Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Selena, tenanglah!


__ADS_3

Selena terdiam setelah Sisca memegang tangan gadis itu. Mereka sudah kehilangan banyak hal, jangan sampai Leo menghentikan semuanya saat ini juga.


Bobi hanya terdiam dengan wajah yang dingin dan datar. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun dan memilih untuk masuk ke dalam.


Walaupun merasa begitu marah dan kecewa, namun Leo sudah menjelaskan apa yang bisa mereka miliki setelah ini. Dia hanya bisa mengelola apa yang masih tersisa tanpa banyak berbicara.


Setelah mereka memasukkan barang-barang. Leo meminta anak dan mantan istrinya untuk berkumpul di ruang tengah agar bisa membagi harta yang masih tersisa.


"Sekarang, ini tempat tinggal baru kalian. Bagaimanapun juga, kalian tetap anak ayah. Jadi sekarang, jangan ganggu kakak lagi atau kita akan kehilangan semuanya!" ucap Leo.


Mereka hanya terdiam mendengar apa yang akan dikatakan oleh Leo.


"Hanya ada beberapa aset yang bisa ayah bagi untuk kalian. Jangan perdebatkan apa pun lagi setelah ini. Tolong di jaga, jika kalian menginginkan lebih, pandai-pandai lah mengurus dan mengembangkannya nanti!" ucap Leo.


Ia mengeluarkan beberapa berkas yang sudah ia bawa bersama dengan pengacaranya.


"Ayah sudah berusaha untuk membaginya dengan adil. Jadi, jika kalian ingin lebih, silakan berusaha sendiri dan kembangkan apa yang sudah ayah berikan. Jika kalian hanya mengikuti ego, hanya ada kehancuran yang akan kalian dapatkan. Tolong dengarkan ayah, jangan ganggu kakak kalian lagi!" ucap Leo tegas.


Selena dan Sisca mendelik ketika mendengar ucapan Leo. Mereka mengambil surat-surat itu dan membaca dengan teliti bagaimana pembagian harta yang akan mereka dapat.


"Mas, aku hanya dapat segini dari semuanya?" pekik Sisca tidak terima.


"Itu sudah lebih dari cukup, lagian rumah ini juga sudah menjadi milikmu. Jika kamu tidak mau menerima, hari ini juga saya akan mengambil semuanya!" ucap Leo tegas.


Sisca menatap tajam mantan suaminya itu. "Aku akan menuntut harta gono gini ketika persidangan nanti!" ucapnya.


"Silahkan! Tapi jangan salahkan saya, jika kamu tidak mendapatkan sepersen pun nanti setelah persidangan!" ucap Leo tegas.


"Sudah Ayah! Ibu! Apa kalian tidak malu bertengkar di depan kami terus?" ucap Bobi tegas.


Semua orang terdiam, Bobi menghela napas dalam setelah membaca semua isi dokumen itu.


"Ayah yakin, hanya ini yang kami dapatkan? Mana bagian dia? apa ayah sembunyikan dan dia mendapat lebih banyak?" tanya Bobi.


"Tidak ada nama Kaina di dalam pembagian harta ayah. Karena dia sendiri yang meminta untuk membagikan haknya kepada kalian," ucap Leo.


"Aku tidak percaya!" ucap Selena.


"Terserah kalian percaya atau tidak. Harta ayah ini sudah terdaftar kepada negara, jika kalian tidak percaya silahkan cek sendiri!" ucap Leo tegas.


Mereka semua kembali terdiam dengan suasana yang terasa tegang. Tidak ada senyum dan keramahan di sana.

__ADS_1


"Akan ada dua orang pelayan yang membantu kalian di sini. Ayah pamit dulu, masih ada pekerjaan lain yang harus ayah selesaikan!" ucap Leo berdiri dan pergi dari sana.


Selena menatap tajam sang ayah. Ia merasa tidak adil dengan pembagian ini.


Lihat saja nanti kau anak pembawa sial! Gara-gara kau keluargaku jadi seperti ini!. Batin Selena.


Ia segera masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu. Ia masih merasa tidak terima dengan semua ini. Walaupun apa yang diberikan oleh Leo sangat cukup untuk memenuhi kehidupannya seperti biasa, namun perpisahan orang tuanya sangat tidak ia inginkan.


"Aku membenci kau Kaina!" pekiknya di dalam kamar.


Dengan napas yang naik turun, ia menjabak rambutnya dengan kasar. Selena memukul-mukul bantal dengan keras dan juga mengutuk Kaina setiap detik.


"Anj*ng kau! Aku sumpah kan kau keguguran dan tidak bisa hamil lagi!" pekiknya kembali.


"Selena, kamu kenapa?" panggil Sisca dari luar kamar sambil berusaha untuk membuka pintu.


Ia merasa khawatir dengan keadaan Selena yang terpuruk. Bobi berusaha untuk membuka pintu namun terasa sangat susah, ia juga lupa menanyakan tentang kunci serap kepada sang ayah.


"Kak, kau jangan gila!" teriak Bobi sambil memukul pintu dengan keras.


Selena hanya bisa menutup telinga mendengar suara mereka. "Pergi kalian!" teriaknya.


"Kak, kau jangan gila! Keluarlah! Kita masih belum miskin!" teriak Bobi dari luar.


"Aaarrrggghhh!!" pekik Selena.


Brak!


Prang!


Sura benda berjatuhan mulai terdengar di dalam kamar. Selena menjatuhkan dan membanting barang-barang tanpa rasa sadar. Ia seperti orang kesurupan karena beban mental yang ia terima saat ini, ia belum siap untuk menerima keadaan yang berbanding terbalik secara tiba-tiba.


"Selena, keluarlah!" teriak Sisca panik.


Bobi segera menghubungi Leo dan memintanya untuk kembali. Karena ia tidak tau harus berbuat apa sekarang.


"Aku membencimu Kaina! Aku akan membunuhmu! Kau tidak pantas bahagia setelah menghancurkan keluargaku!" pekik Selena.


Bunyi barang berjatuhan terus terdengar hingga Leo datang dan membuka pintu setelah mengambil kunci serap yang ia bawa.


"Selena!" pekik Leo.

__ADS_1


Ia langsung memeluk Selena dan menghentikan apa yang tengah diperbuat oleh sang putri.


"Tenanglah, Selena!" pekik Leo.


"Lepaskan aku, Ayah! Aku ingin membunuh pembawa sial itu. Gara-gara dia, keluarga kita berantakan seperti ini. Aku ingin membunuhnya!" teriak Selena berusaha lepas dari pelukan Leo.


"Selena, dia bukan orang sembarangan! Dia bukan Kaina yang lemah seperti dulu. Kau harus paham tentang itu!" bentak Leo.


"Persetan, Ayah! Aku tidak peduli dia siapa, aku akan membunuhnya!" pekik Selena.


Leo langsung melepaskan Selena dengan wajah yang dipenuhi oleh amarah. "Pergilah! Pergi jika kau mampu. Tapi, jangan cari ayah jika Haikal berbuat sesuatu kepada kau nanti!" pekiknya dan berhasil membuat Selena terdiam.


"Ayah lebih membela dia dari ada aku? Aku anak ayah, harus ayah mendukungku! Aku benci ayah!" teriaknya.


"Terserah, kau ingin membenci ayah atau tidak. Satu hal yang harus kau pahami, segala sesuatu yang kau miliki sekarang, tidak pernah dimiliki Kaina! Hidup yang layak, kasih sayang orang tua yang lengkap, keluarga dan kau punya status sosial yang bagus. Apa Kaina mendapatkan itu semua? Tapi kau masih saja iri dengan sedikit kebahagiaan yang dia cari sendiri!" ucap Leo membuat mereka terdiam.


"Tapi dia sudah menghancurkan keluargaku! Dia yang iri denganku, bukan aku yang iri!" ucap Selena menatap Leo dengan tegas.


"Kau ingin tau penyebab ayah dan ibu bercerai? Bukan karena Kaina tapi karena ibumu yang ingin membunuh ayah! Kau mau hidup gelandang jika ayah sudah meninggal? Kau memilih hidup terpisah dengan ayah, atau kau tidak bisa melihat ayah selama-lamanya? Apa kau berfikir sampai ke sana?" tanya Leo.


Semua orang terdiam, mendengar ucapan Leo yang begitu masuk akal. Mereka masih menerima fasilitas dari Leo walaupun kini situasinya tidak seperti dulu.


"Kau masih ingin membunuhnya? Pergilah kalau kau mampu! Paling nanti badan kau yang pulang lebih dulu!" ucap Leo.


Selena hanya terdiam tanpa melawan lagi. Namun perasaannya menjadi sangat kalud dan tidak tau harus berbuat apa.


"Bereskan kamar ini lagi. Semua barang-barang ini ayah beli dengan harga yang mahal, sekarang kamu ganti semuanya satu persatu tanpa tertinggal!" ucap Leo tegas dan keluar dari sana.


Ia bergegas pergi dari rumah itu dan menuju ke rumah sakit. Ia mendapat telefon, jika Kaina menginginkan kue kesukaannya.


Selena luruh ke lantai, Sisca langsung menghampiri sang putri dengan perasaan yang bercampur aduk.


Melihat kemarahan dan ancama Leo membuatnya sedikit berpikir untuk berbuat sesuatu.


"Ini semua salah ibu," ucap Sisca lirih.


"Sudahlah, Bu. Jangan memperpanjang masalah. Anggap semuanya habis sampai di sini. Kita sudah terlalu hancur. Ayah benar, jangan ganggu dia lagi, atau kita akan kehilangan semuanya," ucap Bobi dan berlalu dari sana.


Selena termenung dengan air mata yang menetes. Hidupnya sudah hancur saat ini. Ia tidak tau harus berbuat apa lagi, dengan keadaan yang seperti sekarang.


Aku ingin mati saja!. Batinnya

__ADS_1


__ADS_2