
Makin hari sikap Mawar makin baik padaku. Entah hanya dihadapan Pak Dokter saja atau bagaimana, tapi jujur aku cukup nyaman dengan perlakuannya. Perlahan sikapnya yang biasa kasar jadi berubah lembut. Setiap malam aku menceritakan pada Tuan Arjuna kalau sekarang Mawar berada di sini bersamaku, awalnya ia khawatir. Namun, saat kuceritakan kecurigaanku kalau adikku itu menyukai Pak Dokter.
Tuan malah bersyukur, ia berharap Mawar bisa berubah dan jadi lebih baik karena perasaannya.
Karena menurutnya Cinta adalah perasaan yang ajaib yang bisa merubah banyak manusia, benci jadi sayang, jahat jadi baik, pahit jadi manis, dan berbagai macam rasa.
Mama, aku melihat ia sangat dekat dengan Mawar, sesekali mereka akan bicara dan ngobrol bersama di taman belakang rumah. Memberi makan ikan dengan senyum mengembang dan terlihat sangat bahagia. Aku senang melihat kedekatan mereka, tapi bagaimana dengan usahaku mendekatkan diri dengan mama. Ia lebih suka memanggil nama Mawar dibanding namaku jika membutuhkan sesuatu.
Ia lebih suka berbagi tawa bersama Mawar dibanding bersamaku dan yang lebih menyakitkan ketika Mawar bisa dengan leluasa tertawa lepas dan bercerita apa saja kepada mama, seperti kedekatan kami dulu. Tidak jarang aku hanya melamun menatap keluar jendela, bingung dengan semua ini. Kenapa masalah dalam hidup tak kunjung meredup, berganti cahaya bahagia.
Pernah suatu ketika aku melihat Mawar melesat masuk ke kamar Mama di saat semua orang tidak ada. Perlahan aku mendekat dan memperhatikannya karena ia tidak mengunci pintunya. Aku terkejut saat mengetahui ia mengambil sebuah berlian di kotak perhiasan Mama. Tanpa menunggu lama aku berbalik dan kembali ke kamar. Karena tiba-tiba terdengar pintu depan terbuka, aku bahkan belum sempet menegurnya.
Malamnya semua orang sibuk mencari perhiasan itu. Bodohnya aku tetap saja tidak tega melihat adikku berada di posisi pesakitan hingga aku mengaku kalau akulah yang mengambil kalung itu. Mama menatapku geram.
"Seharusnya memang kami tidak membiarkanmu masuk ke rumah ini!" Aku hanya menunduk.
Sementara Dokter Rega menatap dengan menyelidik. Mawar tidak kalah terkejut dengan pengakuanku.
"Maafkan Melati, Ma. Niatku hanya ingin mencobanya sebentar, kemudian mengembalikannya."
"Lancang sekali kamu masuk ke kamarku dan memeriksa isi lemariku?"
"Maaf." Hanya itu yang bisa kuucapkan.
Rega melangkah mendekat, ia memperhatikanku dengan seksama.
"Mbak, aku tahu mbak bukan orang yang seperti itu. Jangan bohong, Mbak."
"Kenyataannya seperti itu, Dok. Aku hanya ingin meminjamnya sebentar," sahutku dengan wajah tertunduk dalam.
"Sekarang kembalikan kalungku!!" Bentak Mama.
Aku merogoh saku jaket yang kukenakan, lalu mengeluarkan kalung berlian yang baru saja kuambil dari kamar Mawar sebelum berkumpul di sini.
"Mbak .... " ucapnya lirih menutup mulut dengan sebelah tangan.
Mata Mawar hampir keluar dari tempatnya. Mungkin dia bingung bagaimana kalung ini bisa ada padaku. Aku berjalan mendekati mama dan mengangsurkan kalung berlian padanya. Dengan kasar Mama merampasnya dari tanganku. Aku mundur beberapa langkah dan berbalik kemudian berlari masuk ke kamar.
__ADS_1
Aku terpaksa melakukan ini demi melindungi Mawar. Biar bagaimanapun hanya dia saudaraku. Tak tahan dengan batin yang kian menyiksa aku luruh ke lantai, menangis hingga bahuku terguncang. Mama pasti semakin benci denganku.
"Mbak." Seseorang menyentuh pundak. Aku menghapus air mata lalu menoleh.
"Kamu, Dek?" Aku tersenyum.
"Mbak kenapa melakukan semua ini?" tanyanya lirih. "Aku selalu jahat sama, Mbak. Aku akan mengakui sama Mama kalau aku yang mengambil kalung itu, bukan Mbak. Jangan membuatku merasa bersalah seperti ini."
"Jangan, Dek. Mbak adalah Kakakmu, sudah sepantasnya Mbak melindungimu. Mbak tahu kamu salah, tapi mbak tidak mau mempermalukanmu di depan orang yang kamu sukai. Jangan lagi berbuat seperti itu, ya! Mbak mau kamu berubah, Dek."
Mawar mengangguk, dagunya berkedut. Ia langsung memelukku.
"Mbak, maafkan Mawar selama ini jahat sama Mbak. maaf Mbak." Ia menangis, aku membalas pelukannya.
Mengusap rambutnya penuh rasa sayang.
"Iya, Dek. Mbak maafkan. Kamu suka kan sama Dokter Rega?" Mawar mengangguk.
"Mbak, aku akan bantu mbak mendapatkan restu dari Mama." Aku tersenyum.
"Sudah cukup air mata ini Mbak, mulai saat ini mawar akan berjuang untuk kebahagiaan Mbak juga."
Aku terharu, aku terisak. Bukan, bukan karena kesedihan. Aku tidak pernah menyangka seorang Mawar akan bersikap penuh kasih seperti ini terhadapku. Aku kembali memeluknya, kebahagiaan sedang memenuhi rongga hati.
'Terima kasih ya Allah, Terima kasih .... '
***
Sejak malam itu hubunganku dan Mawar terjalin amat baik. Ia bahkan memutuskan tidur denganku. Bercerita banyak hal soal universitasnya, teman-temannya, dosen-dosennya dan semuanya ia ceritakan kepadaku. Sebelumnya, aku hanya melihat kebencian dan kata-kata ketus darinya. Kini semua berbalik 180°.
Pagi itu sesaat setelah ia menyiapkan sarapan untukku, kami berbicara banyak hal.
"Mbak, bentar lagi Tuan Arjuna pulang. Mbak tinggal di rumah yuk untuk beberapa hari."
Aku terdiam, bagaimana dengan Ibu. Mungkin Mawar sudah bisa menerimaku, tapi Ibu?
"Pasti mikirin Ibu, ya?" Aku tersenyum. "Mbak nanti aku bantuin supaya Ibu nggak benci lagi sama Mbak." Aku menatapnya, tidak percaya. "Percaya sama Mawar," katanya seraya memegang tanganku.
__ADS_1
"Mungkin nanti mbak ke sana, tapi untuk menemui Bapak. Mbak masih sulit menyesuaikan diri berhadapan dengan Ibu. Apalagi Ibu sering menyebut Ibu kandung mbak dengan kata-kata yang tidak pantas." Aku mengalihkan pandangan.
Tiba-tiba Mawar turun dari ranjang dan berdiri dengan lututnya. Ia mengungkapkan penyesalannya pernah bicara seperti itu juga tentang Ibu kandungku.
"Mbak, sepertinya Mawar tidak berhak mendapatkan pengampunan, Mbak. Tapi, kalau boleh, tolong beri Mawar kesempatan ke dua untuk memperbaiki semuanya. Mawar mohon, Mbak."
"Dek, kamu apa-apaan. Jangan seperti ini, Dek." Aku memegang bahunya dan mengajak duduk di sisi ranjang. "Mbak percaya kamu orang baik, Dek. Hanya saja ada kesalah-pahaman yang berlarut-larut antara kita."
Mawar mengangguk. "Udah, kamu kuliah gih! Nanti terlambat." Pintaku yang jawab anggukan kepala olehnya. Mawar mencium punggung tanganku sebelum akhirnya berangkat kuliah.
Setelah Mawar pergi, pintu kembali terbuka. Aku pikir mungkin ada yang tertinggal.
"Kenapa, Dek?" tanyaku sambil menoleh kebelakang.
"Rega, Mbak. Bukan Mawar. "
"Pak Dokter. Silakan duduk, Pak!" Aku beranjak dan duduk di sofa. Dokter Rega duduk tepat di hadapanku. "Ada apa, Dok?" tanyaku langsung saja.
"Maaf, bukan bermaksut menguping, tapi aku mendengar semua yang kalian bicarakan di sini barusan dengan Mawar sejak semalam."
'Apakah Dokter Rega juga mendengar bahwa yang mengambil kalung itu bukan aku.'
"Mbak kenapa harus mempertaruhkan nama baik Mbak hanya untuk orang seperti Mawar? Dia berhak mempertanggung jawabkan perbuatannya, Mbak. Kenapa mbak harus menanggung semuanya?"
Aku diam saja, berpikir apa yang harus kukatakan.
"Dia adik saya, Dok. Sudah sewajarnya saya melindunginya."
"Mbak bukan melindunginya. Dengan cara seperti itu Mbak semakin memperburuk moralnya. Kedepan ia akan melakukan hal yang sama karena ada yang membela dan memasang badan. Itu cara yang salah, Mbak!" Suara Dokter Rega meninggi.
"Saya yang jadi tersangka, kenapa dokter marah-marah? Saya tidak merugikan dokter sama sekali."
"Karena saya tidak mau orang yang saya anggap paling berharga dicap buruk dan dibenci banyak orang! Mengapa Mbak memperburuk keadaan? Mengapa??"
"Hah? Apa??"
Dokter Rega mengalihkan pandangan. Apa mungkin dia keceplosan? Lalu maksudnya apa? Tanpa mengatakan apa pun ia langsung berdiri dan meninggalkanku pergi.
__ADS_1