Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Makam Ibu (Pov Melati)


__ADS_3

Aku bahagia melihat Bapak yang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, tapi aku sedih melihatnya tetap bekerja meski pun masih sakit. Aku membuatkan teh di dapur untuk Bapak. Di dapur aku bertemu Mawar.


"Mawar, kamu ikut Mbak ke kota kan?" tanyaku sambil memasukkan gula ke gelas.


"Nggak usah loe tawarin, kami udah di ajak duluan sama Tuan Arjuna di depan."


"Benarkah, Alhamdulillah ... " sahutku sembari memasukkan air panas ke gelas.


Tiba-tiba Ibu datang. Seperti biasa Ibu sinis terhadapku. Ia berkacak tangan dipinggang bersiap memarahiku, itu sering di lakukannya terhadapku.


"Melati!" bentaknya.


"Iya, Bu." Aku selesai membuat teh untuk Bapak.


"Kamu sudah tau belum kalau kamu itu bukan anak saya. Ibumu itu simpanan bapaknya Mawar."


Aku menarik napas berat.


"Iya, Bu. Saya sudah tau. Maaf selama ini merepotkan." Aku menunduk.


"Lama pengen kasih tau kamu, tapi karena suami saya melarang makanya saya urungkan."


"Iya, Bu. Terima kasih banyak, sudah merawat saya sampai sebesar ini." Kuucapkan Terima kasih.


"Saya terpaksa! Kalau melenyapkan orang nggak di tangkep polisi udah lama kamu saya buang ke sungai." Aku tersentak mendengar kata-katanya.


"Sebenci itu kah Ibu dengan Melati? Salah aku apa, Bu?"


"Kamu tidak tau salah kamu?" Ibu melotot ke arahku. "Kamu itu anaknya pelac** itu, setiap kali liat muka kamu aku inget ibu kamu yang rendahan itu!!" katanya sambil menunjuk mukaku.


Nyeri, hanya itu yang kurasakan di dalam sini. Tatapan ibu menghujam penuh kebencian, matanya sampai memerah mengeluarkan air mata saking emosinya. Aku mendekat dan ambruk berdiri diatas lutut di hadapannya.


"Bu, tolong jangan sebut Ibu kandung saya seperti itu. Dia sudah tenang di alamnya. Melati mohon, Bu." Aku tertunduk dan terpejam. "Jika ibu mau membenci, benci saya saja. Lampiaskan pada saya semua kebencian ibu, tapi tolong jangan sebut ibu saya pelac**." Air mata mulai mengalir di wajahku.


"Memang kenyataannya begitu, kok protes!"


"Sekali anak pelac** tetap aja anak pelac**." Mawar menimpali. Semakin perih hati ini.


"Sayang ... " Suara Tuan Arjuna terdengar mendekat. Ibu buru-buru menyuruhku berdiri.


"Melati, berdiri! Cepat, berdiri!!" Teriaknya memekik kecil.


Aku diam saja, hatiku masih sakit mendengar mereka mengatakan hal yang tidak sepantasnya pada almarhumah ibu.


Akhirnya Tuan Arjuna sampai di dapur. Ia melihat ke arahku dan terdiam cukup lama.

__ADS_1


"Siapa yang membuat seorang istri Arjuna Delendra berlutut seperti itu?" tanyanya dengan nada penuh penekanan. Aku masih bergeming, nyeri masih menelusup di sini.


Tidak lama Gilsa dan Regi datang. Mereka ikut menyaksikan kemarahan Tuan Arjuna.


"Aku tanya sekali lagi, siapa yang membuat istri saya berlutut seperti ini?"


Ibu dan Mawar diam, mungkin mereka ketakutan. Aku berdiri dan menghapus air mata. Berbalik dan langsung memeluk Tuan Arjuna. Bukan hanya untuk menenangkannya, tapi juga untuk menenangkan hatiku.


"Kamu nggak apa-apa Sayang? Mereka ngomong apa?" Aku hanya menggeleng, tak sanggup berkata-kata. Tuan menghapus air mataku dan kembali membenamkanku dalam pelukannya.


"Udah jangan nangis lagi. Kita pergi, ya!"


"Bapak, Mas..., " ucapku lirih.


"Nanti ada orang dari kota menjemput mereka. Kita langsung ke tujuan awal ya."


Aku mengangguk. Tuan merangkul mengajak ke depan. Aku menemui Bapak sambil membawakan teh hangat yang sudah aku buat.


"Pak, Nanti ada yang jemput buat ke kota. Melati masih ada urusan sama Mas Arjuna. Bapak nggak apa-apa, ya. Melati tinggal." kataku sambil duduk di sisi ranjang.


Bapak beringsut duduk dan menyeruput teh hangat yang kuletakkan di meja.


"Iya, nggak apa-apa, Nduk." Ia menyerahkan kopelan kecil, kertas yang tertulis Nama seseorang dan tanggal lahir serta wafatnya.


"Apa ini, Pak?"


Aku menerima kertas itu dengan tangan gemetar. Perlahan aku membaca namanya, nama ibu kandungku. Namanya...


"Rianti ... " ucapku lirih, akhirnya aku tau nama ibu kandungku. Bapak meng usap-usapnya pundakku.


Aku menyeka air mata dengan punggung tangan. Tangisku tertahan, aku takut didengar Tuan Arjuna yang sedang menunggu di luar.


"Ya, itu nama ibumu, Nduk," sahut Bapak sedikit berbisik. Aku memeluk Bapak. Kembali air mataku tumpah. Bahagia dan sedih bercampur menjadi satu.


"Sudah, sudah, pergilah, Nduk!" perintah Bapak.


"Kita bertemu di kota ya, Pak."


"Iya. Hati-hati di jalan." Bapak hendak turun dari ranjang, tapi aku melarang.


"Bapak, di sini saja. Istirahat ya ... "


"Tapi, Bapak mau nemuin Tuan Arjuna."


"Nggak apa-apa nanti aku yang bilang. Bapak kan masih capek." Bapak tersenyum, kembali merebahkan diri di ranjang.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu," Sahutnya.


Aku beranjak dan berjalan keluar kamar terlihat Tuan Arjuna sedang duduk menungguku di kursi depan.


"Ayo, Mas kita lanjutkan perjalanan!" ajakku pada Tuan Arjuna setelah berdiri di dekatnya.


"Mas belum pamit sama Bapak," katanya.


"Bapak, aku suruh istirahat di dalam." sahutku. lalu aku merasa ada yang kurang "Loh Regi sama Gilsa mana?" tanyaku karena tidak melihat mereka.


"Aku suruh beli makanan buat Bapak."


Ternyata Tuan Arjuna perhatian juga. Aku duduk di sampingnya dan memeluk hangat.


"Makasih, ya Mas!" Tuan balas memeluk dan mencium pucuk kepalaku.


Gubrak!


Tiba-tiba terdengar suara sesuatu terjatuh. Cepat aku melihatnya, ternyata Mawar dan Ibu sedang menguping kami di dekat pintu dapur dan terjerembab ke depan, menabrak pintunya.


Tuan hampir tertawa, tapi aku mencubit tangannya, supaya ia diam. Bahagia di atas penderitaan orang lain, kan kasihan.


"Ibu nggak apa-apa?" tanyaku sambil membantu mereka berdua berdiri.


"Ee, enggak a a apa- apa." sahutnya sambil menggelengkan kepala dan beberapa kali melirik ke arah Tuan Arjuna.


"Dek, kamu nggak apa-apa?" tanyaku pada Mawar. dia juga hanya menggeleng cepat.


Ibu mengamit tangan Mawar untuk masuk ke kamar satunya. Kamarku dulu, berada di ujung, sering bocor kalau hujan dan aku tidur hanya beralaskan tikar, tanpa selimut dan guling yang menghangatkan.


"Udah biarin aja!" kata Tuan Arjuna. ia menarik pinggangku dan kembali memeluk.


"Mas nanti di liatin orang!" Protesku dan ia melepas pelukan. "Duduk situ aja, yuk! sambil nunggu Gilsa dan Regi datang."


Tuan menghela napas panjang. "Yuk!" ucapnya setelah lama menatap, tatapan protes karena dia tak boleh memeluk.


Tidak berapa lama Gilsa dan Regi datang. Tuan masuk kekamar untuk menemui Bapak, meski pun agak takut bersalaman, tapi aku memaklumi nya. Dia hanya belum terbiasa.


Setelah pamit dan memberikan makanan kami lanjut ke makam. Di makam aku menumpahkan segala kesedihan. Tuan hanya duduk diam di sampingku. Sesekali ia mengelus pundakku, lalu memeluk saat tangisku pecah. Diam lagi saat aku mulai bicara, mencium puncak kepala saat aku terisak dan begitu seterusnya. Selesai dari makam kami mampir ke rumah makan untuk makan dan shalat. Lalu kembali melanjutkan perjalanan.


Dalam mobil aku terus memeluk Tuan. Wajah kubenamkan di dadanya. Tuan tak banyak bicara, masih sama. Sampai kusadari aku tertidur dalam perjalanan.


"Sayang, bangun kita sudah sampai," bisiknya di telinga.


Aku membuka mata, tapi kenapa semuanya gelap?

__ADS_1


"Mas, Mas? Kamu di mana?" Aku meraba-raba.


__ADS_2