
Kaina baru saja mengantarkan Haikal untuk bekerja hingga ke depan pintu. Ia tersenyum, karena hari-harinya kini terasa begitu bahagia, tanpa rasa sakit dan luka seperti dulu.
Ia duduk di depan televisi sambil memegang beberapa bungkus cemilan. Tidak ada jadwal kuliah hari ini, ia merasa ingin bermalas-malasan dan banyak beristirahat, karena sebentar lagi ia akan mengikuti kompetisi debat tingkat kota.
Ia berharap bisa menang debat dengan orang yang sangat ia benci di kampus lamanya. Geng yang begitu sombong dan juga sering menindasnya. Walaupun kepintaran mereka diakui oleh kampus, namun, untuk masalah tugas, mereka melimpahkannya kepada Kaina selama satu semester kemarin.
"Kak, apa aku bisa berdebat dengan mereka? Sementara, mendengar suara tinggi saja, aku sudah terkejut," ucap Kaina menghela nafasnya.
"Nyonya, untuk mengetahui hal itu, Nyonya harus mencobanya. Jika hanya dengan menerka, anda tidak akan tau sampai mana kemampuan yang kini anda miliki," ucap Nabila yang ikut memakan cemilan bersama Kaina.
"Benar juga. Tapi...," lirih Kaina yang tidak bisa melanjutkan ucapannya.
"Tapi apa, Nyonya? Bukankah ini sudah saatnya memperlihatkan kepada mereka, jika Nyonya bisa bersaing," ucap Nabila tersenyum.
"Huft! Entahlah kak, rasa takut itu masih menguasaiku. Mereka seperti menghantui dan melemahkan semangatku, seolah sedang menunjukkan kepada dunia jika mereka memang hebat," ucap Kaina sedih.
Sungguh, perasaan ibu hamil itu sangat mudah berubah. Dari bahagia menjadi overthinking dan juga tidak semangat lagi.
"Nyonya, bukankah anda selalu berdebat dengan tuan muda? Nah, Tuan Haikal yang terkenal begitu arogan dan juga kejam saja bisa Anda kalahkan ketika berdebat. Anggap saja mereka akan mendapatkan karma tepat dihari anda bertemu dengan mereka, itu semua buah dari apa yang telah mereka perbuat," ucap Nabila tersenyum.
"Ah, kakak kalau ngomong suka benar. Semoga saja aku bisa mengalahkan mereka sekali saja, walaupun tidak masuk babak final atau menjadi pemenang," ucap Kaina.
"Anda sebenarnya bisa melakukan banyak hal, karena memiliki privilege yang sangat besar dari tuan Haikal. Tapi, itu semua tergantung dengan apa yang anda perbuat. Memanfaatkannya dengan baik atau buruk," ucap Nabila.
"Ah, aku tidak mau memberikan masalah untuknya. Bahkan sekarang saja, aku membuat banyak masalah," ucap Kaina terkekeh.
"Haha, Nyonya. Tuan muda pasti tidak keberatan dengan apa yang Anda lakukan," ucap Nabila terkekeh.
Kaina ikut tertawa, hingga dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Leo tengah memanggil dan ia segera mengangkatnya dengan raut wajah yang bingung.
Ia mengernyit ketika Leo meminta agar dirinya bisa datang ke kantor pagi ini.
"Ada hal yang harus ayah bicarakan tentang wasiat bunda dan kakek, Nak!" ucap Leo.
Kaina terdiam, ia tidak tau harus merespon apa. Namun, ia sangat penasaran dengan surat wasiat itu.
__ADS_1
"Apa ayah saja yang datang ke rumah, Nak?" tanya Leo ketika tidak mendapatkan jawaban dari Kaina.
"Aku minta izin sama Mas Haikal dulu, Yah. Takut, nanti dia tidak mengizinkanku," ucap Ibu hamil itu.
"Hmm, cobalah tanyakan dulu, Nak. Soalnya ini sangat penting dan untuk masa depan kamu juga," ucap Leo lirih.
Masa depan apa yang ayah maksud? Apa ayah memiliki salinan surat wasiat bunda atau wasiat yang lain? Sebaiknya aku harus tau tentang ini. Batin Kaina
"Aku hubungi mas Haikal dulu, Yah," ucap Kaina mematikan sambungan teleponnya.
Leo menyetujuinya dan meminta Kaina agar bisa menyelesaikan ini semua secepatnya agar tidak menimbulkan masalah lain.
Kaina langsung menghubungi Haikal, ia mengatakan jika sang ayah akan datang untuk mengurus surat wasiat mendiang sang ibunda.
Haikal yang baru saja tiba di kantor, memilih untuk kembali. Ia tidak ingin Kaina ditipu oleh Leo dan berakibat fatal dengan hubungan ayah dan anak itu.
"Kak, aku takut!" ucap Kaina lirih dengan wajahnya yang pucat.
"Nyonya harus tenang, hadapi semuanya dengan baik. Ada tuan muda yang akan membantu, sedikit banyaknya saya juga paham tentang hukum," ucap Nabila tersenyum.
Walaupun surat itu tidak bisa dirobah, namun masih bisa dihancurkan. Sehingga nanti Leo berniat jahat, itu akan mudah baginya.
Tak lama Haikal datang dan beberapa saat kemudian, Leo dan dua orang pengacara lain juga sudah berada di apartemen itu.
Kini mereka duduk di ruang tamu, tak lupa juga Along, Nabila dan Kang Yono berdiri di belakang Kaina. Berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang membahayakan.
Leo mulai mengeluarkan sebuah surat wasiat yang berbeda dengan milik Kaina. Namun itu hanya salinan saja, bukan surat yang asli.
"Nak, ayah menyimpan surat ini dari bunda dan mendiang kakekmu. Sepertinya sekarang adalah masa di mana kamu sudah bisa menerima tanggung jawab untuk menjalankan isi dari surat wasiat ini," ucap Leo tersenyum.
Kaina terdiam dan membaca surat itu dengan seksama. Ia terkejut dan mengernyit karena ia tidak mengerti dengan apa yang di maksud surat itu.
"Ayah, aku tidak paham. Apa ada perusahaan lain milik bunda atau kakek yang aku tidak tau?" tanya Kaina.
"Tentu, Nak. Perusahaan yang ayah kelola sekarang hanya sebagian kecil dari milik Kakekmu. Sekarang kamu sudah dua puluh tahun, kamu juga sudah menikah. Ayah rasa, sudah saatnya kamu menerima semuaa warisan ini," ucap Leo tersenyum.
__ADS_1
"Tapi ini terlalu banyak, Yah! Aku tidak mungkin bisa menerima semuanya," ucap Kaina dengan wajah yang masih bingung dan juga terkejut.
Leo tersenyum menatap Kaina dengan lekat. "Kamu pintar, ada suamimu juga yang nanti membantu. Ayah yakin, jika kamu bisa mengelola semua perusahaan ini dengan baik," ucapnya.
"Lalu, jika ayah juga akan menyerahkan saham ini kepadaku, bagaimana dengan ibu dan adik-adik?" tanya Kaina membuat semua orang terkejut.
"Itu urusan ayah, Nak. Masih ada beberapa saham lagi yang rasanya cukup untuk menghidupi mereka," ucap Leo.
Ia meenghela nafas berat dan kembali menatap Kaina dengan wajah tua yang terlihat sedih itu. "Ayah takut jika semuanya terlambat. Ayah takut, jika ibumu nekat untuk mencelakai ayah seperti yang pernah dia katakan. Lebih cepat, lebih baik," ucap Leo.
Mata Kaina berkaca-kaca, entah kenapa ia merasa begitu sedih, seolah Leo akan pergi meninggalkannya seperti sang ibunda.
"Ayah, jangan bicara seperti itu! Ayah belum membayar janji yang kemarin ayah bilang!" ucap Kaina tercekat.
"Tenang saja, Sayang. Ayah akan menepati janji ayah," ucap Leo tersenyum.
Haikal bernafas lega, ternyata Leo memang benar-benar ingin memperbaiki hubungannya dengan Kaina. Kini ia bisa melepaskan ibu hamil itu tanpa rasa takut dan cemas ketika bersama dengan mertuanya.
Para pengacara segera mengurus berkas-berkas pengalihan nama dan juga serah terima semua aset itu. Mereka menjadi saksi, di mana Kaina akan menjadi perempuan terkaya melebih Haikal di kota itu.
"Minggu depan, ayah akan mengadakan rapat besar untuk meresmikan dan mengenalkan kamu sebagai pewaris utama keluarga Chandrawinata," ucap Leo bersemangat.
"Ayah, ini terlalu terburu-buru. Aku tidak tau bagaimana cara mengurus perusahaan sebesar itu!" ucap Kaina terkejut.
"Tidak apa, Sayang. Biar mereka bisa tau dan kenal, siapa atasan mereka sekarang," ucap Leo tersenyum.
"Kamu melupakan aku?" ucap Haikal kesal.
"Ah, sayang bukan seperti itu, aku hanya belum siap!" ucap Kaina gelagapan.
"Tidak apa, masih banyak waktu. Langkah Ayah memang sangat benar. Tapi selagi aku masih hidup, keselamatan kalian dalam tanggunganku," ucap Haikal terdengar begitu tulus.
Leo tercekat dengan air mata yang menggenang. Ia begitu bersyukur karena Kaina bisa mendapatkan laki-laki sebaik Haikal.
Mereka berbincang untuk merencanakan hal selanjutnya yang bisa dilakukan agar semua proses pengalihan berkas bisa berjalan dengan cepat. Termasuk juga tentang sertifikat rumah yang sudah kembali menjadi milik Kaina.
__ADS_1