
"Kamu mikirin apa sih Sayang?" tanya Tuan malam itu kepadaku. Sungguh aku gelisah, membolak-balikkan tubuh karena resah. .
"Nggak apa-apa Mas," sahutku sekenanya.
Tuan sepertinya tahu bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Ia beringsut dan turun dari ranjang, karena sejak tadi aku berbaring memunggunginya. Tuan duduk di tepi ranjang, dekat denganku lalu membelai kepala ini lembut.
"Kamu mikirin apa jujur sama Mas."
Aku menarik napas panjang, lalu mulai bicara.
"Bagaimana kalau Mbak Juwita sembuh Mas? Bukan, bukan aku nggak mau dia sembuh, hanya saja aku takut nggak bisa lagi ketemu sama Revi."
"InshaAllah nggak, kamu jangan khawatir ya. Istirahat lah, kasihan anak kita kalau kamu banyak pikiran." Aku mengangguk dan mencoba memejamkan mata.
***
Paginya kami semua sedang duduk di meja makan. Kami bersiap beraktivitas seperti biasa. Hari ini juga hari yang sangat penting bagi Dewi karena ia akan wawancara di salah satu perusahaan. Tuan sedang asik makan, tante Dinda dan Dewi juga. Hanya saja ada yang berbeda dengan Revi. Ia hanya tertunduk dalam. Aku yang ada di sampingnya membelai lembut rambut hitam itu.
"Sayang, kamu nggak makan?" tanyaku yang membuat lainnya ikut menatap.
"Bu Guru cantik. Kalau Mama sembuh, boleh nggak Revi tetep tinggal sama BU Guru cantik dan Om Ganteng. Revi nggak mau jauh dari Mama Melati dan Ibu Bunga."
Bunga yang mendengar itu nampak terharu. Alisnya saling bertaut dan beberapa kali mengahapus air mata di pipinya. Aku menoleh ke arah Tuan Arjuna. Menunggu jawabannya.
"Sudah waktunya berangkat, aku pergi dulu. Assalamu'alaikum semua." Tuan beranjak dan pergi begitu saja. Setelah ia berlalu Tante Dinda baru berani buka suara.
"Mel, dengan hanya melihat sikap suamimu tentu kita semua sudah tau jawabannya."
Aku diam saja, mengambil tangan kecil Revi dan menggenggamnya sambil tersenyum samar.
***
__ADS_1
Revi pergi ke sekolah di antar oleh Pak Gus. Sedangkan aku diminta suami untuk sering berada di rumah. Jangan sering bepergian. Aku menonton acara Tuan di TV. Seperti biasa jam 10 pagi.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" kataku.
Pintu terbuka, Mbak Bunga berdiri mematung di sana.
"Nyonya, boleh saya masuk?"
"Oh Mbak Bunga. Boleh lah, kenapa Mbak?"
Mbak bunga masuk dan menutup pintunya. Ia duduk didekatku dengan wajah menunduk sambil berusaha bicara.
"Nyonya, maaf kalau saya lancang. Selama ini Revi selalu bersama saya. Jujur hati saya terhibur karena ada dia. Mengobati luka lama saat kehilangan putri saya. Jika suatu saat Nyonya Juwita sembuh, untuk sementara biarlah dia tinggal di sini Nyonya. Lagi pula, Nyonya tidak memiliki siapa-siapa. Apa nyonya tega membiarkan Nyonya Juwita sendirian tanpa ada yang mengawasinya?"
"Saya sebenarnya kasihan Mbak. Tapi, Mas Arjuna sepertinya tidak suka."
"Saya hanya bisa meminta dengan anda, entah kapan saya bisa kembali memeluk Revi. Tapi, jika kalian tidak mengijinkan tidak apa-apa Nyonya. Saya hanya ingin bersama Revi lebih lama, itu saja."
Mbak bunga tersenyum tipis dan mengangguk, kemudian ijin keluar ruangan ini. Aku menarik napas berat, bagaimana menyikapi masalah ini.
Tiba-tiba ponsel berdering. Aku beranjak dan berjalan ke arah nakas untuk mengambil ponsel. Panggilan dari Pak Dokter. Ragu aku mengangkatnya, entah aku yang terlalu GR atau apa. Tapi aku merasa dia seperti menaruh perhatian lebih kepadaku. Setelah menimbang-nimbang aku mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam, Mbak. Mbak, hari ini Kak Arjuna minta aku membawa Mbak ke dokter kandungan. Karena hari ini dia pulang larut malam."
'Kenapa sih harus sama Rega?' batinku menolak.
"Aku telepon Mas Arjuna dulu ya Pak Dokter. Nanti saya kasih kabar. "
__ADS_1
"Baiklah, Mbak. Ya sudah saya tunggu kabarnya ya Mbak. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Hatiku diliputi rasa gelisah, jika memang dugaanku benar. Semua ini salah. Aku masih ingat berbagai macam perhatian yang ia tunjukkan padaku. Apakah mungkin ini hanya perasaanku saja? Apakah aku harus menceritakan hal ini pada seseorang supaya bisa menemukan jalan solusinya?
Setelah cukup lama berpikir akhirnya aku mengirim pesan kepada Tuan. Aku termenung saat mengetahui, ternyata benar ia meminta Rega mengantarku ke dokter kandungan hari ini. Saat kukatakan aku bisa pergi sendiri atau meminta temani Tante Dinda, katanya lebih baik bersama Rega karena ia berteman dengan Dokter spesialis tersebut sehingga lebih enak dan nyaman.
Aku mengirim pesan pada Rega, kukatakan jemput aku pukul 16.30 sore. Agak kesal, tapi tidak mungkin aku menolak dengan mengatakan kalau aku mencurigai Dokter Rega menganggapku bukan hanya sekedar Kakak ipar. Bisa-bisa Tuan malah menudingku yang bukan-bukan.
Apa aku harus berterus terang soal ini pada dokter Rega supaya dia tahu batasan diantara kami. Apalagi Mawar begitu menyukainya, Mawar bisa kembali membenciku kalau ia tau. Baiklah, aku akan mencoba bicara dengan dokter Rega hari ini. Jika memang dia menyukaiku, ini tidak boleh terjadi. Sebelum rasa di hatinya semakin mendalam, aku harus mengingatkannya.
***
Mobil perlahan meninggalkan halaman rumah, Revi melambaikan tangan bersama Bunga di teras depan. Kami berdua hanya diam sejak berangkat tadi. Aku belum berani memulai obrolan. Masih menyusun kalimat yang pas untuk kusampaikan. Setelah cukup lama akhirnya Pak Dokter mengajak bicara.
"Mbak, Vitaminnya mbak minum kan setiap hari? Mbak masih suka mual nggak? Kalau ada apa-apa jangan sungkan kasih tau aku. Setiap hari aku browsing mencari tau soal kehamilan."
Aku diam saja, membuang pandangan keluar jendela sambil menggigiti kuku, tidak nyaman.
"Mbak, mau USG sekalian kah? Karena biasanya kandungan umur 5 bulan InshaAllah bisa dilihat jenis kelaminnya." Aku masih diam.
"Mbak, makanan yang baik untuk wanita hamil biasanya .... "
"Pak Dokter, cukup!" kataku memotong kalimatnya sambil menoleh ke arahnya.
"Kenapa, Mbak? Saya hanya memberi tahu yang seharusnya mbak tau." Sesekali ia menetap kedepan, sesekali melihat ke arahku.
"Jujur saya tidak nyaman mendapatkan perhatian seperti itu, Dok. Maaf.... Saya merasa--," Ragu harus kukatakan atau tidak semua ini. Aku menghela napas panjang dan mencoba bicara lagi. "Dok, jangan menyukai saya." Lirih kuucapkan sambil memalingkan muka dan tiba-tiba dokter Rega mengerem mendadak.
Sittttttttt!!!!
__ADS_1
Bersamaan dengan itu aku melihat mobil bus sudah ada tepat di depan mobil ini. Karena kaget aku berteriak sambil menyilangkan tangan di depan wajah.
"Aaaaaakkk!!!"