
"Ibu, tolong jangan sampai kita didepak dari rumah ini," bisik Mawar siang itu pada ibunya yang lagi sibuk melihat-lihat perhiasan di kamar. Bapaknya sedang membaca koran di kursi sofa, dengan secangkir teh hangat di meja.
"Kamu ngomong apa? Datang-datang kok ngomong seperti itu."
"Stttt!! Ngomongnya pelan saja, nanti didengar Bapak." Mawar menarik-narik ujung baju Bu Jamila.
"Lagian kamu ngomong seperti itu, Ibu nggak mau kere lagi. Jadi harus bisa bertahan di sini! Jadi kamu harus atur strategi untuk mendapatkan hati Arjuna."
"Aku nggak mau sama Tuan Arjuna, juteknya kelewatan. Susah mau dapetin dia, aku ... " Mawar mengulum senyum, "Aku suka sama adeknya, Bu." Mawar langsung menutup muka dengan tangan sambil tersenyum gemash.
Pletak!
Ibunya menyentil telinganya yang membuat dia meringis kesakitan.
"Kalau mimpi jangan kejauhan! Embat yang di depan mata aja!" ketus Ibunya berkata lalu kembali sibuk dengan perhiasan di tangan.
"Kalian bicara apa sih, kok bisik-bisik?" tanya Bapaknya.
"Kepo si Bapak! Udah baca koran sana!" timpal Mawar, bapaknya hanya menggelengkan kepala. Mawar kembali berbisik di telinga ibunya.
"Bu jangan sampai rahasia Melati ketahuan, ya!"
Ibunya bengong, menatap wajah anaknya tidak percaya. Ia memegang kening anaknya, takut anaknya demam.
"Kamu sakit ngomong gitu?"
"Ih! Mawar serius!! Kita bisa di usir berserta dia kalau ketahuan."
Mata ibunya memicing mencurigai anaknya.
"Kamu kenapa sih?"
"Buuuu!!" Mawar merengek seperti anak kecil. "Tolong jaga rahasia Melati supaya kita bisa terus tinggal di sini. Aku nggak mau jauh dari Pak Dokter tampan itu. Iya, Bu ... " Mawar memohon.
"Ish!! Anak ini, kalau udah punya kemauan!!" kata ibunya geram. "Awas kalau nggak berhasil naklukin hatinya! Arjuna nggak dapet, dia nggak dapet juga. Bisa miskin lagi kita!!" bentak ibunya tertahan takut didengar sang suami.
***
"Tuan, bagaimana dengan janji kita pada mawar yang akan melanjutkan kuliahnya?" tanya Gilsa di tengah perjalanan di dalam mobil.
"Iya, kuliahkan saja dia. Aku juga berencana ingin Melati melanjutkan sekolahnya."
"Baik Tuan, nanti sekalian akan saya urus untuk Nyonya Melati."
__ADS_1
"Iya, urus saja. Aku akan bicara sama Melati malam ini. Mungkin dia ingin menamatkan sekolah SMAnya, kita bisa ambil paket C, setelah itu memasukkannya kuliah khusus jurusan seni tari. Kan dia bisa buka kursus sendiri nanti."
"Ide bagus, Tuan," sahut Gilsa dari jok depan.
"Selama ini ideku buruk, ya!"
"Bukan seperti itu. Maafkan saya!"
Arjuna tersenyum sambil mengibaskan tangan di depan muka dan berkata "Aku hanya bercanda Gilsa."
"Iya, Tuan," jawab Gilsa dengan muka datar.
'Ahh Gilsa selalu kaku, bagaimana Regi menghadapi wanita sedingin dia?'
Arjuna melirik Regi dari kaca spion, lalu mengulum senyum membayangkan betapa membosankannya jika ia hidup bersama Gilsa. Arjuna menepuk bahu Regi.
"Iya, Tuan."
"Kamu yang sabar, ya!" kata Arjuna sembari tertawa. Karena tidak mengerti supirnya hanya diam sambil melirik Gilsa yang juga hanya diam.
***
Malamnya Melati sedang membacakan dongeng untuk Revi. Anak itu dengan senang dan antusias mendengarkan dan bertanya banyak hal pada ibu angkatnya.
"Emm," Melati berpikir. "Tidak semua tingkah kancil harus kita ikuti tingkahnya, cukup yang baik-baik saja. Misal cerita kancil yang mencuri timun di kebun Pak Tani. Kita jangan ikuti kancil mencuri, itu tidak baik. Tapi, sikap kancil yang rela meminta maaf pada Pak Tani karena telah memakan semua timun di kebunnya, itu tindakan yang benar. Jadi intinya, jangan malu meminta maaf kalau kita berbuat salah." Melati mencoba menjelaskan.
"Oh, begitu ya, Ma." Revi menganggukan kepala beberapa kali, tanda mengerti.
"Hoam!!" Revi menguap.
"Tuh kamu udah ngantuk, tidur ya!" Melati menyelimuti tubuh mungil Revi sampai ke pinggang.
"Iya, Mama Melati," sahutnya dengan mata sayu, menahan kantuk.
Wanita itu mencium kening Revi, kemudian beringsut turun dari ranjang. Setelah yakin anak itu terlelap, ia mematikan lampunya. Melati keluar kamar itu dan menutup pintu.
Sudah hampir jam 21.00 malam Arjuna belum juga pulang. Melati memutuskan menunggu di sofa sambil menghidupkan TV. Tanpa ia sadari matanya terpejam, Melati tertidur.
Sekitar pukul 22.05 malam Arjuna pulang. Ia menekan bel berulang, tapi tak ada jawaban. Akhirnya pria itu mengambil kunci serep dan membuka sendiri pintunya. Ia melongok ke dalam dan ruangan tampak sepi.
Arjuna melangkah masuk setelah mengganti sepatunya dengan sandal. Ketika melewati sofa ia melihat istrinya sudah terlelap dengan televisi masih menyala. Arjuna tersenyum, kemudian jalan mendekat. Ia duduk berjongkok di dekat istrinya, lalu menatap wajah manis wanitanya. Arjuna mengusap lembut wajah sang istri, tapi tiba-tiba Melati mengigau.
"Ma ... maafkan Melati sudah bohongin Mama, maaf ya Ma ... " Lalu bibir tipis itu kembali terkatup rapat, kemudian kembali terdengar dengkuran halusnya.
__ADS_1
'Sayang apakah kamu merasa berdosa dengan semua ini? Maafkan aku, harus membawamu dalam kebohongan ini, semua kulakuan agar kita bisa selalu sama-sama.'
Arjuna mendekat dan mencium kening istrinya dengan penuh penghayatan. Hatinya ikut bersedih mendengar istrinya mengigau. Arjuna tahu, ini juga bukan hal yang mudah baginya. Sekali berbohong dia harus terus berbohong untuk hal lainnya guna menutupi kebohongan yang lain juga, dan dosa tentu saja semakin melebar ke mana-mana, tapi Arjuna terpaksa.
Arjuna tertunduk dalam, ia akan mengumpulkan keberanian untuk berkata jujur dengan mamanya, hanya saja bukan sekarang. Setelah lama termenung menatap wajah Melati, Arjuna mengangkat tubuh sang istri ke kamar. Dengan sangat hati-hati ia membaringkan tubuh istrinya.
Setelah yakin istrinya tidak terbangun, Arjuna melangkah ke kamar mandi, ia membersihkan diri. Usai mandi pria itu langsung menjalan kan shalat Isya. Dalam doa ia memohon pengampunan karena telah membohongi mamanya. Dalam doa ia memohon agar selalu dipersatukan dengan istrinya Melati Kusuma, wanita yang paling di cintainya.
Arjuna mengusap wajah dengan kedua tangan, tanda bahwa ia selesai berdoa. Ia keluar ke arah balkon dan memutuskan menelepon mamanya.
Sambungan telepon terhubung.
"Halo Sayang, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam, Ma. Lagi apa? Sudah makan?"
"Ini lagi duduk nonton TV sama si Mbok. Sudah kok tadi makan, kenapa emang? Kamu sudah makan?"
"Jaga kesehatan ya, Ma. Nggak apa-apa, aku pengen masak makanan kesukaan Mama."
Mamanya tertawa. "Kok tumben, biasanya kamu paling males masakin Mama. Lidah kita itu seleranya beda. Mama suka manis, sedangkan kamu nggak."
Arjuna hanya tersenyum, lalu hening.
"Nak ... "
"Iya, Ma.".
" Kok diem? Kamu baik-baik saja, kan?"
Arjuna diam saja, pandangannya jauh menerawang menatap gemerlapnya kota Jakarta.
"Ma ... "
"Iya? Kenapa, kalau ada masalah cerita aja sama Mama."
"Ma, ada yang ingin Arjuna katakan."
"Iya, Nak. Ngomong saja."
Arjuna berbalik, menatap Melati yang terbaring di dalam, lalu bibirnya berucap.
"Ma, sebenarnya .... "
__ADS_1