Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Lawan jadi Kawan (Pov Melati)


__ADS_3

Apa yang harus kulakukan saat tiba-tiba Tuan Arjuna menarik dan aku terjatuh tepat di pangkuannya. Gugup, takut dan entah apa rasanya bercampur menjadi satu.


"Tuan, apa yang Anda lakukan?"


"Sebentar saja. Aku hanya ingin bertanya."


"Apa?"


"Aku hanya memastikan apa kamu memiliki rasa yang sama seperti yang aku rasakan?" Aku memejamkan mata, haruskah aku jujur dengan apa yang aku rasakan. "Aku juga ingin memastikan, bahwa kamu menginginkanku sebesar aku menginginkanmu."


Aku menelan salivaku berulang kali.


"Katakan Melati, katakan .... " bisiknya lirih.


Aku menarik napas dalam, rasa hangat embusan napasnya menyapu bagian telinga. Dan tiba-tiba aku merasa di sengat listrik tegangan tinggi saat ia mendaratkan sekilas ciuman di sana.


"Tuan, saya sedang ingin sendiri," ucapku lirih dengan mata yang semakin memejam.


Hening.


Perlahan aku merasakan pelukannya semakin melonggar, aku segera bangkit dan menjauh darinya. Aku berjalan ke arah balkon dan mematung di sana membelakanginya.


"Baiklah, maaf sudah mengganggu istirahatmu."


Aku diam saja, terdengar langkahnya menjauh dan suara pintu tertutup. Aku menghembuskan napas lega. Apa yang harus kukatakan? Aku bahkan belum yakin dengan perasaanku sendiri. Aku berbalik dan mengambil bunga serta coklat yang ia berikan, kuletakkan di meja bunga itu dan membuka coklatnya. Aku memakannya sembari duduk di sofa. Sesekali aku tersenyum, tapi air mata menetes, sedangkan mulut sibuk mengunyah coklat. Ada apa dengan hatiku? Entah.


***


Hari itu kuputuskan untuk mengundurkan diri menjadi guru les menari. Kemudian main ke rumah Tuan Arjuna yang lama. Aku ingin menyapa Mbak Bunga, bibik, Pak Gus, Tante Dinda serta Dewi. Apa kabar mereka semua.


Aku naik taksi kuning pukul 11.00 siang dari rumah, karena belum sempat membeli ponsel baru. Aku langsung menuju gedung, menemui George. Sampai di sana, alhamdulillah ia sedang ada di tempat.


"Sayang sekali, Melati. Namun, aku tidak bisa memaksakan kehendakku. Padahal anak-anak sudah sangat nyaman di latih olehmu. Terpaksa aku akan mencari pelatih yang baru."


"Iya, Maaf, ya. Sementara aku mau istirahat dulu, nanti kapan-kapan aku main ke sini. Masih boleh kan, main ke sini?"


"Boleh, lah ... di kunjungi cewek cantik, masak nggak boleh?" sahut seseorang dari belakang. Aku menoleh dan tersenyum, ternyata Kak Abel baru saja datang. Ia mengenakan tanktop berwarna putih dengan jins berwarna hitam. Topi putih menutupi kepalanya dengan rambut di kuncir menyembul dari belakang.


"Kak." Aku berdiri, menyalaminya dan menempelkan pipi kiri dan kanan kami.


"Gedung ini selalu terbuka buat kamu."


"Makasih, Kak," sahutku sembari mengempas kan bokong di sofa dan kami kembali berbincang banyak hal.


Tepat pukul 13.30 aku pamit pulang, tujuanku ingin main ke rumah Tuan Arjuna yang lama. Sialnya tidak ada taksi kuning yang lewat. Saat sedang jenuh menunggu, Kak Abel menawarkan tumpangan. Tapi ia minta temani dulu ke rumah sakit untuk cek kesehatan.


"Aku pernah liat lo nangis di gedung, kalau boleh tau ada masalah apa, sih?" tanyanya di sela kesibukannya menyetir.


"Wahh, jadi malu ketahuan nangis," sahutku seraya melempar senyum padanya.


"Nggak usah malu kali, Mel. Gw juga sering nangis, meski pun nggak sesedih lo. Hehehe."


"Kirain hati Kakak sekekar otot-otot tangan kakak, rupanya bisa mellow juga." Aku nyengir kuda.


"Tubuh gw emang keker, kayak cowok. Tapi percaya deh, hati gw masih berwarna pink. Cewek banget, kan?" Kak Bela tertawa.


Meski pun kami sering bertemu di tempat les menari, ini pertama kalinya kami tampak dekat dan saling berbincang. Setelah 20 menit kami sampai di rumah sakit. Setelah mengantri cukup lama, akhirnya giliran Kak Abel di panggil masuk ke dalam. Aku menemani Kak Abel sampai ke ruangan dokter. Seorang pria berjas putih, memakai kacamata dan berkulit putih tersenyum saat melihat kedatangan kami. Ia langsung mempersilahkan kami duduk di hadapannya.


Setelah sesi tanya jawab dan mendengarkan keluhan. Dokter spesialis THT itu berdiri dan memeriksa Kak Abel, ia mengeluarkan alat untuk meneropong bagian hidung temanku ini. Selesai, ia kembali duduk di tempatnya semula.

__ADS_1


"Jadi penyebabnya tidak lain tidak bukan karena hidung Mbaknya yang terlalu mancung. Kebanyakan orang kalau hidungnya mancung gitu. Pasti kena gangguan pernapasan," ucapnya, ia lalu mengambil kertas, menggambar bagian dalam hidung dan rongga-rongganya.


Ia menjelaskan satu persatu secara terperinci. Di katakannya kalau orang yang memiliki hidung mancung itu memiliki tulang hidung yang tak beraturan atau bengkok. Karena itulah sering terjadi penyumbatan yang sering membuat si pemilik hidung susah bernapas, terlebih di musim penghujan, karena cuaca dingin yang datang.


"Jadi ini saya kasih resep obat ya, Mbak. Sama obat semprot. Nanti setelah dua minggu ke sini lagi. Kita periksa," tambahnya.


"Baik, Dok." sahut Kak Abel.


"Mbak Melati nya nggak sekalian periksa?" tanyanya tiba-tiba, sambil menatapku dan tersenyum ramah. Aku dan Kak Abel saling pandang, bagaimana bisa ia tau namaku?


"Sa ... saya, Dok?" Aku menunjuk dada.


"Iya, itu hidungnya mancung juga loh. Aman-aman sajakah?"


"Bagaimana Dokter tau nama saya?" tanyaku agak ragu bertanya.


"Di taman, malam hari, kamu sedang lihat lampu di pohon akasia. Ingat?"


Aku coba mengingatnya. Malam itu, saat aku melihat lampu-lampu itu aku ketemu siapa, ya? Ahhh iya, seorang pria yang tanpa sengaja tertabrak olehku.


"Ohhh, iya ..., " ucapku lirih.


"Ingat?"


"Ingat, Dok."


"Rega Affandi. Mbak Melati melupakan nama saya." katanya sambil merogoh sesuatu di saku baju miliknya. "Nih, tolong di simpan, biar ingat." Ia menyodorkan sebuah kartu nama.


Aku bingung harus mengambilnya atau tidak. Akhirnya Kak Abel yang mengambil dan menyimpannya.


"Kalau begitu, kami pamit, Dok," pamit Kak Abel.


Aku cepat-cepat berdiri dan keluar ruangan.


"Selanjutnya, Ibu Nurti!" teriak perawatnya. Aku menoleh sekali lagi, dokter itu tersenyum sambil melambaikan tangan.


***


Di perjalanan Kak Abel terus saja bertanya dari mana aku bisa mengenalnya. Kenapa baru memberi tahu kalau aku punya kenalan seorang dokter tampan. Aku saja tidak ingat lagi malam itu kalau dokter itu tidak mengingatkan. Bagaiamana harus bilang ke Kak Abel. Tapi, kalau di pikir-pikir, kenapa dia mirip seseorang, ya? Tapi mirip siapa?


"Melati??" Kak Abel mengibaskan tangan di depan wajahku. "Lo melamun, gara-gara ketemu Dokter Tampan? Inget udah ada yang punya." Kak Abel terkikik tertawa.


"Nggak, Kak. Aku lupa kalau pernah ketemu dia."


"Artinya lo itu membekas di ingatannya. Tapi, sebaliknya, ia biasa aja di pikiran lo, sampai lo lupa. Eh, kita udah sampe depan pager rumah tujuan lo loh. Mau ikut gw lagi ke gedung?"


"Ohh, udah sampe?" Aku menutup mulutku dengan sebelah tangan, tertawa.


"Udah, Melati. Mangkanya sadar, sadar! Jangan ngelamun terus."


"Iya, iya. Ya udah aku turun, Kak. Makasih sebelumnya." Aku melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil, lalu segera turun dari sana. Kak Abel berlalu pergi setelah membunyikan bel mobil untuk pamit, dan aku segera masuk rumah.


"Assalamu'alaikum!" teriakku.


"Waalaikumsalam. Wahh ada Nyonya," kata Bibik tersenyum bahagia. Aku langsung memeluknya, biasanya kami gotong royong membersihkan rumah.


"Lama nggak ketemu, Nyonya." sambut Mbak Bunga langsung keluar dari dapur, kami juga langsung berpelukan.


"Tante Dinda dan Dewi, ada?" Mereka saling tatap, mungkin bingung mengapa aku mencari musuh bebuyutan.

__ADS_1


"Nyonya kenapa cari mereka, udahlah nggak usah cari masalah." bisik Bibik.


"Nanti Jambak-jambakan lagi, kami semua yang susah," sambung Mbak Bunga.


"Yee, emang siapa yang mau Jambak-jambakan? Mau ngobrol lah, Mbak."


Tidak berapa lama Dewi turun dari lantai atas, melihatku datang ia langsung melambaikan tangan dengan senyum mengembang dan begitu saja berlari ke bawah.


"Hai Hai Hai, kenapa nggak bilang mau datang?" tanyanya saat sudah dekat dan langsung memeluk.


Sekali lagi, Bibik dan Mbak Bunga saling pandang, heran. Aku menaikkan alisku sambil tersenyum menatap mereka yang keheranan. Setelah itu Dewi begitu saja menggandeng tanganku mengajak ke kamarnya. Aku menoleh sekali lagi, dan mulut mereka berdua masih terbuka lebar.


***


"Jadi sekarang, Kak Jelita balik lagi?" tanya Dewi.


Aku mengangguk. "Wah, bahaya ini. Melati. Lo harus bertahan, apa pun yang terjadi lo harus pertahanin pernikahan lo sama Kak Juna. Karena aku tau, cuma lo yang pantes nge dampingin dia. Oke, dulu aku lebih mendukung Kak Jelita saat belum benar-benar mengenal lo. Tapi, sekarang, aku bakal ada di garda terdepan untuk mendukung hubungan lo sama Kak Juna."


Aku menarik napas berat sambil mengempas kan tubuh di ranjang.


"Aku nggak yakin, bisa. Karena kamu tau sendiri wanita itu sempurna banget, aku bahkan terpukau saat pertama kali bertemu dengannya. Cantik, putih, tinggi, wangi dan ahhh, pokoknya dia idaman banget."


Dewi berdiri, memaksaku duduk, lalu melepas hijab dan melepas kuncir rambutku. Setelah itu meletakkan cermin yang cukup besar di hadapanku.


"Lihat diri lo di cermin itu. Kamu itu cantik, Mel. Kamu hanya perlu di poles sedikit saja."


Aku memperhatikan wajahku dalam cermin, berkedip dua kali dan menoleh ke arah Dewi. Ia tersenyum dengan alis naik turun berulang kali.


"Ah, aku nggak cantik!" Aku menjauhkan cermin dari hadapan. Dewi duduk di sampingku, meletakkan cermin dan memegang tanganku, ia menatap dengan serius.


"Kakak pernah nggak bilang suka sama lo?" Aku mengangguk samar. "Kalian ... emmm, udah pernah tidur bareng?" Aku diam, berpikir.


"Pernah, tidur bareng. Tapi, hanya tidur ya, nggak ngapa-ngapain."


"Nah!! Itu!! Lo harus ngapa-ngapain sama Kak Juna biar dia makin cinta dan suka sama lo."


"Aku belum siap, Dewi." rengekku.


"Sekarang aku tanya. Lo suka sama Kak Juna?" Aku diam, mendongak ke atas menatap Flafon rumah. Aku bahkan tidak tau dengan perasaanku sendiri. "Mel, ayolah, buka hati lo buat Kak Juna. Dia suami sah lo. Pernikahan kalian diakui oleh agama dan negara. Bahkan semua malaikat mendoakan kebaikan kalian berdua saat Kak Juna menjabat tangan paman lo dan mengucap sumpah pernikahan." Aku makin bimbang.


***


Sampai di rumah pukul 17.00 sore. Aku langsung masak dan membereskan rumah. Setelah shalat Magrib, seperti biasa aku menunggu Tuan pulang. Aku duduk di kursi sofa menunggu ada yang menekan belnya. Kalau menunggu di kamar, aku khawatir tak mendengarnya. Suara bel berbunyi. Cepat aku mematikan TV dan berjalan ke arah pintu.


Baru saja membuka pintu, muka Tuan Arjuna tampak memerah, marah. Kenapa? Apa ia marah karena tau aku main ke rumah lama?


"Mana laki-laki itu?" tanyanya dengan mata memerah marah.


"Laki-laki, mana, Tuan? Saya tidak mengerti." jawabku seadanya karena aku memang tak mengerti maksudnya.


Ia melengos masuk ke rumah dan langsung menuju kamar, sedangkan aku mengekor dari belakang. Hatiku berdegup kencang, takut dengan kemarahannya. Ia membuka lemari, mengintip kolong ranjang dan mencari sesuatu di luar balkon, kemudian keluar kamar membuka kamar mandi.


Setelah puas tak menemukan apa-apa ia kembali mendekatiku. Aku yang bingung hanya bisa mematung yang perasaan takut luar biasa.


"Di mana laki-laki itu!!?" Teriaknya yang membuat mataku memejam seketika.


"Tuan, saya tidak tau maksud Anda." sahutku sembari menutup telinga dengan kedua tangan.


"Jangan bohong! Aku menelponmu dan seorang pria yang mengangkat. Dia bilang sedang di rumah pacarnya dan sedang berduaan. Aku coba VC dan benar, seoarang laki-laki mengangkat teleponnya dengan bertelanjang dada. Sementara seorang perempuan terlihat tidur pulas dalam selimut di belakangnya. Katakan padaku, katakan!!"

__ADS_1


Mata Tuan Arjuna melotot seperti ingin keluar dari tempatnya. Sementara aku bingung harus menjelaskannya dari mana.


__ADS_2