
Begini rasanya sakit hati dan diacuhkan oleh orang yang aku cintai. Batin Kaina.
Tanpa terasa, air matanya mulai menggenang. Pikiran negatif sudah menguasai dirinya. Rasa cemburu mulai membara dan menimbulkan rasa ingin memiliki.
Namun, mengingat tembok yang menghalangi, membuat Kaina merasa sangat sedih dan juga tidak tau harus berbuat apa.
Setelah memastikan jika Haikal sudah tertidur dan terlelap, Kaina memutuskan untuk pergi ke kamar mandi. Di sana ia menangis tertahan agar hatinya bisa lega dari rasa sesak yang sudah ia tahan sedari tadi.
Ya Tuhan, ada apa yang harus aku perbuat? Untuk mempertahankan pun aku tidak akan mampu. Ini terlalu berat, Tuhan! Aku tidak sanggup menjalaninya. Batin Kaina sambil menutup mulut agar tidak mengeluarkan suara.
Ia terdiam ketika merasakan sakit pada jantungnya. Ia mencoba untuk mengendalikan diri dan berhenti menangis.
Jangan sakit lagi! Hutangku semakin menumpuk. Entah sampai kapan akan berakhir. Karena setiap sentuhan tuan muda, membuatku merasakan sebuah rumah yang selama ini aku rindukan. Entah sampai kapan aku harus seperti ini. Suatu saat, jika tuan muda menceraikanku, ini akan menjadi patah hati terperih setelah kepergian bunda. Batinnya.
Ia masih bermenung di dalam kamar mandi sembari menunggu tangisannya reda. Kaina menatap nanar sembarang arah dengan pikiran yang kosong.
Seperti ini yang ia lakukan ketika merasa sedih. Tidak ada tempat mengadu selain ke makam sang ibunda. Ia tidak memiliki sandaran untuk berkeluh kesah.
Malam semakin larut, ia masih betah berada di dalam kamar mandi, walaupun di sana sudah terasa sangat dingin.
"Kaina?" Pekik Haikal dari luar berhasil membuatnya tersentak.
Tok, tok, tok!
"Kaina, kau di dalam?" tanya Haikal.
"Iya," ucap gadis itu lirih.
Ia segera keluar setelah membasuh mukanya yang terlihat sembab.
Haikal mengernyit melihat Kaina yang berjalan sambil menunduk. "Ngapain kau di dalam selama itu?".
"Hmm, tidak ada. Aku hanya tidak bisa tidur dan takut mengganggumu," ucap Kaina dengan suara serak.
"Kau menangis?" tanya Haikal mengangkat dagu Kaina.
Haikal terkejut ketika melihat wajah Kaina yang sembab dengan mata dan hidung yang memerah. Ia terenyuh melihat Kaina yang begitu rapuh, menangis sendiri tanpa ada tempat untuk bersandar.
"Kenapa sayang? Kenapa menangis?" tanya Haikal dengan begitu lembut.
Kaina tidak menjawab, air matanya kembali menggenang dan menetes. Ia menangis tanpa bisa di cegah lagi.
__ADS_1
Haikal gelagapan dan langsung menggendong Kaina, membaringkannya diats ranjang dan memeluk gadis itu.
"Menangislah, Sayang! Aku di sini. Ceritakan apa yang sedang kamu rasakan sekarang!" ucap Haikal lembut sambil mengusap punggung Kaina.
Gadis itu tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia hanya terisak, bahkan tangisannya semakin terdengar. Haikal merasa tersayat melihat kerapuhan sang istri.
Apa yang terjadi, Sayang? Apa kamu begitu sedih dengan perkataan Mommy? Kini aku harus apa untuk menenangkanmu?. Batin Haikal bingung.
Cukup lama Kaina menangis di dalam pelukan Haikal. Hingga dada pria tampan itu basah dengan air mata.
Tak lama, Kaina mulai tenang dan hanya ada isakan yang sesekali terdengar keluar dari bibir kecilnya.
"Sudah reda?" tanya Haikal lembut sambil mengusap kepala Kaina dengan lembut.
Gadis itu mengangguk dan mengusap air matanya. Haikal mengecup kecing dan kepala gadis itu dengan lembut. Seolah memberikan rasa nyaman dan sayang kepada Kaina.
"Kenapa menangis?" tanya Haikal lembut.
"Kangen Bunda," ucapnya sambil sesegukan.
Haikal terdiam, jika masalah di dunia, mungkin ia masih bisa membantu membereskannya. Namun ini hal yang berbeda dan ia juga mengalaminya.
"Besok kita ke sana, ya!" ucap Haikal.
"Haus, Yang?" tanya Haikal dan mengambilkan air minum.
Kaina mengangguk dan meneguk air yang di ambilkan oleh Haikal. Ia mengambil tas dan mengeluarkan parasetamol dan meminumnya.
Haikal mengernyit dan menahan tangan Kaina. "Kenapa meminum itu?" ucapnya bertanya.
"Aku takut demam," ucap Kaina lirih.
Haikal melepaskan tangan Kaina dan membiarkannya meminum obat. Ia mengikat rambut panjang Kaina agar bisa menatap wajah sembab yang terlihat begitu imut dan juga mengemaskan.
Haikal memegang kedua pipi gadis itu dan mengecup bibirnya dengan lembut.
"Ayo kita tidur!" ucap Haikal menggesekkan hidung mereka.
Kaina tersenyum dan mengangguk. Sesekali ia masih sesegukan dalam pelukan Haikal.
Jangan sering-sering seperti ini, Tuan. Hatiku semakin lemah berhadapan dengan anda. Aku takut tidak akan bisa melepaskan anda nanti. Batin Kaina.
__ADS_1
Ia memeluk Haikal dengan erat. Merasakan hangatnya dekapan yang mungkin akan ia rindukan.
Haikal merasa ada yang aneh dengan Kaina, sebab ia belum pernah melihat Kaina menangis sesegukan hingga seperti ini, kecuali saat jantungnya melemah.
"Kaina sayang?" Panggil Haikal dengan lembut.
"Iya," ucap gadis itu lirih.
"Benar, kamu hanya rindu dengan bunda?" tanya Haikal yang masih penasaran.
"Iya, Sayang. Setidaknya dengan menangis aku juga bisa melupakan apa yang terjadi hari ini," ucap Kaina lirih.
Benar apa yang aku duga. Ini ada hubungannya dengan Mommy. Batin Haikal.
"Kalau ada apa-apa, jangan dipendam sendiri. Kamu masih punya aku, hem?" ucapnya.
Kaina terdiam dan mengangguk. Ia semakin mengeratkan pelukan sembari menghela nafas panjang.
Mereka masih berpelukan, hingga Kaina terlelap dalam pelukan ternyaman itu. Haikal hanya bisa menghela nafas, menghadapi Kaina seperti menghadapi anak kecil yang masih labil.
Ia menghadap ke arah susunan foto yang berjejer rapi di dinding kamarnya dan mengernyit. Ia tersentak ketika mengingat foto sang kekasih masih terpajang di sana.
Apa Kaina menyadari foto itu? Apa ini yang menjadi penyebab dia menangis? Astaga, aku sampai lupa mengingatkan Along untuk mencopotnya. Batin Haikal.
Kini ia mulai paham apa yang ditangisi oleh Kaina. Ia tersenyum ketika menyadari satu hal. Jika Kaina sudah mulai mencintainya dan tadi adalah perasaan cemburu.
Tidak mungkin dia cemburu sampai menangis sesegukan. Jangan bilang kamu meminta untuk ikut dengan bunda lagi!. Batinnya menatap Kaina.
Perasaannya bercampur aduk, ada rasa bersalah yang mulai menyeruak. Ini kali keduanya foto seperti itu terlihat oleh Kaina.
Sepertinya besok harus kembali ke apartemen dan merombak habis kamar ini. Memastikan jika tidak ada yang membuat Kaina bersedih lagi. Batinnya.
Ia masih terjaga dan memastikan jika Kaina terlelap. Niat hati ingin mengajak gadis itu bercinta, namun hal ini ia dapatkan.
Lebih beruntung ini terjadi, sehingga ia bisa menyadari apa yang membuat Kaina murung dan bersedih.
Haikal tersenyum, ia mulai menyadari sebuah kenyataan, dimana ia sudah jatuh cinta kepada gadis ini dengan begitu dalam.
Ia memilih untuk mengirim pesan kepada Along, agar bisa memeriksa seisi apartemen. Membuang semua barang yang dimiliki oleh mantan kekasih yang masih tersisa di sana.
Tak lupa, ia juga meminta beberapa orang untuk merenovasi kamar ini, agar Kaina bisa merasa lebih nyaman dengan suasana yang tidak terlalu Manly.
__ADS_1
Setelah itu, ia memejamkan mata dan ikut terlelap menyusul sang istri. Pelukan yang begitu nyaman, membuatnya enggan melepaskan gadis itu walaupun hanya sebentar.
Aku mencintaimu Kaina!. Batinnya tersenyum.