
Melati dan Rega stop di sebuah toko lukisan. Mereka turun beriringan, Rega mengajak Melati melihat sesuatu di sana. Kini mereka sedang duduk menunggu seseorang. Tidak berapa lama datang seorang wanita berhijab membawa sesuatu di tangannya, cukup besar, tampaknya sebuah lukisan dinding berukuran sekitar satu meteran. Dalam hati Melati bertanya-tanya, lukisan apa itu?
"Makasih, ya Mbak." ucap Rega pada perempuan itu dan memberikan sejumlah uang sambil mengambil alih lukisannya, setelahnya perempuan itu berlalu.
"Apa ini, Dok?" tanya Melati mendekati lukisan yang sudah ada ditangan Dokter Rega, lukisan itu masih tertutup kain berwarna putih.
Dokter Rega membuka kain putih pada lukisan itu secara perlahan dan nampak lah lukisan Melati bersama mama mertuanya, Ibunya Rega dan Arjuna.
Itu moment dimana Melati duduk bersimpuh sambil mencium tangan mama mertuanya, Sementara Bu Hertini nampak mencium puncak kepala menantunya. Melati takjub dengan lukisan itu, tak jemu-jemu ia memandang dan merabanya.
"Maaf, Mbak. Saya ambil fotonya tanpa permisi. Ini saya hadiahkan untuk Mbak sebagai ucapan Terima kasih. Karena Mbak, semangat dan kebahagiaan Mama saya kembali."
"Ini bagus sekali, Dok. MashaAllah ... Terima kasih banyak, ya! Tidak apa-apa saya malah suka melihat ini semua. Lagi pula saya memang belum punya foto mama."
Dokter Rega mengangsurkan lukisan itu pada Melati dan wanita itu dengan senyum bahagia menerimanya.
"Kalau boleh, saya mau ngajak Mbak Melati makan dulu. Baru saya antar pulang ke rumah."
Melati yang sejak tadi memperhatikan lukisannya, kini menatap ke arah Dokter Rega.
"Makan?"
"Iya, kalau Mbak Melati nggak keberatan."
"Ehh, sebentar saja ya, Dok!"
"Iya, selesai makan kita langsung pulang, Mbak."
"Baiklah."
Akhirnya mereka menuju ke sebuah restoran.
***
Di sebuah restoran Rega duduk berhadapan dengan Melati. Begitu banyak yang ingin dikatakan dokter muda itu pada kakak iparnya. Meski pun Melati tak banyak bicara, tapi Rega senang dekat dengannya. Harapan untuk kembali berkumpul bersama Arjuna begitu besar diletakkan dipundak perempuan itu.
__ADS_1
Rega memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu, laki-laki itu mencurahkan keluh kesahnya pada Melati.
"Semenjak hari itu, dimana Kak Arjuna meminta aku memilih antara dirinya dan Mama. Aku benar-benar kehilangan sosok saudara. Aku tidak mungkin membiarkan mama sendirian, sementara kak Arjuna sudah cukup dewasa untuk melewati hari-harinya. Aku pikir dengan berjalannya waktu, lama kelamaan hubungan ini bisa membaik dengan sendirinya, kenyataannya sampai sekarang tidak ada kemajuan apa-apa. Dihari dimana kalian menikah, aku ada di antara para paparazi itu, Mbak. Aku mendoakan kebaikan untuk kalian berdua dan berharap pernikahan kalian bahagia."
"Terima kasih, Dok." Hanya itu yang terlontar dari bibir tipis perempuan di hadapannya, setelahnya ia kembali menundukkan pandangan.
Melihat sikap Melati Rega tersenyum, dijaman sekarang jarang sekali ada wanita yang bisa menjaga perkataan dan pandangan seperti wanita di hadapannya ini. Andai dia masih sendiri, Andai hatinya belum ada yang memiliki. Tentulah ia masih bisa mendapatkan satu perempuan seperti Melati. Tanpa di sadari Rega melamun sendiri, tapi segera tersadar saat ada seorang pria yang terbatuk di samping meja mereka.
'Astaghfirullah, apa yang aku pikirkan.' Ia berusaha membuang pikiran itu. Lalu kembali fokus pada tujuanya.
"Aku berharap besar, Mbak Melati bisa membawa kembali Kak Arjuna bersama kami. Karena aku tau, dia sangat mencintai Mbak, bahkan aku sering melihat perubahan sikapnya di TV. Jika dulu ia keras, tak perduli dengan perasaan orang lain, kini ia lebih bisa mengontrol emosi dan kata-kata pedasnya. Apa Mbak Melati bersedia membantu kami?"
Melati terdiam, dalam hati kecilnya, ia sangat ingin membuat mama mertua dan suaminya bersatu kembali.
"Saya akan usahakan, Dok."
"Terima kasih, Mbak." Melati hanya tersenyum samar.
"Permisi, pesanan datang," ucap seorang pelayan membawa makanan dan minuman dalam nampan, lalu meletakkannya di meja.
"Ayo, Mbak. Silakan di makan!" ajak dokter Rega.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata sedang memperhatikan sejak tadi. Mariska, teman seprofesi Arjuna sedang kumpul bersama beberapa teman sosialitanya di sana. Ia seperti mengenal Melati, tapi ragu mau mendekatinya. Akhirnya ia hanya mengambil foto mereka berdua dan akan menanyakan pada Arjuna nanti malam.
***
Malamnya Arjuna baru saja pulang dari lokasi syuting. Sungguh ia merasa lelah dan ingin segera beristirahat.
'Mungkin aku bisa menelpon istriku besok saja. Ia pasti lelah hari ini karena harus mengurus Revi.' batinnya. Arjuna langsung mesuk ke kamar mandi.
Selesai membersihkan diri dan shalat Isya Arjuna berbaring di pembaringan. Baru saja ia akan memejamkan mata ponsel bergetar. Satu pesan dari Mariska.
[Juna, gue kok kayak liat Melati lagi makan di restoran yang sama ya sama gue hari ini, coba deh loe cek foto ini. Gue takut salah.]
Mariska mengirimkan foto. Wajah Arjuna memerah seketika ketika melihat wanita pujaannya sedang duduk, makan berdua bersama adik kandungnya sendiri disebuah restoran.
__ADS_1
'Apa mungkin selama ini Melati menemuinya diam-diam dibelakangku? Kenapa? Apa mereka selingkuh? Apa ini salah satu alasannya tak mau ikut denganku?'
Berbagai macam dugaan bersarang di otak laki-laki itu. Ia segera menelpon seseorang.
"Halo, saya Arjuna. Tolong kamu ikuti aktifitas istri saya setiap harinya. Kirimkan laporannya setiap hari. Kemana saja dia pergi dan bertemu siapa saja."
"Baik, Tuan." Telepon dimatikan.
Arjuna tidak bisa memejamkan matanya, hatinya sedang panas. Tidak berapa lama ponsel kembali bergetar. Ternyata Melati yang menelponnya.
Arjuna diam saja, ia enggan mengangkat. Suasana hatinya sedang tidak baik. Ia takut kemarahannya memuncak jika langsung bertanya pada istri yang sangat di cintainya itu. Karena tak kunjung diangkat akhirnya Melati hanya mengirimkan pesan.
[Mas, mungkin kamu kelelahan hari ini, sehingga tidak mengangkat telponnya. Maaf, ya. Tidak seharusnya aku melarangmu pergi waktu itu dan bersikap seperti anak-anak. Aku sadar, pekerjaanmu juga penting, Mas. Karena di balik pria yang sukses ada perempuan hebat di sampingnya. Dan aku mau menjadi perempuan itu, aku mau mendukungmu mulai saat ini. Aku akan sabar menunggu di sini. Kamu jangan lupa makan dan shalat. Hati-hati kerjanya. Mas tau setiap hari aku menonton acara Mas di TV. Semangat kerjanya. Love you (emot love)]
Arjuna menarik napas dalam. Dipejamkannya mata dan berusaha tenang.
'bahkan kini ia tidak keberatan kutinggalkan pergi. Kenapa? Apa karena ingin bebas menemui Rega di sana? Kenapa dengan mereka berdua?'
Arjuna jadi salah berprasangka. Ia bahkan tak dapat memejamkan mata barang sedetik pun. Ia tak sabar ingin mendapatkan kabar dari detektif yang di sewanya. Jika terbukti ada sesuatu di antara mereka Arjuna berjanji tidak akan memaafkan istrinya.
***
Setelah hari itu Arjuna jadi tidak pernah menelpon istrinya, sedangkan Melati tidak pernah tahu kalau ternyata suaminya menyewa detektif untuk membuntuti kemanapun dia pergi. Ia masih rutin mengunjungi mamanya Arjuna, kadang dijemput Rega. Sikapnya tetap sama, irit bicara, ia hanya menghargai Rega sebagai adik iparnya, tidak lebih.
Semakin hari semakin banyak Arjuna mendapatkan bukti foto istrinya dan adiknya sendiri. Hatinya semakin di bakar api cemburu. Pesan Melati hanya sesekali di balas olehnya itu pun hanya beberapa kata. Sedangkan Melati bingung dengan sikap suaminya.
Malam itu Melati hanya duduk Melamun di balkon rumah, ia memandangi langit di atas sana. Hatinya hampa, tak ada canda, tak ada cinta seperti biasa, bahkan sudah lebih dari sepekan. Kemana kekasih yang selama ini amat mencintainya itu. Melati bahkan berubah menjadi wanita yang manja dan ceria setelah menemukan kenyamanan bersama Arjuna.
"Mas, kamu lagi apa di sana?" tanyanya pada ribuan bintang yang terbentang luas. "Aku kangen!" suaranya mulai serak. Ia menelan salivanya beberapa kali. Dagunya sampai berkerut menahan kesedihan ini. "Mas, kamu kapan pulang?" tanyanya pada langit yang tak bertiang.
Bayangan wajah, canda tawa dan keromantisan mereka mengikis relung hatinya yang paling dalam. Wajahnya mulai memanas, air dimatanya mulai menggenang. Melati tak tahan, kepalanya tertunduk tiba-tiba, ia terisak-isak. Rindu dihatinya begitu dalam untuk suami tercinta.
"Mas, kamu kenapa? hiks hiks hiks. Apa kamu marah? Kalau marah katakan salah aku apa, Mas?" Melati menangis di dalam kedua siku tangannya.
Tapi kenyataannya jauh di sana, kecemburuan telah menutup hati Arjuna. Setiap malam ia hanya memperhatikan foto kebersamaan istrinya dan adik kandungnya. Benci, emosi dan tak percaya merasuk ke dalam relung jiwanya.
__ADS_1
"Tunggu aku pulang!" ucapnya lirih, manatap tajam pada foto itu.