
Kaina menunggu sang ayah di ruang tamu. Ia mengeluarkan beberapa cemilan ibu hamil dan memakannya dengan lahap.
Hingga bunyi bel mengganggu ketenangannya. Ia segera berdiri dan melihat melalui layar monitor, siapa yang tengah bermain dengan belnya itu.
Ia tersenyum ketika sang ayah sudah datang sambil membawa beberapa kantong plastik di tangannya. Leo terlihat bgugup dan beberapa menghela nafas berat. Ia terlihat seperti laki-laki yang ingin bertemu dengan kekasihnya.
"Ayah?" panggil Kaina tersenyum setelah membuka pintu.
"Ah, Nana. Selamat malam, Putri cantik ayah!" sapa sang ayah canggung.
"Malam, Ayah. Ayo masuk! Aku sudah memasak makan malam untuk kita," ucap Kaina merona senang.
Sungguh ia berharap sang ayah memang benar-benar berubah dan memperbaiki hubungan mereka.
"Duduk dulu, Yah! Aku panggil Mas Haikal dulu," ucap Kaina tersenyum.
"Iya, Nak!" ucap Leo tersenyum.
Ia melihat sekeliling ruangan itu terlihat segar dan nyaman untuk ditinggali. Ada perasaan berbeda yang ia rasakan kali ini, antara menyesal dan juga bersyukur.
Ah, maafkan Ayah, sayang!. Batinnya sambil menghela napas berat.
Sementara di dalam kamar, wajah bahagia Kaina tidak bisa di sembunyikan lagi. Ia naik ke atas ranjang dan memeluk Haikal dengan manja.
"Sayang, ayo bangun! Ayah sudah datang, aku juga sudah lapar!" ucap Kaina mengusap punggung Haikal yang terbuka. "Sayang, ayo bangun!" sambungnya sambil mengecup lengan sang suami.
"Hmm, sebentar lagi, Sayang. Aku masih mengantuk!" ucap Haikal.
"Ih, aku udah lapar. Ayo bangun dulu, nanti tidur lagi habis makan!" ucap Kaina cemberut.
Haikal mengerjabkan matanya beberapa kali, mengusir rasa kantuk yang masih menguasai.
"Aku mandi dulu, ya!" ucap Haikal bangun dan mengecup bibir Kaina beberapa saat.
Kaina tersenyum dan mengangguk, malam ini ia merasa begitu bahagia, sungguh bahagia. Karena bisa makan bersama dengan sang ayah.
Ia sangat ingat, kapan terakhir kalinya ia makan satu meja dengan Leo. Sudah puluhan tahun yang lalu, kini ia bisa mewujudkan kembali keinginannya itu.
Ia segera bangun dan menyiapkan pakaian untuk Haikal. Setelah itu, ia menyusul Haikal ke kamar mandi agar bisa menatap sang suami dengan puas.
Haikal hanya menggeleng melihat tingkah Kaina yang sangat berbeda dengan waktu awal menikah. Namun ia merasa bersyukur, karena Kaina bisa membuka diri dan beradaptasi dengan cepat.
Setelah selesai, mereka segera keluar sambil bergandengan tangan. Kaina langsung memanggil sang ayah untuk pergi ke ruang makan. Sebab, rasa laparnya sudah tidak bisa ia tahan lagi.
"Selamat malam, Tuan Muda," ucap Leo mengangguk.
__ADS_1
"Malam, Ayah. Apa kabar hari ini?" ucap Haikal duduk di samping Kaina dengan santai.
Leo terkejut dan terbaru ketika mendengar Haikal memanggilnya ayah. "Kabar baik, hari ini terasa begitu bahagia karena bisa makan malam bersama dengan anda dan juga Kaina," ucapnya tersenyum.
"Syukurlah! Mari kita makan, kasihan Kaina sudah kelaparan sedari tadi!" ucap Haikal.
Leo mengangguk, ia merasa canggung karena Haikal seolah tidak memberi batas antara mereka. Namun, ia berusaha untuk menjaga sikap agar tidak membuat kesalahan.
Ia tersenyum ketika Kaina mengambilkan makanan untuknya dan juga Haikal. Hatinya menghangat mendapatkan perlakuan seperti ini dari sang putri.
"Ayo makan, Yah! Ini semua resepku, walaupun bukan aku yang masak," ucap Kaina tersenyum.
"Iya, Sayang. Mari makan, tuan muda!" ucap Leo ikut tersenyum.
Haikal mengangguk dan mulai menyuapi Kaina dengan telaten. Ibu hamil itu terlihat begitu mengemaskan ketika suapan pertama masuk ke dalam mulutnya.
"Ah, resepku tidak pernah gagal!" ucap Kaina merasa bangga karena rasa masakan itu sangat nikmat.
"Makanlah yang banyak, Sayang!" ucap Haikal terkekeh melihat ekpresi Kaina.
"Ayo makan, Ayah. Jangan malu-malu, nanti malah habis sama aku!" ucap Kaina.
"Iya, Nak. Ayo makan!" ucap Leo merasa lega karena melihat bagaimana Haikal memperlakukan putrinya.
"Apa ayah membawakan aku ubi bakarnya?" tanya Kaina penuh harap.
"Ada, Nak. Sepertinya sudah mulai dingin," ucap Leo menyerahkannya beserta beberapa bungkus makanan lain.
"Ah tidak apa, Yah!" ucapnya tersenyum dan menatap ubi itu dengan air liur yang menetes.
"Kamu sudah makan sebanyak itu, apa masih lapar?" tanya Haikal tidak percaya.
"Dih, tadi baru anak-anak yang makan, aku belum!" ucap Kaina mendelik sambil menyerahkan ubi itu kepada Haikal. "Suapin aku, Sayang!" ucapnya tanpa rasa bersalah.
Haikal hanya pasrah melihat kelakuan Kaina. Ia menyuapi sang istri dengan telaten seperti anak kecil yang meminta di suapi oleh ayahnya.
"Ayah, apa mereka tidak bertanya ayah pergi ke mana?" tanya Kaina.
"Mereka bertanya, Nak. Soalnya, sangat jarang ayah makan malam di luar, tiba-tiba saja ingin makan di luar sendiri, pasti mereka bingung," ucap Leo tersenyum.
Kaina hanya mengangguk, ia menyandarkan tubuhnya di dada bidang Haikal dan menarik tangan pria tampan itu agar bisa mengelus perutnya.
"Sayang, kamu bilang apa lagi ke ayah?" tanya Kaina.
"Tidak ada, Sayang," ucap Haikal menatap Leo dengan lekat.
__ADS_1
"Ayah, jangan terlalu percaya sama Mas Haikal, ya. Itu tidak semuanya benar!" ucap Kaina cemberut.
Haikal hanya tersenyum, nyatanya ia hanya mengatakan sebagian kecil saja apa yang sudah dialami Kaina.
"Oh ya? Terus apa yang harus ayah percayai? Tapi, ayah rasa semuanya sudah dikatakan oleh suamimu," ucap Leo tersenyum.
Kaina membulatkan mata, ia menatap Haikal dengan mata yang menyipit. "Kamu nakal!" ucapnya kesal.
"Maaf, Sayang. Tapi sudah terlanjur, aku hanya ingin kamu memanfaatkan waktu dan memperbaiki hubungan yang sudah lama renggang," ucp Haikal tersenyum dan mengecup kepala Kaina dengan lembut.
"Tapi, pasti ayah kepikiran," ucap Kaina menatap Leo tidak tega.
Ia tidak ingin menambah beban sang ayah yang sudah banyak karena perusahaan dan ulah kedua adik tirinya.
"Sudah sepantasnya begitu, Nak. Kalau ada apa-apa, jangan ragu untuk kasih tau ayah," ucap Leo tersenyum.
Kaina mengangguk, ia merasa lelah dan mengantuk. Mereka berbincang sebentar, hingga tanpa sadar Kaina terlelap dalam pelukan Haikal.
Pria tampan itu hanya terdiam sedari tadi. Suasana canggung dan juga kaku mulai menguasai ruangan itu.
"Aku harap ayah benar-benar tulus melakukan semua ini kepada Kaina," ucap Haikal dengan suara rendah yang sangat berbeda ketika ia berbicara dengan Kaina.
Leo menghela nafas kasar. "Justru saya berterima kasih, karena anda mau mengatakan hal itu, sehingga saya bisa tau apa yang dialami oleh Kaina. Anda tidak usah risau, karena ini memang dari hati saya. Setidaknya, saya bisa menebus semua kesalahan yang selama ini sudah saya perbuat," ucap Leo tegas.
"Jangan terlalu formal. Sekarang, Kaina sudah menjadi istriku, tanggung jawabku. Jika ayah ingin mengganti semua waktu yang terbuang, silahkan. Tapi saya minta satu hal, jangan ada kepura-puraan yang Ayah tampilkan kepadanya. Saya sangat sulit untuk membuat Kaina bercerita tentang apa yang sudah dia alami selama ini. Jangan sampai, ayah membuat istriku kembali kecewa!" ucap Haikal menatap Leo dengan lekat.
"Anda bisa menilainya nanti, apakah saya berpura-pura atau bersungguh-sungguh. Tolong jaga putri saya, walaupun saya bukan ayah yang baik untuk Kaina, tapi saya hanya ingin dia bahagia," ucap Leo berkaca-kaca.
Haikal terdiam dan menatap Leo dengan lekat. "Tentu, kebahagiaan Kaina adalah tujuan hidupku saat ini. Ayah tidak perlu risau akan hal itu. Selagi aku bernafas, Aku akan menjaga dan membahagiakannya dengan sekuat tenagaku," ucapnya.
"Terima kasih. Setidaknya, saya masih memiliki waktu bersama dengan Kaina, jika benar suatu hari Sisca melancarkan niatannya untuk membunuh saya," ucap Leo.
Haikal tersenyum kecut. "Mungkin dia tidak akan berani sebelum menemukan mangsa yang baru," ucapnya.
Leo terdiam seribu bahasa. Sungguh ia masih tidak menyangka jika Sisca akan berbuat seperti itu. Ia harus menyiapkan semuanya untuk Kaina sebelum terjadi hal lain.
"Jika untuk membereskan semuanya, sangat mudah bagiku. Tapi, karena ayah bertindak lebih cepat dari apa yang aku bayangkan, makanya aku memberikan kesempatan kepada ayah untuk memperbaikinya," ucap Haikal.
"Terima kasih. Sungguh, saya tidak tau harus berkata apa lagi. Mungkin saya yang terlalu tamak sampai mengabaikan Kaina. Tapi kini, berikan saya waktu untuk bersama dengan Kaina beberapa saat!" ucap Leo penuh harap.
"Tentu saja! Manfaatkan kesempatan yang diberikan oleh istriku. Tentu saja, semuanya masih dalam pengawasan ketat dariku!" ucap Haikal tegas.
Leo hanya mengangguk. Ia mati kutu berada dihadapan menantu tampannya ini. Ditambah, ia sangat mengenal watak Haikal. Namun malam ini, ia seperti melihat dia sosok yang berbeda.
Sekarang, ia merasa jika Kaina memang benar-benar berada di tangan yang tepat. Bersama Haikal Kaina akan aman dan juga bahagia.
__ADS_1