
Leo pulang dengan pikiran yang berkelana. Ia menatap nanar hamparan jalan yang ia lalui. Ucapan Haikal begitu mengena di hatinya. Seolah menjadi tamparan keras yang sangat menyadarkannya dengan apa yang sudah ia perbuat selama ini.
Hingga mobil berhenti di halaman rumah mewah mendiang istri pertamanya. Ia memarkirkan mobil dan keluar dari sana sambil membawa papper bag yang berisi masakan Kaina.
Semenjak penjualan mobil Selena dan pertengkarannya dengan Sisca, rumah itu terasa begitu sepi. Tidak ada lagi istri yang menyambutnya dengan ramah, tidak ada anak gadis yang bermanja lagi dengannya.
Selena masih betah untuk tidak bersuara, dampak dari rasa malu yang ia dapat setelah acara ulang tahunnya beberapa hari yang lalu.
Kini, hati Leo terasa dingin, ia seolah kehilangan rasa kepada Sisca setelah ucapan Haikal tentang apa yang sudah di alami oleh Kaina.
Ia berjalan menuju dapur dan menyerahkan papper bag itu kepada pelayan yang masih berjaga.
"Panaskan besok pagi untukku!" ucap Leo.
"Baik, Tuan!" ucap pelayan itu mengangguk.
Ia melanjutkan langkah kakinya menuju kamar, namun ketika hendak membuka pintu, Sisca lebih dulu membukanya.
"Dari mana kamu, Mas?" tanya Sisca mengernyit dengan wajah kesalnya.
"Aku ada urusan!" ucap Leo menahan diri untuk tidak berdebat dengan sang istri.
"Tumben kamu pergi tanpa mengatakan apa pun kepadaku!" ucap Sisca.
"Aku terburu-buru," ucap Leo mengganti pakaiannya dan kembali berjalan keluar dari kamar.
"Mas, apa kamu masih marah? Aku sudah meminta maaf. Aku tidak sungguh-sungguh dengan ucapanku!" ucap Sisca menghentikan langkah Leo.
"Introspeksi dirimu, Sisca! Bersungguh-sungguh atau tidak, perbuatanmu tidak bisa dimaafkan begitu saja!" ucap Leo tegas.
"Aku sudah mengakui perbuatanku, apa lagi yang harus aku lakukan?" ucap Sisca mulai terpancing.
"Minta maaf kepada Kaina dan kembalikan apa yang sudah kamu rebut dari putriku!" ucap Leo tegas.
Sisca terkejut mendengar ngucapan Leo. Ia merasa tidak senang dengan perkataan yang keluar dari mulut sang suami.
__ADS_1
"Jika kamu tidak mau, tidak masalah. Biar aku yang meminta maaf. Tapi sekarang dia bukan gadis lemah lagi, karena ada tuan muda Haikal yang akan membantunya!" ucap Leo sambil membuka pintu ruang kerja yang berada di samping kamar.
Sisca terdiam seribu bahasa. Jika sudah menyangkut tentang Haikal ia tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya memandang Leo hingga pria paruh baya itu menghilang dibalik pintu.
Aku tidak akan pernah meminta maaf kepada gadis kampung pembawa sial itu. Gara-gara dia, aku dan Selena harus menahan malu di depan keluarga besar dan juga teman-teman Selena. Batin Sisca marah.
Ia memilih untuk kembali ke kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hubungannya dengan Leo terasa merenggang, ia tidak ingin menjadi semakin buruk karena kesalahan yang ia buat.
Sementara di dalam ruang kerja, Leo terdiam. Ia memikirkan apa yang harus ia lakukan nanti. Pikiran negatif tentang kematian, selalu datang menghantuinya. Ia sangat mengenal Sisca yang bisa berbuat nekat hanya untuk kepentingannya sendiri.
Leo mengambil kunci brankar yang selalu ia bawa ke mana-mana. Karena di dalamnya terdapat berkas-berkas penting yang berbahaya bila jatuh ke tangan yang salah.
Beberapa dokumen ia keluarkan dari kotak itu. Salinan surat wasiat dari Kiara dan juga beberapa dokumen lain yang sudah beratas nama Kaina. Bahkan semua aset milik Kaina lebih berkembang pesat tanpa ia urus sama sekali.
Kaina memiliki saham 30 persen di perusahaannya, itu berarti ia kini hanya memiliki 20 persen saham setelah ia menjualnya kepada Haikal dan juga pemegang saham lainnya.
Niat hati, ia ingin menjual milik Kaina. Namun tidak mungkin ia menjual saham sang putri walaupun kepada menantunya sendiri.
Apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin perusahaan aku serahkan bulat-bulat kepada Kaina sementara masih ada Selena dan Bobi yang harus aku nafkahi. Sudah 18 tahun lamanya aku mengurus perusahaan itu dengan baik, hingga keteledoranku berujung fatal. Batin Leo.
Jika dulu ia tamak karena memenuhi keinginan Sisca, namun kini tuhan memberikan cara yang berbeda untuk menegurnya.
"Apa aku bagi dua saja saham ini untuk Selena dan juga Bobi. Tapi pasti tidak mungkin mereka akan bertanggungjawab dengan apa yang merek miliki," ucapnya frustrasi.
Ia menghubungi pengacaranya dan juga pengacara Kiara dulu, untuk bertemu besok di kantor. Ia ingin membahas ini dengan segera, agar Kaina tidak kehilangan haknya sebagai pewaris tunggal dari Kiara.
Ia menyiapkan semua berkas-berkas yang dibutuhkan untuk mengurus itu semua. Dengan harapan, ia bisa menebus semua kesalahan yang telah ia perbuat selama ini.
Semoga ini bisa menjadi bukti, jika ayah benar-benar ingin memperbaiki hubungan kita, Nak. Ayah sungguh menyesal karena sudah mengabaikanmu. Batin Leo.
Air matanya menggenang dan menetes tanpa bisa ia cegah. Wanita yang ia anggap baik selama ini ternyata adalah seekor ular berbisa yang bisa membunuhnya kapan pun.
Disela isak tangisnya, seorang perempuan yang begitu cantik tiba-tiba saja datang dan membelai lembut kepala Leo yang sudah ditumbuhi uban.
"Ayah kenapa menangis?" ucapnya dengan suara yang begitu lembut.
__ADS_1
"Bu-bunda?" sapa Leo merasa tidak percaya.
"Bagaimana keadaan putri kita? Ah, aku ingin memarahimu karena menyerahkan putri kecilku kepada nenek sihir itu!" ucap Kiara kesal.
"Ma-maafkan ayah, Nda. Ayah menyesal sudah menelantarkan putri kita. Maaf juga karena telah menghianatimu," ucpa Leo kembali menangis.
Kiara tersenyum dan memeluk Leo dengan lembut. "Semuanya sudah terjadi. Sekarang, Ayah tidak memiliki waktu untuk menebus semuanya. Lakukanlah yang terbaik menurut ayah untuk putri kecil kita," ucapnya.
"Ayah tidak tau, apakah ini yang terbaik atau tidak. Beri tahu ayah, Nda! Apa yang harus ayah lakukan?" ucap Leo.
Sungguh ia merasa malu kepada mendiang istri pertamanya. Ia tidak memiliki muka lagi di hadapan wanita cantik ini.
"Temui Kaina secepatnya, karena dia memiliki jawaban tentang apa yang harus ayah lakukan!" ucap Kiara tersenyum.
Leo hanya terdiam memandang wajah cantik Kiara yang terlihat bercahaya. Sangat mirip dengan Kaina sekarang. Air matanya semakin mengalir deras ketika Kiara memeluknya.
"Bangunlah! Belum ada kata terlambat untuk memperbaiki ini semua. Jangan mengulur waktu lagi!" ucap Kiara tersenyum dan menghilang.
"Kiara, tunggu!" Leo tersentak kaget.
Ia terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara Sisca dan ketukan pintu yang begitu keras.
"Mas, bangunlah! Ini sudah siang!" ucap Sisca.
Ia terdiam sebentar sambil mengusir rasa kantuk yang masih menguasai. Ia menyimpan semua berkas itu ke dalam tas kerja dan segera keluar dari ruangan itu.
"Apa kamu tidur di sini semalaman?" tanya Sisca tidak suka.
"Aku ketiduran, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan termasuk mengirim laporan kepada tuan muda Haikal tentang perkembangan perusahaan," ucap Leo mengunci ruang kerjanya kembali.
Sisca hanya terdiam dan mengekori Leo yang berjalan menuju kamar mereka. Ia merasa kesal karena Leo tidak mengacuhkannya pagi ini.
Tidak seperti biasa, di mana Leo akan memberikan kecupan selamat pagi dan juga kata-kata indah untuknya.
Ini tidak bisa dibiarkan! Jangan sampai, pria tua ini menceraikanku! Sepertinya aku harus bergerak terlebih dahulu, sebelum hal lain terjadi!. Batin Sisca.
__ADS_1