Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Masakan Pertama


__ADS_3

Kaina terus berjalan hingga ia kembali ke apartemen. Dengan susah payah, ia memasukkan semua barang belanjaan yang cukup banyak kedalam kulkas.


Tubuhnya kembali merasa lelah karena ia berjalan di bawah terik matahari yang begitu menyengat.


Ia terdiam ketika melihat sebuah sepatu laki-laki berada di dekatnya. Ia sangat ingat, jika tidak ada apapun sebelum ia pergi tadi.


Apa tuan muda itu sudah pulang?. Batin Kaina terkejut.


Ia segera membersihkan semua belanjaan dan masuk ke dalam kamar untuk membersihkan barang-barang yang masih berserakan.


"Sudah pulang?" tanya Haikal membuat Kaina terkejut.


"Su-sudah, Tuan. Anda juga sudah pulang?" ucap Kaina menunduk.


"Ck, kau sangat tidak sopan! Angkat kepalamu ketika berbicara denganku!" bentak Haikal.


"Maaf, Tuan!" ucap Kaina dan mengangkat kepalanya.


"Dari mana?" tanya Haikal ketus.


"Saya dari supermarket, Tuan. Tadi saya berbelanja bahan masakan. Tuan, sudah makan?" tanya Kaina berusaha tersenyum.


"Kau bisa masak? Heh, saya tidak yakin jika nona muda seperti kau bisa memasak!" ucap Haikal tidak percaya.


"Apa tuan ingin mencoba


masakan saya? Setelah itu, tuan bisa mengatakan jika saya bisa memasak atau tidak," ucap Kaina tersenyum.


Haikal mengernyit tidak percaya mendengar ucapan Kaina. Ia hanya terdiam di pintu tanpa menjawab.


"Kau yakin bisa memasak? Kalau begitu pergilah ke dapur dan buktikan! Sebentar, saya harus menyiapkan alat agar tidak terjadi kebakaran! Apartemen ini saya beli dengan harga yang sangat mahal!" ucap Haikal beranjak dari sana.


Kaina menghela nafasnya. Ia masih belum berani berhadapan langsung dengan tuan muda yang sangat pemarah itu. Ia takut akan membuat kesalahan dan berimbas kepada orang lain.


"Hei gadis, cepatlah!" ucap Haikal berteriak.


"I-iya, Tuan!" ucap Kaina langsung keluar dari kamar dan menuju dapur.


Ia menahan tawa ketika melihat Haikal sudah siaga dengan Fire extinguisher ditangannya.


"Tuan mau makan apa?" tanya Kaina menatap wajah tampan Haikal.


"Apa saja yang bisa kau masak. Jangan lama dan harus enak!" ucap Haikal.


Kebetulan ia memang belum makan siang, dan perutnya sudah terasa lapar, walaupun meragukan masakan gadis ini.


Jika dia bisa memasak, aku tidak perlu menyewa pelayan lagi untuk mengurus apartemen ini. Batin Haikal.

__ADS_1


Kaina memilih untuk memasak steak ayam dan juga sup jamur untuk makan siang. Tangannya terlihat begitu lihai dalam mencampurkan semua bahan.


Haikal mengernyit, ia sudah siap untuk menekan alat pemadam api itu, siaga jika Kaina menghancurkan dapurnya.


Ia berdiri di samping meja makan sambil mengawasi gerak gerik Kaina.


Namun gadis itu tidak terlihat kesulitan dalam memasak. Hingga empat puluh menit berlalu, dua hidangan sudah siap di masak oleh Istri cantiknya.


"Hah, akhirnya selesai," ucap Kaina tersenyum manis ketika selesai meletakkan dua mangkok sup di atas meja makan.


"Apa kau sudah menyicipinya?" tanya Haikal mengernyit.


"Belum, tapi saya jamin ini akan enak, Tuan. Silahkan dimakan!" ucap Kaina tersenyum.


"Kau duduk dan coba dulu semua hidangan ini! Tukar piring saya dengan punya kamu," ucap Haikal.


Kaina mengernyit, namun ia mengikuti apa yang diperintahkan oleh Haikal. Ia menukar porsi besar milik sang suami dengan porsi kecil miliknya.


Ia duduk dan segera menyantap steak ayam dan sup jamur yang sudah ia masak.


"Ayo makan, Tuan. Tidak ada racun dan, saya rasa ini sudah pas," ucap Kaina tersenyum.


Haikal dengan ragu mencoba masakan itu.


Hap!


"Bagaimana, Tuan?" Tanya Kaina tersenyum.


"Biasa saja!" ucap Haikal kembali memakan masakan itu.


"Saya anggap itu pujian, Setidaknya masakan saya tidak mengecewakan," ucap Kaina tersenyum dengan wajah yang merona.


Hingga semua hidangan tandas tanpa tersisa. Bahkan Haikal sampai menyeruput kuah sup jamur hingga tetes terakhir.


Kaina tersenyum puas. Ia tau, jika pria tampan ini memiliki hati yang baik, walaupun kasar dan cenderung tidak memikirkan perasaan orang lain ketika berbicara.


"Apa kau kelelahan?" tanya Haikal sebelum beranjak dari meja makan.


"Sedikit, Tuan. Tapi tidak apa," ucap Kaina tersenyum.


"Jangan memaksakan diri! Setelah ini saya akan pergi keluar. Kau jangan keluyuran kemana-mana. Selangkah saja kau keluar dari pintu, saham yang saya tanam di perusahaan ayah kau, akan saya tarik tanpa tersisa!" ucap Haikal tegas.


Kaina mengangguk takut ketika Haikal sudah mengancam keluarganya. Entah seperti apa murka sang ayah ketika ia membuat tuan muda ini mencabut kembali sahamnya dan perusahaan itu menjadi bangkrut.


Padahal aku ingin pergi ke makam bunda. Sudah satu minggu aku tidak ke sana. Batin Kaina sedih.


"Saya tunggu di ruang tamu sebentar. Ada hal yang harus saya katakan!" ucap Haikal.

__ADS_1


Kaina mengangguk dan segera mengekori Haikal. Ia menatap punggung besar itu dengan pikiran yang penuh dengan harapan.


Semoga suatu hari nanti, punggung itu bisa menjadi tempat aku bersandar walaupun hanya sebentar saja. Batin Kaina.


Haikal terlihat membawa sebuah map, dan menyerahkannya kepada Kaina.


"Itu adalah daftar pekerjaan apa saja yang harus kau lakukan selama menjadi istriku. Baca dengan seksama dan jangan sampai ada yang tertinggal," ucap Haikal.


Kaina menerima map itu dan melihat apa yang tertulis didalamnya.


Apa tuan muda ini gila? Lima ratus poin yang harus aku kerjakan dalam satu minggu? Yang benar saja!. Batin Kaina mengernyit.


"Kau masih kuliah, 'kan?" tanya Haikal.


"Iya, Tuan," ucap Kaina mengangguk.


"Kau bebas melakukan kegiatan di kampus, dengan catatan pulang sesuai jadwal dan jangan terlambat sedetik pun. 1 menit terlambat, akan saya tarik saham sebanyak 100 juta dari perusahaan ayahmu!" ucap Haikal tegas.


"Baik, Tuan," ucap Kaina mengangguk.


"Yang paling utama, jangan sampai ada yang tau jika kita sudah menikah!" ucap Haikal tegas.


"Baik, Tuan," ucap Kaina pasrah.


"Itu saja, karena masakan kau masih bisa di makan. Tambahkan itu di poin 501, untuk menunya nanti akan saya pikirkan," ucap Haikal.


"Baik, Tuan," ucap Kaina mengangguk.


"Apa kau tidak suka?" tanya Haikal mengernyit.


Kaina tersenyum menatap Haikal. "Suka tidak suka harus tetap dijalankan," ucapnya.


"Pintar!" ucap Haikal pergi meninggalkan Kaina sendiri di sana.


Ya Tuhan, ini apa lagi? Begitu banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. Batin Kaina.


Ia membaca semua itu dengan seksama tanpa terlewatkan.


Apa ini? Memberi kecupan sebelum berangkat kerja. Memakaikan baju dan dasi sebelum pergi ke kantor, memakaikan sepatu, mengantarkan suami hingga pintu. Batin Kaina membaca poin-poin itu.


Menggosok, mencuci, okey. Memandikan setiap pulang kerja, Astaga, apa ini serius? Tuan muda ini gila!. Batinnya terkejut.


Ia kembali membaca poin-poin itu sambil mengernyit bingung.


Apa lagi ini? Mengucapkan 'selamat malam, Sayang' setiap malam sebelum tidur. Setelah tinggal tinggal di rumah utama harus tidur satu ranjang. Aku bisa gila jika harus melakukan ini semua, huaa. Batin Kaina menjerit.


Bulu kuduknya terasa berdiri dan merinding ketika membayangkan ia melakukan semua pekerjaan itu tanpa tertinggal satupun.

__ADS_1


Bukan penyakit yang akan membunuhku, tetapi semua pekerjaan ini. Batinnya pasrah.


__ADS_2