
"Siapa yang kau sebut dengan pembawa sial?" ucapnya dengan suara yang begitu berat dan juga tegas.
Semua orang terkejut mendengar suara Haikal yang menggelegar di dalam kamar itu. Kaina yang sedang duduk langsung berdiri dengan jantung yang berdetak semakin kencang.
"Siapa yang kau sebut dengan pembawa sial?" tukas Haikal geram dengan wajah yang dipenuhi amarah.
"Tu-tuan muda, a-anda datang?" ucap Sisca terkejut dan mulai merasa takut.
"Beraninya kau mengatakan itu kepada istriku!" bentak Haikal.
"Tu-tuan, i-itu karena dia...," ucap Sisca terbata.
Leo mencengkram tangan istrinya dan berjalan mendekati Haikal sambil tersenyum canggung. "Tuan muda, selamat datang. Ini hanya salah paham saja," ucapnya.
Pria tampan itu tidak menghiraukan ucapan siapa pun, ia hanya menatap Kaina dengan amarah yang sudah tidak bisa ia tahan. Melihat wajah sang istri yang ketakutan, membuatnya semakin murka.
"Along, siapkan mobil. Kita pulang!" ucap Haikal berdiri dihadapan Kaina.
"Sa-sayang," ucap Ibu hamil itu menggenggam tangan Haikal. "Acaranya belum selesai," sambungnya.
"Apa kamu suka mendengar mereka merendahkanmu seperti ini?" ucap Haikal menahan amarahnya di hadapan Kaina.
"Aku gak papa," ucap Kaina menunduk dan menyembunyikan genangan air matanya.
"Keluarlah kalian semua!" ucap Haikal tegas.
"Tu-tuan," ucap Sisca ketakutan.
"Keluar!" teriak Haikal.
Semua orang bergerak keluar termasuk kang Yono dan Nabila yang ikut menghalau mereka. Menyisakan sepasang suami istri yang masih terdiam itu.
"Sayang, jangan marah. Kamu udah janji," cicit Kaina sambil memegang tangan sang suami.
"Kenapa kamu membiarkan mereka berkata seperti itu? Kenapa kamu takut untuk melawan mereka? Apa kamu lupa kalau ada aku di belakangmu?" ucap Haikal mengeraskan rahangnya.
"Aku hanya tidak ingin membuat masalah. Mereka akan selalu seperti itu, dan akan semakin menjadi jika aku melawan," cicit Kaina.
"Angkat kepalamu, Sayang!" ucap Haikal tegas.
Kaina menghela nafas dan berusaha untuk tersenyum. Ia menatap Haikal dan memeluknya.
__ADS_1
"Aku sudah terbiasa, mereka tidak akan bisa berubah karena sudah berbuat seperti itu dari dulu. Hanya saja, aku merasa sedih karena kamarku sudah dijadikan gudang," adu Kaina sambil memejamkan mata dan bersandar di dada bidang sang suami.
Haikal menggendong Kaina dan membaringkannya di atas ranjang. Ia menatap wajah sang istri sambil menghela nafas.
"Aku tidak suka jika kamu direndahkan seperti itu. Kamu bukan gadis biasa lagi sekarang!" ucap Haikal berusaha untuk lembut dan menggenggam tangan Kaina.
Ibu hamil itu tersenyum dan mengecup punggung tangan Haikal. "Iya, aku hanya tidak ingin menambah masalah. Tapi, aku yakin jika mereka tidak akan berbuat seperti dulu lagi," ucap Kaina sambil tersenyum.
Ia mulai merasa jika Haikal berusaha untuk tenang. Janji untuk tidak marah lagi, sedang dijalankan oleh pria tampan itu.
"Aku merasa ingin mengambil semua sahamku kembali. Apa itu di depan? Mobil sport keluaran terbaru. Apa mereka gila? Perusahaan baru saja stabil, tapi mereka sudah menghambur-hamburkan uang seperti itu!" tukas Haikal kesal.
"Jangan diambil lagi, Sayang. Itu perusahaan milikku. Jika kamu ingin mengambil saham, bisa kamu tolong sekalian ambil perusahaan bunda untukku?" ucap Kaina lirih.
"Tentu! Tentu, Sayang. Apa pun yang kamu minta akan aku kasih!" ucap Haikal dengan raut wajah seriusnya.
"Terima kasih, Sayang. Aku merasa begitu beruntung bisa menjadi istrimu," ucap Kaina tersenyum dengan air mata yang menggenang.
"Jangan seperti itu. Justru aku yang bersyukur bisa mendapatkan istri seperti kamu!" ucap Haikal mengecup bibir Kaina dengan lembut.
"Aku ingin tidur sebentar. Aku merasa sangat lelah," ucap Kaina lirih dengan mata yang sayu.
"Tidurlah!" seru Haikal tersenyum dan mengusap kepala sang istri.
Ia berjalan keluar menuju ruang tamu, di mana semua orang telah berkumpul. Menatap mereka dengan penuh amarah, apa lagi melihat mertuanya.
"Along, cari di mana kamar Kaina! Apa dia mendapatkan tempat yang baik di sini atau tidak!" ucap Haikal tegas.
Semua orang kesulitan menelan ludah, ketika melihat wajah pria arogan itu tepat di hadapan mereka.
"Baik, Tuan!" ucap Along memerintahkan beberapa orang untuk memeriksanya.
"Apa acara ini sudah selesai?" tanya Haikal dengan wajah yang masih tidak bersahabat.
Tidak ada satupun yang berani menjawabnya. "Apa kalian tuli?" bentak Haikal dan membuat mereka mengangguk.
"Silahkan kembali pulang dan tutup mulut kalian tentang hari ini! Jika sampai saya mengetahui ada yang bercerita keluar, lihat apa yang akan saya lakukan!" ucap Haikal tegas.
Mereka segera berhamburan keluar dan menyisakan keluarga kecil Leo yang sudah gemetar takut.
"Apa uang perusahaan begitu banyak sehingga anda bisa membeli mobil itu, Tuan Leo?" tanya Haikal tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Ti-tidak, Tuan. I-itu sudah tabungan saya dari lama," ucap Leo berusaha untuk tersenyum.
"Kau membelikannya karena putri kesayangan kau ini menjadi lulusan terbaik?" ucap Haikal ketus.
"I-iya, Tuan! Itu masih belum lunas," ucap Leo sambil mengusap peluh keringatnya.
"Mana mobil Kaina? Harusnya dia memiliki yang lebih bagus dan lebih mahal dari itu. Karena istriku lulusan terbaik di kota ini, apalagi namanya masuk 10 besar provinsi!" ucap Haikal.
Leo tercekat, ia tidak bisa menjawab ucapan Haikal. Karena pada kenyataannya, Kaina tidak memiliki satupun kendaraan. Bahkan gadis itu tidak bisa mengemudi, walaupun begitu banyak mobil dan motor yang bisa ia pakai.
"Jawab!" bentak Haikal.
"Ma-maaf, Tuan. Kaina tidak memiliki mobil, karena dia tidak bisa membawanya," ucap Leo.
"Pembohong!" cetus Haikal dengan mata yang memerah. "Kalau besok saya masih melihat mobil itu ada di rumah ini, saya hancurkan!" sambungnya tegas.
Selena menggeleng kuat. Ia tidak ingin mobil itu kembali dijual tau semacamnya.
"Tuan, anda tidak ada hak untuk mengatakan hal itu!" ucap Selena sambil berdiri.
"Along, tarik semua saham di perusahaan dan jangan sisakan sepersen pun!" ucap Haikal tegas dan berhasil membuat mereka molot kaget.
"Tu-tuan," ucap Leo gelagapan. "Besok saya pastikan jika mobil itu tidak ada lagi di rumah ini!" sambungnya.
Selena hanya cemberut kesal ketika sang ayah tidak bisa membelanya.
"Kau jangan bermain dengan saya! Perusahaan itu milik Kaina, kan?" ucap Haikal.
Deg!
Mereka terkejut dan terdiam dengan ucapan Haikal yang mengetahui sesuatu yang mereka sembunyikan.
"Kau hidup dari perusahaannya. Itu adalah perusahaan Bunda bertugas saya yang sudah di atas namakan Kaina. Rumah ini juga milik Istriku dan dia hanya mendapatkan kamar 3x4 saja. Apa kalian tidak punya otak, ha?" bentak Haikal.
Untungnya, Kaina berada cukup jauh dari ruang tamu. Haikal berharap, istri kecilnya tidak mendengar semua kata-kata yang ia lontarkan.
"Tuan, itu semua atas permintaan dari Kaina. Kami sudah memberikannya fasilitas dan juga kehidupan yang bagus, tapi dia menolak itu semua!" ucap Sisca.
Prang!!
Haikal melempar gelas yang ada saat di atas meja dan berderai hingga pecahan kecil ketika bertemu dengan lantai.
__ADS_1
"Kau masih berani berbohong juga?" teriak Haikal dengan napas yang sudah tidak teratur.