seperti tadi. Bukankah mereka kampus unggulan yang sudah menang setiap tahun?" ucap Meidina berbinar.


"Haha, itu karena Masmu. Aku selalu menang kalau debat sama dia," ucap Kaina terkekeh.


"Hahaha, pantas saja. Orang belum ada yang menang kakau berdebat dengan dia!" ucap Meidina meringis.


"Dah, ayo kita makan!" ucap Kaina yang langsung mengajak semua orang yang ada di sana untuk memakan makanan yang yang sudah di pesan.


Sementara Haikal hanya menggeleng melihat tingkah dia bocah itu.


🥕🥕


Di rumah Leo.


Pria paruh baya itu berbinar dan bangga karena menonton sang putri melalui televisi. Bahkan matanya samping berkaca-kaca.


Rasa bersalah itu kembali menyelimuti hatinya. Ia sangat menyesal karena tidak memperhatikan Kaina dengan baik selama ini.


Ternyata, Kaina memang menuruni semua kepandaian Kiara. Nda, lihatlah anakmu begitu cantik, pintar dan berani!. Batin Leo.


Leo hanya terdiam sambil menyaksikan bagaimana cara Kaina berbicara. Ia memberitahukan kepada pimpinan perusahaan yang sebentar lagi akan menjadi milik Kaina, agar bisa menonton siaran langsung itu.


Walaupun hanya lomba debat, tapi kepintaran Kaina sangat terlihat di sana. Ia merasa begitu bangga melihat Kaina yang terlihat tenang ketika berbicara.


"Kalau bukan karena tuan muda, dia tidak akan bisa ada di sana. Secara, perwakilan kampus A itu sudah yang terbaik dan berpengalaman," ucap Sisca tidak terima.


"Jangan banyak bicara kalau tidak mau mengakui kehebatan orang lain!" ucap Leo ketus.


"Ya, bela terus dia Mas! Bela terus! Selena saja tidak pernah kamu puji seperti itu!" ucap Sisca ketus.


"Jangan memancing amarahku, Sisca! Sekarang pergi kau ke kamar sebelum aku marah!" ucap Leo tegas.


"Semenjak tuan muda itu datang ke sini, kau berubah, Mas! Kau sering memarahiku dan mengabaikan anak-anak. Kau seolah mempercayai semua tuduhan yang dikatakan oleh dia!" ucap Sisca dengan suaranya yang keras sambil berdiri.


Leo masih terdiam, sungguh ia sudah sangat muak dengan tingkah Sisca. Jika bukan karena Kaina yang menyuruhnya untuk berpikir lagi, mungkin ia sudah menceraikan Sisca dan mengusirnya dari rumah.


"Aku muak, Mas! Bahkan kau tidak peduli dengan rasa malu yang ditanggung oleh Selena karena kau menjual mobil itu!" ucap Sisca semakin menjadi.


"Diamlah!" ucap Leo masih menahan diri.

__ADS_1


Selena yang baru saja pulang, berdiri di depan pintu sambil mematung melihat kedua orang tuanya tidak seperti dulu lagi. Ia hanya terdiam mendengar apa yang diperdebatkan oleh mereka.


"Kenapa kau menyuruhku diam? Apa kau merasa bersalah, ha? Kau lebih mementingkan dia dibandingkan kami! Mas, karena dia kita selalu berdebat dan bertengkar karena aduan yang tidak benar itu!" ucap Sisca.


Leo membanting remot dan berdiri tepat di hadapan Sisca. Ia menatap tajam sang istri dengan kesabaran yang sudah habis.


"Sudah saya bilang, Diam! Kau tidak juga dengar! Kaina sudah menceritakan semua, bekas luka yang ada di tubuh putriku sudah jelas, jika itu perbuatan kau selama ini!" ucap Leo geram.


Sisca terkejut mendengar ucapan Leo. Ia tidak menyangka jika suaminya bisa menemukan bekas luka itu.


"A-aku tidak pernah memukul dia tanpa alasan! Dia saja yang selalu memancing amarahku!" ucap Sisca kelabakan.


"Heh, kau kira saya bodoh, ha? Pengasuh Kaina yang kau pecat dulu sudah saya temukan. Sekarang kau masih mengelak?" ucap Leo dengan napas yang sudah memburu.


Bagaimana bisa dia menemukannya?. Batin Sisca terkejut.


"Jika bukan karena Kaina, sudah dari kemarin-kemarin saya menceraikan kau!" bentak Leo.


Deg!


Baik Sisca, Selena dan Robi yang juga baru datang terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Leo.


"Apa maksud kau, Mas?" tanya Sisca tidak percaya.


"Kenapa? Apa kau terkejut? Ternyata aku menikahi seorang Iblis! Sudah seperti itu kau menganiaya putriku, tapi dia masih berbaik hati karena mengingat Selena dan Bobi! Dia tidak ingin mereka kekurangan kasih sayang dari orang tua. Sekarang kau masih mengatainya? Terbuat dari apa hati kau itu, ha?" bentak Leo yang sudah tidak bisa menahan diri.


"Dia hanya mencari muka saja! Kau jangan termakan omongan dia, Mas!" ucap Sisca yang sudah kehabisan kata-kata.


"Hahaha." Leo tertawa mendengar ucapan Sisca. "Saya tidak tau, apakah kau akan bertahan dengan saya setelah ini atau tidak!" ucapnya tersenyum kecut.


"Apa maksudmu?" tanya Sisca tidak paham.


"Saya susah menyerahkan saham Kaina 30 persen, sekarang dia akan mengambil alih seluruh perusahaan Chandrawinata! Sekarang tidak ada yang tersisa, kecuali saham 5 persen milikku!" ucap Leo tegas.


Sisca terkejut dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu. "Jangan bercanda, Mas!" bentaknya.


"Kau dengar saja berita dalam waktu dekat. Sekarang terserah kau saja, apa masih ingin hidup bersama saya atau tidak. Tapi kau tenang saja, anak-anak masih dalam tanggung jawab saya!" ucap Leo.


Sisca terlihat geram. Ia tidak menyangka jika Leo akan melakukan ini dengan cepat. Dia tidak menyangka, jika Leo memberikan semuanya kepada Kaina.


Tapi setidaknya aku masih memiliki rumah ini dan beberapa mobil lainnya. Batin Sisca.


Prang!

__ADS_1


Suara barang terjatuh mengejutkan keduanya. Bobi dan Selena berdiri mematung dengan wajah yang dipenuhi amarah sambil menatap ke arah Leo.


__ADS_2