Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Kebenaran soal Melati


__ADS_3

Selesai shalat Magrib dan Isya semua orang menuju ke meja makan.


Hening. Tak ada yang berani bersuara. Melati beberapa kali menoleh ke arah Tante Dinda. Rasa bersalah memenuhi lubuk hatinya. Sedangkan tante Dinda dan Dewi begitu angkuh sampai tak mau menoleh ke arahnya.


"Arjuna," ucap Tante Dinda membuka percakapan saat ia sedang mencicipi makanan di meja.


"Ya, Tante?" Arjuna menghentikan kegiatannya. Bunga buru-buru menjauhkan lauk pauk yang ada di sekitar Arjuna.


"Saya mau bicara sesuatu."


Arjuna tersenyum, ia sudah tahu arah pembicaraan tante Dinda.


"Kau lihat wajah Dewi, penuh luka. Kau lihat rambutnya yang biasa terurai panjang nan indah, tadi kusut dan susah disisir. Kau lihat wajah Dewi yang biasa ceria kini, murung karena kecewa."


"Dewi, apakah kau baik-baik saja?" tanya Arjuna.


Sementara Melati menundukkan kepala. Rasa bersalah semakin menyelimuti hatinya.


"Saya tidak baik-baik saja, Kak. Tadi sore, Melati menyerangku. Dia bahkan melukai wajahku. Entah apa salahku."


Bunga yang berdiri di dekat Arjuna, menatap sengit ke arah dua manusia itu. Dia tahu persis keonaran yang mereka lakukan untuk mengganggu Melati. Melati berdiri, ia berjalan ke arah Tante Dinda.


"Tante saya salah, saya minta Maaf. Sungguh mulut saya dididik bukan untuk berkata kasar kepada orang yang lebih tua dari saya. Sungguh saya takut Bapak saya akan menanggung dosa saya, terlebih sekarang saya telah menikah, sungguh saya takut suami saya akan mendapatkan ganjaran di akhirat kelak karena kesalahan saya. Mohon maafkan saya." Melati membungkuk memohon Maaf.


Tante Dinda yang melihat Melati, terkejut karena tidak menyangka dengan tingkah gadis desa itu. Sementara Arjuna tak kalah terkejutnya dengan yang lain. Melati menyebutnya 'Suami' Arjuna mengalihkan pandangannya. Se grogi ini dia disebut Melati sebagai suami.


"Melati, apa yang kamu lakukan?" tanya Arjuna.


"Saya melakukan apa yang harus saya lakukan, Tuan. Coba kalau tadi Tuan tidak mengancam akan mencium saya, saya pasti tidak akan berbuat kesalahan seperti ini. Saya membalas Dewi bukan karena benci dengannya, tapi karena takut Tuan membuktikan ancaman itu. Saya tidak mau ciuman pertama saya diambil paksa oleh Tuan." Melati menangis, menghapus air mata dengan ujung jilbabnya.


Mendengar penuturan Melati mulut semua orang terbuka lebar. Bahkan mulut tante Dinda hampir jatuh ke meja, saking syoknya.


'Apa yang kudengar? Apakah mereka tidak seperti suami istri pada umumnya? Mengapa Tuan mengancam Melati akan menciumnya, dan Melati begitu ketakutan?' Bunga.


'Apakah benar? Bahkan mereka belum pernah berciuman?' Pak Gus.


'Pernikahan seperti apa ini, Melati dan Kak Juna?' Dewi.


Arjuna mematung mendengar pengakuan Melati. Dia tidak menyangka Melati bisa sejujur ini di depan banyak orang.


'Hentikan celotehmu, bakteri!! Hentikan!!!' teriak Arjuna dalam hati.


"Tuan, Tante Dinda adalah adiknya orang tua Tuan Arjuna. Secara tidak langsung tanggung Jawab orang tua Tuan ada di pundak Tante Dinda. Mengapa Tuan memintaku membalas perlakuan mereka? Ini tidak benar Tuan. Huhuhu huhuhu."


Mata tante Dinda semakin membulat, ia menelan salivanya kasar. Ia tak menyagka jika keberanian Melati karena mendapat dorongan dari Arjuna.


"Sa ... saya, memintamu membalas pada Dewi, bukan Tante Dinda." Arjuna terbata.


Kini mata Dewi membulat. Ia tidak percaya dengan apa yang didengar barusan.


"Hem, hemm hemmm!!!" Arjuna berdehem kuat-kuat supaya semua orang mendengar. "Melati, duduk! Aku bilang duduk!!" bentaknya.


Dengan wajah takut Melati kembali ke kursinya.


"Jadi, saya akan jelaskan. Sebenarnya rumah ini dilengkapi dengan sisi TV di semua bagian, kecuali kamar. Saya tahu apa saja yang terjadi di rumah ini. Dewi, Kakak sering melihat kamu sengaja menyiksa Melati, menjahilinya, menghinanya. Bahkan merendahkan harga dirinya. Dan saya, tidak suka itu!" Arjuna memandang tajam ke arah Dewi.


Gadis itu terdiam seribu bahasa, ia baru tahu kalau ternyata selama ini semua ruangan ada CCTVnya dan dipantau langsung oleh Arjuna. Ia juga merasa tidak enak karena tadi telah memojokkan Melati.


"Saya mengetahui semuanya, Dewi. Karena saya kesal melihat Melati hanya diam katika kamu menzholimi, karena itu saya memintanya membalas. Tante, sebagai suami Melati dan keluarga, saya mohon maaf. Jujur, saya hanya ingin membuat Dewi jera."


Dewi dan Dinda saling pandang. Sungguh mereka takut diusir dari rumah besar ini. Arjuna memandang Tante dan sepupunya cukup lama kemudian mengalihan pandangan kepada Melati. Gadis itu masih menangis sesegukan.


"Saya tidak seharusnya menangis karena hal ini. Air mata saya lebih pantas menangisi dosa saya kepada sang Pencipta, dari pada menangisi masalah kecil seperti ini. Maafkan saya, semua. Tante Dinda, sekali lagi saya minta maaf. Dewi, saya juga mohon maaf. Tuan, saya minta maaf juga, karena sebagai Istri saya hampir menjerumuskan Tuan ke neraka. Saya hanya menumpang di sini, entah berapa lama. Saya berjanji saya akan membuat diri saya lebih berguna berada di sini."

__ADS_1


Melati kembali berdiri, mengambilkan piring untuk semua orang, kemudian mengisinya dengan nasi beserta lauk pauknya. Sesekali ia menyeka air matanya dengan ujung hijab. Semua orang diam memperhatikan. Awalnya Arjuna keberatan dengan sikap Melati, tapi kemudian ia memilih diam, membiarkan gadis itu melakukan semaunya. Masih dalam keadaan hening mereka makan.


Dengan sabar Melati menunggu Arjuna selesai makan. Sembari yang lain makan, Melati kembali berdiri, mengisi setiap gelas kosong dengan air putih.


"Nyonya, biar saya!" Bunga merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, Mbak Bunga. Saya bisa melakukan semuanya." Tolak Melati.


Arjuna selesai. Melati mengambil piringnya, sesekali gadis itu masih menghapus air matanya, meski tidak sesering tadi. Arjuna memperhatikan Melati makan dengan begitu lahapnya. Gadis itu seperti tak memiliki beban.


'Apa gadis ini setulus itu?' batin tante Dinda.


Ia terus saja memperhatikan Melati dengan perasaan yang, entah.


'Actingmu terlalu buruk, Melati.' Dewi.


Berbeda dengan Dinda, Dewi justru semakin membenci Melati dengan berpikir Melati hanya melakukan pencitraan, Melati hanya berackting untuk membuat orang-orang terkesan. Melati selesai makan. Ia membereskan Meja, membawa semua piring kotor ke dapur dan mencucinya. Lagi-lagi ia melarang Bunga untuk membantunya.


Arjuna memutuskan naik ke atas lebih dulu. Dia menunggu Melati di kamar.


"Ma, sudah ayo kita tidur! Ngapain masih bengong di meja makan ini?" Ajak Dewi.


Dinda seperti ragu menuju kamar, sebagai seorang ibu, ia kasihan melihat Melati. Ia mulai berpikir bagaimana kalau posisi Dewi ada pada Melati. Apakah anaknya mau berbuat seperti itu. Meminta maaf, padahal jelas-jelas ia tidak salah.


"Mama kok bengong aja? Jangan bilang Mama sudah terhipnotis dengan gadis desa itu?"


"Mama hanya .... "


"Ah! Sudahlah, ayo!" Dewi menarik tangan ibunya begitu saja mengajak ke kamar. Sedangkan Dinda hanya pasrah menuruti kemauan anaknya.


***


Arjuna merebahkan tubuh di atas pembaringan. Setiap kalimat yang terucap dari mulut gadis desa itu mengusik pikirannya. Soal Tante Dinda, soal suami, soal orang tua dan semuanya.


Suara panggilan telepon terhubung.


"Halo, Arjuna." Pria itu diam cukup lama. Ingin sekali ia bercerita banyak hal, tapi Arjuna belum siap membuka diri. "Arjuna, kenapa? Bicara, Nak. Apa kamu sudah bisa menerima kami kembali?"


Arjuna terdiam, ia menunduk dalam. Hubungannya dan sang Mama tidak baik-baik saja sejak kepergian sang Papa, Arjuna begitu terpukul dan menganggap semuanya salah sang Ibu. Arjuna lupa, jodoh, maut dan rejeki adalah tiga hal yang sudah di takdirkan oleh sang Pemilik semesta.


"Mama, menahan diri tidak menghubungimu. Karena Mama tau, kamu tidak akan mau bicara sama Mama. Bagaimana keadaan Tante Dinda, apakah dia sehat di sana?"


Arjuna tidak menjawab, bibirnya tampak gementar dengan mata terpejam.


"Nak, Mama melihat berita di televisi prosesi pernikahanmu. Siapa namanya? Melati, Mama sangat ingin bertemu dengannya."


Lagi-lagi Arjuna hanya bisa diam tanpa menjawab. Setelah berpikir cukup lama Arjuna memutuskan mengakhiri telepon begitu saja. Ia turun dari ranjang dan berjalan menuju ruang rahasia. Pintu di buka, ruangan yang tidak terlalu luas. Dindingnya bercat abu-abu, tampak begitu banyak foto tertempel di dindingnya. Foto bersama sang Ayah. Dari ia kecil sampai remaja.


Ayahnya seorang Koki yang hebat. Di bagian pinggir ruangan tampak sajadah berwarna silver terbentang. Di sudut lainnya ada sofa mini sebanyak dua buah yang dilengkapi lampu di sampingnya. Arjun perlahan berjalan mendekati setiap foto yang ada. Kemudian penuh rasa haru menyentuh foto-foto itu.


"Papa ..., " ucapnya dengan suara serak.


Terlihat di foto itu sang Papa tampak sangat bahagia memeluk tubuh kecil Arjuna, memakai pakaian khas Koki. Pintu kamar terdengar terbuka, Arjuna lekas menghapus setitik air mata yang mengintip di ujung mata. Ia segera keluar dari ruangan khusus dan menemui Melati.


"Sudah selesai semua?" tanyanya yang tak dijawab oleh Melati.


Gadis itu melepas hijabnya dan langsung berbaring ke sofa.


"Aku tanya sudah selesai semua?" Arjuna sedikit menaikkan suaranya.


"Sudah, Tuan," sahut Melati tanpa menoleh, posisinya berbaring di sofa memunggungi pria itu.


"Aku ingin bicara!"

__ADS_1


"Jangan sekarang, Tuan."


"Kau sudah berani menolak?"


Melati segera bangun, dan duduk mengahadapi ke arah Arjuna.


"Kau marah denganku?"


"Mana saya berani marah dengan Anda, Tuan."


"Kalau begitu katakan pendapatmu tentang saya."


Melati terdiam, ekspresi wajah ayu itu datar.


"Katakan!"


Melati terhenyak. Ia menarik napas panjang.


"Maafkan, saya. Anda, satu-satunya kepala keluarga di rumah ini. Sebagai kepala keluarga seharusnya Anda mendamaikan orang-orang di rumah ini. Bukan malah membuatnya bertengkar satu sama lain. Anda sudah bisa menjadi Imam yang baik untuk seluruh penghuni di rumah ini. Sebagai kepala keluarga Anda harus mengasihi semua orang yang ada di rumah ini termasuk Tante Dinda dan Dewi. Sebagai kepala keluarga seharusnya Anda menjadi teladan di rumah ini Tuan. Sikap Anda meminta saya bertengkar dengan Dewi, apakah pantas disebut teladan? Apakah kekerasan harus dibalas dengan kekerasan juga? Guru ngaji saya mengajarkan supaya kita menjadi manusia yang pemaaf, Tuan. Bukan pendendam."


Melati mengalihkan pandangan. Entah keberanian dari mana hingga gadis desa itu berani protes dengan pria jutek di hadapannya. Tangan gadis itu penuh keringat, hatinya diliputi kegelisahan.


'Ya Allah sepertinya aku akan tamat!'


Arjuna berjalan mendekat. Ia berdiri tepat di hadapan gadis itu. Tangannya melipat di dada memperhatikan wajah Melati lamat-lamat.


'Kenapa gadis ini kadang-kadang pintar dan berpikir rasional?'


"Sudahlah, tidur sana! Sudah malam!" perintahnya yang dijawab anggukan kepala oleh Melati.


Gadis itu menarik selimut sampai ke kepala, yang membuat Arjuna mendengkus, tertawa.


"Hah, ada-ada saja!" Arjuna berbalik dan berjalan menuju pembaringan. Di hempaskannya tubuh di ranjang, dan sekali lagi menatap Melati sebelum akhirnya terlelap.


***


Pagi-pagi sekali, setelah shalat subuh Arjuna tak menemukan Melati di kamar. Sarapan sudah di letakkannya di meja sofa. Arjuna duduk dan menyeruput kopinya. Kemudian memakan roti yang sudah di oles selai coklat.


'Kemana dia?'


Arjuna mengedarkan pandangan kesemua ruangan. Penasaran Arjuna berjalan keluar kamar. Dari atas Arjuna melihat Melati sedang mengepel anak tangga. Melati membuktikan janjinya. Ia akan menjadi orang yang berguna di rumah ini. Arjuna menatap dalam diam. Bibik bahkan belum datang ke sini, tapi Melati sudah sibuk membersihkan semua.


Arjuna mengambil ponselnya dalam saku celana kemudian menelepon Gilsa.


"Sudah kau selidiki semuanya?"


"Sudah, Tuan."


Gilsa menjelaskan secara rinci kepada Arjuna asal usul Melati, dan mengapa ibunya begitu tega membuangnya ke sini. Sembari mendengarkan Gilsa menjelaskan semuanya Arjuna terus menatap Melati.


"Ibu dan Bapak Melati yang sekarang lama di karuniai seorang anak, sehingga Bapaknya menikah lagi dengan perempuan yang lain. Lahirlah Melati dengan perempuan kedua, tanpa sepengetahuan istri pertama. Ibu kandung Melati meninggal setelah melahirkan, sehingga mau tidak mau si Bapak harus membawa Melati pada istri pertama. Saat usia Melati memasuki usia tiga tahun, istri pertama baru dipercaya memiliki keturunan."


Arjuna menutup telepon setelah mendengar semua penuturan Gilsa. Ia berjalan mendekati Melati. Kemudian berdiri di hadapannya.


"Tuan, Anda sudah bangun? Saya sudah menyiapkan sarapan Anda di meja sofa."


Arjuna diam saja. Ia menuruni anak tangga lebih mendekat pada Melati kemudian menatap gadis itu lekat.


"Tuan, apa saya membuat kesalahan?"


Arjuna diam saja, ia memegang erat pergelangan tangan Melati dan begitu saja menarik Melati dalam pelukannya. Melati mencoba melepas pelukan itu, tapi Arjuna begitu erat memeluknya.


"Diam saja, atau aku akan menciummu," bisiknya di telinga Melati.

__ADS_1


Melati mematung, bingung dengan tingkah Arjuna.


__ADS_2