Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Allah mendengar Do'amu


__ADS_3

Tepat pukul 12 malam Arjuna pulang ke rumah, itu pun menunggu sang Mama terlelap. Ia masuk ke rumah dan meletakkan koper di kamar. Pria itu tak menemukan istrinya, kemudian samar-samar ia mendengar suara seseorang dari kamar Revi.


Arjuna melangkahkan kaki menuju kamar itu, ternyata itu suara sang istri sedang berdoa kepada Rabbnya.


"Ya Allah, kuserahkan hidup dan matiku hanya kepadaMu. Tiada daya diri ini tanpa rindhoMu ya Allah. Semua keputusan hidupku ada padaMu. Engkau yang lebih tau, mana yang terbaik untukku. Tapi jika boleh meminta, izinkan suamiku tetap menjadi milikku selamanya.


Bisakah kami tetap bersama, tanpa membuat orang lain marah dan menderita, seperti Mama misalnya. Limpahkan kesehatan dan seribu kebaikan untuknya, sungguh Mama adalah orang yang baik, hanya saja beliau pernah dikecewakan oleh masa lalu.


ya Allah, tiada daya upayaku selain meminta sesuatu hanya kepadaMu. Berikan limpahan kasih sayang dan kebahagiaan untuk suamiku, mudahkan rejekinya, ampuni kesalahannya dan jika memang aku bukan yang terbaik untuknya ... "


hening, Melati memejamkan matanya.


"Jika memang aku bukan wanita yang baik untuknya, berikan ia pengganti yang 1000 kali lebih baik dariku ya Allah .... "


Melati bersujud dengan isak tangisnya. Arjuna hanya mendengarkan dari balik dinding, tanpa mendekat. Sesekali disekanya air mata yang mengintip di ujung mata. Perlahan Ia melangkah ke kamar, hatinya pun diliputi rasa sedih yang begitu menyesakkan dada. Arjuna menutup pintu kamar dan luruh di belakang daun pintu.


Meringis ia menahan sakit dan pilu. Diremasnya kepala sambil mendongak ke atas. Pria itu mulai terisak dengan suara tertahan. Besok Ia harus membawa Melati menemui Mamanya, ia harus mengambil keputusan terberat meski pun hatinya menolak.


Arjuna beranjak, ia mendekati dinding dan membenturkan kepalanya berulang kali.


"Aku memang bodoh! Maafkan aku Sayang! Bodoh! Bodoh! Bodoh!"


Arjuna terus membenturkan kepalanya kedinding sambil menangis, ia bingung dengan keadaan ini. Di satu sisi ia sangat mencintai istrinya, di sisi lain ia tak bisa begitu saja menolak keinginan Mamanya karena penyakit yang diderita sang Ibu. Sepuluh tahun lebih ia mengabaikan mamanya, dan itu membuatnya dihantui rasa bersalah.


Melati mendengar suara dari kamar suaminya, tanpa melepas mukena ia langsung melihatnya. Perlahan wanita itu memutar knop pintu dan alangkah sedih dan terkejutnya saat Melati melihat keputus asaan sang suami sampai menyakiti dirinya sendiri.


Melati berlari dan mendekati Arjun, ia berdiri didepan suaminya dengan melentangkan tangan di dinding menghadap ke arah suaminya.


"Mas jangan seperti ini, Mas. Jangan seperti ini! Tolong jangan sakiti dirimu sendiri! Aku mohon Mas!" teriak Melati dengan air mata berderai.


"Seharusnya Allah tidak mempertemukan kita Sayang. Aku hanya membuatmu menderita!"


Arjuna luruh, ia bersimpuh di depan wanitanya, berdiri diatas lututnya dengan muka tertunduk dan bahu berguncang hebat.


"Aku lemah! Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku terlalu takut kehilangan Mama, hiks hiks. Maafkan Mas."


Melati ikut luruh dan berdiri di atas lutut di depan suaminya. Ia membingkai wajah Arjuna dengan tangan mungilnya dan menatap wajah penuh keputus asaan itu dengan nanar.


"Mas, lihat aku Mas!" Arjuna masih menunduk. "Mas lihat aku!" pinta Melati penuh penekanan.


Arjuna menegakkan wajah menatap wanita tangguh yang ada dihadapannya.


"Mas, aku selalu bahagia menjadi istrimu, Mas! Aku selalu bahagia, bahkan aku tidak pernah diperlakukan sebaik saat aku menikah denganmu, dulu hanya Bapak yang baik denganku, tapi saat bersamamu semua orang bersikap baik padaku. Terima kasih ... "


Melati mengusap lembut kedua pipi sang suami dengan tangan mungilnya.


"Kamu tidak lemah, Mas. Kamu laki-laki yang hebat! Mungkin jika orang lain sudah marah dan menyakiti hati ibunya, bahkan lebih parah. Tapi Mas tidak seperti itu, Mas tetap menjaga hati Mama sebaik mungkin, tidak ingin menyakitinya dan tetap patuh dengannya, meski itu berat ... "


Suara Melati mulai parau, alis tebal itu saling bertaut. Ia menatap pria di hadapannya penuh rasa nyeri.


"Aku percaya Mas, laki-laki yang sayang dan bisa menghormati ibunya adalah laki-laki yang layak dijadikan suami. Itu pria sepertimu, Mas. Aku tidak salah mendapatkan pria sebaik kamu Mas, percayalah ... "

__ADS_1


Mereka saling bersitatap, lama.


"Tapi aku menyakiti hatimu dengan keputusanku Sayang ... "


"Mas!" Melati mengambil tangan suaminya kemudian menciumnya dengan takzim. "Ini keputusan kita berdua, bukan hanya keputusan mu. Kita sudah melakukan yang terbaik, sisanya serahkan pada yang di atas. Percayalah, Allah lebih tau mana yang lebih baik bagi hambanya."


Wanita itu jalan lebih mendekat dengan lututnya, kemudian memeluk sang suami dengan erat. Arjuna membalas pelukan istrinya, mereka terisak berdua. Diciumnya puncak kepala sang istri berulang sambil mengucapkan ratusan kata maaf.


***


Paginya sebelum pergi menemui mama mertua, Arjuna Dan Melati datang ke rumah lama untuk menemui Revi dan keluarga lainnya. Seperti biasa Melati terlihat riang dihadapan anak kecil itu.


Ia bercerita banyak hal tentang kota Bali yang dikunjunginya dan meminta maaf karena tidak sempat membelikan oleh-oleh untuknya.


"Padahal Revi nunggu-nunggu loh!" katanya dengan mulut mengerucut.


"Lain kali mama janji deh nanti Mama beliin. Ya udah, Mama nemuin kakek dulu ya! Revi sama ibu bunga." Anak kecil itu mengangguk sambil menunjukkan senyum manisnya.


Sementara Melati menemui sang Bapak, Arjuna menemui Tante Dinda. Ia mencurahkan seluruh isi hatinya.


"InshaAllah Akan ada kemudahan di tengah kesempitan. Tante turut mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua." kata Tante Dinda.


"Kak percaya, deh. Kalau pun kalian harus berpisah suatu saat pasti kembali bersatu. Aku yakin Melati itu jodohnya kakak!" Dewi memberi semangat.


"Terima kasih semuanya. Hari ini kami Akan menemui Mama, semoga Allah memberi jalan supaya kami tetap bersama."


Tante Dinda memeluk Arjuna sambil menepuk nepuk kecil bahunya.


"Jadi nggak ada berita apa-apa? Mertuamu tidak marah soal kejadian waktu itu?" tanya Bu Jamila acuh tak acuh.


"Bu, mama jelas marah. Bahkan mama meminta kami berpisah." Melati tersenyum tipis.


"Ya Allah, Nak. Maafkan Bapak sama Ibu, kalau kami tidak bertengkar waktu itu pasti tidak Akan ada kejadian ini." kata Pak Fikri merasa bersalah.


"Kenapa bawa-bawa Ibu? Bapak yang mancing-mancing bahas soal pelac** itu. Coba kalau Bapak nggak mancing-mancing pasti kita tidak akan ribut di sini!" bentak Bu Jamila.


Melati tertunduk, kembali ibunya merendahkan harga diri Ibu kandungnya. Tanpa berkata apa pun Ia berlari keluar, Bapak dan Ibunya kembali bertengkar. Melati duduk di taman belakang, masalahnya sudah sangat berat, tapi ibunya menambah beban di hati dengan merendahkan ibunya.


"Nyonya, kenapa duduk di sini sendiri?" tanya bibik. Melati menoleh dan tersenyum sembari menghapus air mata.


"Nggak apa-apa Bik, lagi pengen sendiri aja."


"Nyonya, saya tahu kabar yang beredar soal Nyonya dan Tuan. Doa saya semoga masalah kalian segera berlalu. Nyonya yang sabar ya!"


Melati mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Begitu banyak doa baik yang ditujukan untuk mereka berdua. Allah tidak pernah tidur, Ia mendengar semua doa hambanya, termasuk doa doa baik yang ditujukan pada Melati dan Arjuna, dari orang-orang terkasih.


***


Dikediam Rega, Arjuna duduk di hadapan Mamanya. Melati memilih berdiri di dekat jendela, di belakang suami dan mama mertuanya. Ia berulang kali beristigfar untuk menenangkan hati. Sedangakan Rega berdiri tidak jauh dari Melati.


"Apa hari ini kalian akan menepati janji?" tanya Mamanya saat mereka sudah lama diam.

__ADS_1


"Iya, Ma." sahut Arjuna singkat.


"Sebelumnya, Mama ingin bicara sama Melati. Boleh?"


Melati menoleh, berdiri menghadap ke arah Mamanya, Arjuna tak bergeming, ia masih menunduk duduk di hadapan Mamanya, memunggungi istrinya, ia tak sanggup harus melihat wajah Melati saat ia mengucapkan talak nanti.


"Melati, mama tidak membencimu. Kamu wanita yang baik, pasti nanti kamu akan dipertemukan dengan pria yang baik, tapi bukan Arjuna."


Melati tersenyum tipis sambil memalingkan wajah.


"Mama tau ini bukan kesalahanmu, tapi mama anti dengan perempuan seperti ibumu, apa pun alasannya dan mama tidak akan pernah bisa menerima anak beserta cucu dan cicitnya sebagai teman apalagi keluarga."


Bu Hertini menatap Melati dengan tajam.


"Terima kasih untuk semuanya, kami berhutang budi padamu. Mama bukan orang yang tak tau berterima kasih, dan lupa budi baik orang lain. Maka dari itu, mama akan memberikan sejumlah uang kepadamu, bukan bermaksud menghina, tolong jangan tersinggung."


Melati menahan air matanya, dagunya berkedut berulang kali.


"Ma, terima kasih. Melati ikhlas melakukannya. Kalau pun Melati bukan dari bagian keluarga ini, Melati akan tetap melakukan itu. Maaf Melati tidak bisa menerima uang Mama." Ia menghapus air yang sudah mengintip di ujung mata.


"Itu terserah padamu, yang penting Mama sudah bermaksud membalas budi baikmu."


"Ma, cukup Ma. Bisa kita mulai?" tanya Arjuna lirih. Ia tak mau menambah luka di hati sang kekasih.


"Baik lah, semakin cepat makin baik."


Rega terus menatap wajah Melati. hatinya ikut teriris melihat wanita yang disukainya batinnya tampak tersiksa seperti itu. Melati kembali berbalik dan menatap keluar jendela, sambil sesekali menghapus air mata.


Hening.


.


.


.


"Saya akan memulai," kata Arjuna setelah mempersiapkan diri untuk bicara, Ia menarik napas berat berulang, kemudian mencoba bicara.


"Saya Arjuna Delendra, secara sadar dan sehat, dengan ini menjatuhkan talak satu kepada ... "


Arjuna tertunduk dalam, mulutnya tak sanggup menyebut nama orang yang sangat di


cintainya. Sementara Melati mulai limbung, Ia berpegangan pada dinding, pandangannya berkunang. Kepalanya terasa pusing dan berat.


"Saya menjatuhkan talak satu kepada Me ... "


Brukk!!


Melati ambruk di lantai, Rega langsung berlari mendekatinya.


"Kak, Mbak Melati pingsan!" teriaknya nyaring.

__ADS_1


__ADS_2