Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Kembalinya Juwita (Pov Arjuna)


__ADS_3

Kepalaku pusing. Mengapa mereka berdua sulit sekali ditemukan?


'Sayang, apakah kamu baik-baik saja?'


Akhh! Aku meremas kepala. Aku bahkan sudah libur syuting selama tiga hari. Harus kucari kemana kalian? Aku menyambar ponsel di atas nakas, kemudian mencari nomor Gilsa.


"Ada kemajuan?" tanyaku setelah tersambung dengannya.


"Lagi diusahakan Tuan."


"Sampai kapan? Apa aku harus sabar menanti kalian menemukan Melati? Kenapa kalian bodoh sekali tidak bisa menemukan mereka berdua? Kenapa??"


"Maafkan kami, Tuan. Kami akan berusaha semaksimal mungkin."


Aku langsung mematikan ponsel. Setiap hari aku harus memberikan alasan pada Mama. Apa yang harus kukatakan jika ia menelpon lagi dan lagi. Kulirik jam di pergelangan tangan. Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari.


'Sayang, pulang!!!' batinku mengemis, berharap istriku mendengarnya.


***


Pagi-pagi semua sudah berkumpul di meja makan. Aku sedang tak berselera makan. Bunga mengangsurkan makanan di hadapan. Sementara Tante Dinda dan Dewi sepertinya tidak berani bersuara. Pak Gus hanya menundukkan kepala. Di sampingku ada Revi yang bersiap akan pergi ke sekolah.


"Om ganteng. Mama Melati ke mana? Kok nggak pulang-pulang. Revi kan kangen!" katanya dengan raut bersedih. Aku diam saja, mengalihkan pandangan dan berdiri.


"Tuan, Anda bisa sakit kalau tidak pernah sarapan!" kata Bunga saat aku hendak melangkah.


Aku berhenti dan sedikit menoleh ke belakang.


"Aku tidak suka ada yang sok mengaturku." Kemudian kembali melangkah maju. Baru saja akan keluar dari pintu utama aku melihat seseorang berdiri di hadapanku.


Kuperhatikan dari bawah, ia memakai celana berbahan dasar berwarna biru tua, kemudian blazer sampai pertengahan paha berwarna hitam. Aku terus memperhatikannya, kulihat bagian kepala tertutup hijab berwarna biru pula. Apa mungkin Melati? Tapi, Melati tidak setinggi ini. Wajah itu tertunduk dalam, sampai aku tidak bisa melihat wajahnya.


"Maaf kamu siapa?" tanyaku karena penasaran. Wanita itu mengangkat wajah dan tersenyum tipis.


"Juna .... " panggilnya lirih. Aku hampir tidak percaya dengan apa yang aku lihat. "Apa kabar?" Ia mengulurkan tangan.


Juwita dengan penampilan yang sangat berbeda berdiri di hadapanku. Ia mengenakan hijab dan berpakaian sopan. Tak ada make up tebal, tak ada pakaian seksi seperti biasa.


"Mama!!" Teriak Revi dari belakang tubuhku. Ia berlari dan menubruk tubuh mamanya. Juwita berjongkok, membelai lembut kepala anaknya dan mencium kening.


"Maaf kan Mama ya Sayang. Mulai saat ini Mama akan menyayangimu sepenuh hati. Kita akan hidup bahagia. Mama berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi." Ia menangis memeluk tubuh kecil anaknya dengan penuh kasih.


"Mama. Kenapa tidak kasih tau kalau mau keluar dari rumah sakit itu. Kan Revi bisa jemput Mama." ucap anak itu sambil terisak. "Revi kangen sama Mama."


"Mama juga sayang!" Mereka berdua menangis sesenggukan, saling berpelukan dan saling menghapus air mata.


"Ya sudah, nanti sore kita pulang ke rumah kita, ya! Mama merasa tidak enak selalu merepotkan Oom ini."


Semua orang yang ada di dalam keluar, melihat siapa yang datang.


"Nyonya, kalau Anda pergi bagaimana dengan keadaan Anda? Apakah anda yakin semua akan baik-baik saja. Anda baru saja sehat dan butuh pengawasan. Saya takut Anda sakit tengah malam atau yang lainnya," kata Bunga mengingatkan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Bunga. Aku yakin aku baik-baik saja. Kalau nanti terjadi sesuatu aku akan mengurung diri di dalam kamar supaya tidak menyakiti anakku."


Semua orang saling pandang, kasihan. Masalahku memang lagi banyak. Apa aku terlalu jahat kalau membiarkannya tinggal sendirian tanpa pengawasan?


"Om ganteng, bolehkah Mama dan Revi tinggal di sini sampai Mama tidak sakit lagi?" Revi menoleh dan bertanya hal itu padaku.


"Nak, Mama nggak apa-apa. Kita pulang ke rumah kita saja, ya!" Juwita menolak. Sepertinya ia memang sudah berubah. Juwita melangkah sambi menggandeng tangan anaknya.


"Wita! Tinggallah di sini untuk beberapa hari. Sampai kau benar-benar pulih!" kataku kemudian berjalan ke arah mobil. Membuka pintu dan melesat masuk. Ia hanya diam memperhatikanku pergi. Begitu juga yang lainnya. Perlahan mobil meninggalkan halaman rumah. Aku akan ke rumah Mama. Mengunjunginya agar ia tak kesepian.


***


"Ohh, jadi Rega sekarang keluar kota? Tumben-tumbenan ia nggak pamit sama Mama. Kenapa mendadak gitu ya?" tanya Mama setelah aku memberi sebuah alasan. Aku hanya mengangkat bahu. Pura-pura tidak tau. "Terus, menantu Mama kenapa nggak diajak ke sini?"


Aku menarik napas panjang kemudian memgalihkan pandangan. Kupejamkan mata meredam kerinduan yang semakin membuncah.


'Sayang, Mas rindu .... '


"Juna!" Sentuhan Mama di pundak menyadarkanku.


"Iya, Ma?"


"Kok diem? Melati mana?"


"Karena perutnya makin hari makin besar, jadi aku minta dia tetap ada di rumah, Ma!"


"Ihh! Kamu nggak kasihan? Nanti kalau dia bosen gimana?" Aku hanya tersenyum samar.


***


Malam ini masih sama. Aku terbelenggu dengan kerinduan yang kian menggunung. Aku duduk di sofa dan memijat pelipis di dekat mata. Aku duduk tertunduk memandang lantai dengan perasan yang tak bisa ku ungkapkan dengan kata.


tok! tok! tok!


Suara seseorang mengetuk pintu.


"Ya, Masuk!" Perintahku masih memijat pelipis.


Kreakk!


Pintu terbuka, terlihatlah Juwita memakai baju tidur berlengan panjang berwarna coklat dengan hijab instant. Ia membawa gelas dalam nampan.


"Maaf, apa aku ganggu?" tanyanya berdiri di depan pintu.


"Kenapa?" tanyaku to the poin saja.


"Aku hanya membawakanmu segelas teh hangat."


"Taruh di sini saja."


Juwita masuk dan meletakkan gelas di atas meja sofa.

__ADS_1


"Boleh aku duduk?"


"Buat apa? Buat merayu? jangan mentang-mentang tidak ada Melati di sini kau bisa sesuka hati merayuku!" kataku ketus.


"Juna! Aku sudah berubah, aku tidak serendah itu!! " katanya penuh penekanan dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Aku tulus ingin menjadi teman bicaramu, siapa tahu bisa mengurangi bebanmu. Begini sikapmu? Kalau memang kau belum bisa menerima perubahanku, setidaknya hargai usahaku. Jangan kau patahkan semangatku untuk menjadi lebih baik dari diriku yang kemarin!"


Setelah bicara seperti itu dengan linangan air mata ia pergi begitu saja. Aku diam saja, membiarkan wanita itu kecewa, lalu menghempaskan tubuh di sofa dan berusaha memejam.


"Apa mungkin ia benar-benar sudah berubah?"


Akhh!


Dret! dret! dret!


Ponsel di atas nakas bergetar, aku segera beranjak dan mengambilnya. Telepon dari Gilsa. segera aku mengangkatnya.


"Iya, halo?"


"Tuan, mobil Tuan Muda Rega sudah di temukan.".


"Benarkah? Di mana?"


"Cukup jauh dari sini. Jalan menuju ke desa. Mobil itu masuk ke hutan dan jatuh di tempat yang curam. Bagian depan mobil rusak parah. Tidak ada lagi mereka di sana."


Aku lega sekaligus cemas. Jantungku berdegup sangat kencang. Sedikit terbata aku bertanya.


"Cari tau, ap, apakah ... mereka se, selamat?"


"Tuan."


"Ya?"


Terdengar helaan napas panjang di ujung sana.


"Gilsa?! Gilsa!!" Teriakku.


"Ya, Tuan. Di temukan pakaian Tuan Muda dan Nyonya Melati di sebuah gubuk. Pakaian itu basah dan Sobek-sobek di beberapa bagian."


"Apa ada bercak darah? Apa mungkin mereka di sakiti binatang buas? Katakan Gilsa, katakan!!" Bentakku dengan pandangan nanar menatap sekeliling rumah.


"Lagi kami cari tahu, Tuan. Harap bersabar."


"Bagaimana aku bisa sabar? Aku tidak tau keadaan istriku dan adikku yang sudah satu minggu lamanya!! katakan, bagaimana aku bisa sabar?!!"


"Polisi sedang menyelidiki Tuan jadi tolong--"


"Hah!!"


Prak!!


Aku melamar ponsel ke dinding dan meremas kepala.

__ADS_1


"Di mana kamu Sayang? Di mana???"


__ADS_2