Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Semi Bulan Madu


__ADS_3

Haikal terlelap sambil memeluk Kaina. Terkadang ia menjadi bingung dengan sikap sang suami.


Namun kini ia merasa nyaman, berada di dalam pelukan Haikal. Kaina masih mengelus tangan pria tampan itu dengan lembut, namun pikirannya menerawang.


Ia berfikir jauh ke depan, memikirkan nasibnya jika benar nanti ia jatuh cinta kepada Haikal, atau mungkin sudah.


Entahlah, yang jelas sekarang aku hanya perlu menjalankan semua aturan yang diberikan oleh tuan muda, hingga perusahaan ayah kembali stabil. Batinnya.


Hingga beberapa saat berlalu, Haikal tersentak dan membuka mata. Ia terkejut ketika melihat dirinya tengah memeluk Kaina dan merasakan usapan tangan kecil itu.


"Kenapa kau belum bersiap?" tanya Haikal salah tingkah.


"Saya takut mengganggu tidur anda, Sayang!" ucap Kaina tersenyum.


"Ck, cepat bersiap. Jangan lupa sediakan bajuku juga!" ucap Haikal melepas pelukannya.


"Baiklah," ucap Kaina yang segera berdiri dan mengikuti apa yang dikatakan oleh sang suami.


Bisa-bisanya aku terlelap hanya karena memeluk gadis itu!. Batin Haikal mengutuki diri.


Jantungnya berdebar dengan wajah yang terasa menghangat, mengingat usapan Kaina dan panggilan sayang yang keluar dari mulut gadis itu, seolah terasa tengah membelai hatinya.


Ia segera menyusul Kaina dan berganti pakaian. Mereka segera pergi dari villa itu menggunakan mobil, berkeliling kampung menikmati udara sejuk yang sudah jarang di rasakan jika tengah berada di kota.


"Kita akan kemana, Sayang?" tanya Kaina antusias.


Sudah lama sekali ia tidak pergi liburan seperti ini. Bahkan liburan keluarga pun ia tidak diperbolehkan untuk ikut. Pasti ada saja alasan agar ia tetap tinggal di rumah.


"Kau lihat saja nanti!" ucap Haikal tersenyum sambil menjalankan mobil.


Ah, kenapa dia begitu mengemaskan? Memang gadis yang polos. Batinnya.


Mobil terus melaju, ditemani oleh hamparan sawah dan juga beberapa pondok membuat suasana terasa begitu tenang dan damai.


Haikal membuka atap mobil agar Kaina bebas bergerak sesuka hatinya.


"Berdiri dan rentangkan tanganmu!" ucap Haikal tersenyum.


Kaina mengangguk, ia berdiri dan mulai merentangkan tangan ketika pria tampan itu memperlambat laju mobil.


"Waah, ini seru!" ucap Kaina dengan wajah bahagia yang tidak bisa lagi di sembunyikan.


Dia terlihat sangat mengemaskan! Aku ingin mengecup bibir mungilnya. Batin Haikal berusaha untuk menahan diri.

__ADS_1


Ia hanya mengajak Kaina berkeliling desa itu dengan pelan, memastikan jika sang istri bisa aman dalam setiap geraknya.


Hingga Kaina lelah dan memilih untuk duduk. Mereka tersenyum satu sama lain, karena merasakan kebahagiaan yang berbeda dalam perasaan masing-masing


Haikal mengajak Kaina untuk duduk di sebuah taman yang berada di dataran tinggi. Seluruh Desa bisa terlihat dari sini, dan berhasil memanjakan mata gadis cantik itu.


"Apa kau senang?" tanya Haikal sambil mengusap kepala gadis itu.


Kaina mengangguk dan tersenyum manis. "Sudah lama aku tidak merasakan hal seperti ini. Terima kasih, Sayang," ucapnya yang berhasil membuat telinga Haikal memerah.


Pria tampan itu menahan diri untuk tidak salah tingkah. Ia mengangguk dan menarik Kaina ke dalam pelukannya.


"Apa kau lapar?" tanya Haikal sambil mengecup kepala Kaina beberapa kali.


"Belum, Sayang. Apa anda lapar?" tanya Kaina merasa begitu nyaman.


Haikal tidak menjawab, ia masih mengecup kepala Kaina semaunya dia. Bahkan sampai membuat gadis itu bingung dengan apa yang dilakukan oleh Haikal. Namun ia hanya terdiam agar tidak merusak suasana.


Mereka hanya terdiam menikmati pemandangan indah yang sedang memanjakan mata. Sejuk dan juga segar membuat Kaina menempelkan tubuhnya kepada Haikal.


"Dingin?" tanya pria tampan itu.


"Iya, tapi udaranya segar," ucap Kaina tersenyum.


Dia seperti masih menjaga jarak dan takut jika aku kembali mengajaknya bermain. Ck, padahal kamu terlena dalam setiap sentuhanku! Aku terlihat seperti om-om yang sedang meengincar anak kecil!. Batin Haikal sambil menggeleng.


"Ayo kita pulang!" ucap Haikal tiba-tiba.


"Apa anda ada keperluan?" tanya Kaina.


Haikal mengangguk dan menggandeng tangan Kaina menuju mobil. "Kita akan segera kembali ke villa, bersiaplah untuk berbulan madu yang sebenarnya!" ucap pria tampan itu mengedipkan mata.


Kaina tersentak dengan mata yang melotot. Bayangan bagaimana Haikal menggagahinya terlintas begitu jelas. Pasti, pria tampan ini tidak akan melepaskannya hingga ia puas.


"Hmm, Sayang? Aku mau cari cemilan dulu," ucap Kaina mencari cara agar mereka tidak kembali ke villa.


Haikal tersenyum tipis dan mengangguk. Silahkan bersenang-senang gadis kecil. Aku tau jika itu hanya alibi saja. Setelah ini, kau tidak akan aku lepaskan!. Batinnya.


Mereka kembali menaiki mobil. Sepanjang jalan tidak ada satupun warung terlihat di sana. Haikal semakin tersenyum senang karena keinginannya sebentar lagi akan terlaksana.


Berbeda dengan Kaina, jantungnya mulai berdetak kencang mengiringi laju mobil. Ia berharap masih ada satu warung yang bisa mereka singgahi untuk mengulur waktu.


"Tidak ada yang berjualan di sini. Lebih baik kita pulang saja. Along membeli banyak cemilan kemarin!" ucap Haikal menatap Kaina sambil menjilat bibirnya.

__ADS_1


Kaina meremang melihat tatapan Haikal. Ia hanya bisa pasrah dan mengangguk karena tidak bisa menolak apa yang diinginkan oleh sang suami.


Haikal menambah laju kecepatan mobilnya. Ia semakin tidak sabar untuk bermain dengan sang istri. Sungguh, kini Kaina seolah sush menjadi candu yang membuatnya ketagihan dan sulit untuk berhenti.


Hingga mobil tiba di depan Villa. Kaina menghela nafas berkali-kali ketika melihat Haikal tersenyum mesum ke arahnya.


"Anda terlihat seperti om-om yang sedang menculik seorang gadis," ucap Kaina lirih.


Haikal tersentak, ia menatap Kaina dengan rasa tidak percaya jika wanita cantik itu mengatakan hal yang tadi sempat ia pikirkan.


"Karena gadis kecil lebih menggoda!" ucap Haikal keluar dari mobil.


Ia segera menggendong Kaina menuju ke kamar mereka. Dengan rasa tidak sabar, Haikal sedikit menghempaskan Kaina di atas kasur dan membuka bajunya.


gadis cantik itu melotot melihat Haikal yang sudah seperti orang kesetanan. Ia tercekat dan kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri.


"Sa-sayang, tunggu!" ucap Kaina ketika Haikal mulai menindih dan mengecup lehernya.


"Hmm, Saya sudah membiarkan kau beristirahat. Jadi, sekarang saatnya jadi istri yang berbakti!" ucap Haikal tersenyum manis dan menatap Kaina dengan haasrat yang membara.


Ia kembali mencumbu Kaina dan membuat gadis itu mengeluarkan suara-suara kecil yang membuat Haikal semakin bersemangat.


"Sayanghhh...," ucap Kaina ketika ia merasakan sesuatu yang mulai mengalir dan membuat ia menggelinjang.


Haikal tersenyum dan menatap Kaina yang tengah memejamkan mata. "Siap, Sayang?" tanya pria tampan itu sembari mengangkat dress Kaina.


"Pelan!" ucapnya dengan suara lirih dan terdengar begitu menggoda.


Haikal mencumbu Kaina dengan perlahan. Haasratnya yang tengah membara, membuat gerakan Haikal tidak terkontrol. Ia terus bergerak di atas Kaina dan membuat gadis itu menggelinjang kembali.


Haikal tidak hentinya membuat gadis itu melayang dan mencapai puncak kenikmatan. Ia hanya ingin, suatu hari nanti Kaina akan menyerahkan dirinya tanpa paksaan dan juga perintah.


Mereka bermain di siang hari tanpa kenal lelah. Hanya ada suara desahaan yang memenuhi ruangan itu.


Hingga erangan panjang terdengar keluar dari mulut Haikal. Pria tampan itu kembali menumpahkan benih cintanya di dalam rahim Kaina.


"Jangan tidur dulu! Aku ingin lagi!" ucap Haikal dengan nafas yang menderu.


"Bisakah anumu di kecilkan sedikit?" cicit Kaina.


"Haha, kau harusnya merasa beruntung, gadis kecil!" ucap Haikal kembali menyerang Kaina.


Tidak ada penolakan, bahkan sekarang Kaina sudah sedikit berani untuk membalas pergerakan Haikal, walaupun dengan sedikit paksaan.

__ADS_1


Semoga kamu bisa hamil, Sayang. Dengan ini, aku semakin mudah untuk mengikatmu!. Batin Haikal tersenyum.


__ADS_2