Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Harta Karun


__ADS_3

Di apartemen, Haikal menggendong Kaina yang sudah terlelap selama perjalanan. Ia masih terdiam karena melihat Leo datang ke pemakaman tadi.


Banyak tanda tanya timbul di dalam benaknya. Apa yang dilakukan oleh pria paruh baya itu di sana. Beruntung, Leo dan Kaina tidak bertemu. Sungguh, ia tidak ingin jika Kaina kepikiran dengan hal yang akan membuat kesehatannya terganggu.


Semua barang-barang Kaina sudah berada di ruang tamu, termasuk peti berukuran 150cmx100cm tadi. Mereka penasaran, apa isi dari peti yang cukup besar dan berat itu.


Ketika Haikal membaringkan Kaina di atas ranjang, ibu hamil itu terbangun dan langsung tersenyum manis menatap Haikal.


"Pasti aku sudah mulai berat," ucapnya serak.


"Belum, aku masih bisa menggendongmu sekarang," ucap Haikal terkekeh dan melayangkan kecupan di wajah sang istri dengan bertubi-tubi.


Kaina hanya terkekeh menahan geli. Ia melingkarkan kedua tangan di leher Haikal dengar masih tersenyum manis. Ia seolah melupakan apa yang terjadi tadi di rumah keluarganya tadi.


"Apa barang-barangku sudah datang, Sayang?" tanya Kaina.


"Sudah. Aku penasaran apa isi kotak besar itu," ucap Haikal.


"Itu harta karun, Sayang. Aku juga belum pernah membukanya setelah kepergian, Bunda," ucap Kaina terkekeh.


Mereka memutuskan untuk keluar dari kamar dan membuka peti itu dengan rasa penasaran, begitu juga dengan Nabila dan kang Yono.


Kaina tak lupa membawa tas lusuhnya agar bisa mengambil kunci yang tersimpan di sana.


"Untung kamu gak langsung membuang tas aku, Yang. Kalau tidak, peti ini akan tertutup terus sampai kapan pun. Karena aku pernah mencoba memanggil beberapa orang tukang kunci untuk membukanya, tapi mereka kesulitan dan bahkan tidak bisa membukanya," ucap Kaina tersenyum.


"Maaf, Sayang. Aku gak tau waktu itu," ucap Haikal menggaruk tengkuknya.


Kaina tersenyum dan meminta gunting. Kini saatnya ia harus merelakan tas rajut yang ia buat bersama dengan ibundanya beberapa hari sebelum Kiara meninggal. Mereka merajut benang-benang besama kunci peti harta karun itu.


"Aku, merasa tidak ingin merusak tas ini ," ucap Kaina sambil menghela nafas.


"Jika harus dirusak, nanti biar saya yang menyambungkannya kembali, Nyonya," ucap Nabila.


"Ah, terima kasih. Tapi, aku bisa menyambungnya," ucap Kaina tersenyum.


Ia segera mengeluarkan kunci dari dalam tas, dan membuka kotak itu dengan perlahan.


Ceklek!

__ADS_1


Jantung Kaina mulai berdetak dengan kencang seiring terbukanya tutup peti. Kaina juga memasukkan 16 digit kode yang selalu ia ingat dari dulu.


Kini terlihat semua isi dari peti itu. Mereka berbinar merasa tidak percaya dengan apa yang ada di dalam sana.


Emas batangan, uang lama dalam jumlah miliaran, beberapa kotak bludru dan setumpuk kertas yang belum jelas apa isinya.


"Sayang, i-ini beneran harta karun!" ucap Haikal yang tidak percaya.


Kaina tersenyum ia masih ingat apa saja isi di dalam peti itu. Ia mengingat jika menyelipkan sebuah boneka yang ia buat dulu bersama dengan Kiara.


"Sayang, bunda mempersiapkan ini semua untuk kamu," ucap Haikal masih belum percaya.


Kaina mengangguk dan mulai membuka lembaran map yang begitu banyak di sana.


Surat tanah, rumah, Villa, sawah dan juga apartemen mewah ada di sana lengkap dengan beberapa buku tabungan yang akan terus bertambah setiap hari.


Dua puluh batang emas seberat 1kg lengkap dengan surat-suratnya. Kotak bludru yang berisikan cicin, kalung dan gelang yang bertaburan berlian juga ada di sana.


Hal yang paling spesial bagi Kaina adalah beberapa surat cinta yang ditulis tangan oleh sang bunda untuknya. Kata-kata yang begitu indah, ungkapan rasa bangga juga bahagia tertuang di sana.


"Sayang?" seru Haikal masih tidak percaya. "Apa tidak ada yang tau tentang ini?" tanya pria tampan itu.


"Terus kenapa kamu mau hidup susah sementara kamu bisa hidup mewah tanpa bekerja," ucap Haikal.


Kaina hanya tersenyum. "Aku tinggal di sana, untuk mempertahankan apa yang menjadi milikku, walaupun mereka kini sedang menguasai semuanya. Coba kamu bayangkan, jika aku membuka peti ini dan menghambur-hamburkan uang, pasti mereka akan tau dan merebutnya," ucap Ibu hamil itu.


Haikal masih merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Jika harta ini di jumlahkan, pasti akan bernilai sangat banyak dan bisa melebihi setengah dari harta kekayaannya.


"Terus sekarang apa yang akan kamu lakukan dengan semua ini, Sayang?" tanya Haikal.


"Ada beberapa surat kepemilikanku sudah di ambil alih oleh mereka dengan paksa. Aku ingin merebutnya kembali, Sayang. Ini sertifikat rumah yang asli, ini juga sertifikat perusahaan dan berkas-berkas kepemilikannya. Aku ingin mengambil kembali semua yang menjadi hak aku," ucap Kaina tersenyum.


Haikal tau, Kaina adalah wanita yang pintar. Hanya saja, dia tidak menunjukkannya dengan gamblang, dan terkesan hanya seperti gadis biasa yang penakut dan juga gampang di atur.


"Kamu, mau membantuku? Lumayan, ini bisa untuk biaya sekolah anak-anak sampai jadi profesor," ucap Kaina terkekeh.


"Tentu, Sayang. Apa pun akan aku lakukan untukmu dan juga anak-anak kita," ucap Haikal tersenyum dan mengecup kening Kaina.


Nabila dan Kang Yono menjadi saksi, bagaimana perubahan Haikal yang dulu arogan, kini terlihat sangat penyayang dan juga romantis.

__ADS_1


Hanya tersisa satu halangan besar dalam kehidupan rumah tangga mereka, yaitu Muzi. Ibunda dari Haikal yang masih berusaha untuk memisahkan mereka. Namun tidak berani bertindak lebih jauh, karena ancaman dari Haikal yang tidak main-main.


"Sayang, aku lapar!" ucap Kaina cemberut sambil mengusap perutnya.


"Mau makan apa?" tanya Haikal terkekeh.


"Apa aja yang penting banyak dan bikin aku kenyang," ucap Kaina cemberut. Namun tiba-tiba ia teringat dengan satu hal. "Sayang, orang-orang yang mengangkat barang-barangku tadi masih ada?" sambungnya.


"Ada, Sayang. Mereka selalu siap jika aku panggil. Kenapa?" tanya Haikal mengernyit.


"Aku ingin memberikan mereka bonus, karena sudah membantuku," ucap Kaina tersenyum. "Tapi ... bolehkan jika mereka makan bersama kita di sini?" tanya ibu hamil itu lirih sambil menunduk.


Haikal, Nabila dan Kang Yono terkejut mendengar permintaan Kaina.


"Boleh, aku pesan makanannya dulu, ya!" ucap Haikal tersenyum dan membuat dua pengawal Kaina itu semakin terkejut.


Benarkah ini tuan muda Haikal? Dia menuruti keinginan Nyonya tanpa berdebat? Siapapun, tolong cubit aku!. Batin Nabila tidak bisa berkata-kata.


Pada akhirnya, di sinilah mereka bersama dengan lima orang yang membantu Kaina mengangkat barang-barangnya tadi. Duduk bersila bersama dengan Haikal tanpa pemisah.


"Silahkan, Bang. Terima kasih sudah membantu saya!" ucap Kaina begitu tulus dengan senyuman manisnya.


"Terima kasih, Nyonya, Tuan. Kami merasa begitu terhormat karena bisa memiliki kesempatan untuk makan dengan anda," ucap Yanda salah satu bodyguard.


"Sama-sama, mumpung Mas Haikal lagi baik. Ayo kita makan!" ucap Kaina terkekeh.


Mereka mengangguk dengan penuh keraguan. Takut, jika nanti Haikal menghukum mereka di belakang sang istri. Namun melihat ekpresi Haikal yang tidak terlihat marah, membuat mereka mulai berani.


Makan siang menjelang sore yang tidak lazim bagi keluarga Kusumanegara. Namun harus terjadi karena permintaan dari Nyonya muda yang tengah hamil itu.


Haikal tersenyum sambil menyuapi sang istri. Bahkan mereka ikut berbincang ringan dengan santai hingga semua makanan itu habis.


Kaina merasa begitu senang, karena satu beban di hatinya sudah terlepas, dan peti itu sudah berada di tangannya kini.


🥬🥬


Sambil nunggu aku update, mampir yuk ke Arjuna. 😚😚


__ADS_1


__ADS_2