Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Memulai


__ADS_3

Kaina membeku, ia menatap Haikal dengar rasa takut yang mulai menghampirinya. Bayangan ia akan diperkosa mulai menghantui.


Haikal mengernyit, ia menatap wajah Kaina yang terlihat tegang. Apa yang dipikirkan gadis ini?. Batinnya.


Ia langsung tersenyum ketika mulai menebak arah jalan pikiran Kaina. Ia duduk di tepi brankar dan menatap sang istri dengan mesum sambil menjilat bibirnya.


"Sepertinya kamu sudah tidak sabar untuk melakukannya," ucapan Haikal berbisik.


"Ja-jangan bercanda, Tuan!" ucap Kaina memegang kerah bajunya.


"Ayo kita pulang!" ucap Haikal.


Ia memanggil Rasya dan meminta agar Kaina bisa segera pulang.


"Jangan kau bentak lagi dia! Ingat, aku tidak pernah main-main dengan ucapanku!" ucap Rasya tegas.


Haikal hanya menatap Rasya datar. Ia menggendong Kaina tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Terima kasih, dokter," ucap Kaina tersenyum.


"Sama-sama. Kalau Suami kamu masih seperti tadi, telfon saya saja, nanti saya jemput!" ucap Rasya.


Kaina hanya tersenyum tanpa mengiyakan ucapan Rasya. Ia hanya memeluk Haikal dengan erat agar tidak terjatuh.


"Apa tuan marah karena ucapan Dokter tadi?" Tanya Kaina ketika wajah pria tampan itu terlihat kesal karena ucapan Rasya.


"Hmm! Coba saja kau dekkat-dekat dengan dia!" ucap Haikal tegas.


Kaina hanya terdiam, namun ia mengernyit mendengar suara yang begitu familiar memanggil-manggil dokter.


"Suami saya sudah sadar, Dokter!" ucap Sisca.


Rasya langsung melihat keadaan Leo yang berada di dalam bilik dan tertutupi oleh tirai.


Itu suara Ibu. Apa dia benar-benar membuat ayah sakit?. Batin Kaina khawatir.


"Tuan, saya mendengar suara Ibu," ucap Kaina.


Haikal terdiam sambil mendudukkan Kaina di atas jok mobil. Ia juga ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Kaina. "Jalan!" ucapnya.


"Tuan, bagaimana kalau Ibu mencelakai ayah?" tanya Kaina lirih.


"Ayahmu baik-baik saja, dia hanya kelelahan karena mengurus perusahaan," ucap Haikal.


Ia menarik Kaina agar bisa mendekat. Ia ingin menggoda gadis kecil ini dan membuat wajahnya memerah.

__ADS_1


"Jadi, tadi itu benar jika ayah yang ada di sebelahku?" tanya Kaina menatap Haikal.


"Saya kurang pasti, tapi perkataan ibu-ibu itu sama persis dengan apa yang Ibu tirimu katakan. Di tambah lagi dengan ucapanmu yang mendengar suaranya," ucap Haikal mendelik.


"Apa boleh saya melihatnya sebentar?" tanya Kaina.


"Ck, kau harus istirahat! Jangan sampai nanti ketika bertemu dengan mereka kau jantungan dan masuk ICU!" ucap Haikal kesal.


"Baiklah!" ucap Kaina pasrah.


Ia merasa penasaran, apakah benar sang ayah hanya kelelahan, atau ibu tiri sudah melakukan sesuatu yang berbahaya.


Mobil terus bergerak menuju pulang ke apartemen mewah milik Haikal. Mereka hanya terdiam, namun pria tampan itu terlihat seperti mendapatkan permainan baru, yaitu mengecup kepala Kaina yang begitu wangi.


Hingga mobil berhenti di lobby gedung apartemen. Haikal kembali menggendong Kaina menuju unit yang mereka tinggali.


"Besok saja kita pindah ke rumah utama. Malam ini kau tidur bersamaku!" ucap Haikal sambil membaringkan Kaina di atas ranjang besar miliknya.


Mata Kaina membola, wajah Haikal yang begitu dekat membuat jantungnya bekerja lebih cepat.


Ia tercekat dan kesulitan untuk menelan ludah yang seolah mengalir deras di dalam mulutnya.


"Ayo kita lanjutkan yang tadi," ucap Haikal tersenyum sambil menggigit bibirnya.


"Tu-tuan, sa-saya...,"


Kaina terkejut, ia merasa takut jika Haikal meminta haknya sebagai seorang suami, walaupun mereka hanya sebatas nikah kontrak saja.


"Bernafas dan balas ciumanku!" ucap Haikal ketika melepas pagutannya.


Belum sempat Kaina berucap, Haikal kembali membungkamnya dengan lembut. Pria tampan itu menggenggam tangan Kaina dan memperdalam ciumannya.


Lambat laun, Kaina terbuai dan berusaha untuk membalas ciuman Haikal walaupun masih begitu kaku. Pria tampan itu tersenyum ketika merasakan balasan Kaina, ia semakin bersemangat untuk menjelajahi sang istri.


Tangan nakal Haikal mulai mengusap pinggang Kaina dan bergerilya dengan begitu liar. Ciuman mereka terasa semakin panas dan membakar gairaah keduanya.


Haikal melepas pagutan dan mengecup leher Kaina dengan napsu yang mulai meningkat.


"Nghhh...," lenguh Kaina ketika tangan nakal Haikal mulai menyentuh gundukan gunung kecil miliknya.


"Tu-tuan!" ucap Gadis kecil itu dengan wajah yang sudah sangat merah.


"Aku menginginkannya!" ucap Haikal dengan suara yang terdengar berat.


"Tu-tuan, jangan!" ucap Kaina dengan nafas yang memburu.

__ADS_1


"Kau menolakku?" tanya Haikal kesal.


Kaina hanya terdiam dan menggeleng sambil menahan perasaan aneh yang mulai menjalar di tubuhnya.


"Diam dan nikmati!" ucap Haikal kembali mengecup Kaina dengan lebih panas.


Gadis itu mencoba untuk memberontak, namun Haikal memegang tangan Kaina dengan erat.


Ya Tuhan, apa ini akhir dari hidupku jika tuan muda merenggut mahkotaku hari ini. Bunda, bantu aku hiks. Batinnya tidak bisa melawan.


Haikal melepaskan jas dan kemeja yang ia kenakan. Lekuk tubuh indah itu terpampang jelas dan nyata. Ia mengarahkan tangan Kaina untuk mengelus tubuh kekarnya.


"Tuan!" ucap Kaina berusaha untuk mendorong Haikal.


"Tenanglah!" ucap Haikal lembut sambil mengelus kepala Kaina. "Kau sudah menikah, jadi tidak ada yang salah!" sambungnya mengecup leher Kaina.


"Tuan, Ini tidak ada dalam kontrak!" ucap Kaina dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa kau lupa aturan nomor satu? Aku adalah aturan hidupmu saat ini! Jika aku menginginkannya, maka itu harus kau penuhi!" ucap Haikal tegas.


Kaina tidak bisa membantah lagi, ia hanya bisa pasrah ketika mendengar Haikal sudah berbicara tegas.


"Sa-saya takut, Tuan!" ucap Kaina berusaha untuk menghentikan Haikal yang mulai membuka bajunya.


"Ini tidak akan sakit! Hanya seperti di gigit semut, asal kau tidak melawan!" ucap Haikal. "Ikuti saja nalurimu!" sambungan setelah berhasil membuka baju Kaina.


Gadis itu menggeleng sembari menutup tubuhnya menggunakan tangan. Haikal terpana melihat tubuh Kaina, ia mengusap pelan perut gadis itu dan tersenyum manis.


"Tuan!" ucap Kaina masih menahan tangan Haikal.


"Tenanglah!" ucap Haikal mulai menyusuri tubuh Kaina dengan penuh tuntutan.


Gadis itu mulai membusung, ketika Haikal mengecup bagian tubuhnya. Ia merasa ada kupu-kupu yang berterbangan di atas perut, membelai dan memberikan rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Hingga tanpa sadar Haikal sudah melepaskan semua kain yang melekat pada tubuh mereka.


Kaina masih mencoba melawan, namun tubuhnya seolah berhianat. Ia hanya pasrah ketika Haikal menyentuhnya lebih jauh.


Sesuatu yaang mengeras mulai terasa masuk ke dalam lembah suci yang belum pernah terjamah itu.


Haikal mendorongnya dengan pelan, dan membuat Kaina meringis karena rasa sakit itu mulai terasa.


Pria tampan itu merasa kesulitan, namun ia tersenyum senang karena Kaina menjaga dirinya dengan baik. Karena tidak sabar, Haikal memaksakan pisang laras panjang masuk dengan sedikit hentakan yang membuat adik kecilnya masuk dan terbenam dengan sempurna.


"Sa... kit!" ucap Kaina dengan air mata yang menetes.

__ADS_1


Hiks, hancur sudah masa depanku!. Batin Kaina.


__ADS_2