Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Jangan paksa aku, Mom!


__ADS_3

"Ayah ingin pensiun dan menyerahkan perusahaan kepada kamu. Ayah merasa kematian sangat dekat setelah mendengar ucapan ibumu," ucap Leo lirih.


"Ayah tinggal sama Nana aja, ya! Ayah belum menepati janji untuk menggantikan semua waktu untuk Nana," ucap Kaina sendu.


Leo mengangguk. "Ayah harus menyelesaikan semua pekerjaan terlebih dahulu. Ayah juga harus mempersiapkan bekal untuk adek-adekmu nanti," ucapnya tersenyum.


"Apa ayah tidak memiliki usaha lain untuk mereka. Aku gak masalah kalau sahamku dibagi untuk Selena dan Bobi," ucap Kaina.


"Ada, ayah sudah menyiapkan itu semua. Ayah masih memiliki 20 persen saham untuk adik-adikmu. Itu sudah bisa menghidupi mereka tanpa harus bekerja," ucap Leo.


Kaina hanya terdiam dan mengangguk. Ia tidak bisa menghalangi sang ayah untuk mempertahankan rumah tangganya. Walaupun itu bukanlah hal yang ia inginkan.


Sementara Haikal hanya terdiam sedari tadi. Ia memikirkan sesuatu yang sangat dibutuhkan saat ini. Jika Mbok dan juga Leo harus tinggal bersama, mereka tidak mungkin bisa menetap di sini karena jumlah kamar yang terbatas.


Ia menghubungi along dan meminta untuk mencarikan sebuah rumah yang mewah dan besar untuk mereka tinggali. Sungguh Kaina memang menjadi tujuan utamanya saat ini.


Di sela-sela perbincangan mereka, Haikal berjalan ke arah kamar karena sang ibu tengah menelfonnya.


"Apa kamu sudah menyiapkan semuanya?" tanya Muzi dari bali telepon.


"Sudah, Mom. Aku sudah mulai menyiapkannya," ucap Haikal lirih dan pura-pura merasa keberatan.


"Bagus kalau begitu. Mom tidak akan meminta kamu untuk berpisah dari dia, tapi mom harap kamu mau memenuhi permintaan mom kali ini," ucap Muzi senang.


Sebenarnya, jika status sosial yang mom cari, Kaina bahkan lebih dari gadis di luar sana. Mereka bahkan Mommy akan malu nanti, jika mengetahui siapa Kaina sebenarnya. Batin Haikal.


"Mom hanya ingin menantu yang memiliki sosial yang tinggi, kan? Aku akan mengabulkannya, tapi jangan paksa aku untuk menghamili calon menantu yang akan mom pilih untukku, karena aku sudah memiliki Kaina," ucap Haikal.


"Tidak, Mom tidak akan memaksamu lagi. Asalkan Mommy memiliki menantu yang setara dengan kita," ucap Muzi tersenyum.


"Baiklah, Mom. Ah iya, aku beberapa hari yang lalu sudah melakukan USG kandungan Kaina. Mereka sehat dan sudah terlihat bentuk wajahnya," ucap Haikal memancing.


Muzi terdiam, sedikit ia merasa tertarik dengan cerita Haikal tentang calon cucu dari menantu yang tidak ia inginkan.


"Ya, baguslah. Mom akan pulang seminggu sebelum acara pernikahan kalian," ucap Muzi.

__ADS_1


"Aku tidak sabar melihat anak-anak nanti, pasti mereka akan tampan seperti aku dan cantik seperti Kaina. Ah, aku berharap mereka kembar sepasang," ucap Haikal berbinar.


Dalam hati, Muzi mengaminkan ucapan Haikal. "Hmm, persiapkan dengan baik, Mas. Mommy tidak ingin ada kesalahan sedikit pun dalam acara pernikahan kalian nanti," ucapnya.


"Iya, Mom. Aku mau mengelus perut Kaina dulu, tadi anak-anak sudah mulai bergerak," ucap Haikal sengaja mengatakan hal itu agar Muzi tertarik.


Karena ia tau, jika sang ibu memang sudah sangat menginginkan cucu. Makanya ia sengaja mengatakan hal seperti itu agar Muzi tertarik dengan cucunya dan juga Kaina walaupun secara perlahan.


Muzi dengan segera mematikan sambungan telepon, karena ia ingin menghubungi Mending yang juga berada di apartemen.


Maaf, Mom. Aku bukan anak kecil yang bisa mom atur dengan kehendakmu yang menurutku tidak benar. Batin Haikal menghela napas.


"Sayang?" panggil Kaina yang sudah berdiri di belakang Haikal sedari tadi.


Pria tampan itu terlonjak kaget, ia tidak menyangka jika Kaina berdiri di belakangnya tanpa bersuara.


"Ayah mau pamit," tanya Kaina lirih dan menunduk dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ah, cepat banget ayah pulang," ucap Haikal mengusap kepala Kaina dan mengangkat dagu sang istri.


"Jangan berpikiran aneh-aneh, Sayang!" ucap Haikal tersenyum.


"Kamu beneran mau nikah lagi?" tanya Kaina tercekat.


"Iya, aku bakalan nikah lagi. Boleh gak, kalau aku punya istri baru?" tanya Haikal tersenyum jahil.


Deg!


Kaina terdiam dan tidak bisa menjawab pertanyaan Haikal. Ia merasa begitu kecewa dengan sang suami yang dengan mudahnya untuk berkata seperti itu.


"Tidak apa, tapi anak-anak untuk aku keduanya. Kamu tidak boleh ambil mereka. Pastinya, aku akan minta cerai dari kamu!" ucap Kaina lirih dan melepas pelukan Haikal.


Pria tampan itu melotot kaget dengan ucapan Kaina. Ia tidak menyangka jika gadis kecilnya akan berkata seperti itu.


"Kenapa? Kalau kamu mau nikah lagi, silahkan. Aku nanti bisa cari suami baru juga," ucap Kaina dengan air mata yang semakin menggenang.

__ADS_1


"Aku bercanda, Sayang! Jangan ngomong gitu lagi, aku gak suka!" ucap Haikal mengernyit.


Kaina hanya diam dan menunduk, rasa sedih itu menyeruak keluar dan membuat air matanya mulai menetes.


"Sayang, kan kemarin aku sudah jelaskan. Ini permintaan Mommy, jadi aku harus menurutinya!" ucap Haikal mengangkat dagu Kaina dan mengusap air mata yang menetes di pipi wanita cantik itu.


"Tapi kamu selalu ngomong seperti itu. Sama saja kamu bohong sama Mommy. Nanti malah aku yang dibilang menghasut kamu," ucap Kaina terisak.


"Tidak. Kamu nanti ikuti saja rencana aku. Sekarang, jangan menangis lagi ya. Nanti, cantiknya Bunda hilang loh!" ucap Haikal tersenyum.


"Kamu jangan bikin aku kesal dan kepikiran, bahaya untuk anak-anak. Gimana nanti aku lahiran di sini?" ucap Kaina memukul dada Haikal dengan sedikit keras.


Pria tampan itu meringis. Semakin ke sini, Kaina mulai menunjukkan taringnya. Ia bukan gadis kecil yang lemah seperti awal pernikahan dulu. Bahkan kini Haikal tidak berani bertindak sembarangan kepada Kaina.


"Baiklah, maafkan aku, Sayang!" ucap Haikal cemberut.


"Iya, jangan seperti itu lagi! Ayo keluar! Ayah tadi mau pamit pergi," ucap Kaina.


"Jangan nangis, biarkan Mommy menerima kamu apa adanya. Nanti aku pikirkan caranya, ya!" ucap Haikal tersenyum sambil mengusap Kepala Kaina dengan gemas.


Kaina mengangguk dan menarik tangan Haikal keluar. Walaupun masih ada rasa kesal di hatinya, namun ia tidak bisa berbuat banyak.


"Ayah, kenapa buru-buru?" tanya Haikal ketika berada di hadapan sang mertua.


"Ah, ayah masih ada urusan. Nanti, kalau sudah selesai, ayah mampir lagi!" ucap Leo tersenyum.


"Hati-hati, Yah. Nanti kabari aku!" ucap Kaina tersenyum dan memeluk sang ayah dengan manja.


"Iya, Nak! Sehat terus ya, sayang!" ucap Leo mengecup kening Kaina.


Ibu hamil itu mengangguk dan tersenyum. Ia mengantarkan sang ayah keluar dari apartemen.


Semakin hari, ia merasa semakin bahagia, walaupun terkadang merasa tidak nyaman karena efek kehamilan, namun itu semua tertutupi karena rasa senang yang ia rasakan setiap hari.


Kaina melihat Haikal yang begitu sibuk dengan ponselnya, memilih untuk mengacuhkan sang suami sambil mengobrol dengan si Mbok.

__ADS_1


Haikal memilih untuk masuk ke dalam ruang kerjanya karena mendapatkan kabar dari Along tentang pergerakan Sisca, Filda dan sang ibunda.


__ADS_2