Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Keberanian Kaina


__ADS_3

Kaina mulai mengerjakan tugasnya. Memakaikan baju untuk Haikal dan menyiapkan segala keperluan pria tampan itu.


Berulang kali Kaina menelan ludah dengan kasar ketika melihat lekukan tubuh Haikal yang begitu menggoda untuk di sentuh.


"Kenapa? Apa kau ingin menyentuhnya?" tanya Haikal tersenyum licik.


Kaina mengangkat kepala dan tersenyum manis kepada Haikal. "Badan Tuan sangat bagus," ucapnya.


Haikal tertegun ketika melihat senyuman yang begitu manis dan juga menambah kecantikan gadis kecil itu.


"Sudah biar saya saja! Tolong ambilkan sepatu saya yang warna biru!" ucap Haikal salah tingkah.


Kaina mengernyit, namun ia hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh Haikal. Dengan telaten mengurus sang suami dengan atau tanpa kontrak perjanjian.


"Malam ini tidak usah menungguku! Tidur lebih awal dan bangun lebih pagi!" ucap Haikal ketika Kaina selesai memasangkan sepatunya.


"Baik, Tuan. Apa mau saya lebihkan untuk makan malam?" tanya Kaina.


"Tidak, masak untuk kau sendiri saja!" ucap Haikal melangkah pergi keluar dari apartemen.


Kaina masih mengekori suami tampannya sembari berpikir apa yang harus ia lakukan setelah ini.


"Apa kau belum menghafal poin-poin itu?" Tanya Haikal masih berdiri di depan pintu sambil melihat jam tangan.


"Hmm, selamat bekerja, Tuan muda. Jangan lupa makan malam dan kembali lebih awal," ucap Kaina tersenyum canggung.


"Ck, kau hafal lagi itu sebelum tidur!" ucap Haikal menyentil kening Kaina.


"Baiklah, Tuan! Hati-hati di jalan!," ucap Kaina cemberut.


Haikal mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan Kaina yang masih menatap dirinya hingga menghilang di balik pintu Lift.


Gadis cantik itu menghela nafasnya, pekerjaan yang diberikan oleh Haikal terasa berat ketika harus berhubungan langsung dengan pria tampan itu.


Jika hanya untuk mengerjakan pekerjaan rumah, itu tidak akan sulit baginya. Bahkan Apartemen yang ia tempati tidak sebesar rumah kediaman Leo yang begitu besar.


"Sepertinya tidak ada yang harus aku kerjakan. Semuanya sudah selesai, mungkin aku harus beristirahat untuk mengumpulkan tenaga lebih banyak untuk menghadapi tuan muda yang gila itu!" ucap Kaina menghela nafasnya.

__ADS_1


Ia memilih untuk masuk ke dalam kamar dan tertidur. Namun dering ponsel menganggu waktu istirahatnya.


"Ayah? Apa ini ibu lagi yang menelfon, menanyakan uang yang tadi pagi?" ucap Kaina mengernyit.


Ia merasa enggan untuk mengangkat panggilan itu dan mengabaikannya. Namun ponsel itu tidak kunjung berhenti berbunyi. Hingga akhirnya ia pasrah dan mengalah, mengangkat telepon itu dan mendengarkan ocehan sang ibu tiri.


"Mana uangnya? Ibu butuh sekarang! Kau ini sudah menikah dengan CEO kaya, tapi tidak mau memberikan ibu uang sedikitpun!" bentak Sisca.


"Bu, Suamiku belum pulang! Bagaimana bisa aku memintanya, nanti malah menganggu dan membatalkan kerja sama yang sedang dilakukan oleh Mas Haikal!" ucap Kaina malas.


Ck, ga usah banyak berharap, Bu! Makan di sini saja aku yang bayar sendiri. Kenapa ibu begitu yakin jika Tuan Muda mau memberikan uang sebanyak itu. batin Kaina.


"Alasan kau saja! Cepat mintakan ibu uang kepada suamimu, atau ibu laporkan ini kepada ayah!" ucap Sisca tegas.


"Ibu, aku tidak bisa meminta uang sebanyak itu! Jika ibu mau, ibu bisa memintanya sendiri!" ucap Kaina tak kalah tegas.


Kini ia mulai memberanikan diri untuk berhadapan dengan siapapun, sebab ia yakin jika posisinya sebagai istri Haikal dapat membantu, walaupun tidak banyak.


"Kau sudah berani membantahku? Kaina kau lupa jika aku telah membesarkanmu hingga sekarang?" bentak Sisca.


"Aku besar dengan diriku sendiri! Bahkan ayah yang memberikan aku uang, bukan ibu! Lagian perusahaan yang dikelola ayah itu milik bunda, semua rumah dan fasilitas yang ibu pakai itu milik bunda! Jadi jangan berpikir jika ibu yang membesarkanku!" ucap Kaina semakin berani.


"Bunuhlah kalau ibu berani! Sudah lima belas tahun ibu mengancamku seperti itu! Jika ibu mau membunuh ayah, silahkan! Jika itu terjadi, aku tidak akan tinggal diam dan memastikan kalian akan hidup menjadi gelandangan!" Bentak Kaina dan mematikan panggilannya.


Jantungnya mulai terasa sakit mengingat ia begitu berani menantang sang ibu untuk membunuh ayahnya.


Ancaman itu yang membuat Kaina sangat takut untuk membantah sang ibu. Sebab, pernah sekali, ibu tiri itu membuat sang ayah terbaring sakit, hanya untuk mengancamnya.


Walaupun aku tidak tau apa yang akan dilakukan oleh ibu. Setidaknya aku bisa memohon kepada tuan muda untuk membantu ayah. Bagaimanapun juga, hanya dia yang aku punya walaupun dia tega menukarkanku hanya demi saham perusahaan. Batin Kaina.


Dadanya terasa sangat sakit. Beruntung ada obat yang diberikan oleh Rasya sebelum keluar dari rumah sakit.


Ia segera meminum obat itu dan mencoba untuk mengendalikan diri. Walaupun rasa khawatir tetap memenuhi relung hatinya.


Semoga ibu tidak benar-benar ingin membunuh ayah. Bunda, lindungi ayah dari sana ya. Batin Kain dengan air mata yang menetes.


Ia terlelap setelah jantungnya terasa sedikit reda. Wajah pucat dan mata sembab tak menghilangkan kecantikan yang terpancar dari gadis itu.

__ADS_1


Tanpa ia tau, jika Haikal mendengarkan perbincangannya dengan sang ibu. Pria tampan itu merasa geram dengan tingkah sang ibu mertua sambungnya.


"Along, beri peringatan kepada mereka, untuk tidak mengganggu gadis itu. Atau tarik sebagian saham di perusahaan mereka!" ucap Haikal tegas.


"Baik, Tuan!" ucap Along yang ikut merasa geram.


Haikal memilih untuk melihat Kaina melalui kamera cctv. Namun ia melupakan jika didalam kamar Kaina tidak terdapat satupun kamera pengawas yang ia pasang.


"Besok pasang cctv di dalam kamar gadis itu, Long!" ucap Haikal kesal.


"Baik, Tuan!" ucap Along mengernyit.


Ia masih mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju kantor untuk melakukan meeting dengan beberapa investor dari luar negeri.


"Hmm, Tuan. Nyonya besar meminta anda untuk pulang dan membawa Nyonya Kaina ke rumah utama," ucap Along.


"Minggu depan persiapkan semuanya!" ucap Haikal.


"Baik, Tuan!" ucap Along sambil mengangguk.


Tak lama, mobil berhenti di lobby perusahaan milik Haikal. Mereka segera turun dan menuju ruang meeting. Berharap bisa menjalin hubungan bisnis yang akan sangat menguntungkan nantinya.


Sementara di kediaman Leo, Sisca mengerang kesal dengan sikap Kaina yang mulai membantah dirinya. Ia sudah begitu sulit untuk meminjam ponsel sang suami, namun hanya penolakan yang ia dapat.


Anak sialan! Lihat saja kau nanti. Kau menantangku, akan aku berikan!. Batin Sisca kesal.


"Ibu kenapa?" tanya Leo mengernyit.


"Ini, putrimu. Aku suruh pulang malah mengataiku!" ucap Sisca mengadu.


"Mengatai seperti apa? Putriku tidak pernah berkata kasar kepada orang lain!" ucap Leo mengernyit.


"Ck, kamu saja yang tidak tau, Yah! Kaina sering berkata kasar kepadaku," ucap Sisca semakin kesal.


"Sudah, jangan ganggu dia lagi. Jangan sampai membuat kesalahan atau kita akan menjadi miskin, walaupun Kaina tidak melakukan apapun!" ucap Leo menggeleng.


Sisca semakin kesal dengan sikap sangat suami yang mulai membela Kaina.

__ADS_1


Lihat saja, apa yang bisa aku lakukan kepada kalian!. Batin Sisca penuh dendam.


__ADS_2